Tuesday, January 28, 2003

Ku Ludahkan Luka

ku ludahkan lendir luka
membiru, legam, membakar rerumputan
tiap terludahkan kembali menggumpal
seringai jijik mimik penyorak

lebih baik ku telan saja semua lendir luka
hingga mendarah, mendaging, membaur sumsum
agar setiap hela nafas, denyut nadi adalah iramamu
dan nikmatnya luka menjadi damba

ingin ku tulis cerita cinta
namun harus ku terima bahwa aku harus menuliskan satu kata 'tamat' saja
karna cinta memberikan 'titik' bersama segunung duka lara


Seraut Wajah

raut ini merajuk
pada tanah basah, tertumpah tangis malam, menggenang
membiarkannya tenang, kemudian bercermin
oh,.. betapa raut ini tak lagi ku kenali biasnya
seraut wajah tanpa bias indera

pinda-pinda meminta pada dedaunan kala pagi membuka mata
berikan embun-embun beserta warnanya
tuk memusat di ubun-ubun dan mata
agar menyegar kepucatan jiwa

seraut wajah di jengah cinta tanpa daya
menyalakan tungku ketika hujan tak jua mereda
tersulut kemudian padam, tiada dapat menyala
hingga kebekuan pada akhirnya

seraut wajah sesosok utuh
berjalan pincang di guyur gayung-gayung mendung
menuju gurun menjemur hati


Datanglah Dalam Embun

datanglah ke rumahku di dalam embun, saat ini
jangan menunda hingga hari berganti
kalau memang di hatimu masih terpahat namaku
datanglah dengan berkendara pagi
karena hanya saat itulah pintu rumahku terbuka
pagi ini, untuk yang terakhir
malaikat kan datang di siang hari menagih janji; padaku
telah tersurat di tanganku
Jangan menunda hingga hari berganti
karena itu kan memberatkan langkahku menuju rumah baruku

datanglah sendiri,
tanpa kesedihan yang mendampingi
tanpa amarah yang meneriaki
tanpa dendam yang membujuki
datanglah hanya dengan menggandeng Cinta
karena mataku hanya mampu melihat Cinta; pada dirimu

Bila siang telah menjemput pagi
gumamkanlah doa dari atas awan
biar alam mengamini, biar bumi membuka hatinya untukku
hingga saat kumasuki rumah baruku
aku dapat tersenyum melambaikan tangan padamu
tanpa ragu

Kenanglah hari-hari bersama dalam rumah Cinta
dengan itu kau telah kirimkan secercah cahaya
dalam gelap rumah baruku
Hingga aku punya asa untuk bisa berjumpa; denganmu
di pintu terakhir


Selamat Tinggal Rumah Mudaku

aku buka mataku saat terasa kulitku tersentuh dedaunan yang basah oleh embun
aku dapati tubuhku dikerubungi lalat kecerobohan
dikerubuti semut-semut kejang keracunan darahku
sementara tak jauh dari tubuhku yang tak mampu menggenggam jiwaku
sepasang burung keputusasaan terlihat lapar
menatap tajam tubuh tak berjiwa yang tak kuasa meronta

aku hanya bisa memandang tubuhku
tanpa bisa lagi memasukinya
selamat tinggal rumah mudaku
namaku telah dipanggil menggema memenuhi mayapada
selamat tinggal tubuh yang terhina
di tengah sabana santapan binatang purba



Monday, January 27, 2003


Jangan Berkata Cinta

lagi-lagi engkau berkata tentang cinta itu
yang sama sekali aku tidak menganggap itu adalah cinta
sumpah.. itu luka sahabatku

berhentilah menyanyikan lagu cinta
cinta bagiku tidak lebih dari tempurukan getir dan nestapa
karna saat hati benar-benar mencinta
terjajah rasanya hingga mayapada jiwa

berhentilah menarikan lembut kasih,
kasih bagiku tak lebih dari tumpukan perih dan pedih
karna saat hati benar-benar mengasihi
yang kudapati adalah keranda hati

sahabat,
engkau yang telah membuka gerbang jiwa pecinta
engkau pula yang tlah menutupnya
milyaran aksara hati dan jiwa terkubur
bersama serapahku untuk cinta


Lingga Sayu di Kota Perindu

lingga sayu di kota perindu
dalam kemendungan di kalungi sorban kala pagi
jauh memandang bentangan kota lama
awan-awan menyapa; menggigil bekukan

magma terkandung tak terlahirkan
rahim mengembung, daya rasa meronta

lingga sayu di kota perindu
menopang kehidupan di dada punggung
berikan sari kemaslahatan terbalas tusukan, cengkeraman
mendongak tegak, tetap langit
menyunggi satu bintang

lingga sayu di kota perindu
mengandung gejolak berkarat-karat memanas
menepis belas memaknai beras
tergenggam satu bintang


Ladang Mengering

ladang mengering
tanah semakin keras kaku meretak, merata
bibir tipisnya kian melebar meliling, melengking
rintihan-rintihan hanya sendiri terdengar
penghujan lamat terlihat, mendung datang dengan janji
kemudian pergi tanpa peduli

pematang bersedih, naum tubuhnya pun terpotong-potong
ladang menjadi puzzle, pematang menjadi bingkai
terpasang dan runtuk kembali centang-perentang

ladang mengering
menanti hujan satukan jiwa
rindukan belaian bajak, pijatan kerbau
rindukan cubitan-cubitan cangkul dan tetes peluh
impikan bulir-bulir padi berisi
ladang kering menanti sentuhan jemari-jemari lilin

Sunday, January 26, 2003


Langit Merah

langit merah berkaca-kaca
kelam siang, padang lebam
akut ras beku-kakukan hati
puing reruntuhan pempat rongga cinta
hingga tiap tapak menapak nyeri beranak

langit semakin merah
hujan deras petir menggelegar
alunan musik hati terhenti, nadi terpaku darah bak beku
pori-pori muntah, sendi tanpa daya
melungkruk di telikung nestapa

langit merah membengkak
memamah biak luka, gemeretak menandaskan
sari merasuk menjiwa sumsum

langit merah pagi
membuka pintu hari dengan nyeri di ujung-ujung jari


Telanjanglah

aku telanjang di depanmu, kau melihat
tunjukkan ketelanjanganmu
hingga kita benar-benar telanjang
agar kabut keraguan yang menyelimuti hatiku pudar
tak ada penghalang bagi kulit kita yang saling merindukan
tak ada cadar bagi mata kita untuk saling memandang
ketelanjangan kita adalah awal dan
inginku kita selalu telanjang hingga akhir


