Wednesday, March 30, 2005

Semerbak-mu

kuhirup udara musim yang bacin
seperti dulu kuhirup semerbak harum kelopak-mu
ketika senja begitu cerah di wajah pejalan kaki
sesaat malam menjadi tumpuan sajak-sajak
untuk mencumbu gelap dan suara-suara
tetapi mimpi selalu jauh dari jemari
yang setiap hari hanya mengetuk pintu-pintu maut
ketika sedikit terbuka, aku lari sekencangnya
tetapi semerbak harum kelopak-mu,
tetap tercium tajam hingga ujung pelarian
kemanapun semerbak itu tak pernah hilang
sepertinya aku memang telah terganjai oleh kelopak itu
hingga setiap musim datang dedaun tak pernah habis kubakar

ketika aku tertidur pun semerbak kelopak itu selalu berhembus
sebagai hujan yang tajam merajam-rajam
seperti nafas yang saling buru di atas ranjang
membuat mataku selalu terpejam dan dada hingarbingar
itulah kenapa aku selalu bilang bahwa engkau pilihan
yang akan kuhirup hingga semerbak penghabisan
tetapi seperti dulu kuhirup semerbak harum kelopak-mu
kuhirup juga udara musim yang bacin

19:50 29/03/05

Monday, March 28, 2005

Kabar Untuk Dina

Bermusim-musim aku menunggu akhirnya suratmu datang jua dibawa angin menderu. Seperti kau lempar surat itu melalui jendela waktu itu dan hinggap juga di jendela kamarku saat malam telah larut ketika tubuhku hampir saja dilahap lelap. Tetapi tak seperti harapanmu Din, aku tak dapat sejenak pun keluar dari rumah ini. Terlalu banyak kenangan terpajang, terlalu banyak celah jendela dan pintu untuk dimasuki. Akutak ingin kenangan itu satu pun hilang. Din, ranjang telah kurapikan dan aku tak ingin tidur disana lagi seperti malam-malam sebelumnya. Nafas begitu liar menggiring ke musim gugur dan menghempaskanku seperti daun-daun. Dan aku disini, tak lagi dapat merasakan debar-debar ketika salju turun begitu lebat, membekukan.

Walau bagaimanapun engkau telah menolakku sebelum kata hati ini terucap, sebelum kupersembahkan langit biru dan hamparan hijau lembah kalbu, bahkan sebelum kita mempunyai kenangan. Hatiku kocar-kacir saat harus berhadapan dengan tatapan matamu yang lebih tajam dari pedang syahidin. Sampai akhirnya aku berdiri jauh dari tempatmu berdiri, menunggu pedang itu kau sarungkan kembali. Maafkan aku Din, nyaliku terlalu tipis saat harus memasuki pintu hatimu dan aku hanya berdiri saja memandangmu dengan malu. Karena dada ini terlalu mudah untuk dirobek, meski hanya dengan senyummu itu.

Mungkin kau beranggapan bahwa aku tak mampu menanggung konsukuensi dari sebuah percintaan dan masa lalu. Mungkin kau benar karena sepatah kata pun tak dapat ku ucapkan ketika kita bicara tentang percintaan atau tentangmu atau tentang kita. Aku terlalu kaku ya Din? Tetapi ketahuilah Din, bahwa aku selalu menyimpan rasa padamu, entah sampai kapan. Karena saat ini masing-masing kita telah berdandan dan pergi ke tempat yang berbeda.

Dulu aku melihatmu dalam sebuah pesta ketika denting gelas begitu melengking dan mengingatkanku saat demam begitu tinggi dan aku menggigil sendiri di kamar. Ketika semuanya reda aku melukismu di langit-langit. Pasti kau tak tahu disana persis sekali wajahmu berkerudung hitam beraura mimpi biru. Din, pasti kau tak sadar bahwa seseorang telah telah keluar dari dunianya dan berdiri di tengah samudera, menanti engkau berlayar dengan perahu kebanggaanmu lalu berharap bisa ikut berlayar bersamamu disana. Tetapi tak ada angin, tak ada aroma khas pantai itu.

Setelah segalanya menjadi tak mungkin, aku pun tak ingin seterusnya bertahan dalam mimpi. Aku ingin terbangun dan mencarimu di televisi, di koran-koran, di buku-buku atau membangun mimpi sendiri tentang kita. Tetapi segala usaha kesana tak ada hasilnya Din. Sampai akhirnya aku menemukanmu dalam satu koran minggu. Engkau sedang bercanda dengan kenangan dan angan-angan tanpa menyebut namaku. ;tak ada kenangan tentang kita kan Din?


