Tuesday, December 31, 2002

Tertepi Sampanku

asa yang kau pamirkan bagai api bagi darahku

tiap lembar rindu yang kau buka ku eja setiap waktuku

dan ketika engkau ucap kata; lontar keringmu

tertepi sampanku di telaga hatimu



Ingin ku Ikuti Langkah Topan

katub jiwa ini tlah lelah atur kehendakmu
singa perangai; engkau padaku
lihatlah, kau tlah melukis garis-garis merah
sekujur tubuhku
indah untukmu

kau pempat labirin otakku, hingga
alirnya terputus-putus langlangmu
beruk tertutup telapak tanganmu
ranting-ranting tubuh terinjak telapak kakimu

ingin ku ikuti langkah topan
bersama tercabutnya akar tunggangku
mengambang di lautan


Lunglaikanku

perkasanya kekar hatimu
mencengkeram geliatku

sutra pilihan dalam hatimu
lunglaikan keangkuhanku

engkau menjadi api
atas kayuku

30 Desember

Biarlah Hanya Dalam Angan

Dan bila lentera angan dinyalakan
yang tampak hanyalah bentangan kekaguman
tentang keindahanmu yang memabukkan jiwa

kemudian engkau mulai memamerkannya diatas panggung pesona
meliuk-liuk memberi warna kemegahan singgasana
dan dengan sorot mata menggoda kau ulurkan tangan liarmu padaku
yang bersendirian berpelukan dengan kesepian

ah, kulitmu terlalu halus untuk menggengam tangan kasarku
hingga kutak mau karenanya kulitmu tergores kuku-kuku hitamku
biarlah kau hanya menjadi bidadari dalam anganku
walau kutahu engkau nyata berikan lumbungmu

Oct. 21


Aku menjadi Pangeran

sejam yang lalu palu hakim mengayun mengetuk
dan bagiku adalah gempa dalam jiwa
jiwaku tergoncang sempoyongan tanpa pegangan
hatiku menjerit menderit-derit kemudian terjungkal
aku telah menumpahkan darah dan membanjiri rumahku sendiri
ketulusan memberontak bersama sepasukan rasa tak bersalah
namun apa daya,..
mereka ada dalam ruang yang berbeda,
mereka tak mampu masuk kedunia yang tergoncang gempa
mereka pun tak mampu mencegah tangan-tangan kekar menggenggam lenganku dengan
kasar sebagai pesakitan

aku hanya menunduk dalam tatapan mata-mata kutuk yang mencorong tajam bak mata serigala hutan
aku hanya melungkruk saat tangan-tangan kasar melemparkanku dalam ruang pengap kemarau sinar

aku terdiam memeluk lututku yang merapat ketakutan
teman-teman mulai berdatangan
nyamuk-nyamuk liar
kecoa-kecoa jalang
semut-semut hitam
mereka menyapa penuh persahabatan
dinding-dinding tebal kusam tersenyum
menyambut pangeran baru dalam kerajaan kejenuhan

yah,.. aku disini menjadi pangeran
dan diluar sana aku hanyalah menjadi cermin ketidak berdayaan
aku senang manjadi pangeran
walau hanya dalam sepetak kepengapan

Juli. 30


Satukanlah

satukan seperti kilatan yang membelah langit
hingga kau bisa mengundang hujan yang ditunggu berjuta insan
setelah itu jadilah air yang melepaskan dahaga makhluk
juga melepaskan dahaga tanah yang meretak
hingga saat kau kembali padanya
tanah-tanah itu memelukmu dengan penuh kasih sayang

satukan seperti keris dan warangkanya
hingga kau takkan membuat telaga darah dari ujung lancipnya
setelah itu jadilah bunga setaman yang melelapkannya
hingga saat hantu-hantu datang membayangi
kemudian pergi setelah menghirup wangi aromanya

satukan seperti jiwa dan ragamu
hingga kau dapat tahu sedih atau senang dalam hatimu
lalu setelah itu jadilah dirimu
agar kau tahu bahwa waktu selalu menjemput dan melepas kepergianmu
berlaksa gerbang terlihat dan terlalui
ditiangnya terpahat jawab yang musti kau kaji

Juli. 31


Yang Abadi Tanpa Akhir

telah datang bagi kalian penyeru kebenaran
yang membuka jalan akan keindahan abadi
dan dihari yang telah digariskan
banyak muka tertunduk hina, bekerja keras lagi kepayahan
memasuki api berkobar yang sangat panas
diberi minum dengan air dari mata air yang sangat panas pula
tidak ada makanan bagi mereka kecuali dari pohon yang berduri
tidak akan menggemukkan, tidak pula menghilangkan lapar

dan banyak pula muka yang bersinar berseri-seri
menuai panen atas benih-benih pilihan dari muka bumi
duduk ditakhta yang indah lagi tinggi dalam taman syurgawi
yang didalamnya ada mata air bening sejuk yang mengalir
gelas-gelas berisikan minuman tanpa aroma duniawi
dan peraduan dengan bantal-bantal tersusun rapi
dan permadani indah terhampar sepanjang mata memandang
abadi,...
tanpa akhir,...