Tertangkap Kelam

Kelam meneriaki aku
dia datang bersama sepasukan jengkerik malam bernyanyi
lenguhan suara nafas jam dinding menjadi mayoret
sementara sang komandan menyorot tajam dari balik awan berlalu
menjatuhkan bayanganku

aku ketakutan,..
takut kelam menjebakku,
takut jengkerik mencaciku,
takut bulan menghukumku

kenapa mentari tak datang malam hari membelaku, mengusir mereka?
kenapa kicau burung pagi membiarkanku digelayuti cemas?

kugedor pintu mentari agar bangun dia
ah, dia tak sanggup bangun dari peraduan malam ini
pasukan malam kelam telah menangkapku
kemudian menyekapku dalam pekat
bila esok mentari tertawapun,
aku tak dapat membuka pandang
mendengar gelegak tawanyapun tidak

Saturday, January 25, 2003

Birumu, Biruku

dekat dan lihatlah mataku
tak lagi hitam tapi biru
engkau merubahnya sejak awal bertemu

lihat dan bacalah sajakku
penuh nuansa biru, sebiru cintaku
engkau pengaruhinya sejak kau getarkan hatiku

dengar dan lupakan
tentang birunya mataku
tentang birunya sajakku
tentang birunya cintaku

karna biruku tanpa lagu, dan
aku tak pernah bisa birukan hatimu


Puzzle Wajahmu Tak Utuh Lagi

Satu-persatu kukumpulkan puzzle yang pernah kau tepakkan
dengan hati sepi kurangkai kembali gambarmu
walau tak utuh tetap kupajang di dinding kamarku
sayang,.. yang tak terpasang adalah sepasang telingamu

Kemudian aku lukis telingamu dengan tinta airmata
kembali utuh wajahmu walau tak sempurna

Maafkan aku,...
aku tak mampu lagi melukis utuh wajahmu


Andai Aku adalah Bintang

Andai aku adalah bintang
kan kuhampiri penggoda menari-nari girang bersama sang malam
aku akan turun kebumi dengan kekecilan dan binar mataku
menyapa indah matamu yang lugu dan kunyatakan cintaku
andai ini ada
andai ini mungkin
andai matamu benar lugu seperti anak kecil itu
kepeluk jiwamu dengan kelembutan syurgaku
dan kupersunting tuk jadi permaisuriku





Thursday, January 23, 2003

Aku Ingin Melukismu

duduklah bungaku,
aku ingin melukismu
diam dan mulailah membiaskan kata dari hatimu
katakan, warna apa harus kupakai
agar tercipta parasmu di kanvas hatiku

luruskan pandangmu bungaku
aku ingin melukismu
tenang dan yakinkan hatimu
saat tarian kuasku warnai tiap lekuk wajahmu

bungaku, tetap ingin ku lukis wajahmu
dan aku rela menanti angin berhenti menggoyang tangkaimu
walau saat itu kumbang-kumbang beterbangan mengitarimu

bungaku, biarkan aku melukismu
karna ku tak mampu genggam tangkaimu


Hai Saudaraku

Hai Saudaraku pembuat celah di kegelapan
biaskan wajahmu pada cermin malam
yang akan memberikan setumpuk perkamen
untuk kau isi dengan nyanyian dan tarian jiwamu
agar jiwaku mengerti tentang kegelapan

Hai Saudaraku penggugah mimpi di pagi hari
ceritakan tentang malam yang tak ku nikmati
uraikan tentang waktu yang tak ku sadari
bisikkan tentang lagu hidup yang belum ku eja
agar jiwaku mengerti tentang ketidak sadaran

Hai Saudaraku pemberi makna di siang hari
tumpahkan sinarmu pada wajah jiwaku yang meminta
berikan hangatmu pada hatiku yang kedinginan di ujung rongga
bubuhkan tanda tanganmu dengan kata mutiara di kanvas jiwaku
agar ku tahu arah mimpiku

Hai Saudaraku penjinak sendu mengharu
berikan aku mantra saktimu
agar kutahu lekuk-lekuk sendu
siramlah aku dengan tirta amertamu
agar keabadian datang dan tinggal dalam jiwaku

Hai Saudaraku
berikan bayangmu untuk ku nikahi
dengan ketetapan yang kau beri








Wednesday, January 22, 2003

Sahabat Jangan Pergi!

Kubuka kotak kecil berwarna biru
kau berikan sehari yang lalu, sebelum kepergianmu
pesanmu; 'bukalah saat hari telah berganti'
dengan keingintahuan mengembung
kubuka dengan angan melambung

Sebuah cincin tanpa mata bertuliskan namamu, namaku
serta sebuah lontar kering bertulis syairmu;

'Keindahan itu milikmu, namun tak kumiliki
Ketulusan ini milikku, namun belum kau jelang
Cinta ini kupendam dalam danau persahabatan
Rindu ini tenggelam dalam laut cintamu
aku terdampar dipulau penantian, berpantai ketakutan
ketakutan kehilangan seorang sahabat
yang kukasihi, juga kucintai
aku tak ingin kehilangan keindahanmu, walau dalam angan'
"Inilah Cintaku, dalam bentangan benang waktu"


Kesadaran menggelinjang
ada yang menggenang disudut mata, airmata haru
sebuah balon hati meletus pecah, dalam dadaku
membuat sesak dadaku terpenuhi udara rindu

sahabatku jangan pergi!
kekasih hatiku jangan lari!

