Angan
air terjun kemarau diwajah layumu
aku terhanyut arus sungai yang kau cipta
hingga aku berenang mencari muara dan
aku terdampar di pantai hatiku
kita berangan tentang pertemuan
yang entah kapan detik berhenti
untuk jemari kita saling berpelukan
Kepak Sayap Kesepian
Kemudian gerbang dadanya terbuka penuh
dan kepak sayap-sayap kesepian terbang jauh menuju gunung
terdengar lagu hati dalam keheningan
jiwanya menarikan tarian kesedihan mendalam
Hari-hari bernafas kepedihan dalam rongga-rongga
desah-desah rintihan berulang-ulang terdengar
menggema
Begitu banyak serpihan-serpihan hati yang berserakan
begitu banyak garis-garis lembut tak bersambungan di tangan
hingga kemanapun pandangan bermuara
mengundang derak-derak nestapa
Ingin rasanya kembali memeluk ombak laut
yang setiap deburnya adalah lagu jiwa yang menggetarkan
yang setiap ayunannya adalah belaian membuaikan
dan putih buihnya adalah kata-kata yang menyejukkan
Namun bagaimana bisa langkahku sampai di pantai
sedangkan setiap langkah adalah pengurangan umurku
maka kubiarkan kepak sayap mimpi mengantar jiwaku menemui laut
walau saat kembali tubuhku telah berkendara maut
Aku Tak Percaya
Saat bayanganmu menyapaku dalam mimpi,
aku percaya itu mimpi
Saat wajahmu nampak ayu saat aku bercermin,
aku percaya itu hatiku yang bercermin
Tapi saat kelebat bayanganmu meningalkan aroma melati
Aku tak percaya bahwa engkau telah pergi
Kata-kata Rasa
kesedihan berkata;
menangislah dengan sedu sedan
itulah irama terindahnya
keperihan berkata;
mengalirlah airmata
dari jendala hati
itulah bahasa terdalamnya
kesepian berkata;
belahlah keheningan
akan terkuak pintu jawaban
kebahagiaan berkata;
peluklah kesedihan
yang tlah memberi tempat
bagi tawa dan canda
Sept. 30
Tanda Jalan
tanda jalan telah terpasang
jauh sebelum kita memikirkan jalan
di setiap turunan dan tanjakan
di setiap tikungan dan persimpangan
engkau tahu, aku tahu, semua tahu
kecuali tikus-tikus dalam kantong plastik
setiap tanda jalan adalah jalan bagi pelanggaran
di setiapnya terselip kebanggaan atas kesalahan
kemenangan diatas pengingkaran kebenaran
tanda-tanda jalan ditanam dengan kaki
namun kemudian mata dan hati mengingkari
bahkan kadang tangannya sendiri yang mencabuti
berdiri berkacak pinggang di panggung meneriakkan kebenaran
dandanan bak pangeran kerajaan
gemerlap hidupnya digali dari pencekikan kelemahan
jubah tersulam dari rambut-rambut wanita merana
yang diberi secawan anggur memabukkan
janji-janji dikibarkan di atas istana kemelaratan
berpenduduk tertunduk dengan kacamata hitam
tetap berkoar tentang masa yang belum terjelang
memberikan setumpuk rencana di meja penjudi
skenario pengingkaran telah dimulai
tanda-tanda jalan mulai diingkari dan dicabuti
berganti tanda-tanda pura-pura berisi peta
kebanggaan menjadi topi yang terbuat dari kulit manusia
melindungi kepalamu dari kepanasan
namun kelamaan akan mendatangkan keringat dan gatal-gatal
Kemana dipenjarakan nurani embun pagi
ataukah belenggu penghuni neraka terlepas
hingga merasuk kedalam jiwa-jiwa bertopi kulit manusia
berjubah panjang hati wanita menutupi kulit tubuhnya yang hitam legam
berkacamata hitam menutupi sinar merah matanya
kejujuran terluka oleh kawat-kawat berduri
terhalang masuk tuk mengadili
keadilan seram tuk mengetukkan palu
karna kalajengking berbisa memenuhi kantong jubahnya
kejujuran terbeli
keadilan tergadai
tanda-tanda jalan menjadi prasasti bisu
jiwa-jiwa yang membredel tiap perut kelaparan
membungkam kejam teriakan keberanian
alangkah senangnya tikus-tikus dalam kantong plastik
tak melihat, tak merasakan di luar kubah plastik
atau mungkin pengingkar tanda jalan itulah tikus-tikus dalam kantong plastik
yang tanpa sepengetahuan telah keluar menjelma
Bayanganku Menjelma
Bayanganku menjelma merah
menjadi warna matamu saat kau tersedak langkah
aku hadir di matamu merasakan sesak
aku hadir saat ini kekasih
ku ingin ikut rasakan sesak menusuk ujung dadamu
kemudian aku menjelma menjadi tirta untukmu
