Friday, July 22, 2005

Salam Sejahtera untuk kalian semua,

Aku masih disini, mungkin akan terus disini sampai aku berubah pikiran. Malam disini hampir seperti pantulan kelabu belaka dari malam disana. Entah karena apa, malam disini selalu lebih pekat daripada malam disana. Aku tak tahu apakah hal yang sama juga terjadi di belahan dunia yang lain. Akhirnya memang fajar tiba. Barangkali akibat dari malam pekat itu atau karena pantulan "terbalik"-nya. Dan aku teringat puisi yang disajakkan Do-re-mi (atau Mi-re-do?) kepada Alice dalam Through The Looking Glass. Puisi itu berjudul "Ikan Duyung dan Tukang Kayu" dan bermula seperti ini :

Dengan segenap sinarnya
sang surya benderang di atas samudera
agar ombak-ombak terlihat nyata
lembut dan bercahaya
sungguh tak lumrah ini semua
sebab malam sedang hitam gelap gulita

Akibat samudera dengan tenaga dan daya dorongnya itu, sejenis tingkah aneh mendesak-desak menjalariku agar menyurati kalian untuk bercengkerama, mengucap hallo, atau sekedar dalih dan upaya membangun jembatan berlapis, gurita merambat yang tiba bersamaan di sana dan di sini. Di sini, dalam kepingan retak-retak cermin duka, kelinci Juni terbangun dan menerobos guyuran hujan serta sinar surya yang berganti-ganti membikin kacau tata cuaca dan hitungan waktu.Ngomong-ngomong soal waktu, tibalah waktunya kita duduk kembali, bersama-sama lagi, aku dan kalian semua, yang sama dalam soal ketidaksamaan. Tapi baiklah, ini bukan -atau belum- merupakan tujuan surat ini. Lalu apa dong? Nah, bicara blak-blakan, obyek surat ini adalah kertas, tinta, serta hati yang berdandan dalam diri seseorang dan memayungi dirinya dengan orang-orang lain untuk memperpanjang jembatan jarak jauh yang bisa melintasi bahasa, warna, budaya, tapal batas, dan sejumlah kilometer lewat udara-laut-darat, dan tiba di hati berikutnya yang kalian -atau aku- bawa di sisi kiri tubuh kita masing-masing. Karenanya, anggaplah jembatan ini telah diperpanjang dan banyak hati telah dijangkau, dan dari sini terkirim salam untuk kalian semua, dari kejujuran-ketidakjujuran dan kesadaran-ketidaksadaran.

Dan karena kita sedang bercengkerama, biar kuceritakan sesuatu yang... yah, pahamilah sebagai penghormatan malu-malu atas semua upaya yang kalian lakukan untuk menolong sesama dan untuk tidak melupakan ajakan ini. Waktunya telah tiba bagi kita untuk merenung dan memandang ke dalam, menemukan diri mereka bersama orang-orang lainnya di manapun berada. Besar dalam penggandaan harapan yang dibawa oleh langkah kalian, aku temukan diriku dalam diri orang lain, bersama kalian, nafas yang dibutuhkan martabat sebagai zat gizi, harapan sebagai arahnya, kemarahan yang lembut dan penuh sabar dari ia yang tahu bahwa kekuatan bersemayam dalam nalar yang menggerakkannya.

Aku tidak tahu banyak tentang kalian. Yang sedikit aku tahu adalah perjuangan sebagian dari kalian dalam melawan rasisme, patriarki, melawan kesemena-menaan, melawan xenofobia, melawan militerisasi, melawan perusakan lingkungan, melawan fasisme, melawan pengkotakan, melawan hipokrisi moral, melawan pemusnahan, melawan kelaparan, melawan kurangnya perumahan, melawan modal besar, melawan kediktatoran, melawan politik liberalisasi ekonomi, melawan kemiskinan, melawan perampokan, melawan korupsi, melawan diskriminasi, melawan kebodohan, melawan kebohongan, melawan ketidakpedulian, melawan perbudakan, melawan ketidakadilan, melawan pelupaan, melawan neoliberalisme, demi kemanusiaan...