Akupun memendam kerinduan mendalam, untukmu
kita sama-sama menyimpan cinta dalam indah jalinan suka duka
namun kita sama-sama menanggalkan jauh di kalbu
Akupun di rasuki ketakutan tak mampu mencapai tempat berpijakmu
Musim penantian panjang telah tiba
sementara musim pertemuan jauh diujung senja

Aku tahu,
kau menungguku diujung cakrawala jingga, dan
aku akan menjadi mentari yang menciumnya saat senja


Aku Bertanya Tentang Kekasihku

Aku bertanya pada malam
dimana kau sembunyikan wajah kasihku?
malam menjawab;
'kekasihmu akan datang setelah kau serahkan jiwamu padaku'

Aku bertanya pada bintang
dimana bisa kujumpai kasihku malam ini?
bintang menjawab;
'akan kau jumpai dalam teropongku saat bermimpi'

Lalu aku bertanya pada peraduanku
apakah kau siap mengantarku berjumpa dengan kekasihku?
peraduan menjawab;
'setiap nafasku adalah pengabdian untukmu'

Aku terlelap
mimpi memuai rinduku terbengkelai


Walau Tinggal Pahatan

langkahku terhenti saat terdengar suara seruling bambu
mengalun syahdu bernada merayu, kulekatkan telingaku pada angin
agar suara itu masuk dan menyentuh gendang telinga
itu nada cinta

suara itu semakin menghilang seiring hembusan angin
aku kembali berjalan menyusuri lorong-lorong kehidupan
yang tak pernah sepi oleh lalu lalang sayap-sayap tak bertubuh
terbang tinggi dan rendah tak menyentuh tanah

debu-debu berterbangan senang di setubuhi angin
daun-daun kering tertawa riang digelitik terik
awan tersenyum memandang kehidupan

aku seperti,
sayap-sayap itu
debu-debu itu
daun-daun itu
aku seperti awan itu

dimensi tempatku melangkah tanpa batas
rumus-rumus ilmiah tak mampu menjamah
langkahku tak terhentikan,

kamu tahu seperti apa sesunggunya keadaanku saat ini;
'aku seperti anak ayam dalam ancaman elang'
meringkuk dalam sayap-sayap induk
melihatnya seperti melihat malaikat maut

aku hidup dalam bayangan maut
yang setiap saat menyambangi tempatku berlindung
oh,.. tak ada tempat berlindung darinya

sesaat yang kupunya ingin bermakna
entah untuk apa, siapa

yang ku tahu esok adalah kematian bagiku
dan hari ini kusebarkan bebijian di ladang kehidupan
berharap tumbuh berkembang hingga buahnya dapat dinikmati musafir
walau saat itu namaku tinggal pahatan




Tuesday, January 21, 2003

Rinduku Bagai Balon Hati

senyum hampa, tawa tanpa jiwa menari-nari diatas telaga airmata
hanya sesaat, karena kemudian kembali tenggelam

kenangan-kenangan tersimpan dalam almari kalbu
jatuh berserakan diatas altar kesepian

bunga-bunga kesunyian merekah saat musim tiba,
menyapa lirih jiwa tak bermahkota cinta
terpaku menatap senja terakhir

sajak-sajak sepi tercipta memberangus kesadaran
kian terpuruk dari pergelutan peristiwa

rinduku bagai balon hati, semakin kutenggelamkan,
semakin kuat mendorong tanganku mengapung


Aku Nadi Perihmu

aku menadi perih dalam hatimu, hingga
air terjun di tebing; kemarau di hatimu

telaga kupersembahkan padamu
tiada engkau membayangkan
sampan termangu di tepian

muara jauh dari alirku


Tertepi Sepi

Diriku tertepi sepi
tanpa kucuran anggur rindumu dalam cawan-cawanku
tanpa belaian sinarmu menyejukkan jiwaku
Diriku terjerat ragu
sekian lama jauh darimu
sekian lama tanpa sentuhmu
Diriku terhempas pilu
saat kau tinggalkan memar dijantung hatiku
saat kau cabut busur panah; bersemayam dihatiku
Aku rindu
pada sentuhmu
pada desah hangatmu
papa hangat pelukmu
Rinduku tinggallah patung, mematung berdebum kebumi
mencium dunianya kembali



Monday, January 20, 2003


Kau Beri Aku Suatu Arti

Menatap matamu adalah,
Bagai terbiar dalam pelangi ku terpaku
Menunggu saat hadirmu dalam biru

Menatap matamu adalah,
Bagai berdiang diperapian saat hujan dan dingin
Apimu hangatkan tiap relung sukmaku

Menatap matamu adalah,
Bagai tersesat dibelantara asa
Yang membuatku terus berjalan dan lupa arah pulang

Menatap matamu adalah,
Bagai terkunci dalam ruang rindu yang gelap
Membuatku menggapai-gapai damba sentuhmu

Menatap matamu adalah,
Suatu kesadaran
Kesadaran bahwa kita t’lah berpisah
Namun telah kau beri suatu arti bagiku,
bagi hatiku.

Ngayogdjokarto


Ku Hanya Tersenyum

Aku hanya tersenyum,
Ketika aku menjadi Belalang
Melihat cumbuan panasmu
Menggeliat diantara dedaunan kering
Terhimpit desakan angin
Nanar mataku,

Aku hanya tersenyum,
Saat kauraih tikar alam tanpa malu
Saat kau meregang dalam kenikmatan semu
Ingat dengan anakmu?

