Friday, February 28, 2003



Surat Cinta
: Murti Nastiti

Cintamu itu duh Murti, tak mampu kugambarkan dalam segala imajinasi yang tiap hari ku rogohrogoh hingga hulu dan lecet jiwaku. Wajah di balik kaca yang kau puja ini pernah menghempaskanmu dalam ragu bermusimmusim, menggantung rindumu belasan purnama. Duh Murti yang mencintaku seperti cintanya pagi pada embunembun, tidakkah kau sadari jalinan itu takkan kembali? Jalinan yang dulu bergelantungan janjijanji, bertebaran segala puji.
Duhai Murti yang masih saja mencintaku tanpa kenal kesakitan hati, buanglah jejakjejak hitam langkahku karena yang pernah kau puja ini tiada mampu lagi melepas seretan waktu yang terus berlari. Kerudungmu yang ungu itu duhai Murti, pernah basah oleh airmatamu yang lugu. Tanganmu gemetar duhai Murti, menggenggam tanganku kala senja mulai mengibarkan bendera lembayung, dan tanganku yang tak bermata ini menurunkannya kala malam mengumandangkan panggilpanggil suci.



Duhai Murti yang Nastiti, palingkanlah dirimu dari mata cintaku, carilah penggantiku yang pantas untuk dirimu. Karna sesungguhnya cinta yang pernah ku kirim ke gunung pertapaan tiada dapat mencium aroma lontarlontar yang beterbangan dari pohon cintamu. Duh musim hujan yang di wajah perawan adalah wajahmu yang berkerudung ungu, lugu.



Jakarta, 27/02/03


Thursday, February 27, 2003



Pada Sajak

pada sajak yang menghuni sungai
ajari aku cara mengalirkan katakata

pada sajak yang tinggal di lautan
ajari aku cara menyelami katakata dan mendeburkannya

pada sajak yang menggantung di langit
ajari aku cara mencurahkan katakata

pada sajak yang melancip di pahatpahat
ajari aku cara mengukir indah katakata

dan pada sajak yang bersemayam dalam airmata
ajari aku menangis dan tertawa


Lentera Siang Hari

dan kecewalah engkau padaku wahai terkasih
akan segala buruk rupa yang tereja
karna aku adalah kesalahan yang mengakar
dan mulailah rubuhkanku hingga tercabut tiap akarku

matikan saja lentera di rumah itu, rumah kita
cabut sumbunya tumpahkan minyaknya, kemudian bakar
apalah gunaku bila tak mampu terangi ruangmu
apalah adaku bila tak mampu tutup celahmu

aku adalah lentera di siang hari
bagimu, baginya, bagi semua
maka tiup saja nyala itu


Ku Angkat Kedua Tangan

ku angkat kedua tanganku
pada katakata yang meluber dalam rongga
mengairi petakpetak gersang
menumbuh suburkan kebosanan diatas lembarlembar kusam

ku angkat kedua tanganku
pada sajak yang membuatku terus berjalan
hingga lupa arah pulang

inginku adalah racun saat ini
yang membunuh dan menghidupkanku kembali

Jakarta, 25 Februari 2003


Monday, February 24, 2003



Adalah Aku dan Engkau

sepi yang merambati bulir hujan satusatu hingga tiada yang tersisa dalam mendung adalah aku, adalah engkau yang tak menyisakan tebalnya sofa langit untukku duduk, engkau telah curahkan segala yang tersimpan dalam mendung pada wajah yang selalu diam, hingga kini dan angin telah melayangkanku tersampir di gegunung tandus tanpa tetes tersisa adalah engkau yang mengajakku menyusuri kolong langit hingga lelah sayapsayap jiwaku adalah engkau yang teteskan candu asmara dalam cawan cinta hingga mabuk kepayang adalah aku, adalah engkau yang menumpuk rantingranting tubuh hingga terlipat adalah aku yang tak pernah bisa bedakan warna satin adalah engkau menyilau mata hati hingga pesona sekejap menjadi seabad menandai tiap jejak langkah hingga hurufhuruf yang terukir indah adalah namamu manandai tiap persimpangan yang terlalui adalah aku yang terpesona pada cinta terpaku pada laku kepayang pada asmaramu.




