Surat Cinta
: Murti Nastiti
Cintamu itu duh Murti, tak mampu kugambarkan dalam segala imajinasi yang tiap hari ku rogohrogoh hingga hulu dan lecet jiwaku. Wajah di balik kaca yang kau puja ini pernah menghempaskanmu dalam ragu bermusimmusim, menggantung rindumu belasan purnama. Duh Murti yang mencintaku seperti cintanya pagi pada embunembun, tidakkah kau sadari jalinan itu takkan kembali? Jalinan yang dulu bergelantungan janjijanji, bertebaran segala puji.
Duhai Murti yang masih saja mencintaku tanpa kenal kesakitan hati, buanglah jejakjejak hitam langkahku karena yang pernah kau puja ini tiada mampu lagi melepas seretan waktu yang terus berlari. Kerudungmu yang ungu itu duhai Murti, pernah basah oleh airmatamu yang lugu. Tanganmu gemetar duhai Murti, menggenggam tanganku kala senja mulai mengibarkan bendera lembayung, dan tanganku yang tak bermata ini menurunkannya kala malam mengumandangkan panggilpanggil suci.
Duhai Murti yang Nastiti, palingkanlah dirimu dari mata cintaku, carilah penggantiku yang pantas untuk dirimu. Karna sesungguhnya cinta yang pernah ku kirim ke gunung pertapaan tiada dapat mencium aroma lontarlontar yang beterbangan dari pohon cintamu. Duh musim hujan yang di wajah perawan adalah wajahmu yang berkerudung ungu, lugu.
Jakarta, 27/02/03