Bayanganku menjelma merah
menjadi warna darahmu saat tergores ranting kering sisi jalanmu
aku hadir kembali merasakan sakit goresan pada kulitmu
kulitmu yang tergores warnaku yang mengalir
aku hadir saat ini kekasih
ku ingin ikut rasakan perih luka menjadi rintihanmu
kemudian aku balut lukamu
Bayanganku menjelma keringat
menjadi penat di tubuhmu saat kau lelah berjalan
aku hadir pada pori-pori
kuingin ikut rasakan lelahmu
kemudian aku menjadi angin sejuk sepoi
Bayanganku menjelma dalam mimpimu
tuntaskan endapan rindumu berikan sejuta harapan tak semu
aku hadir ingin warnai asamu dengan tinta kasihku
melukis harimu menjadi keindahan
ku ingin selalu ada ditiap langkahmu
Bayanganku menyanyikan Lagu Cinta Aksara Hati
melemaskan rindumu yang menegang ditekan waktu
bayanganku memeluk jiwamu
lunturkan keraguan yang terbersit
Yakinlah kekasih,
tiada tempat seindah taman hatimu
tiada lagu seindah tawamu
tiada cahya seindah cahya matamu
tiada fajar seindah senyummu
Tiada keindahan tanpa cintamu
Sept. 12
Engkau Menjadi Kabut
Dan kulihat dirimu berkereta kabut, berkeliling gunung tempatku menepi dari
hujan yang tercipta dari uap limbah kata-kata di keramaian. anggun kutatap
wajahmu ayu, menyejukkan kegelisahan bertumpuk tanya dalam almari dada.
Kau sambangi aku tiap kali waktu berganti seolah kau mengerti kerinduan akan
hadirnya penjaga jiwa menepi kesunyi mengintimi keheningan di lereng gunung peka
jaman.
Dan bila kabut tertelan cerah mentari, engkau menjelma menjadi rindang dedaunan
tempatku bersemedi, bertutur tentang bijak alam memberi ujar lewat sepoi dan
daun yang menyapa lembut lewat gemerisiknya. bertutur tentang kekuatan jiwa
dari akar-akar yang mencengkeram bumi.
Dan saat Senja menjelang engkau menjadi lembayung, menawarkan pesona keindahan
cakrawala jingga, Datang bersolek dengan jelitamu mengabarkan malam kan datang
membawa berkaleng-kaleng cat hitam untuk kujadikan kanvas.
Melukis wajahmu dengan rasa terpesona, bertinta cahya rembulan purnama,
seburuknya adalah keindahan pesona jelita.
Kemudian kupajang dilangit-langit tidurku agar engkau hadir dalam mimpiku
menjadi bidadari pelangi.
Dan saat pagi menjelang, engkau kembali menjadi kabut disela-sela fajar.
Sept. 14
Prasasti Cinta
Wajahmu membayang di layar panggung sandiwara
Yang baru saja engkau tutup dengan hembusan nafasmu
Tersenyum dengan kerelaan membumbung bersanding rembulan
Matamu perlahan membening menatap lekat
Kubiarkan sorot mata bagai cahaya menelusup masuk kerelung hati
Menulis bait-bait sajak keabadian cinta di dinding hati
Keikhlasan menggenggam erat tangan hati
Membiarkan bayang wajahmu membuyar menjadi cahaya
Mataku bicara dengan airmatanya melepas bagian jiwa
Bulir-bulir airmata mengkristal menjadi harapan dalam genggaman
Menyimpannya dalam kotak rahasia hati
Mengejawantahkan dalam cita jiwa mengemban amanat nurani
Engkau mengabadi dalam dinding hati menjadi prasasti cinta
Indah terpahat dari kuku-kuku jemari lentik bidadari
Tertulis keindahan yang tlah terjelang dan asa tersimpan
Menjadi kenangan dalam pelukan sukma bersama waktu
Engkau selalu ada dan kan hadir dalam wujud berbeda
Dalam wujud cahaya di hatiku mengemban amanat jiwamu
Okt. 01
Wabah Kepedihan
jiwaku menyeringai bagai serigala
melolong tinggi tajam tengah malam
hening malam menggelepar berkeping-keping
telaga darah tercipta dalam kegelapan
menggenangi tanah retak meratap
wabah kepedihan merajai jiwa
keperihan menusuk-nusuk hati nelangsa
dada tegap dalam cerita misteri mengerikan
berlobang-lobang basah oleh darah
mengalir menjadi sungai baru menatap muara laut darah
membawa amanat jiwa dan hati meratap-ratap
gemericik jerit mengenaskan
bebatuan meringis-ringis perih
dasar sungai meronta-ronta dari belenggu
tiada kehidupan didalamnya
hanya penghuni hati dan jiwa menggelepar
kering cinta, gersang sayang
Sept. 16
Pencarianku
Pencarianku terhenti di lautan
tubuhku gemetar hatiku bergetar
engkaukah yang di atas mercusuar tengah lautan ?
