Senja yang Retak
hujan tibatiba, basah lerenglereng senja
nadanada sumbang berloncatan luruh di bebatuan
kelelawar terbang ke timur saat senja merah kesumba
perahu retak layar compangcamping berangkat hatihati tadi pagi
meninggalkan buihbuih ombak di pantai yang berlarilari
pada hari ini di depanmu gerbang tua, kau berpaling
kami kenang taman di halamanmu
karena kita kadang memang butuh perpisahan
tapi bukankah kita baru sejurus bertukar sapa
saat ada bagian senja tersedu
ketika katakata menampakkan wajahnya
dan lagu sendu terdengar di ruang rindu
apa yang kau tuliskan di layar melankoli, apa?
akankah kau simpan pena dan kembali kau baca sajaksajak tua
atau akan kau tulis puisi aliran darah dan gerimis di tanahmerah
panggilanpanggilan tak bisa di diamkan hai kau penyair
dimanapun, kemanapun rindu tak dapat sembunyi
walau keranda luka telah di usung keluar arena
karena puisi telah memanggil kita sejak dini hari
sejarah rindu telah di catat di ruangruang gelap
dengan berpakaian hitamhitam dengan tangan gemetar
dengan hati yang kelam
setelah itu kau pergi tergesagesa sambil berkata;
bahwa masih banyak pintu yang harus kau ketuk
masih banyak pundak harus kau tepuk
lalu kau turunkan gerimis di atap rumah kami
dan kau pergi tinggalkan jendelajendala yang basah
di senja yang retak
hari ini ruang rindu tanpa suaka
seperti bulan yang lalu dalam bayang abu jelaga
hari esok rindu tetap ada tapi entah dimana muara
robekan penanggalan teronggok di pembakaran dupa
angin tak lagi menderu liar tapi mendesah tertahan
menggigiti kulit seperti rayap pada kayu
luluhlah senja retak dalam gigil tubuhmu
terurai katakata melepas ikatan air tanah dan udara

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
Links to this post:
Create a Link
<< Home