Kekasih Hatiku

kekasih hatiku,...
betapa kegalauan ditiap malam terusir pergi
dengan datangmu bersama berlaksa cinta
keikhlasanmu menyejuk tentramkan hati gundah ditepak jengkerik ditiap malam
tak sabar hati ingin segera menyatu dan bermanja denganmu
diatas peraduan bertabur bunga taman surga berkelambu restu ibunda malam
datang dan kuaklah selambu, baringkan tubuhmu dan kita nikmati kebahagian yang
lama tertahan

bersama kita tinggalkan musim pencarian dan kita sambut musim pertemuan
yang mempertemukan hatiku dan hatimu, jiwaku dan jiwamu dalam tangga kehidupan
baru
akan ku penuhi setiap cawan-cawan cintamu dengan air yang mengalir dari mata
air kasihku
akan kurajut benang-benang rindu menjadi sutera lembut yang memanjakan kulit
pualammu

kekasih hatiku,...
biarkan detak jantung kita seirama
dan kita arungi samudera biru hingga ujung waktu

Juli. 20


Masih Adakah Tersisa Tempat Untukku ?

senang hati kau sudi hadir
walau tanpa secangkir teh yang biasa kau nikmati dengan lagumu
dalam satu meja berhadapan yang kusiapkan di atas awan
hanya bertatap saja tanpa kata
awan putih mengarak kita menjelajahi angkasa
betapa gambaran itu membuahi jiwa gundah merana

Indah,....
bagaikan slide-slide berputar di depan mata
walau hanya hitam dan putih warnanya
tak banyak berharap untuk menjadi berwarna
tak banyak berharap tuk menjadi nyata
mungkin cukup dalam angan saja
karena masih ada panah menancap di pusara hatimu
bukan dari busur yang bersemayam di hatiku

Indah,...
ijinkan kutanam bunga di sudut petak hatimu
berikan kursi agar aku bisa duduk dan memainkan gitar
dan menyanyikan lagu-laguku
walau tak menyebarkan wangi
tapi kuharap bisa menghias sudut hatimu
masih tersisakah tempat untukku?


Bayangan Semu

aku menjerit dengan seluruh suara
dari lorong yang sempit berbaur aroma bunga surga dan neraka
semua sendiku melungkruk tanpa daya
saat sadar diri tersesat dibelantara yang kau tata
entah sengaja atau tak sengaja

bahkan aku tak mampu masuk kedalam rumahku sendiri
karena jalan pulang telah kau samarkan
dengan harapan tak pasti
dengan senyum menawan mengunci pandangku

pintu terpotret di kornea tak terbuka
jendela rapat tanpa sela
bahkan pagar hatimu begitu kokoh dengan kawat duri
pernah diri memaksa meraksek
tapi justru luka menganga dari dada hingga pusarku

hai bayangan semu,...
jangan berdiri didepanku lugu
agar aku bisa menoleh dari pandangan yang mengunciku
agar aku dapat melihat bayangan tubuhku
agar aku bisa melihat bayangan selainmu



Kusampaikan Damaiku

ingin membingkai prasasti itu
tapi akan terasa indah bila siang dan malam saja yang membingkainya
goresan-goresan emosional menguat menandas
cermin jiwa yang gundah memaksa

awan-awan itu telah menyampaikan padaku
tentang rasa perih yang mengalir lewat pori-pori tubuhmu
dan kusampaikan damaiku lewat kabut putih tipis
yang akan menyelimuti tubuhmu
dan merasuk lewat setiap pori-pori tubuhmu pula

maka simpanlah apa yang telah disampaikan
lewat langit biru menghantar



Tak Cukup Hanya Keyakinan

hatiku masih gagu untuk sekedar mengucap sepatah kata
kakiku pun masih enggan untuk kuluruskan
masih saja terlipat menyangga tubuhku memandang bintang
tanganku pun masih memeluk lipatan kakiku mengusir dingin
yang kadang menyerang dalam kelam
mataku juga masih rancau memilah bias-bias bintang
yang mana yang harus benar-benar kupandang ?

keyakinan tak cukup hanya keyakinan
keyakinan masih menjanjikan kegamangan
yang kunanti saat ini adalah selimut
yang melindungiku dari dingin yang menyerang
bukan hanya sekedar sebias sinar yang menyilaukan


Kekasihku

kekasihku,...
masih ingatkah kabut yang menghentikan langkah kita ?
saat kau terpeleset dan hampir lepas genggaman tanganmu
dan gravitasiku menarikmu kembali tanpa ragu

kekasihku,...
kabut itu telah berlalu, hanya kabut putih yang membawa beku
yang membekukan bibirmu saat begitu dekat kita menyatu
tanpa kata, tanpa desah nafas kita, hanya mata mewakili semuanya,
semua yang pernah ada diantara kita
semua yang pernah tergambar didinding-dinding haluan kita

kekasihku,...
masih ingatkah saat kita sama-sama dihanyutkan deras sungai ?
saat itupun genggaman tanganmu hampir terlepas,
hampir saja aku kehilanganmu,
tapi kembali sungai ini masih mengasihi kita,
bukan kita,.. tapi cinta kita

kekasihku,...
masih ingatkah tentang bulan ketujuh yang kau isi dengan malam bahagiamu ?
tentu kamu masih ingat, tapi aku sama sekali tak ingat malam itu,
karena malam itu aku sedang menunggu kereta senja yang akan membawaku jauh darimu.
dan kau,... menikmati malam tanpaku
dan aku,... hanya sendiri menapaki jejak-jejak langkah kita
tanpamu,...

kekasihku,...
bukan,... bukan kekasihku lagi,...
tapi pemberi luka hati.