Di sini, aku hanya mencoba berbagi (bercengkerama) tentang banyak hal seperti yang aku utarakan di atas. Terimakasih sekali kalian mau membaca apa yang aku tuliskan secara... ya, mungkin serampangan saja. Tapi ini salah satu caraku untuk berbagi dan akan belajar lebih banyak dari kalian. Beberapa waktu lalu aku mengirimkan surat-surat yang kira-kira isinya sedikit bersinggungan tentang apa yang baru saja aku sampaikan. Aku harap ada manfaatnya buat kalian. Kalau pun tidak, itu bukan masalah besar buatku.

Nb : "Ketika aku menulis untukmu pena ini tergetar, tinta hitam yang dingin berubah merah dan menggigil, lalu hawa panas tubuh manusia yang jernih memancar dari kedalaman hitam itu. Saat aku menulis untukmu tulang-belulangku ikut menulis, aku menulis untukmu dengan tinta tak terhapuskan dari segenap perasaanku"

Wednesday, July 06, 2005

Surat Kepada Layang 1

Aku menulis surat kepadamu karena aku memang ingin menulis surat kepadamu. Senja baru saja berlalu, tak bersisa. Terlintas di benakku barangkali aku bisa bercakap-cakap denganmu tentang apa yang terjadi dalam keseharianku sejak kita terakhir bertemu di suatu perjamuan. Oh ya, saat ini aku sedang sembunyi dalam hiruk-pikuk kota (tepatnya hindari sepi). Sebenarnya aku tak punya sesuatu apapun hingga aku harus menulis surat untukmu. Sekali lagi hanya karena aku ingin menulis surat untukmu, yang kira-kira aku bisa menulis apa saja sekehendak hatiku tanpa khawatir melenceng dari maksud suratku. Aku beritahu padamu bahwa aku menghilangkan kalung pemberianmu dan cangkir biasa kau menuangkan teh untuk minum kita berdua. Jangan marah ya, sebab waktu telah menggantinya dengan yang lain, dengan jawaban dari teka-teki tentang kalung dan cangkir itu, bahkan tentang kita. Tetapi ada sesuatu yang masih menggangguku, dan seringkali merebak-rebak dalam kepalaku. Sesuatu yang menari-nari tanpa aturan seperti suara tuangan teh ke dalam cangkir. Sesuatu yang membuat dahiku berkerut dan nadiku terus berdenyut. (cinta?)

Aku terduduk di teras untuk sekedar merokok dan menikmati secangkir kopi (bukan teh lagi). Malam sudah sampai disini. Seperti malam-malam sebelumnya, merenung menjadi sesuatu yang wajib bagiku sejak terakhir kita bertemu. Ya, sesuatu yang wajib. Dan seperti biasanya, secangkir kopi -kadang lebih- dan rokok menjadi teman paling setia, lebih setia dari apa yang kau kira. Ah, aku sendiri tak tahu persis setia itu seperti apa, mungkin karena aku bukan termasuk pemuja kesetiaan. Di luar, disini, asap seringkali membentuk sesuatu yang kadang aku tak mengerti sama sekali. Semacam manifestasi dan representasi dari apa yang kurasakan dan apa yang terjadi pada diriku. Itu Asap. Asap rokok yang kuhisap dalam-dalam dan kuhembuskan di wajah malam. Sebenarnya ingin kuhembuskan di wajahmu, tetapi rasanya tidak mungkin, sebab wajahmu seperti apa aku sudah sulit membayangkan. Makanya aku lebih memilih malam karena ia tak pernah menolak kehadiranku. Tidak seperti...