Bulir Kosong

rentang dentangdentang lajulah dentang
musik alunan langkah perih tertahan
di telapak kaki yang merata luka, kanankiri
merepih jejalan menghirup dalamdalam nafas
meneguk hingga tandas sesajian

rentang dentingdenting melengking denting
petikan harpa jiwamu hanyuti jiwa, disini
di telapak tangan yang merata kubangkubang, kanankiri
menggenggam getas dahandahan cinta
mendidis bulirbulir kosong, menyentilnya
untuk kita

dan aku mulai menanam pepohon perih
terpupuk canda dan tawa
nantinya


Namamu Malam

namamu malam, merambati wajahku hingga kelam kusam, menelanjangi kabinku hingga meringkuk akut ketakutan. namamu malam, menggelar kanvas hitam legam perkosa mata hingga tak mampu lagi terpejam.



[Arwan : 18/02/03]



Thursday, February 20, 2003

ODE PENYAIR TITIK NOL
: TS Pinang


Ada yang mengapung, menyembul dari selasela malam yang kau sulam, kau peluk, kau setubuhi hingga orgasmemu di ranjang pagi. sesuatu hilang dari segala indera yang kau punya, memuai sepanjang rel kereta yang terlalui melenakan jemari menari bagai penari tayub merentangkan sampur dengan keringat mengucur. senyum selalu mengembang tenang, tiada lelah engkau bertutur tentang sebuah titik yang kau cipta dari gumpalangumpalan imaji. Kemudian sampailah langkahmu pada sebuah ritual malam, mengheningkan cipta memuja cinta malam yang memberikan mendung di seluruh penjuru langit jiwamu. Dan kau turunkan gerimis katakata, deru angin pecinta membelai mayang mengombak senja. Bulirbulir menjadi huruf yang tertata di gegunung, lembah ngarai, sungaisungai, hutanhutan, lelangit, lelautan, dan terebah di pasir putih teralun petikan dawai harpa nyiur. Adalah menawan berjuta pasang indera hingga enggan terbang dari lingkaran magis rona. Dan kaupun terlena hingga tersampir sebuah hasrat tertundatunda.
Ada yang mengapung, menyembul dari kelepukkelepuk didih magma jiwa pecinta yang berupa animasianimasi hasrat jiwa.




PADA TERCINTA
: H A

sekar mayang madu pinuju pitu
hangandang gegunung dipeluk langit
palungpalung tercipta dari kukukuku jari
selatselat bertambah dalam mustaka jati
dan kau menangkap bayangbayang diri
pada sejuta puisi

dari sebuah gua awal kau cipta sajaksajak
menempuruk katakata pualam kepala
pada Tuhan, pada alam, pada sesanak
pada tercinta, pada tercinta

dan sebuah nama di jauh belantara
tanpa jamahmu, tanpa secangkir teh, tanpa jejamuan
menghadap tempatmu menatap, lekat
mengikuti jejakjejak langkah
pada tercinta, pada tercinta




Tuesday, February 18, 2003


Mayoret


jes! simbal mengiris dung dung tamtam mendebum ketipak tipung ketipung perung ting ting ting berjatuhan kord ke wajahku sendu meludru kenyu poedelku debah kagum pada putar tongkatmu kilaunya manik silauku runduk melapis mata hingga rebah pada rerumput kering menyeridik kulit menembus kapiler darah mengkilik nadi hingga hentikan denyut nurani. padamu hari bersimpuh melepuh asa siuh hingga hanyutku rapuh.







Sunday, February 16, 2003



Jarijari merunduk pilu, lemas tungkai tak mampu lagi menopang tubuh, terduduk bersimpuh di tanah merah bertabur bunga. Beningbening air kasih menggenang dalam kelopak mata memerah. Tak satupun kata mampu terangkai tuk berkata, telaga airmata mengalir sungai di wajah. Sejuta kata takkan mampu lagi menterjemahkan perasaan, deras hujan desember pun tak mampu basahi kerinduan yang telah kering. Seribu anak panah bersalah menghujani tubuh, sakit, namun tak terlihat luka. Jantung terasa terlepas, hati terbakar, jiwa menggelepar meratapi gundukan keperihan. Lagi-lagi tanah merah kuburan menyapa, terik mentari menggigit keterpatungan. Angin bertiup membawa wangi kamboja mengiris perih sembilu. Hati berbisik; “Kenapa aku datang saat kau telah pergi berkafan? kenapa air kasihku mengalir saat kepergianmu? Kematian telah mengikis endapan rinduku”.