Damailah

semerbak bunga-bunga tiada hilang
saat alas kaki masih basah
dengung bergumam mengiang
aku hanya tertunduk tanpa tulang

betapa prasasti yang menancap di tanah merah
masih tergambar nyata dalam setiap jengkal tanah terpijak
betapa alur alir air mata masih membekas kering

ingin rasanya menyatu dalam nafasmu
dalam ruang waktu yang tak tertentu
hanya doa tersembur tiap gerak sujudku
semoga ada yang abadi diantara semerbak kamboja

kau pernah lepaskan sendi-sendi tulangku
dan karenamu pula sendi-sendi ini kembali menyatu

damailah,...
beribu lembar tentangmu terukir di kalbu
menjadi bait-bait membatu
yang kupahat dengan mata pisau hatiku





Monday, December 30, 2002

Bila ini Hariku

apa yang sanggup aku berikan
kepada sepasang tangan yang memberikan kehangatan
kepada sebelah jiwa yang menuntun tanganku menulis

akankah hatiku akan menjadi pedati
yang menanggung berat beban kusir dan barang
dan rodaku tanpa dapat menggilas kerikil-kerikil kecil jalan

mungkinkah keinginanku mengalir bagai sungai gangga
yang mengisi kendi-kendi para nestapa ?

dan aku adalah sebuah angklung
yang digoyang-goyang bersuara melengkung
hingga hati dan jiwaku terguncang-guncang
oleh ayunan tangan keriput hitam legam

masih saja aku berkubang dalam kesunyian
mengais-ngais makna berjubah debu-debu pinggiran
apa yang telah aku panggul dalam karung bertambal-tambal
yang aku dapatkan dari keheningan

Andai hari ini ujung satu garis ditanganku
dimanakah telah kusimpan makna
dan jalan manakah yang telah ku kangkangi

bila hari ini benar-benar menjadi hariku
maka akan ku tegakkan kepalaku diatas gunung kota
dan akan kutarikan milyaran makna dengan lidah apiku

Nov. 16


Aku Lupa, Engkaupun Lupa

masih ada yang tertinggal diantara puing-puing janji
aku lupa, engkau pun lupa

masih ada yang tertata diantara gejolak jiwa muda
aku lupa, engkau pun lupa

masih ada yang terdengar lembut diantara gelegar amarah
aku lupa, engkau pun lupa

Dan saat kita sama-sama tak pedulikan rasa
barulah kita mampu mengingat jejak-jejak bermakna
yang pernah kita tinggalkan hingga persimpangan

Nov. 15


Tonilmu

betapa ingin ku kembali pada babak itu
yang menampilkan dialog antara aku dengan pintu kamarmu
hanya suara tawa riang dan senandung lagu tonil terdengar
kau tak juga membuka pintu kamarmu

ku lagukan sajak-sajak pendahulu merdu merayu
musik tonil tak mengenal iramaku
riuh gaduh karna emosi tegakku
botol-botol melayang kearahku

kemudian engkau keluar saat aku terdiam benjut kepalaku
senyum dan tawamu di iringi lagu riang
oh, aku bukan tokoh utama tonilmu

Nov. 15


Dimana Engkau

Dimana engkau wahai pembuyar mimpi ?
yang datang saat pagi menggoyang tubuhku
memercikkan embun dikelopak mataku

malam hari kau untai janji dalam mimpi
memugar puing harapan yang pernah terhempas gelombang
berdansa denganku dibawah kesadaran
dimana engkau wahai pemberi janji ?

bila engkau ada, beri satu tanda
saat surya tegak berdiri membelalakkan mata
agar saat senja dapat kujemput dirimu ditelaga mimpi
turunlah bertangga pelangi

Nov. 15


Ketika

Ketika hatiku bertutur tentang cinta padamu
awan hitam bergulung cepat menutup wajah langit
mentari tertawan kelam hitam siang
petir menggelegar menyambar-nyambar
senja prematur, siang terkapar mengejang
tak ada lembayung tuk memahat kata-kata

ketika engkau menganggukkan kepala dan menyandarkan di dadaku
langit terbelah, matahari marah, awan-awan hitam muntah
hujan dan badai mengikis satu sisi bumi tempat kita berpijak
tercipta gurun berpasir merah membakar seluruh tubuh
dimana hasrat milikimu bertahkta ?

Dan ketika pori-pori tubuh kita saling berpeluk cium
ketika bibir kita berpagut atas nama cinta
ketika irama degup jantung kita seirama
ketika mata kita menciptakan cahaya lurus
maka tercipta liang lahat tuk pengutuk cinta

dan di kejauhan dipuncak gunung asa
berkibar bendera biru bercahaya

Nov. 16


Sang Hening

Sejenak keheningan menyeruak di antara kelepuk-kelepuk didih yang melonjak-lonjak. Gagah terlihat sang hening berdiri menyerukan harapan-harapan tentang masa yang belum tergambar, tentang hari yang belum terlewati langkah-langkah detik jarum jam, tentang pepohonan yang menghijau yang masih berupa bebijian. Dengan lantang pula dia menyerukan akan datangnya hari yang di hiasi mentari tersenyum lebar di waktu siang dan purnama penuh di waktu malam saat tajam-tajam sinarnya menghunjam sisi-sisi bumi yang lapang. Dan dengan lembut membuaikan dia bisikan yang belum terdengar dan dia gambarkan yang belum tergambar.