Aku hanya terdiam,
Saat kulihat selembar lima puluh ribuan jatuh ketanganmu
Dan kau bilang, “aku dapat SPP mu anakku “
Tersenyum dalam getir, tertawa dalam ratap

Dan aku kembali tersenyum,
Saat kau kenakan kembali pakaianmu
Kulihat BH mu tertinggal di tikar alam
Semutpun enggan tuk menghampiri,…

Dan aku tertawa,
Saat kau datang tanyakan padaku,
Untuk apa kusimpan BH mu pelacur?
Ternyata kau rugi,BH mu berharga 100 ribu,..
SPP anakmu tertunda lagi,

Aku tersenyum dan berlalu

Jakarta september 2001


Jiwa kita

jiwa adalah gudang misteri dan teka-teki
menyimpan segala rasa yang kadang menyentak
ada tangisan meraung-raung hanya karena sentilan
ada kebosanan yang membengkak tanpa tahu sebab
ada penyesalan yang terjadi karena pilihanmu sendiri
Tanpa disadari kita telah menyimpan suatu tempat yang asing
suatu tempat yang ada dalam diri kita
namun kita tak pernah tahu ada disebelah manakah jiwa itu
siapakah jiwa yang bersemayam dalam diri itu ?
mungkin sebenarnya itu adalah keaslian kita

Keaslian yang mengasingkan kita
yang mengalirkan ketakutan dan kekhawatiran
saat kita semakin jauh melangkah dalam kedalaman jiwa
semakin kita tak tahu arah dan tujuannya
begitu membingungkan
begitu asing bagi pikiran kita
namun begitu inginnya kita mengetahui keaslian itu
sangat ingin

saat airmata terperas membasuh wajah-wajah kita
ia hadir membawa pengertian dan rasa yang mendalam
setetes airmata dapat membersihkan hati dan jiwa
Ketika senyuman berkunjung
ia membawa bunga-bunga mekar yang semerbak mengharumkan jiwa
ia membawa tawa sebagai musik yang menggetarkan jiwa

Jangan tukarkan duka cita hati demi kebahagiaan
jangan pula tumpahkan air mata kesedihan untuk diganti dengan gelak tawa
aku ingin, sang jiwa tetaplah setetes air mata dan seulas senyuman.

Aug. 30








Saturday, January 18, 2003

Seperti Baru Kemarin

sepertinya baru kemarin,
walau sudah 6 th yang lalu
aku bisikkan cinta padamu
kuberikan sebelah hatiku
untuk kau intimi di tiap detikmu

sepertinya baru kemarin,
kurasakan lembut bibirmu
hangatnya menjalar ketiap kapiler-kapiler darahku
detakku detakmu menjadi irama lagu setangkup rindu

sepertinya baru kemarin,
kata setia kau tiupkan di telingaku
gelinya membuat rencana jauh tentang kita
tentang pajangan berhias wangi dan janur kuning

tapi sejam yang lalu,
kilatan berita menampar mukaku
menghempaskan tubuhku melantakkan asaku
saat kudengar tlah kau bubuhkan tandatanganmu
dalam noktah perkawinan, bukan denganku


Surat Ibu

ditulis bak aliran sungai bening tak berliku
hingga mengalir cepat membaca muara
sekejab lepas dari timangan dan
menjauh dituntun rantau
rindu menjadi benang berhembus
Dalam malam yang dicat hitam oleh kelam
dengan kesadaran mengumpulkan airmata
kemudian berdoa;
"Ya Illahi robbi, turunkan rasa manis pada buah dari pohon yang ditanam anakku"

lembaran dengan cat beraturan
diterima dengan rindu yang mengharu telah lusuh
oleh guratan huruf-hurufnya
seorang ibu yang ingin mendekap erat anak terkasihnya
yang jauh terpisah bujur membentang

Guratan huruf-huruf itu terus bercerita
tentang sungai yang dulu bening
menghanyutkan jazad seorang lelaki
yang bertutur tentang kejujuran


Harapan Kita?

kita telah bangun rumah di atas sungai
seperti cinta yang kita jalani
yang telah kita beri rupa warna
seperti warna make up yang kau pakai
dalam angan dan mimpi

kemudian kita gelar peraduan kepedihan dan
kita tertidur di atasnya dengan kegelisahan
berbicara tentang kesedihan dan igauan teriakan mengenaskan
minum dari mata air airmata, kita tersedak

sebentar lagi mungkin banjir datang
menghanyutkan rumah kita
itulah harapan kita
agar segala rasa nikmat itu tak lagi hinggap
kemudian kita terdampar berseberangan



Aku Enggan

aku jengah bertemu surya
yang setiap saat hanya menyengati kulitku
aku jenuh beriringan dengan angin
yang hanya membelai buai tanpa usai
aku bosan bicara pada malam
yang tak pernah utuh memberikan gelapnya

sungguh aku tak ingin lagi menarikan kelopak mata
yang hanya akan membukakan bendungan airmata
sungguh aku enggan membuka pintu suara
yang hanya akan mengundang sedu sedan lara
sungguh aku enggan memompa dada
yang hanya menambah sesak jiwa

aku hanya ingin mengubur perih luka
dan menanam pohon jiwa di ujung pematang bertumpang bunga


Bunga Larang

bunga larang tumbuh di dada pecinta
rumput alang-alang simbar dada
semak belukar ular berbisa

kaki terangkat tak jua menapak
huruf-huruf sungsang dalam rahim kata
erangan-erangan, otot menonjok-nonjok
memaksa sebilah membilah hingga berdarah-darah

kata-kata terlahir bersimbah merah
senyum kemenangan; mengaduh kesakitan

kata-kata memang telah terlahir, dan luka meluntakan
wajah pucat, tangan gemetar menimang
kemudian kata-kata mati dalam timangan nyeri

kata-kata menjadi sajak belasungkawa
terpahat di dinding pecinta
bunga larang tercabut pecinta menyudut
mati hatinya


Warung Kopimu

aku menjadi warung kopi atas perjalananmu
engkau datang berkeinginan
aku memberikan dengan keikhlasan
karna aku tak menjual

ambil dan bawa apa yang engkau suka
aku tak akan memintanya kembali
hanya pesanku;
saat engkau melewati jalan ini
janganlah lupa tuk sekedar duduk kemudian berjalan kembali




