Nyanyian Surau
Embun menetes dari ujung-ujung jemari
Ketika pintu berderit sebelum pagi
Berhamburan keluar segala sesal
Diguyur hujan, kedinginan
Bukalah langit kekasih
Biar kepak sayap menuju
Biar damai rajai jiwa
Dalam rumah cahaya
Embun yang menetes dari ujung-ujung jemari
Di setiap kali surau-surau bernyanyi
Tak lain adalah doa hamba
Yang kadang lupa Engkau ada
Jakarta, 20 Oktober 2003
Tergoda
aku tergoda rindu tanpa jelma
mata berembun, dada tertindih sangka
tersungkur di kaki bunga di taman tanpa dengung serangga
taman siapa gerangan terjaga dari tapak-tapak serangga?
berkabut rindu beringsut bisu baluti sendiriku
taman siapa gerangan tanpa pagar tanpa papan nama tanpa tanda?
sembunyi dalam kata, dekap sunyi jiwa
aku tergoda bunga yang tersembul dari kelepuk-kelepuk dada
diam tanpa kata, datang bersayap kabut kemuli jiwa
kemudian pergi tanpa sepatah kata
Jakarta, 23 Oktober 2003
Celana Usang
Celana usangku, warnanya seperti tanah kena erosi, tetapi celana ini masih bisa menutupi auratku meski robek disana sini, meski saku kirinya sering luapkan isi. Mungkin karena aus mungkin juga karena aku tak bisa merawatnya sebab tak ada deterjen yang mampu kembalikan warnanya seperti semula. Celana usangku, peresap jiwaku, keringat, daki, darah, air seni, air mani, dan berjuta-juta kata sembunyi di rentang kolornya yang tak kencang lagi. Ketika robek-robeknya melebar, kutambal dengan mulutku sendiri sebab tak mungkin aku diberi yang baru lagi. Tuhan pasti tak memberi, sebab aku cuma diberi ?satu? sampai ajalku nanti. Dulu katanya celanaku ini warnanya putih, aku tak tahu pasti, aku membacanya dalam kitab suci.
Celanaku ini seperti celanamu juga, tiap orang sama dan tak jelas lagi warnanya apa. Suatu kali celanaku mengepulkan asap, tetapi tak terlihat api apalagi bara. Celana itu terbakar tanpa nyana karna satu kerling mata mengganja, lalu keringat mengucur padamkan api itu. Aku seringkali merindukan kepul asap itu meski mataku berliur tak tentu. Celanaku juga pernah meneteskan darah, tetapi tak terlihat luka menganga hanya rasa perih menyelaksa, namun aku seringkali mengenangnya, memamah biak perih untuk sebait sajak luka. Daki yang mengendap menyedimen semakin tebal mengubur jejak-jejak terlupa. Aku juga lupa dimana saja air seniku mancur-mancar menelaga, mani yang tercecer sia-sia mati sebagai satria di lubuk-lubuk dada. Celana usangku, warnanya seperti tanah kena erosi, tak bisa pulih kembali, bahkan kadang sulit dikenali. Seperti kulihat sebatang kayu ditebang dan menjadi bangku ukir yang kududuki.
Jakarta, 14 Oktober 2003