Mimpi Petani

gubuk masih tegak berdiri
manopang petani bersila
berkenduri dengan burung-burung
bercengkrama dengan padi yang menunduk
bertatap mesra dengan gunung dan bukit
menyapa lembut tiap sepoi yang membelai

pematang menjaga keutuhan
bajak setia tuhu menanti sentuh
saat senja menggambarkan harapan
lewat lembayung jingga
petani tersenyum menggendong janji
menyarungkan mimpi



Sunday, December 29, 2002

Engkaulah Cinta

ada yang merambat dari hati menuju mataku
adalah rasa ingin memandangMu

ada yang merayap cepat dari hati membius otakku
adalah rasa selalu pikirkanMu

ada yang terbang dari hati melayang di anganku
adalah bayangan wajahMu saat tersenyum padaku

ada yang melesat cepat dari hati menuju ujung-ujung jariku
adalah rasa ingin selalu menuliskan sajak tentangMu

ada yang ingin berlarian dari hati menuju bibirku
adalah kata-kata kasih manis untukMu

ada yang mendorong-dorong dari hati menuju kedua kakiku
adalah rasa ingin berjalan untuk menemuiMu

ada yang berjalan bagai semut dari hati menuju kedua telapak tanganku
adalah hasrat ingin menggenggam kedua tanganMu

ada yang mendidih dalam dadaku menguap lewat pori-pori
adalah peluh karna lelah menahan gejolak hatiku padaMu

ada yang mengalir dalam kapiler kapiler darah
terpompa dari jantung ke seluruh tubuhku
adalah rasa cintaku padaMu

Engkaulah Cinta yang membangkitkan segala rasa

15 Desember


Engkau Ada dan Tiada

tanah menangis
pipinya yang kemerahan basah oleh airmata langit senja
seikat lidi berdiri tegak di pinggir akhiran
engkau menunggu yang pasti datang
tanpa sesiapa

kabut datang kabut pergi
gigil meresap tiada rasa terhisap
engkau terdiam, belum juga terjaga

kesunyian meratakan fana
engkau ada dan tiada

16 Desember


Tiada Lagi Daya

Angin menggulingkan ketegaran melawan gigil yang kian menggigit
Pori-pori menjerit kesakitan tertusuk dingin yang menyerang
Mata hati berkaca-kaca menahan kelu memeluk tulang sukma
Rintihan mengiris membahana dalam rongga jiwa

Tiada lagi daya dapat menopang limbungnya tubuh kelana
Dalam pelukan kelelahan membekukan hati disekap sepi
Airmata tak mampu lagi berkata-kata
Hanya memasrahkan alirnya pada alur pipi tak tentu muara

Dan ketika sepoi segar pagi menyapa
Hati yang ringkih menunduk jiwa melungkruk
Tubuhpun runtuh setelah sekian lama terpaku tanpa aroma
Lahat cinta tercipta dari kuku-kuku serigala dera

Maka jiwa, hati dan raga menyerahkan dirinya
Pada hakikat suratan yang telah tergaris sejak kala

Oct. 24


Bernafas

pagi bernafas dengan kabut
siang bernafas dengan debu
senja bernafas dengan jingga
malam bernafas dengan gelap
aku bernafas dengan rindu


Kulukis Wajahmu Saat Malam

gemerisik dedaunan tertiup angin membisikkan sajak
yang kau cipta di dalam lautan gelap tak bertepi
hatiku merindu, rindu pada api dan air di matamu

kutengadahkan tangan berdoa
jarum-jarum perak turun dari langit menghunjam kebumi
meresap membasahi duniamu
besertanya ada rinduku, ada sajak cinta untukmu
hatiku merindu, rindu pada desah nafas dan lembut gerak bibirmu

di malam saat kulukis wajahmu di langit-langit kamarku,
tetes-tetes airmatamu sejuk damaikan hati dan jiwaku
dan doa kuhembuskan ke langit untuk kedamaianmu


Kutantang Engkau

Malam selalu kutelanjangi dengan segala taburan laknat
yang tajam pedang lengkungnya mencacah tubuh penyunggi amanat

hai kau yang terbahak diatas singgasana tulang,
menginjak permadani kulit hitam legam
minum dari tuak darah kaum proletar
mandi dari keringat jiwa-jiwa terkapar kelelahan

kutantang engkau bergelut diatas telapak tangan langit
kutantang engkau berenang dalam kedalaman bumi
Akan kuruntuhkan malam hitam kusam
yang telah kau bangun bersama sekutu-sekutu setan



Satu Ronde Mata

airmata yang pernah menggenang
kembali menyalakan pelita jalan
sedu sedan yang pernah mengguncang
tiupkan wangi aroma bunga senja
buatku rindu ingin segera menyapa


Jangan Ingkari Hatimu

Jangan kau ingkari jeritan hatimu
bahwa kau mencintaiku
karna kau menangis
saat ku melangkah meninggalkanmu

Saturday, December 28, 2002

Angan

air terjun kemarau diwajah layumu
aku terhanyut arus sungai yang kau cipta
hingga aku berenang mencari muara dan
aku terdampar di pantai hatiku

kita berangan tentang pertemuan
yang entah kapan detik berhenti
untuk jemari kita saling berpelukan


Kepak Sayap Kesepian

Kemudian gerbang dadanya terbuka penuh
dan kepak sayap-sayap kesepian terbang jauh menuju gunung
terdengar lagu hati dalam keheningan
jiwanya menarikan tarian kesedihan mendalam

Hari-hari bernafas kepedihan dalam rongga-rongga
desah-desah rintihan berulang-ulang terdengar
menggema

Begitu banyak serpihan-serpihan hati yang berserakan
begitu banyak garis-garis lembut tak bersambungan di tangan
hingga kemanapun pandangan bermuara
mengundang derak-derak nestapa

Ingin rasanya kembali memeluk ombak laut
yang setiap deburnya adalah lagu jiwa yang menggetarkan
yang setiap ayunannya adalah belaian membuaikan
dan putih buihnya adalah kata-kata yang menyejukkan