Oh ya, disini, ada sesuatu yang membuatku tertawa. Juni telah berlalu dan Juli telah menggantikan. Tetapi Juni masih saja bergelayut manja di dada Juli dan berpura-pura tidak tahu bahwa showtime-nya telah berlalu. Dan dengan arogan-nya dia berteriak untuk menghentikan suara binatang-binatang malam di bulan Juli. Aku merecoki. Ah, tidak. Aku sedang menyokong Juni untuk melakukan hal yang lebih ekstrim. Membunuh misalnya, atau mengubur bulan yang lain. Tetapi Juni tak berani, makanya dia yang akhirnya terbunuh dan terkubur. Bukan oleh bulan-bulan yang lain, tetapi oleh ketakutannya sendiri.

Beberapa waktu yang lalu ada seorang perempuan mengirim surat kepadaku (aku rasa kamu tidak cemburu lagi). Seorang perempuan yang menginvetarisasikan segala kecantikannya dalam kata-kata yang menggejruk sukma. Ah, aku terlena ketika membaca suratnya. Sepertinya perempuan itu sedang berusaha membuatku jatuh hati. Tetapi bisa jadi surat itu salah alamat. Bukan untukku tetapi untuk lelaki bodoh yang lain. Oh, aku bodoh pula rupanya. Aku tidak kuatir pada perempuan itu. Yang aku kuatirkan adalah kebodohanku. Ah, aku ngelantur kemana-mana. Tetapi buatku tidak menjadi soal karena aku merasa tak ada yang melenceng dari apa yang ingin kutuliskan. Itu saja. Toh ini bukan surat cinta yang harus berindah-indah. Sekali lagi, aku menulis surat padamu karena aku memang hanya ingin menulis surat padamu.
Perempuan itu juga mengirimkan sebuah buku yang berisi tentang gambar kecil-kecil dengan tinta hitam. Ya, hitam saja, tak ada warna yang lain. Sebab mungkin sebaiknya begitulah buku dan kata-kata, penuh gambar-gambar kecil yang melompat keluar dari kepala atau dada atau tangan, atau dari inderawi kita, menari-nari dalam hati tiap kali buku itu dibaca. Bukankah buku adalah hadiah terbesar yang diberikan manusia pada dirinya sendiri? Ada kata-kata dalam buku itu yang membuatku terpesona. Secuplik pasase yang terus-menerus membuatku ingin memecahkannya.

"Apakah kata-kata tahu caranya jatuh terdiam tatkala mereka tak bisa menemukan tempat dan saat yang memintanya demikian? Dan mulut, tahukah ia caranya mati?" (Las Palabras Andantes, Walking Words VIII, hal. 262)

Aku menerima buku itu berikut kata-kata tentang tahu caranya diam. Telah kupikirkan, kurenungkan tentang ini selama beberapa malam, dan aku bertanya pada diri sendiri, apakah telah tiba waktunya untuk jatuh terdiam, apakah momen telah berlalu dan ini bukan tempatnya, apakah ini bukan saatnya bagi mulut untuk mati. Aku berpikir semua ini adalah tentang ketakutan dan keberanian, tentang bagaimana kita menghadapi rasa takut, tentang bagaimana kita tumbuh menjadi kuat sehingga dapat menghadapi yang lebih kuat. Rasa takut yang besar membuat kita menjadi kecil. Nah, bagaimana kita tumbuh menjadi lebih kuat itulah yang harus diupayakan. Mungkin ini inti dari buku itu. Tapi aku yakin kau akan menemukan kata-kata yang lebih baik untuk mengutarakannya. Pilihlah waktu yang tepat buatmu. Sepertiku yang memilih malam, dan mungkin kau akan melihat kisah meluncur keluar seperti gambar kecil-kecil yang mulai menari dan mengaduk-aduk hati. Mungkin itu sebabnya ada tari dan jantung hati.