Friday, January 17, 2003

Bumi Jiwa Kemarau

bumi jiwa kemarau
rerumputan mengering, pepohonan meranggas
ladang terluka meretak, pematang terpotong-potong
dimanakah tunas kan tumbuh,
bila hujan tak lagi berbentuk air
bila cahya mentari bagai lidah-lidah api

kemarau tak jua lekang
mendung ingkar terhasut angin barat
musim kepayang mabuk arak luka

bumi jiwa kemarau menggelepar haus sentuhan
dari kecupan bulir-bulir hujan
dari guyuran gayung-gayung mendung hitam tebal, dan
cubitan jemari petir menyentakkan

bumi jiwa kemarau, gunung-gunung mengigau


Saat Kau Ingin

saat kau ingin aku diam
aku belajar untuk mendengar

saat kau ingin aku bicara
aku belajar untuk merangkai kata

saat kau ingin aku bertindak
aku belajar untuk dewasa

saat kau ingin aku tak pergi
aku belajar mengendalikan diri

saat kau ingin aku bernyanyi
aku belajar untuk menghibur hati

saat kau ingin aku menepi
aku belajar untuk koreksi diri

dan saat kau sakiti hati ini
aku ingin belajar melukai, biar tandas hingga hulu hati
bukan karena dendam, tapi karna kau telah ajari

14 Januari 2003

Monday, January 13, 2003

Perih menanti

inginku mengurut kata-kata
namun kembali terkilir saat menyentuhnya

kucipta bayang-bayang atasku
tiap saatku terhantui

sungguh ingin menggelar hingga rinci
setiap huruf yang pernah mewakili
walau kutahu, perih tak terperi menanti pasti

(kejujuran terasa pahit tak terkira pabila kebohongan mendahului)


Angkuhku

aku pohon besar, kokoh kuat
tak gentar menentang topan badai
mengolok-olok musim
mencengkeram dan menjajah bumi tulus
angkuhku

ketika rayap-rayap mengusung lapuk
kehancuran berjalan lamban, sekaratku
kesakitan tak tertahan, gerogoti sisa kehidupan
teriak perihku terseret waktu

aku pohon besar, angkuh
kini mengaduh riuh


Asaku

sesaat riang, berlama gelisah
sidangkanku di hadapan janji
memar lebam pipi, mata meratap
terlambat, ketakutanku menadi

ilalang tumbuh merata meninggi di ladang hati
pematang kering tanpa jamah telapak kaki
cangkul tumpul asaku mandul

Sunday, January 12, 2003

Penariku

gemulai gerakanmu atasku
kidung asmaradhana terkulum bibir merahmu
liuk selendang kibaskan pesona
mabuk kepayangku; meratap

manik-manik berkilauan
meluncur lurus tertata mataku
setiap gerakmu; keajaiban bahasa
setiap kidung asmaradhana teredam katup suara

sampur kau kalungkan di leherku, terpaku
tajamnya jarum-jarum perak matamu,
bagai hujan anak panah di hatiku
hingga tiada lagi ku mampu menyentuh gelungmu

Nadi Langkahku

di jantung malam kau tohok aku
menggeleparku diatas kusam

kau ingin melaut esok
sontak aku tak genap

waktu merayap langsam, pagi terjelang
engkau ngiangkan kesendirian
teririsku mendengar

engkau nadi langkahku
dan bila langkahmu mendahului
mengejang diri


Narapidanamu

lidahmu api, membakarku mengabu
angin bernyanyi laguku, lepuh
sekarat tegak; terbahak
darah mengalir bersama merah hatimu
dan nanah membanjiri tiap ronggaku

bah samar tak mampu lagi terbendung
bibir dan hati bersekutu, runtuhkanku
setiap yang terucap; benih kebencianmu

ulah sikapmu menjadi jeruji-jeruji besi denda

aku narapidanamu
dan dalam penjara tak berpintu
terus mengalir sungai sajak untukmu


Karna Mencintaimu

setengah windhu merajut kisi-kisi hati
menanam menyemaikan, tetap kering kemarau

ladang hati mati, buah tak berbiji
belum juga diri ini ikut mati*

andai boleh meminta; kembali
meledakkan ranjau-ranjau yang kupasang sendiri
dan aku tahu,
saat kembali sampai disini
hati dan jiwaku telah hancur berkalang rintih

karna mencintaimulah aku ingin merendam hati
dengan air yang mengalir dari tebing wajahmu
dalam alunan isakmu

*)kata Nabi : kita tak boleh minta mati, karena pasti terjadi

03 Januari



Malam Yang Hilang

Malam mulai runtuh
kemegahan istananya tiada lagi hitam tersorot mata tak lelap
retak-retak dindingnya mulai menangis di tinggalkan kerekatan
ukiran-ukiran buah tangan seniman telah porak poranda
badai Cinta malam; airmatamu, airmataku
menjadi hujan kerentanan

Malam mulai hilang
bertebaranlah bintang kesepian, rembulan kepenatan
pelangi di malam pucat pasi, mengigau syair ironi
sedu sedanmu, sedu sedanku
menjadi petir menggelegar

Malam nampak bayang
sunyi berkeliaran gaduh riang terlepas dari penjara malam
langkahmu, langkahku
tertahan kabut keEntahan


Inginku

Aku ingin mandi hujan, bersamamu
bukan saat siang, tapi kala malam
karna aku mencintai malam yang memberi kita tangis

aku ingin bersandar di dada pelangi tuk terakhir kali
saat pagi tanpa mentari, denganmu
karna aku ingin terlahir kembali
pun bersamamu

dan bila aku pergi menapak barsyah
hujani rumahku dari mendung hatimu
kemudian biarkan mentari menggantikan mendungmu

(ijinkanlah aku mandi hujan bersamamu, sekali saja)


Bacalah Mataku

rautmu melakoni tiap fragmen hatiku, hingga
semua kata bernafas seperti desahmu
kupu-kupu merah beterbangan, berputar-putar menarikan tarian jemarimu
burung-burung berkicau menyanyikan nyanyian bibirmu.

air terjun dari hatiku mengalir deras ke muara hatimu
namun entahlah..
kelok-kelok anak sungai membelokkan lajuku, hingga
muaramu hanya dalam sinar mataku.

bacalah mataku saat kelopaknya mulai menari rapi,
artikan getar gemetar bibirku saat bertemu denganmu,
karna disana terbendung bah kata-kata Cinta untukmu