Namun bagaimana bisa langkahku sampai di pantai
sedangkan setiap langkah adalah pengurangan umurku
maka kubiarkan kepak sayap mimpi mengantar jiwaku menemui laut
walau saat kembali tubuhku telah berkendara maut


Aku Tak Percaya

Saat bayanganmu menyapaku dalam mimpi,
aku percaya itu mimpi

Saat wajahmu nampak ayu saat aku bercermin,
aku percaya itu hatiku yang bercermin

Tapi saat kelebat bayanganmu meningalkan aroma melati

Aku tak percaya bahwa engkau telah pergi


Kata-kata Rasa

kesedihan berkata;
menangislah dengan sedu sedan
itulah irama terindahnya

keperihan berkata;
mengalirlah airmata
dari jendala hati
itulah bahasa terdalamnya

kesepian berkata;
belahlah keheningan
akan terkuak pintu jawaban

kebahagiaan berkata;
peluklah kesedihan
yang tlah memberi tempat
bagi tawa dan canda

Sept. 30

Tanda Jalan

tanda jalan telah terpasang
jauh sebelum kita memikirkan jalan
di setiap turunan dan tanjakan
di setiap tikungan dan persimpangan
engkau tahu, aku tahu, semua tahu
kecuali tikus-tikus dalam kantong plastik

setiap tanda jalan adalah jalan bagi pelanggaran
di setiapnya terselip kebanggaan atas kesalahan
kemenangan diatas pengingkaran kebenaran
tanda-tanda jalan ditanam dengan kaki
namun kemudian mata dan hati mengingkari
bahkan kadang tangannya sendiri yang mencabuti

berdiri berkacak pinggang di panggung meneriakkan kebenaran
dandanan bak pangeran kerajaan
gemerlap hidupnya digali dari pencekikan kelemahan
jubah tersulam dari rambut-rambut wanita merana
yang diberi secawan anggur memabukkan

janji-janji dikibarkan di atas istana kemelaratan
berpenduduk tertunduk dengan kacamata hitam
tetap berkoar tentang masa yang belum terjelang
memberikan setumpuk rencana di meja penjudi

skenario pengingkaran telah dimulai
tanda-tanda jalan mulai diingkari dan dicabuti
berganti tanda-tanda pura-pura berisi peta
kebanggaan menjadi topi yang terbuat dari kulit manusia
melindungi kepalamu dari kepanasan
namun kelamaan akan mendatangkan keringat dan gatal-gatal

Kemana dipenjarakan nurani embun pagi
ataukah belenggu penghuni neraka terlepas
hingga merasuk kedalam jiwa-jiwa bertopi kulit manusia
berjubah panjang hati wanita menutupi kulit tubuhnya yang hitam legam
berkacamata hitam menutupi sinar merah matanya

kejujuran terluka oleh kawat-kawat berduri
terhalang masuk tuk mengadili
keadilan seram tuk mengetukkan palu
karna kalajengking berbisa memenuhi kantong jubahnya

kejujuran terbeli
keadilan tergadai
tanda-tanda jalan menjadi prasasti bisu
jiwa-jiwa yang membredel tiap perut kelaparan
membungkam kejam teriakan keberanian

alangkah senangnya tikus-tikus dalam kantong plastik
tak melihat, tak merasakan di luar kubah plastik
atau mungkin pengingkar tanda jalan itulah tikus-tikus dalam kantong plastik
yang tanpa sepengetahuan telah keluar menjelma


Bayanganku Menjelma

Bayanganku menjelma merah
menjadi warna matamu saat kau tersedak langkah
aku hadir di matamu merasakan sesak
aku hadir saat ini kekasih
ku ingin ikut rasakan sesak menusuk ujung dadamu
kemudian aku menjelma menjadi tirta untukmu

Bayanganku menjelma merah
menjadi warna darahmu saat tergores ranting kering sisi jalanmu
aku hadir kembali merasakan sakit goresan pada kulitmu
kulitmu yang tergores warnaku yang mengalir
aku hadir saat ini kekasih
ku ingin ikut rasakan perih luka menjadi rintihanmu
kemudian aku balut lukamu

Bayanganku menjelma keringat
menjadi penat di tubuhmu saat kau lelah berjalan
aku hadir pada pori-pori
kuingin ikut rasakan lelahmu
kemudian aku menjadi angin sejuk sepoi

Bayanganku menjelma dalam mimpimu
tuntaskan endapan rindumu berikan sejuta harapan tak semu
aku hadir ingin warnai asamu dengan tinta kasihku
melukis harimu menjadi keindahan
ku ingin selalu ada ditiap langkahmu

Bayanganku menyanyikan Lagu Cinta Aksara Hati
melemaskan rindumu yang menegang ditekan waktu
bayanganku memeluk jiwamu
lunturkan keraguan yang terbersit

Yakinlah kekasih,
tiada tempat seindah taman hatimu
tiada lagu seindah tawamu
tiada cahya seindah cahya matamu
tiada fajar seindah senyummu
Tiada keindahan tanpa cintamu