Sunday, February 09, 2003


Aku Cemburu

aku merintih di atas tawa dan merah mataku
menyunggi cemburu berlaksa juta, menahan geram gendam dada
sungguh aku cemburu pada keramaian hari itu
yang kembali menghempaskanku dari dermaga tanpa tambatan

entah apa lakuku harus kuberi
dengan perih inikah? atau dengan api yang kian berkobar membakar hanguskan

jiwa ini membara merah dengan sunggingan darah,
air terjun di airmataku nanah
terparkir derita di tengah keramaian jalanjalan canda

entah, bisakah aku mengakiri kebisuan ini
atau aku akan tetap menjadi bisu, kemudian tuli
aku telah terbutakan oleh biru yang perlahan merah
memerah tanah basah


Tertunduk Bunga
: FanxQ

tertundukmu bunga
pada kawan yang kau jelang saat malam mulai hilang
menarinari jemari pada papan sepi

tertundukmu bunga
menyimpan tawa yang tertahan, kesepian
entah suka entah tak kuasa
atas jauhnya musim yang belum berikan tanda

senyummu bunga
menyeret duka memoles muram durja
pada pagi yang tak tinggalkan sisa


Memanggilmu

memanggilmu dengan teriakan dari dasar lautan
merambatlah pada pasir hingga kaki nyiur melambai
dan jadilah teriakan itu angin yang kembali ke lautan
pekakkan talingan

merayumu dengan debur lautan
yang buihnya putih kemudian mengilang
datang dan menghilang
tak pernah terbaca oleh daratan

terjerembabku pada palung tua
yang masih tetap muda



Friday, February 07, 2003


Engkau Bunga Di Sudut Mata

inginku dedaun malam itu
yang tenang tanpa goyang, akanmu

namun apalah terang ini bila tanpa angin
menggoyang tangkaitangkai bunga di teras jiwa

dan engkau bunga yang di sudut mata itu
bercanda hangat dengan kumbangkumbang
mencongkel sembulkan keirian


Desir Ini, Getar Ini

kutikam mata jarak dan waktu
yang setiap saat mengerling nakal padaku, padamu
lalu kucabut poros bumi biar tak berputar ia
agar tumpah segala entah kemana

karena desir ini, getar ini tanpa jalin cinta
dan desir ini, getar ini biar selalu ada
di antara kita

dan tak ada masa bagi kita bertatap muka
terjemahkan kata yang terlukis di kanvas maya

Tuesday, February 04, 2003

Kita Ini Masa Lalu

kita ini masa lalu yang mengapung di jeramjeram
dan kita menjadi perahu kertas basah
kita, kau dan aku, menyatu terlipat pautan lama
mengarung jeramjeram lukisan kanon duka
mengayuh dayung yang perung

kita ini masa lalu yang menyembul dari pusara
menggenggam seikat lidi di pinggir akhiran
menyimpuhi bizzare yang tlah merata
terkalungi bungabunga mengering kala salju turun di kotamu
menggigilbekukan hingga mimpiku
dan aku menyumbang airmata

kita ini hidangan lama santapan binatang purba
tulangtulang menyempil dalam padas
terhimpit merapal kisah karam
dan kita bertukar bahu sandarkan gelisah


Ku Bunuh Sajaksajakku

: NanangSuryadi

setengah matiku melahirkan katakata ini
rahim terobek, aborsiku

hei... aku ini lakilaki
ingin beternak katakata
bibitbibit kau yang taburi bersama airsenimu

kau tentu ingat katakatamu
"bunuh saja sajaksajakmu"
dan aku membunuhnya satupersatu
merayunya, kemudian ku tikam jantungnya
mati ia tanpa gumam doa
tak ada darah dan airmata disini

dan aku mulai bermain dengan kertaskertas lusuh
ku baca kemudian aku sobeksobek
dan ku cerna menjadi tai

kau tahu, aku ini benci tumpukan jerami ini
akan ku bakar saja dan kutelan abunya
kau pasti tertawa, juga mereka


Itu Dirimu

'ini pegunungan', katamu
dan tak kulihat gundukan menjulang
langkah kaki datar tanpa tanjakan

'ini telaga', katamu
dan tak kulihat air menggenang
sejauh mata memandang, padang kosong glondangan

'dan itu dirimu' katamu
aku tak melihat apapun
hanya layanglayang limbung