Senja Malam
kurindukan senja malam tanpa kerah
polos satu warna, hitam
senja untuk malamku datang tak tepat waktu
prematur ia, menyentakkan langkah lambanku
engkau berdiri di senja ujung malam
aku kan kesana, tidak sekarang
karna waktu belom mengantarkan
namun sekarang, waktu melompat
dan aku sudah harus berhadapan denganmu
dalam keadaan tanpa segenggampun rumput tuk ku berikan pada ternakmu
aku hanya membawa sebulir keringat
yang sebentar lagi kering oleh senja malam
karna engkau telah mengundang mentari
ke pangkuanmu
Hitam
Mari hitam, kemuli aku kelam seperti kau kemuli malam
mari hitam, peluk aku seperti kau peluk legam
oh hitam, beri nama aku seperti kau namai arang
aku hitam, semakin hitam
bahak riang; tangis dalam
Inilah Hatiku
Hatiku bagai pasar
lalu-lalang sosok tak ada yang kukenal
bicara dengan bahasa yang tak dapat kuterjemahkan
menyapaku asing
seolah aku adalah pendatang baru bagi hatiku
aku asing disini
Hatiku bagai pelabuhan
tempat turun dan naik barang, bukan milikku
kapal bergantian datang, bukan kapalku
ratusan sosok manusia berbicara kasar,
bukan kebiasaanku
Hatiku bagai malam
yang keseluruhannya adalah kelam
tanpa celah untuk sinar
tanpa jendela untuk melihat rembulan
hanya sepetak kotak tanpa lobang
gelap
inilah hatiku
Hatiku bagai gurun siang
panas dan terik tanpa ada rindang pepohonan
debu-debu menebal menjadi menutupi keasrian
derap kaki-kaki kuda mengentak-hentak jalan
gembel-gembel berkeliaran mengundang kepenatan
penat
inilah hatiku
Hatiku mengundang bidadari
turun lewat pelangi dan mewarnai dengan warnanya
Aug. 19
Seperti Elang
aku bertengger diatas awan
seperti elang merindukan jelang
kutatap seberang yang kosong
ku kepakkan sayapku mengundang buluh perindu
aku adalah elang yang rindu
pada betinaku yang jauh di ujung senja
Aug.21
Terseret, Hanyut
aku terseret, hanyut oleh gelombang waktu
badai masal lalu benturkanku ke karang hitam
hiu-hiu kesepian dan terasing menyerbuku
tubuhku tercabik-cabik
terdampar di tahun penghabisan
Hatiku kemarau elnino
tandus gersang tanpa tirta amerta
terkapar diatas padang kering tanpa rumput
hangus oleh api sangsi dan sia-sia
serak basah suara daun kamboja berguguran
wangi setaman menusuk hidung
menyiapkan kegelapan baru menyiksa
Malaikat Maut menjemput
Malaikat pemberi tanya menatap tajam
membawa godam dan cambuk api
namun waktu kembali menyeretku menjauh
aku berteriak menjerit memanggil kesepianku
aku meregang dengan darah hampir beku
Sept. 04
Kita Tak Melakukan Apa-apa
kita telah melumut di atas batu kali
yang setiap saat terisam bening alami
tiada henti hingga gelapagan menjadi nafas
kita sering mengundang bintang-bintang di atas kepala
setiap datang kita pun buru-buru mengusirnya
karenanya aliran darah terhenti dikepala
Kita telah kibarkan bendera tanpa tiang
yang kita tak pernah mampu menurunkannya kembali
karena kita hanya bisa melepaskan
Kita tak melakukan apa-apa
saat kelopak mata tak mampu menampung airmata
gelas malam yang mampu menampung memberi kegelapan
harapan tercipta saat keheningan menyalami
namun kembali menguap kala siang menjelang
Beribu harapan terpatah sayapnya
dalam sangkar kegelapan yang bertali dan bergerigi
menyeret harapan terinjak-injak kaki pengingkar hati
Siang memberikan luka panjang dan pering
Deru suara angin menjeritkan suara hati mengering
Senja yang didamba belum jua tiba
menjadi kereta terpeleset dari rel melaju dipematang
sawah-sawah hancur berantakan
terbanjiri darah luka panjang memerih
burung-burung bernyanyi bela sungkawa
sementara aku tergilas dipematang
Sept. 04
Sahabat Jangan Pergi!