Sept. 12


Engkau Menjadi Kabut


Dan kulihat dirimu berkereta kabut, berkeliling gunung tempatku menepi dari
hujan yang tercipta dari uap limbah kata-kata di keramaian. anggun kutatap
wajahmu ayu, menyejukkan kegelisahan bertumpuk tanya dalam almari dada.
Kau sambangi aku tiap kali waktu berganti seolah kau mengerti kerinduan akan
hadirnya penjaga jiwa menepi kesunyi mengintimi keheningan di lereng gunung peka
jaman.
Dan bila kabut tertelan cerah mentari, engkau menjelma menjadi rindang dedaunan
tempatku bersemedi, bertutur tentang bijak alam memberi ujar lewat sepoi dan
daun yang menyapa lembut lewat gemerisiknya. bertutur tentang kekuatan jiwa
dari akar-akar yang mencengkeram bumi.
Dan saat Senja menjelang engkau menjadi lembayung, menawarkan pesona keindahan
cakrawala jingga, Datang bersolek dengan jelitamu mengabarkan malam kan datang
membawa berkaleng-kaleng cat hitam untuk kujadikan kanvas.
Melukis wajahmu dengan rasa terpesona, bertinta cahya rembulan purnama,
seburuknya adalah keindahan pesona jelita.
Kemudian kupajang dilangit-langit tidurku agar engkau hadir dalam mimpiku
menjadi bidadari pelangi.
Dan saat pagi menjelang, engkau kembali menjadi kabut disela-sela fajar.

Sept. 14


Prasasti Cinta

Wajahmu membayang di layar panggung sandiwara
Yang baru saja engkau tutup dengan hembusan nafasmu
Tersenyum dengan kerelaan membumbung bersanding rembulan
Matamu perlahan membening menatap lekat
Kubiarkan sorot mata bagai cahaya menelusup masuk kerelung hati
Menulis bait-bait sajak keabadian cinta di dinding hati

Keikhlasan menggenggam erat tangan hati
Membiarkan bayang wajahmu membuyar menjadi cahaya
Mataku bicara dengan airmatanya melepas bagian jiwa
Bulir-bulir airmata mengkristal menjadi harapan dalam genggaman
Menyimpannya dalam kotak rahasia hati
Mengejawantahkan dalam cita jiwa mengemban amanat nurani

Engkau mengabadi dalam dinding hati menjadi prasasti cinta
Indah terpahat dari kuku-kuku jemari lentik bidadari
Tertulis keindahan yang tlah terjelang dan asa tersimpan
Menjadi kenangan dalam pelukan sukma bersama waktu
Engkau selalu ada dan kan hadir dalam wujud berbeda
Dalam wujud cahaya di hatiku mengemban amanat jiwamu

Okt. 01


Wabah Kepedihan

jiwaku menyeringai bagai serigala
melolong tinggi tajam tengah malam
hening malam menggelepar berkeping-keping
telaga darah tercipta dalam kegelapan
menggenangi tanah retak meratap

wabah kepedihan merajai jiwa
keperihan menusuk-nusuk hati nelangsa
dada tegap dalam cerita misteri mengerikan
berlobang-lobang basah oleh darah
mengalir menjadi sungai baru menatap muara laut darah
membawa amanat jiwa dan hati meratap-ratap
gemericik jerit mengenaskan

bebatuan meringis-ringis perih
dasar sungai meronta-ronta dari belenggu
tiada kehidupan didalamnya
hanya penghuni hati dan jiwa menggelepar
kering cinta, gersang sayang

Sept. 16

Pencarianku

Pencarianku terhenti di lautan
tubuhku gemetar hatiku bergetar
engkaukah yang di atas mercusuar tengah lautan ?
melambaikan tangan menetaskan kekaguman
senyum mengembang bagai sinar rembulan
rambut terurai bak mayang putri impian
gumam nyanyian kerinduanmu dibawa ombak lautan
berdebur ringan lahirkan buih putih kasih sayang
di tuai pantai tempatku mematung kagum
engkaukah yang menebar pesona diladang hatiku ?
hingga teropong hati mengarah tepat ke wajahmu
yang ayu bak puteri salju

Pencarianku terhenti dipantai
mengumpulkan buih ombak yang kau cipta dari gumam nyanyianmu
kualirkan bersama darah ke jantung hatiku
menyemai pesona yang engkau taburkan diladang hatiku
berharap tunas-tunas kehidupan baru
Turunlah dari singgasanamu di atas mercusuar tengah lautan
sapalah wujudku dengan wujud sinarmu
hingga hati yang lama dijajah kabut kelam kembali cerah tak layu
bukanlah jiwamu ingin kuraih, hanya secercah cahya senyummu ingin ku rasa
kutahu, aku hanyalah nyiur di pantai
yang hanya mampu pandangi dan kagumi keberadaanmu
hanya bisa melambaikan tangan sepanjang waktu
tanpa bisa sentuh jiwamu yang jauh ditengah lautan

Wahai jiwa yang memberi pesona
kabarkan padaku tentang keindahan lautan
hingga aku tahu apa yang harus kunyanyikan untuk ombak yang kau utus
Wahai jiwa yang menanam kerinduan
kabarkan padaku tentang kedalaman lautan
yang berhias binar-binar gemintang dan keelokan wajah rembulan laut
hingga kerinduanku tentangmu mampu kutulis menjadi sajak dan lagu
yang kan kubacakan dengan hati saat siang dan
kunyanyikan saat jiwa memetik harpanya
untukmu,
karna pesonamulah ku merindu

Sept. 21


Engkau Pergi

Engkau pergi tanpa pamitmu
engkau berangkat tidur tanpa kecupanku
engkau terbaring tanpa pelukanku
kekasih, nisanmu kupeluk, menjelmalah

jemari menunduk pilu
lemas tungkai tak mampu topang tubuhku
ku bersimpuh ditanah merah bertabur bunga
wangi, sewangi keindahanmu
airmata menggenang dikelopak mataku, merah
tiada kata mampu tuk kurangkai
sejuta kata takkan mampu terjemahkan perasaanku
deras hujan desember pun takkan mampu basahi kerinduanku

jantung terasa terlepas
hatiku melungkruk, jiwaku menggelepar
meratapi gundukan merah kesedihan

tanah merah kembali menyapa
terik mentari menggigit keterpatungaku
angin bertiup membawa wangi kamboja
mengiris pilu kesedihanku