5 Januari 2003


Saturday, January 11, 2003

Senja Malam

kurindukan senja malam tanpa kerah
polos satu warna, hitam
senja untuk malamku datang tak tepat waktu
prematur ia, menyentakkan langkah lambanku

engkau berdiri di senja ujung malam
aku kan kesana, tidak sekarang
karna waktu belom mengantarkan

namun sekarang, waktu melompat
dan aku sudah harus berhadapan denganmu
dalam keadaan tanpa segenggampun rumput tuk ku berikan pada ternakmu

aku hanya membawa sebulir keringat
yang sebentar lagi kering oleh senja malam
karna engkau telah mengundang mentari
ke pangkuanmu



Hitam

Mari hitam, kemuli aku kelam seperti kau kemuli malam

mari hitam, peluk aku seperti kau peluk legam

oh hitam, beri nama aku seperti kau namai arang

aku hitam, semakin hitam
bahak riang; tangis dalam


Inilah Hatiku

Hatiku bagai pasar
lalu-lalang sosok tak ada yang kukenal
bicara dengan bahasa yang tak dapat kuterjemahkan
menyapaku asing
seolah aku adalah pendatang baru bagi hatiku
aku asing disini

Hatiku bagai pelabuhan
tempat turun dan naik barang, bukan milikku
kapal bergantian datang, bukan kapalku
ratusan sosok manusia berbicara kasar,
bukan kebiasaanku

Hatiku bagai malam
yang keseluruhannya adalah kelam
tanpa celah untuk sinar
tanpa jendela untuk melihat rembulan
hanya sepetak kotak tanpa lobang
gelap
inilah hatiku

Hatiku bagai gurun siang
panas dan terik tanpa ada rindang pepohonan
debu-debu menebal menjadi menutupi keasrian
derap kaki-kaki kuda mengentak-hentak jalan
gembel-gembel berkeliaran mengundang kepenatan
penat
inilah hatiku

Hatiku mengundang bidadari
turun lewat pelangi dan mewarnai dengan warnanya

Aug. 19


Seperti Elang

aku bertengger diatas awan
seperti elang merindukan jelang
kutatap seberang yang kosong
ku kepakkan sayapku mengundang buluh perindu
aku adalah elang yang rindu
pada betinaku yang jauh di ujung senja


Aug.21


Terseret, Hanyut

aku terseret, hanyut oleh gelombang waktu
badai masal lalu benturkanku ke karang hitam
hiu-hiu kesepian dan terasing menyerbuku
tubuhku tercabik-cabik
terdampar di tahun penghabisan

Hatiku kemarau elnino
tandus gersang tanpa tirta amerta
terkapar diatas padang kering tanpa rumput
hangus oleh api sangsi dan sia-sia
serak basah suara daun kamboja berguguran
wangi setaman menusuk hidung
menyiapkan kegelapan baru menyiksa

Malaikat Maut menjemput
Malaikat pemberi tanya menatap tajam
membawa godam dan cambuk api
namun waktu kembali menyeretku menjauh
aku berteriak menjerit memanggil kesepianku
aku meregang dengan darah hampir beku

Sept. 04


Kita Tak Melakukan Apa-apa

kita telah melumut di atas batu kali
yang setiap saat terisam bening alami
tiada henti hingga gelapagan menjadi nafas
kita sering mengundang bintang-bintang di atas kepala
setiap datang kita pun buru-buru mengusirnya
karenanya aliran darah terhenti dikepala
Kita telah kibarkan bendera tanpa tiang
yang kita tak pernah mampu menurunkannya kembali
karena kita hanya bisa melepaskan

Kita tak melakukan apa-apa
saat kelopak mata tak mampu menampung airmata
gelas malam yang mampu menampung memberi kegelapan
harapan tercipta saat keheningan menyalami
namun kembali menguap kala siang menjelang
Beribu harapan terpatah sayapnya
dalam sangkar kegelapan yang bertali dan bergerigi
menyeret harapan terinjak-injak kaki pengingkar hati
Siang memberikan luka panjang dan pering
Deru suara angin menjeritkan suara hati mengering

Senja yang didamba belum jua tiba
menjadi kereta terpeleset dari rel melaju dipematang
sawah-sawah hancur berantakan
terbanjiri darah luka panjang memerih
burung-burung bernyanyi bela sungkawa
sementara aku tergilas dipematang

Sept. 04


Sahabat Jangan Pergi!

Kubuka sebuah kotak kecil berwarna biru
yang kau berikan sehari yang lalu, sebelum kepergianmu
pesanmu; 'bukalah saat hari telah berganti'
dengan keingintahuan yang mengembung
kubuka dengan angan yang melambung

Sebuah cincin tanpa mata bertuliskan namamu, namaku
serta sebuah lontar kering bertulis syairmu;

'Keindahan itu milikmu, namun tak kumiliki
Ketulusan ini milikku, namun belum kau jelang
Cinta ini kupendam dalam danau persahabatan
Rindu ini tenggelam dalam laut cintamu
aku terdampar dipulau penantian, berpantai ketakutan
ketakutan kehilangan seorang sahabat
yang kukasihi, juga kucintai
aku tak ingin kehilangan keindahanmu, walau dalam angan'
"Inilah Cintaku, dalam bentangan benang waktu"

Kesadaran menggelinjang
ada yang menggenang disudut mata, airmata haru
sebuah balon hati meletus pecah, dalam dadaku
membuat sesak dadaku terpenuhi udara rindu

sahabatku jangan pergi !
kekasih hatiku jangan lari !

