Kabar Untuk Dina Bermusim-musim aku menunggu akhirnya suratmu datang jua dibawa angin menderu. Seperti kau lempar surat itu melalui jendela waktu itu dan hinggap juga di jendela kamarku saat malam telah larut ketika tubuhku hampir saja dilahap lelap. Tetapi tak seperti harapanmu Din, aku tak dapat sejenak pun keluar dari rumah ini. Terlalu banyak kenangan terpajang, terlalu banyak celah jendela dan pintu untuk dimasuki. Akutak ingin kenangan itu satu pun hilang. Din, ranjang telah kurapikan dan aku tak ingin tidur disana lagi seperti malam-malam sebelumnya. Nafas begitu liar menggiring ke musim gugur dan menghempaskanku seperti daun-daun. Dan aku disini, tak lagi dapat merasakan debar-debar ketika salju turun begitu lebat, membekukan.
Walau bagaimanapun engkau telah menolakku sebelum kata hati ini terucap, sebelum kupersembahkan langit biru dan hamparan hijau lembah kalbu, bahkan sebelum kita mempunyai kenangan. Hatiku kocar-kacir saat harus berhadapan dengan tatapan matamu yang lebih tajam dari pedang syahidin. Sampai akhirnya aku berdiri jauh dari tempatmu berdiri, menunggu pedang itu kau sarungkan kembali. Maafkan aku Din, nyaliku terlalu tipis saat harus memasuki pintu hatimu dan aku hanya berdiri saja memandangmu dengan malu. Karena dada ini terlalu mudah untuk dirobek, meski hanya dengan senyummu itu.
Mungkin kau beranggapan bahwa aku tak mampu menanggung konsukuensi dari sebuah percintaan dan masa lalu. Mungkin kau benar karena sepatah kata pun tak dapat ku ucapkan ketika kita bicara tentang percintaan atau tentangmu atau tentang kita. Aku terlalu kaku ya Din? Tetapi ketahuilah Din, bahwa aku selalu menyimpan rasa padamu, entah sampai kapan. Karena saat ini masing-masing kita telah berdandan dan pergi ke tempat yang berbeda.
Dulu aku melihatmu dalam sebuah pesta ketika denting gelas begitu melengking dan mengingatkanku saat demam begitu tinggi dan aku menggigil sendiri di kamar. Ketika semuanya reda aku melukismu di langit-langit. Pasti kau tak tahu disana persis sekali wajahmu berkerudung hitam beraura mimpi biru. Din, pasti kau tak sadar bahwa seseorang telah telah keluar dari dunianya dan berdiri di tengah samudera, menanti engkau berlayar dengan perahu kebanggaanmu lalu berharap bisa ikut berlayar bersamamu disana. Tetapi tak ada angin, tak ada aroma khas pantai itu.
Setelah segalanya menjadi tak mungkin, aku pun tak ingin seterusnya bertahan dalam mimpi. Aku ingin terbangun dan mencarimu di televisi, di koran-koran, di buku-buku atau membangun mimpi sendiri tentang kita. Tetapi segala usaha kesana tak ada hasilnya Din. Sampai akhirnya aku menemukanmu dalam satu koran minggu. Engkau sedang bercanda dengan kenangan dan angan-angan tanpa menyebut namaku. ;tak ada kenangan tentang kita kan Din?
Maret 2005