Maret 2005

Tuesday, March 15, 2005

Renungan Dari Cikini

1.

aku merasa bahwa aku akan menghabiskan hari-hari dalam penjara
jangan kau tanya tentang arti atau makna
sebab dari makna segala makna hingga jiwa
kering oleh mata angin dan waktu

maafkan aku sayang,
sungguh aku tak ingin menyakitimu
seperti tersirat keakuanku di wajahmu

jika benar-benar aku bisa lebih baik
aku pikir engkau pasti bertanya;
apa yang akan 'ku lakukan? apa yang bisa 'ku lakukan?
dan aku tahu bahwa engkau lebih mencemaskan keputusan
meski akhirnya engkau sendiri memutuskan

pada apa yang telah diucapkan,
mungkin bersamanya nyawa telah melayang
dan harus menunggu kehidupan baru berjangka panjang
untuk memberinya nyawa meski tak layak semula
tetapi tetap saja aku menanti kesaksianmu
sebab engkau yang mengerti satu-persatu hari
yang begitu cepat berlalu

2.

sesungguhnya aku telah merasa tidak berguna
manakala perkataanmu itu diucapkan
tetapi haruskah aku tidak menyingkap maksud tentang dirimu
ketika sebagian orang berkata bahwa aku mencintai kesia-siaan

apakah kau melarangku memiliki?
atau dapatkan selumbung dosa dibakar
dan abunya di sebarkan ke angin tropis yang selalu berubah
hendak sampai dimana nantinya?
tetapi bila dengan cara ini adalah bentuk lain dari cinta,
maka bakarlah dan sebarkan abunya

3.

dalam kesepianku aku telah membayangkan penderitaan
sebagai sesuatu yang indah, kesengsaraan sebagai musik
yang menawan hati. bahkan aku ingin bermimpi
melihatmu terbang melintasi samudera dengan sukacita
ekstase menuju kebahagiaan, sebab tanganmu adalah sayap-sayap tangguh
engkau terbang, melayang bersama makhluk lain dalam pelukanmu.
penderitaan menjadi kebahagiaan.

dan aku berbeda denganmu dalam mimpi itu
aku adalah burung yang patah sayap yang tak mampu lagi terbang
untuk mencarikan makan buat anak-anakku di sarang
dan selalu saja terjerembab jatuh saat mencoba terbang

engkau membawakan keriangan tetapi aku membawa luka tak berkesudahan
itulah kenapa aku terjaga untuk menangis dari mimpiku
akhirnya aku memahamimu meski rahasiamu tak dapat kusingkap
sebab engkau menggenggam kebenaran rahasia yang tak dapat kurengkuh

4.

dan engkau adalah yang terkuat yang pernah termiliki
karena engkau kepercayaan pertamaku
yang menginginkan cinta terdalam dalam hidup
meski engkau sempat takut pada sebagian orang dan bahkan padaku
aku tahu jalan terakhirmu

mungkin bagimu aku adalah sebuah api yang melalap
kembang mawar yang mekar untuk cahaya,
saat kelopak bunga mencari bayang dari matahari
mungkin kita adalah campuran rumit daripada
apa yang tak kita bayangkan sebelumnya
hingga saat satu titik cahaya menembus mata,
menghancurkan bayang-bayang.
dan keretakan ini membiarkan kita merenangi titik-titik hampa
yang kita lupakan ketika penglihatan kita menjadi jelaga bagi kekosongan jiwa.
jika kita adalah kembang mawar, kita tertarik pada cahaya,
dan kita belum lagi memikirkan sepenggal kerumitan itu. tak ada yang lain.

aku menangis untukmu bukan hanya untukku sendiri
tetapi juga untuk jiwa-jiwa yang merindukan dan dirindukan
yang saksinya aku sendiri dan berkeingin pergi kepadamu
di suatu saat nanti.

5.

airmata mengalir dari mataku, berdarah
dan aku kehilangan kesadaran akan diriku sendiri,
kemudian segalanya berubah, dan menjadi jelaslah
bahwa perasaan-perasaan yang tak terlukiskan yang telah aku alami
dan pencapaian dari sana-sini adalah dari Illahi,
meskipun aku membayangkan bahwa semua itu berasal dari diriku sendiri

aku melihat semua sebagai keindahanmu ketika aku membuka mata
seluruh tubuhku menjadi hati yang hendak kuserah padamu
dan aku tak ingin bicara dengan yang lain ketika mata tertuju padamu
aku ingin bicara panjang lebar.
adakah yang kan mengusirku pergi bila aku ingin memelukmu erat-erat?
apapun yang terjadi nanti, kemanapun engkau pergi
cahaya mahkota itu disana, bersamamu.
dariku.