Kubuka sebuah kotak kecil berwarna biru
yang kau berikan sehari yang lalu, sebelum kepergianmu
pesanmu; 'bukalah saat hari telah berganti'
dengan keingintahuan yang mengembung
kubuka dengan angan yang melambung
Sebuah cincin tanpa mata bertuliskan namamu, namaku
serta sebuah lontar kering bertulis syairmu;
'Keindahan itu milikmu, namun tak kumiliki
Ketulusan ini milikku, namun belum kau jelang
Cinta ini kupendam dalam danau persahabatan
Rindu ini tenggelam dalam laut cintamu
aku terdampar dipulau penantian, berpantai ketakutan
ketakutan kehilangan seorang sahabat
yang kukasihi, juga kucintai
aku tak ingin kehilangan keindahanmu, walau dalam angan'
"Inilah Cintaku, dalam bentangan benang waktu"
Kesadaran menggelinjang
ada yang menggenang disudut mata, airmata haru
sebuah balon hati meletus pecah, dalam dadaku
membuat sesak dadaku terpenuhi udara rindu
sahabatku jangan pergi !
kekasih hatiku jangan lari !
Akupun memendam kerinduan yang dalam, untukmu
kita sama-sama menyimpan cinta dalam indah jalinan suka duka
namun kita sama-sama menanggalkan jauh dikalbu
Akupun dirasuki ketakutan tak mampu mencapai tempat berpijakmu
Musim penantian panjang telah tiba
sementara musim pertemuan jauh diujung senja
Aku tahu,
kau menungguku diujung cakrawala jingga, dan
aku akan menjadi mentari yang menciumnya saat senja
Sept. 03
Kereta Waktuku
kunaiki kereta waktu yang menjemput diriku sore itu
aku dibawa mengelilingi malam di mana kegelapan bertakhta
menikmati indahnya kota keheningan berhias celah-celah sinar
dari sabit yang bergantung di langit bertabur bintang
hatiku menari jiwaku bernyanyi bak burung hantu didahan kamboja
mata merapalkan aji panca sona
kemudian saudara-saudara mataku menyebar mencari pemandangan kegelapan
sungguh indah malam berhias celah-celah sinar
menggambar seribu wajah diatas kanvas hitam
jiwa mataku menerka nama wajah-wajah malam
untuk diberikan pada jiwa sekarat di saat siang
Kunyanyikan lagu Cinta yang seram
menyakitkan dan menyedihkan
memeras airmata mengundang bela sungkawa
di selimuti kehampaan berbantal kerinduan terlarang
Aku menari tarian keperihan diujung malam
meliukkan tubuh jiwaku mengikuti irama kegetiran
bibir pori-poriku menjerit bagai lolong anjing hutan
tubuhku tercabik-cabik pedang pengkhiatan mengenaskan
kereta terus berjalan semakin kencang
mengguncang-guncang jiwa yang tegang
menggetarkan hati yang memerih tersiram cuka kehidupan
hatiku getas kemudian pecah menjadi serpih-serpih tak berserat sekarat
jantungku terpental melayang disambar elang malam kelaparan
tubuh hatiku dicabik-cabik serigala hutan kesengsaraan
kereta tak pernah lagi mau berhenti
walau rel nya yang membujur membelah bumi menangis
karena kereta waktu tak membutuhkan lagi relnya
bergerak liar mengguncang-guncang jiwaku yang tegang
hingga nyawa jiwaku melayang dijemput dayang-dayang garang
bertaring belati bergeraham godam besi
Aug. 14