melambaikan tangan menetaskan kekaguman
senyum mengembang bagai sinar rembulan
rambut terurai bak mayang putri impian
gumam nyanyian kerinduanmu dibawa ombak lautan
berdebur ringan lahirkan buih putih kasih sayang
di tuai pantai tempatku mematung kagum
engkaukah yang menebar pesona diladang hatiku ?
hingga teropong hati mengarah tepat ke wajahmu
yang ayu bak puteri salju
Pencarianku terhenti dipantai
mengumpulkan buih ombak yang kau cipta dari gumam nyanyianmu
kualirkan bersama darah ke jantung hatiku
menyemai pesona yang engkau taburkan diladang hatiku
berharap tunas-tunas kehidupan baru
Turunlah dari singgasanamu di atas mercusuar tengah lautan
sapalah wujudku dengan wujud sinarmu
hingga hati yang lama dijajah kabut kelam kembali cerah tak layu
bukanlah jiwamu ingin kuraih, hanya secercah cahya senyummu ingin ku rasa
kutahu, aku hanyalah nyiur di pantai
yang hanya mampu pandangi dan kagumi keberadaanmu
hanya bisa melambaikan tangan sepanjang waktu
tanpa bisa sentuh jiwamu yang jauh ditengah lautan
Wahai jiwa yang memberi pesona
kabarkan padaku tentang keindahan lautan
hingga aku tahu apa yang harus kunyanyikan untuk ombak yang kau utus
Wahai jiwa yang menanam kerinduan
kabarkan padaku tentang kedalaman lautan
yang berhias binar-binar gemintang dan keelokan wajah rembulan laut
hingga kerinduanku tentangmu mampu kutulis menjadi sajak dan lagu
yang kan kubacakan dengan hati saat siang dan
kunyanyikan saat jiwa memetik harpanya
untukmu,
karna pesonamulah ku merindu
Sept. 21
Engkau Pergi
Engkau pergi tanpa pamitmu
engkau berangkat tidur tanpa kecupanku
engkau terbaring tanpa pelukanku
kekasih, nisanmu kupeluk, menjelmalah
jemari menunduk pilu
lemas tungkai tak mampu topang tubuhku
ku bersimpuh ditanah merah bertabur bunga
wangi, sewangi keindahanmu
airmata menggenang dikelopak mataku, merah
tiada kata mampu tuk kurangkai
sejuta kata takkan mampu terjemahkan perasaanku
deras hujan desember pun takkan mampu basahi kerinduanku
jantung terasa terlepas
hatiku melungkruk, jiwaku menggelepar
meratapi gundukan merah kesedihan
tanah merah kembali menyapa
terik mentari menggigit keterpatungaku
angin bertiup membawa wangi kamboja
mengiris pilu kesedihanku
Oh Cinta, bagaimana aku akan memenuhi cawanmu
jika engkau tak memberi kesempatan untukku
menuangkan anggur dalam kendiku.