Lelaki Tuak malam

NB : "Menulis tak lebih dari sekedar tindakan menakar pengalaman dari apa yang dituliskan; dengan cara yang sama, diharapkan membaca teks tertulis juga merupakan tindakan menakar yang serupa" (John Berger)

NB: walah.. hampir lupa, kalau kamu penasaran juga, kamu boleh meminjam buku ini.

Byuuurrr!!!

Maaf, aku belum bisa menjawab apa-apa atas pertanyaan-pertanyaan yang kalian berikan. Disini selalu hujan, selalu hujan sampai detik ini. Malam juga tampak lebih hitam disini. Aku belum bisa keluar karena ndak ada payung disini. dan aku sedang mengusahakannya. Mungkin daun-daun yang kurangkai ini bisa menjadi payungku kelak (kalau ndak keburu menyerpih karena kering atau tersapu angin). Maaf, aku belum bisa kesana. Tolong kalau ndak keberatan, sampaikan salamku pada matahari, rembulan, awan, pokoknya segala yang di luar sana. Aku ndak tahu apa kalian masih ingat aku, aku juga ndak tahu apa kalian masih ingat dengan leluconku. (atau kalian?...).

Memang harus kuakui, tentang kelunturan jubah membuatku harus berhenti sejenak untuk membersihkan badan dan mencuci jubah terlebih dahulu sebelum aku keluar. Ndak usah risau, aku pasti keluar -menemui kalian- setelah apa yang harus kuselesaikaan selesai. Tetapi siapa yang risau? Gubrak!! Coba -kalau kalian bersedia- bayangkan, seorang pendaki gunung yang terjatuh dari ketinggian setelah hampir saja mencapai puncak, dan ndak ada seorangpun tahu tubuhnya tergolek di kaki gunung itu. Mungkin mendaki gunung yang salah atau bisa jadi dia yang salah perhitungan (ini lebih masuk akal). Setelah tersadar, dia ndak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali, bahkan untuk sekedar meringis kesakitan (bibirnya juga ndak bisa digerakkan). Mungkin sebenarnya dia ndak butuh pertolongan, tetapi cuma perlu mendengar kata, "Bagaimana rasanya terjatuh?" Seperti halnya kalian, aku juga telah memulai sesuatu (mungkin lebih dari sekedar) dan aku harus menyelesaikannya. Penyakit mental, beban berat dan perjalananku selama ini bisa jadi membuatku terlihat lebih tua, tetapi menjadi tua -itu pasti- bukanlah hal yang harus kutakuti (kukhawatirkan?), tetapi aku rasa harus disyukuri dan dinikmati. Seperti kita menikmati buah dan makanan enak dan lezat yang kita makan, yang tanpa kita sadari kemudian membusuk dalam tubuh kita. Apakah kalian memikirkan makanan yang membusuk dalam tubuh kalian?

Begitulah, banyak yang tidak terduga terjadi. Apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasakan, sama sekali di luar dugaan. Apa yang terjadi adalah effect dari apa yang telah terjadi. Hidup seperti estafet dimana finishnya adalah dimana kita memulainya (start). Seperti juga jarum jam di dinding rumah kita.

Lihatlah, bukankah aku masih terlihat kuat dengan penyakit mental, beban berat, dan meski belum bisa berbuat apa-apa? Perjalanan ini masih panjang, ndak usah pedulikan aku, melangkahlah terus ndak usah menengok ke belakang (ke arahku) seperti aku juga melangkah terus tanpa peduli siapapun tertinggal atau siapapun mendahuluiku. Ndak usah menunggu karena aku pun ndak akan menunggu siapapun. Aku punya jalan dan hidupku sendiri dan aku harus mempertanggung jawabkannya sendiri. Kalau memang ada harapan untuk bertemu -mungkin- aku akan menunggu. Tetapi masalahnya apakah aku atau kamu atau kalian akan sampai di ujung senja (seperti yang diharapkan) atau ndak. Byuurr!!