Oh Cinta, bagaimana aku akan memenuhi cawanmu
jika engkau tak memberi kesempatan untukku
menuangkan anggur dalam kendiku.

kutak ingin kau menggigil dalam gelap rumahmu
ingin aku disana bersamamu aku ingin memelukmu,
aku ingin menyatu dalam harum nafas kematianmu
ku tak ingin terperangkap dalam kerinduan hampa
aku ingin bersamamu, menyusulmu

jikalau di ijinkan
sekarang, bukan esok atau kapan

Sept. 24


Katakan Padaku

katakan dengan lagu
saat rembulan menghampirimu dan membisikkan pesona
agar kutahu keindahanmu
saat bintang menjunjungmu ke singgasananya
agar kutahu cara memujamu
saat mentari mencetak bayanganmu di atas awan
agar kutahu cara memperhatikan dirimu
katakan hanya padaku

katakan dengan lagu
saat rembulan meninggalkanmu
agar kutahu kesedihanmu
saat bintang menutup wajahnya dengan awan hitam
agar kutahu gundah dalam hatimu
saat terik mentari menebalkan debu di kulitmu
agar kutahu cara menghibur dirimu
katakan hanya padaku

katakan dengan cinta
saat lukamu terbalut huruf-huruf dari puncak gunung kasih
agar kutahu cara membuai jiwamu
saat airmatamu menjadi mata air bukit kekecewaan
menyuburkan semak belukar belantara kebisuan
agar kutahu keluh kesahmu
katakan hanya padaku

katakan hanya padaku
saat engkau merasa terlahir kembali, bersamaku
agar kutahu engkau bahagia bersamaku
karna kutahu aku ada di hatimu
katakan hanya padaku

Oct. 04


Engkau Menjadi Hariku

Engkau menjadi pagi
bangunkan aku dari ketidaksadaran
menggugah hatiku mengingat tikar sembahyang
melukis harapan dikanvas fajar
menyanyikan lagu riang lewat kicau burung-burung
menyejukkan hatiku dengan suara gemericik air pancoran
kau sederhanakan langkahku dengan senyummu

Engkau menjadi siang
menerangi jalanku tunjukkan arah langkahku
menggambarkan padaku dunia baru
tentang dialog jiwa-jiwa penghuni hari
tentang perbedaan yang warnai hari
tentang terik yang kadang menyengat kulitku
tetang kata-kata yang kadang menyakiti hatiku
kau tuang makna dalam cawan kehidupanku

Engkau menjadi senja
menunjukkan padaku arah pulang
melukis harapan esok diatas kanvas lembayung
memberikan keindahan saat cakrawala memeluk mesra mentari
mengingatkan padaku tentang awal dan akhir saat mentari kembali keperaduan
memberikan aku arti tentang perjalanan hari

Engkau menjadi malam
menutup pintu jiwaku dari kegaduhan
melepaskan pakaian lelahku kau tanggalkan di almari jeda
membelaiku dalam pelukan lelap
memberikanku bunga dalam tidurku
engkau menjadi kata terakhir sebelum kelopak mataku bertemu
engkau menjadi hariku

Oct. 07


Tiada Lagi Airmata

hujan deras telah reda
meninggalkan gerimis-gerimis kecil saat senja
menari-nari di atas tanah basah licin
terpetik dawai-dawai harpa dari percikan kecilnya
nada-nada sendu masih mengalun
tanah basah membiaskan wajah lembayung senja
wajah bidadari hati membayang menjanjikan mimpi

kereta malam hampir tiba
membawa kanvas dan cat hitam, hanya hitam
rembulan terpingit mendung menggelantung
gemintang bersembunyi dibalik pintu langit
lagu malampun mulai mengalun lamban

jiwa masih bersimpuh di samping tanah merah di tengah hati
menyanyikan hymne kekasih pergi
tiada lagi airmata yang mengalir
tiada lagi sedu sedan yang menggoncang
Hanya terdiam di kedalaman telaga airmata
membingkai kenangan

Sept. 27


Airmata

airmata manatap sayu alurnya
membiarkan tubuhnya tergelincir
jatuh memancar dibebatuan gunung
batu tersenyum sejuk
menerima tubuh bening lebur

tak berdaya terlahir dari jendela hati
diundang rasa pedih perih mengiris
didaulat rintihan jiwa tuk bertakhta
menjadi bahasa hati saat nestapa melanda
keringkihan hadir melipat tubuh

tetes-tetes menyatu menjadi kalimat
kemudian terpisah berlain resap

sembilu pengiris hati membelah bebatuan
sedu sedan tertinggal didada
mengguncang hati dan jiwa,
bergetar, gemetar
airmata menjadi air terjun

kerongkongan mengecil
mencekik nafas, terengah
airmata menjadi hujan

airmata berkata menggema
menaungi gunung kesepian

Sept. 30


Jiwa Kelana

nada-nada bermahkota bertakhta
irama menggetarkan sukma mengalun membuai jiwa
dawai-dawai harpa berdenting manja
merajuk hati memikat sukma
getar dawai gitar menggelitik jiwa kelana
menggugah hasrat bermain makna

