Aku masih disini, mungkin akan terus disini sampai aku berubah pikiran. Malam disini hampir seperti pantulan kelabu belaka dari malam disana. Entah karena apa, malam disini selalu lebih pekat daripada malam disana. Aku tak tahu apakah hal yang sama juga terjadi di belahan dunia yang lain. Akhirnya memang fajar tiba. Barangkali akibat dari malam pekat itu atau karena pantulan "terbalik"-nya. Dan aku teringat puisi yang disajakkan Do-re-mi (atau Mi-re-do?) kepada Alice dalam Through The Looking Glass. Puisi itu berjudul "Ikan Duyung dan Tukang Kayu" dan bermula seperti ini :
Dengan segenap sinarnya
Akibat samudera dengan tenaga dan daya dorongnya itu, sejenis tingkah aneh mendesak-desak menjalariku agar menyurati kalian untuk bercengkerama, mengucap hallo, atau sekedar dalih dan upaya membangun jembatan berlapis, gurita merambat yang tiba bersamaan di sana dan di sini. Di sini, dalam kepingan retak-retak cermin duka, kelinci Juni terbangun dan menerobos guyuran hujan serta sinar surya yang berganti-ganti membikin kacau tata cuaca dan hitungan waktu.Ngomong-ngomong soal waktu, tibalah waktunya kita duduk kembali, bersama-sama lagi, aku dan kalian semua, yang sama dalam soal ketidaksamaan. Tapi baiklah, ini bukan -atau belum- merupakan tujuan surat ini. Lalu apa dong? Nah, bicara blak-blakan, obyek surat ini adalah kertas, tinta, serta hati yang berdandan dalam diri seseorang dan memayungi dirinya dengan orang-orang lain untuk memperpanjang jembatan jarak jauh yang bisa melintasi bahasa, warna, budaya, tapal batas, dan sejumlah kilometer lewat udara-laut-darat, dan tiba di hati berikutnya yang kalian -atau aku- bawa di sisi kiri tubuh kita masing-masing. Karenanya, anggaplah jembatan ini telah diperpanjang dan banyak hati telah dijangkau, dan dari sini terkirim salam untuk kalian semua, dari kejujuran-ketidakjujuran dan kesadaran-ketidaksadaran.
Dan karena kita sedang bercengkerama, biar kuceritakan sesuatu yang... yah, pahamilah sebagai penghormatan malu-malu atas semua upaya yang kalian lakukan untuk menolong sesama dan untuk tidak melupakan ajakan ini. Waktunya telah tiba bagi kita untuk merenung dan memandang ke dalam, menemukan diri mereka bersama orang-orang lainnya di manapun berada. Besar dalam penggandaan harapan yang dibawa oleh langkah kalian, aku temukan diriku dalam diri orang lain, bersama kalian, nafas yang dibutuhkan martabat sebagai zat gizi, harapan sebagai arahnya, kemarahan yang lembut dan penuh sabar dari ia yang tahu bahwa kekuatan bersemayam dalam nalar yang menggerakkannya.
Aku tidak tahu banyak tentang kalian. Yang sedikit aku tahu adalah perjuangan sebagian dari kalian dalam melawan rasisme, patriarki, melawan kesemena-menaan, melawan xenofobia, melawan militerisasi, melawan perusakan lingkungan, melawan fasisme, melawan pengkotakan, melawan hipokrisi moral, melawan pemusnahan, melawan kelaparan, melawan kurangnya perumahan, melawan modal besar, melawan kediktatoran, melawan politik liberalisasi ekonomi, melawan kemiskinan, melawan perampokan, melawan korupsi, melawan diskriminasi, melawan kebodohan, melawan kebohongan, melawan ketidakpedulian, melawan perbudakan, melawan ketidakadilan, melawan pelupaan, melawan neoliberalisme, demi kemanusiaan...
Di sini, aku hanya mencoba berbagi (bercengkerama) tentang banyak hal seperti yang aku utarakan di atas. Terimakasih sekali kalian mau membaca apa yang aku tuliskan secara... ya, mungkin serampangan saja. Tapi ini salah satu caraku untuk berbagi dan akan belajar lebih banyak dari kalian. Beberapa waktu lalu aku mengirimkan surat-surat yang kira-kira isinya sedikit bersinggungan tentang apa yang baru saja aku sampaikan. Aku harap ada manfaatnya buat kalian. Kalau pun tidak, itu bukan masalah besar buatku.
Nb : "Ketika aku menulis untukmu pena ini tergetar, tinta hitam yang dingin berubah merah dan menggigil, lalu hawa panas tubuh manusia yang jernih memancar dari kedalaman hitam itu. Saat aku menulis untukmu tulang-belulangku ikut menulis, aku menulis untukmu dengan tinta tak terhapuskan dari segenap perasaanku"