08:45 PM 15/03/05

Friday, March 11, 2005

Bila Kau Tak Menerimaku

bila kau tak menerimaku kembali
jangan terlalu jauh pergi
sebab di tangan kanan dan kirimu itu
kutitip urat-urat hidupku

aku tahu, yang tersenyum itu
bukan lagi aku
sebab aku hanya diam, terpaku
kaku seperti tugu

aku juga tahu, di hatimu tak ada yang kaku sepertiku
tetapi berdoalah, agar aku tetap berdiri
dan hidup selayak harap

bila suatu saat nanti
aku bisa tegak berdiri
biarkan aku datang untuk melihat
kedua telapak tanganmu itu

jangan takut! aku tak akan menyentuh
aku hanya ingin melihat urat-urat hidupku
yang pernah kutitip padamu

bila kau tak mau menerimaku kembali, saat ini
aku mengerti
sebab matahari pun enggan membuat bayang tubuhku
di bumi

02:05 08/03/05

Rindu
: anakanakku

rindu disini, rindu mendesak-desak
sepi menyeruak, di luar sana ada suara-suara
menyentak-nyentak, sungguh sepi disini

tak kuasa rasa menunggu, sungguh tak kuasa hati sendiri
menahan rindu, tercekik hingga mendelik
sepi menindih, sepi menindih! sepi menindih!!
rindu ini mendidih nak...

semakin hari semakin tak kuasa hati
rindu memuncak, sepi memuncak, segala memuncak
aku tak ingin mati disini, dalam sepi, dalam rindu
sedang tangis dan tawamu belum lagi kudengar

rindu disini, rindu mendesak-desak
rindu memuncak
tawamu ingin kudengar nak,
tangismu ingin kudengar,
ingin kudengar, ingin kudengar!
ingin kudengar!!!

02:25 08/03/05

Aku Ingin Ada, Lebih Lama

aku ingin ada, lebih lama
lebih lama dari yang kau kira
dalam hidupku atau hidup mereka
dalam matiku atau mati mereka
sebab aku punya puisi, disini
di batu yang telah kutulisi namaku sendiri
tak perduli di baca atau di cibiri
puisi akan tetap puisi

15:06 08/03/05



Thursday, March 03, 2005

Engkau Tak Mampu Lagi

engkau tak mampu lagi menahan sesak,
menahan sakit, sembunyikan sesal
engkau tak mampu lagi
dan kau memintaku untuk membunuhmu
; cepatlah sayang, katamu

aku tak dapat berucap; "bertahanlah sayang"
sebab aku pun tak tahan melihatmu terluka
dimana sepi semakin mengekalkan perih
seperti aku tak tahan dengan kesunyianku
tanpa peraduan dan waktu untuk sekedar menyeka keringat

bila memang tak ada lagi obat mujarab untukmu
akan kululuskan permintaanmu sayang
meski aku tahu itu sangat menyakitkan

tunggu sejenak sayang
biar kucongkel kedua mataku dan kutusuk kedua telingaku
setelah itu baru giliranmu

12:02 24/02/05

Aku Ingin Pulang

aku ingin pulang
menyerahkan hati dan jantungku sejenak, pada kematian
aku juga ingin mengembalikan rindu yang kuambil tanpa ijin
dari puing-puing rumah terbadai sebelum selesai

aku tak tahu lagi
apa yang mesti kuabadikan dari cerita ini
apakah pagi yang indah, apakah siang yang sibuk
apakah senja yang jingga, apakah malam yang dingin,
apakah jalan-jalan yang ramai, ataukah pesta yang tlah usai?

sebab semua tak dapat lagi menjelaskan tentang airmata dan rindu
yang telah dirasuki roh-roh bersuara parau
yang berbicara tentang ketidakjujuran dan keingkaran
lalu mengekalkannya dalam segelas teh yang basi

mungkin tak pantas lagi bicara tentang rindu dan airmata
dari bayang perempuan yang berjalan menembus kabut
menuju arah yang tak lagi kukenal

aku hanya ingin pulang
memejamkan mata selamanya
menyerahkan hati dan jantung pada kemuksaan
melalui jalan yang sebaiknya tak kukatakan

12:46 24/02/05

Tulang Hitam

bila terbang melayang, nafas pun patah
langit tak bisa terima
;kepak tanpa irama

bila berpijak mati dirasa
bumi membuang muka
tubuh luka dibalut sengkala
dingin dan kaku
terlempar jauh di laut keruh
dicabik ikan-ikan

tak ada yang melihat
tulang-tulangnya berwarna hitam
di dasar laut dalam
bersama kenangan

12:55 28/02/05