angan melambung tinggi ke angkasa
menari-nari bersama bidadari pelangi
opera kahyangan digelar kala malam
musik cinta menggema mayapada
mimpi menampung keindahan

jiwa kelana membentangkan kanvas
melukis keindahan kahyangan malam
menulis sajak ketakjuban
melantunkan lagu cinta dengan hati berbunga
mengejawantahkan kemegahan cinta

bukit hijau altar jiwa kelana
mengabdi pada cinta abadi

Sept. 30


Angan Dara di Celah Sinar

merapat kedermaga malam
tambatkan perahu tanpa ragu
bintang masih berkerlipan
rembulan masih menebar pesona
aku masih ragu

ada hati seorang dara bersembunyi dicelah sinar
menggengam bunga mawar menanti layar terkembang
bermain dengan angan-angan dan khayal
ingin kudekap angan dara dicelah sinar

kuambil hatinya kuberi jalan bagi mimpinya
agar aku kembali terlahir bersamanya
dalam Cinta

Oct. 04

Sepenggal Harap

Dan seketika,
pesona wajah yang kau tawarkan di sela-sela malamku
adalah karya Tuhan yang maha agung
untuk menyajikan anggur cinta dalam cawanku, hingga
mabuk kepayangku menggoyahkan cakap hatiku
cahya matamu adalah kilatan-kilatan petir dari tebalnya mendung
mencengkeram kuat hati dan jiwaku
hingga lunglai tiada berdaya di hadapanmu
engkau adalah sekumpulan mawar di taman bunga yang ketika mekar merekah melimpah ruah pesona cintamu

engkau adalah bungadona di kedalaman telaga asmara
yang mengombang-ambingkan jiwaku saat bersampan di permukaannya
kemudian engkau tenggelamkan aku dalam telaga khayal dan mimpi tak bertepi

kuharap engkau menjadi mentari di langit hatiku
mengusir malam-malam panjang kelabu

engkau adalah bunga rindu berkerudung kebisuan
dan aku hanyalah seorang pemimpi yang terdampar di sebuah pulau jauh dari bumi
satu sisi hatiku tersenyum, namun yang lainnya tersedu-sedu dan jiwaku meratap gagap
sepenggal harap berkalang gundah

Des. 17


Pergilah Bersama Angin

Pergi, pergilah bersama angin
berselancar di atas debu di naungan sang waktu
hingga tak ku temukan lagi jejak-jejak langkahmu di atas salju hatiku
engkau bekukan hatiku dengan hujan salju yang kau undang dari kutub utara
bergemuruh riuh bagai longsornya salju dari gunung alpen menimbun hatiku, terkubur beku

enyah, enyahlah bersama angin
bawa aroma kamboja jauh dari penciumanku
yang telah membuat hati dan jiwaku kelonjotan sakit tak terakit bagai dalam cacahan sabit
engkau cabik-cabik hatiku hingga luntur segala rasa kasihku

jauhlah, menjauhlah kau dari malamku ke dunia siangmu
agar kita takkan pernah lagi bertemu
engkau telah bakar hati dan jiwaku dalam duniamu,
hingga legam mengarang mengabu
dan setelahnya kau tiupkan angin terkencang,
hingga lebar hati dan jiwaku

engkau tahu, hatiku hanyalah secuil daging basah bukanlah baja
yang bila seduri saja menancap dan tercabut,
maka akan terluka berdarah-darah
hingga hanyalah airmata menjadi kata-kata lara
dan sakit hati tak terperi saat engkau berkata;
“ini adalah sandiwara dunia yang kan segera berlalu dan terlupa”


Des. 17


Jiwa Sekarat

Dan kesadaran ini mulai menggeliat
saat jiwa terjajah tentara-tentara bejat,
tiada lagi semilir angin membuai,
tiada lagi embun menyejukkan hasrat
tiada lagi segar udara pagi yang menenangkan
berbilah-bilah pedang menjilat-jilat raga lara lapa
dengan sayatan-sayatan indah bagai kaligrafi kepedihan jiwa
mengapa kau tanamkan ilalang-ilalang meninggi di jantung menembus dadaku?
yang setiap lidah akarnya melilit menghisap memperkosa setiap pori ke dalam trauma ngeri
kau tuturkan dendam membara dari gemerisik ilalang-ilalang jalang
menusuk-nusuk, melantakkan segempal asa jiwa dan melarungkannya dalam samudera angkara

kenapa tak pernah kau beri belas kasih pada jiwa yang telah sekarat ini?
kenapa tak pernah kau beri teriknya kasih tuk cairkan kebekuan hati ini?

Adakah pagi abadi saat sengat mentari membakarnya?
dan aku mengabu, berterbangan entah kemana, tiada dapat utuh terkumpul sediakala


Des. 17


Lagu Hidup

Tiba-tiba terasa aku terguncang-guncang bagai dalam bandulan,
saat kesadaran menepuk pundakku saat semilir angin terasa membelai kelopak mataku
masih indah panorama nun jauh disana, gunung-gunung bercanda bertukar cerita
berlarian angin berkejaran dengan debu-debu di saksikan kabut tipis yang tersenyum manis
aroma persawahan matang tercium di bawa angin menyegarkan pandangan
gemerisik dedaunan saling gelitik berbisik-bisik mesra di terpa semilir angin senja
hingar bingar pasar tradisional menarik bibirku untuk tersenyum,

betapa banyak yang terlewatkan saat aku terjebak dalam lamunan
lagu hidup yang lembut mengalun dan gegap merentak

Des. 17