Tuesday, November 18, 2003



Sajak Pembakaran

seonggok daging terbakar, mengabu
satui tanah dan kayu
aku yang menyulut api,
aku yang mendoai
tubuh sendiri

Jakarta, 18 November 2003


Mendung Hinggap di Mata

mendung hinggap di mata
berkicauan tiap malam
berlompatan kala siang
terperosok di jangga
lalu hujan riuh rajam dada

Jakarta, 18 November 2003

Tuesday, November 04, 2003



Nyanyian Surau

Embun menetes dari ujung-ujung jemari
Ketika pintu berderit sebelum pagi
Berhamburan keluar segala sesal
Diguyur hujan, kedinginan

Bukalah langit kekasih
Biar kepak sayap menuju
Biar damai rajai jiwa
Dalam rumah cahaya

Embun yang menetes dari ujung-ujung jemari
Di setiap kali surau-surau bernyanyi
Tak lain adalah doa hamba
Yang kadang lupa Engkau ada

Jakarta, 20 Oktober 2003


Tergoda

aku tergoda rindu tanpa jelma
mata berembun, dada tertindih sangka
tersungkur di kaki bunga di taman tanpa dengung serangga

taman siapa gerangan terjaga dari tapak-tapak serangga?
berkabut rindu beringsut bisu baluti sendiriku
taman siapa gerangan tanpa pagar tanpa papan nama tanpa tanda?
sembunyi dalam kata, dekap sunyi jiwa

aku tergoda bunga yang tersembul dari kelepuk-kelepuk dada
diam tanpa kata, datang bersayap kabut kemuli jiwa
kemudian pergi tanpa sepatah kata

Jakarta, 23 Oktober 2003


Celana Usang

Celana usangku, warnanya seperti tanah kena erosi, tetapi celana ini masih bisa menutupi auratku meski robek disana sini, meski saku kirinya sering luapkan isi. Mungkin karena aus mungkin juga karena aku tak bisa merawatnya sebab tak ada deterjen yang mampu kembalikan warnanya seperti semula. Celana usangku, peresap jiwaku, keringat, daki, darah, air seni, air mani, dan berjuta-juta kata sembunyi di rentang kolornya yang tak kencang lagi. Ketika robek-robeknya melebar, kutambal dengan mulutku sendiri sebab tak mungkin aku diberi yang baru lagi. Tuhan pasti tak memberi, sebab aku cuma diberi ?satu? sampai ajalku nanti. Dulu katanya celanaku ini warnanya putih, aku tak tahu pasti, aku membacanya dalam kitab suci.

Celanaku ini seperti celanamu juga, tiap orang sama dan tak jelas lagi warnanya apa. Suatu kali celanaku mengepulkan asap, tetapi tak terlihat api apalagi bara. Celana itu terbakar tanpa nyana karna satu kerling mata mengganja, lalu keringat mengucur padamkan api itu. Aku seringkali merindukan kepul asap itu meski mataku berliur tak tentu. Celanaku juga pernah meneteskan darah, tetapi tak terlihat luka menganga hanya rasa perih menyelaksa, namun aku seringkali mengenangnya, memamah biak perih untuk sebait sajak luka. Daki yang mengendap menyedimen semakin tebal mengubur jejak-jejak terlupa. Aku juga lupa dimana saja air seniku mancur-mancar menelaga, mani yang tercecer sia-sia mati sebagai satria di lubuk-lubuk dada. Celana usangku, warnanya seperti tanah kena erosi, tak bisa pulih kembali, bahkan kadang sulit dikenali. Seperti kulihat sebatang kayu ditebang dan menjadi bangku ukir yang kududuki.

Jakarta, 14 Oktober 2003