Akupun memendam kerinduan yang dalam, untukmu
kita sama-sama menyimpan cinta dalam indah jalinan suka duka
namun kita sama-sama menanggalkan jauh dikalbu
Akupun dirasuki ketakutan tak mampu mencapai tempat berpijakmu
Musim penantian panjang telah tiba
sementara musim pertemuan jauh diujung senja

Aku tahu,
kau menungguku diujung cakrawala jingga, dan
aku akan menjadi mentari yang menciumnya saat senja

Sept. 03


Kereta Waktuku

kunaiki kereta waktu yang menjemput diriku sore itu
aku dibawa mengelilingi malam di mana kegelapan bertakhta
menikmati indahnya kota keheningan berhias celah-celah sinar
dari sabit yang bergantung di langit bertabur bintang
hatiku menari jiwaku bernyanyi bak burung hantu didahan kamboja
mata merapalkan aji panca sona
kemudian saudara-saudara mataku menyebar mencari pemandangan kegelapan
sungguh indah malam berhias celah-celah sinar
menggambar seribu wajah diatas kanvas hitam
jiwa mataku menerka nama wajah-wajah malam
untuk diberikan pada jiwa sekarat di saat siang

Kunyanyikan lagu Cinta yang seram
menyakitkan dan menyedihkan
memeras airmata mengundang bela sungkawa
di selimuti kehampaan berbantal kerinduan terlarang
Aku menari tarian keperihan diujung malam
meliukkan tubuh jiwaku mengikuti irama kegetiran
bibir pori-poriku menjerit bagai lolong anjing hutan
tubuhku tercabik-cabik pedang pengkhiatan mengenaskan

kereta terus berjalan semakin kencang
mengguncang-guncang jiwa yang tegang
menggetarkan hati yang memerih tersiram cuka kehidupan
hatiku getas kemudian pecah menjadi serpih-serpih tak berserat sekarat
jantungku terpental melayang disambar elang malam kelaparan
tubuh hatiku dicabik-cabik serigala hutan kesengsaraan

kereta tak pernah lagi mau berhenti
walau rel nya yang membujur membelah bumi menangis
karena kereta waktu tak membutuhkan lagi relnya
bergerak liar mengguncang-guncang jiwaku yang tegang
hingga nyawa jiwaku melayang dijemput dayang-dayang garang
bertaring belati bergeraham godam besi

Aug. 14

















Friday, January 03, 2003

Seberapa Lama Lagi

seberapa lama lagi kau perlu waktu
untuk mengukir namaku dalam hatimu

seberapa banyak pahatan kau perlu
untuk membuat bingkai lukisan wajahku

bila saatnya sampai
kuingin pahatanmu tak tinggalkan luka

Sept. 04


Kuhampiri Engkau

kuhampiri engkau
yang terduduk di taman hatiku dengan tangan menyangga dagu
dengan kulitku yang dilumuri embun kubiarkan tubuhku tanpa selembar benang
sekilas terlihat kau mengintip dari sudut matamu, hanya sekilas
engkau kembali menusuk rumput hijau dengan sinar matamu, redup
kulihat rumput-rumput menengadah menatap ngangah
mungkin mengagumi sayu wajahmu yang ayu

Wajah sayu ayu lekat ke wajahku
mata indah tiada berkedip, menyelidik
aku biarkan mata hatimu masuk lewat lorong hitam mataku
agar engkau tahu, hatiku telanjang untukmu dan
kubiarkan, kuresapi kecup bibir matamu dikening hatiku
senyummu mulai beranjak bangkit
kurasakan tangan berkulit bangsawan memagut
bibir pori-pori bungkam terpana
kulit seindah putri raja menyentuhnya dengan rasa percaya

daun-daun mengangguk
tanah tersenyum bijak
daun-daun yang rela menyerahkan embun paginya
untuk jiwaku yang tengkurap saat pagi
tanah yang ikhlas memberikan sapa sejuk embun yang meresapi
untuk jiwaku yang meminta pada fajar

Sept. 10


Aku Bertanya Tentang Kekasihku

Aku bertanya pada malam
dimana kau sembunyikan wajah kasihku ?
malam menjawab;
'kekasihmu akan datang setelah kau serahkan jiwamu padaku'

Aku bertanya pada bintang
dimana bisa kujumpai kasihku malam ini ?
bintang menjawab;
'kau akan jumpai dalam teropongku saat bermimpi'

Lalu aku bertanya pada peraduanku
apakah kau siap mengantarku berjumpa dengan kekasihku ?
peraduan menjawab;
'setiap nafasku adalah pengabdian untukmu'

Aku terlelap
mimpi memuai rinduku terbengkelai

Sept. 05












Thursday, January 02, 2003

Saat Cinta

saat Cinta datang dengan hormat mengetuk pintu hati
maka bukalah pintu hati lebar-lebar
biarkan Cinta membuat jendela-jendela
agar sepoi membelai buai menyejukkan tiap lekuk relung hati

saat Cinta datang mencongkel jendela tanpa setahu penjaga hati
jangan usik dia, karena dia akan mengganti jendela itu dengan jendela baru yang
lebih indah mempesonakan
rasakan saja hadirnya agar dia bebas mengukir dinding-dinding hati

Saat Cinta merobohkan saka hatimu, juga biarkan
karena dia akan kembali datang dan membangunkan istana hati
dengan saka dari sarinya

Namun saat radar-radar hatimu tak lagi merasakan hadirnya
jangan biarkan,...
tonjoklah ego yang telah membelenggu rasa dibalik jeruji denda
dan ceburkan diri dalam telaga keheningan
maka sesungguhnya kamu akan dapatkan merasakan hadirnya kembali dengan hati
berpermadani


Aku Bertanya

Aku bertanya pada malam tentang kegelapan
dan malam menjawab;
Kegelapan adalah tempat yang lapang bagi jiwa lelah
kelamnya menutup pintu-pintu kesilauan
keheningannya adalah tempat renungan menilik jiwa yang lupa
dinginnya adalah selimut bagi jiwa yang kepanasan
ketenangannya adalah penutur tentang kehidupan
dan mimpi-mimpinya adalah wangi bunga dan keindahan

Aku bertanya pada siang tentang terang yang menelanjangi malam
dan siang menjawab;
Cahya nyataku adalah penunjuk jalan bagi langkah kedepan
hangatku adalah dambaan kehidupan
terikku adalah peringatan bagi keserakahan
sinar lurusku adalah selang hidup tetumbuhan
lembar biru yang terpandang adalah catatan jalan jiwa-jiwa berjalan
dan debu yang melayang-layang adalah nafasku