kutak ingin kau menggigil dalam gelap rumahmu
ingin aku disana bersamamu aku ingin memelukmu,
aku ingin menyatu dalam harum nafas kematianmu
ku tak ingin terperangkap dalam kerinduan hampa
aku ingin bersamamu, menyusulmu
jikalau di ijinkan
sekarang, bukan esok atau kapan
Sept. 24
Katakan Padaku
katakan dengan lagu
saat rembulan menghampirimu dan membisikkan pesona
agar kutahu keindahanmu
saat bintang menjunjungmu ke singgasananya
agar kutahu cara memujamu
saat mentari mencetak bayanganmu di atas awan
agar kutahu cara memperhatikan dirimu
katakan hanya padaku
katakan dengan lagu
saat rembulan meninggalkanmu
agar kutahu kesedihanmu
saat bintang menutup wajahnya dengan awan hitam
agar kutahu gundah dalam hatimu
saat terik mentari menebalkan debu di kulitmu
agar kutahu cara menghibur dirimu
katakan hanya padaku
katakan dengan cinta
saat lukamu terbalut huruf-huruf dari puncak gunung kasih
agar kutahu cara membuai jiwamu
saat airmatamu menjadi mata air bukit kekecewaan
menyuburkan semak belukar belantara kebisuan
agar kutahu keluh kesahmu
katakan hanya padaku
katakan hanya padaku
saat engkau merasa terlahir kembali, bersamaku
agar kutahu engkau bahagia bersamaku
karna kutahu aku ada di hatimu
katakan hanya padaku
Oct. 04
Engkau Menjadi Hariku
Engkau menjadi pagi
bangunkan aku dari ketidaksadaran
menggugah hatiku mengingat tikar sembahyang
melukis harapan dikanvas fajar
menyanyikan lagu riang lewat kicau burung-burung
menyejukkan hatiku dengan suara gemericik air pancoran
kau sederhanakan langkahku dengan senyummu
Engkau menjadi siang
menerangi jalanku tunjukkan arah langkahku
menggambarkan padaku dunia baru
tentang dialog jiwa-jiwa penghuni hari
tentang perbedaan yang warnai hari
tentang terik yang kadang menyengat kulitku
tetang kata-kata yang kadang menyakiti hatiku
kau tuang makna dalam cawan kehidupanku
Engkau menjadi senja
menunjukkan padaku arah pulang
melukis harapan esok diatas kanvas lembayung
memberikan keindahan saat cakrawala memeluk mesra mentari
mengingatkan padaku tentang awal dan akhir saat mentari kembali keperaduan
memberikan aku arti tentang perjalanan hari
Engkau menjadi malam
menutup pintu jiwaku dari kegaduhan
melepaskan pakaian lelahku kau tanggalkan di almari jeda
membelaiku dalam pelukan lelap
memberikanku bunga dalam tidurku
engkau menjadi kata terakhir sebelum kelopak mataku bertemu
engkau menjadi hariku
Oct. 07
Tiada Lagi Airmata
hujan deras telah reda
meninggalkan gerimis-gerimis kecil saat senja
menari-nari di atas tanah basah licin
terpetik dawai-dawai harpa dari percikan kecilnya
nada-nada sendu masih mengalun
tanah basah membiaskan wajah lembayung senja
wajah bidadari hati membayang menjanjikan mimpi
kereta malam hampir tiba
membawa kanvas dan cat hitam, hanya hitam
rembulan terpingit mendung menggelantung
gemintang bersembunyi dibalik pintu langit
lagu malampun mulai mengalun lamban
jiwa masih bersimpuh di samping tanah merah di tengah hati
menyanyikan hymne kekasih pergi
tiada lagi airmata yang mengalir
tiada lagi sedu sedan yang menggoncang
Hanya terdiam di kedalaman telaga airmata
membingkai kenangan
Sept. 27
Airmata
airmata manatap sayu alurnya
membiarkan tubuhnya tergelincir
jatuh memancar dibebatuan gunung
batu tersenyum sejuk
menerima tubuh bening lebur
tak berdaya terlahir dari jendela hati
diundang rasa pedih perih mengiris
didaulat rintihan jiwa tuk bertakhta
menjadi bahasa hati saat nestapa melanda
keringkihan hadir melipat tubuh
tetes-tetes menyatu menjadi kalimat
kemudian terpisah berlain resap
sembilu pengiris hati membelah bebatuan
sedu sedan tertinggal didada
mengguncang hati dan jiwa,
bergetar, gemetar
airmata menjadi air terjun
kerongkongan mengecil
mencekik nafas, terengah
airmata menjadi hujan
airmata berkata menggema
menaungi gunung kesepian
Sept. 30
Jiwa Kelana
nada-nada bermahkota bertakhta
irama menggetarkan sukma mengalun membuai jiwa
dawai-dawai harpa berdenting manja
merajuk hati memikat sukma
getar dawai gitar menggelitik jiwa kelana
menggugah hasrat bermain makna
angan melambung tinggi ke angkasa
menari-nari bersama bidadari pelangi
opera kahyangan digelar kala malam
musik cinta menggema mayapada
mimpi menampung keindahan
jiwa kelana membentangkan kanvas
melukis keindahan kahyangan malam
menulis sajak ketakjuban
melantunkan lagu cinta dengan hati berbunga
mengejawantahkan kemegahan cinta
bukit hijau altar jiwa kelana
mengabdi pada cinta abadi
Sept. 30
Angan Dara di Celah Sinar
merapat kedermaga malam
tambatkan perahu tanpa ragu
bintang masih berkerlipan
rembulan masih menebar pesona
aku masih ragu
ada hati seorang dara bersembunyi dicelah sinar
menggengam bunga mawar menanti layar terkembang
bermain dengan angan-angan dan khayal
ingin kudekap angan dara dicelah sinar
kuambil hatinya kuberi jalan bagi mimpinya
agar aku kembali terlahir bersamanya
dalam Cinta
Oct. 04