Aku bertanya pada pagi tentang kehadirannya
dan pagi menjawab;
Hadirku adalah sebagai partisi waktu pembatas keinginan
semburat merahku adalah tanda kemegahan singgasana hari
kokok ayam jantan adalah dentang lonceng jam didinding kamarku yang mengusir
keheningan dari kursinya dan menyadarkan aku dari lelapku
gema kalimat Illahi adalah panggilan suci bagi jiwa yang mengerti
kicau burung riang adalah lantunan lagu harapan
dan segar udaraku adalah penyambung nyawa bagi penikmatnya

Dan hatiku bertanya pada jiwaku tentang alam
dan jiwaku menjawab;
Bahwa alam adalah gambaran kehidupan
maka bicaralah pada alam tentang iramanya

Aug.10





Datanglah Dalam Embun

datanglah ke rumahku di dalam embun, saat ini
jangan menunda hingga hari berganti
kalau memang di hatimu masih terpahat namaku
datanglah dengan berkendara pagi
karena hanya saat itulah pintu rumahku terbuka
pagi ini, untuk yang terakhir
malaikat kan datang di siang hari menagih janji; padaku
yang telah tersurat di tanganku
Jangan menunda hingga hari berganti
karena itu kan memberatkan langkahku menuju rumah baruku

datanglah sendiri,
tanpa kesedihan yang mendampingi
tanpa amarah yang meneriaki
tanpa dendam yang membujuki
datanglah hanya dengan menggandeng Cinta
karena mataku hanya mampu melihat Cinta; pada dirimu

Bila siang telah menjemput pagi
gumamkanlah doa dari atas awan
biar alam mengamini, biar bumi membuka hatinya untukku
hingga saat kumasuki rumah baruku
aku dapat tersenyum melambaikan tangan padamu
tanpa ragu

Kenanglah hari-hari bersama dalam rumah Cinta
dengan itu kau telah kirimkan secercah cahaya
dalam gelap rumah baruku
Hingga aku punya asa untuk bisa berjumpa; denganmu
di pintu terakhir

Aug. 31


Kutuliskan Sajak

kutuliskan sajak
di dinding-dinding gedung menjulang
di jalan-jalan padat kendaraan
di hutan tempat menusia membuang pikiran
dan dihatimu

aku datang, kemudian pergi
menyurat tanya, juga ayat-ayat Illahi
dengan darah dan airmata, juga senyum
Jerit yang menggema memenuhi mayapada
melepaskan anak-anak panah
cepat tetap ketubuhku, kejantung hatiku

Nyanyian itu menjadi tali yang mengikatku
kemudian menyeretku ke laut dan
membenamkan tubuhku,
hanya tubuhku
Dalam lorong waktu berbentuk spiral
aku berjalan menuju kedalaman malam dan
kunyalakan gairah cinta
dengan percik dari hatiku

Aug. 30


Kata Untukmu Tertunda Lagi

masih ada yang terlupa saat kubalikkan tubuhku dari hadapanmu
sebaris kata yang selalu berjalan melingkari hatiku
sebaris kata yang selalu bermuara di laut hatimu

haruskah kukatakan itu saat ini ?
ah, esok hari saja saat engkau menjadi fajar dalam kesadaranku

namun apa yang kutunggu lagi ketika fajar tertutup mendung pagi ?
dirimu tiada terlihat walau dari hati sekalipun
ah, kata-kata cinta untukmu tertunda lagi

24/10/02


Betapa Sukar

betapa sukar kuhempas bayanganmu
dari takhta permaisuri tertinggal melati
betapa sukar ku tepikan gema suaramu
yang terdengar berulang-ulang dalam ruang hatiku

25/10/02


Dan Bila Senja Menyapa

kenapa mentari rela menyinari bumi ?
apa karena kesetiaannya ? apa kodrat saja ?
apakah karena cinta dan kasihnya pada bumi ?
atau suatu keterpaksaan hingga tiada kuasa menahan laju sinar
ah, aku masih belum mengerti kisah mereka

bila suatu hari senja abadi
maka semayamkan tubuhku disana
namun bila senja ditindas sang malam
biarkan tubuhku lebur bersama debu cakrawala

perahu hampir tenggelam
retak-retak perahu tiada lagi mampu menahan desakan lautan
ombak datanglah, sampaikan pesanku pada pantai pandan
katakan bahwa aku dalam pelukan lautan

dan bila kerinduannya menyedak
belailah pasir pantai yang lembut
karna kelembutannya adalah aksara hatiku

Dan bila senja menyapa
sambutlah dengan rentangan tangan ikhlas
karna aku akan datang bersama bayang-bayang gunung

25/10/02


Maafkan Aku

masih ada senyum dimatamu
ketika kulepaskan genggaman tanganmu
masih kulihat bunga didadamu
ketika kubalikkan badanku
maafkan aku

masih kulihat jelas bayang wajahku dimatamu
ketika ku bercermin ditelaga hatimu
aku tahu cintamu untukku
namun cintaku tlah kuberikan pada fajar saat pagi
maafkan aku

oh,
seandainya engkau tak berdiri diatas lembayung senja
mungkin cintamulah yang kan ku puja.


26/10/02


Dunia Samar

ku lukis wajahmu seperti dalam anganku
benar-benar kugambarkan itu kamu
cat ini tak pernah habis tuk sempurnakan lukisan wajahmu
karena setiap hari anganku tentangmu bertambah semu
hingga kadang aku tak tahu seperti apa wajahmu

rasanya,... ingin segera melihat wujud nyatamu
memasok ide dalam otakku hingga,
aku dapat utuh melukis wajahmu dikanvas hatiku
oh, aku sayang kamu sebelum aku tahu aroma tubuhmu
mungkinkah duniaku kini hanyalah samar kemudian pudar ?
hingga saat pertemuan menjadi bayangan menakutkan

oh, aku mencintai bayangan semu,
tunjukkan dirimu wahai pemberi imajinasi
agar sungai sayang dari hati menemukan muara tuk kembali
oh, duniaku dunia samar

kau menjadi kekasih dalam angan
namun saat pertemuan terlingkari waktu
ketakutan majemuk menusuk-nusuk
jangan datang,...
aku takut itu menjadi perpisahan
oh, duniaku dunia samar

28/10/02