Friday, March 28, 2003



Lelaki Kecil dan Perempuan Kecil I

lelaki kecil berlari terengahengah
kemudian menangis dalam peluk perempuan kecil,
mereka masih samasama kecil

menangis suka menangis bila dalam gulita,
setelah seharian bernyanyi 'pok ameame' dan bermain hollahop

lelaki kecil perempuan kecil tetes mawar meyatimpiatui diri
tak ada airmata sebamkan muka

perempuan kecil menata dipan, lelaki kecil bertolak pinggang
berpeluk tanpa sekat tanpa dinding tanpa pintu dan jendela
"inilah indah dunia" kata mereka sambil tertawa

Jakarta, 26 Maret 2003


Awal Mula Sajak
:Indah IP

Ujung satinmu melukai desahku. saka hati.
narasi dan fragmen mencuat menggelitik. libido rindu.
ah tidak. ada narasi duka dalam ikatanikatan sajak

wangi bunga menikamnikam jantung. mata. hati. hari.
senyummu bagai sulur labalaba menjaring. menangkap. terbiar biar

ini ruangku, itu ruangmu. berserakan kertaskertas tissue. sajak pukimak. racau penyair. gelisah. rindu. riang. reuni. petisi. wajahwajah puisi. ghaib puisi. sayatan seruling. kicau harmonica. arak. buku tamu. teh kopi habis. jaket melingkar di pinggang, aku suka, aku suka gayamu

dari jauh di jalan yang lain, merana bangkubangku. curi pandang para hantu. langkah tergesamu, tak luput dari sudut mataku. padahal ada ingin sekedar cakap basi. namun kupikir katakata takkan mampu mengeja lubuk hatiku. biar saja rindu menjadi gemintang yang terus menghiasi malam

lalu mulailah tercipta sajak untukmu
tidak karena cinta, bukan karena sayang, bukan karena keelokan, bukan karena pesona
tapi karena kekurangajaranmu yang menyulap batu di hatiku menjadi rindu.

Jakarta, 25 Maret 2003



Tuesday, March 25, 2003



Bila Harus Jujur
:Anis NQ

Bila harus jujur, aku memilih untuk tak bertemu dirimu lagi karena sepi telah menggelandang diriku terlalu jauh, walau sungguh hati menggelinjang sunyi

Bila harus jujur, aku hanya ingin sesekali saja mengenang segala hitam dan putih memori dari bukit hijau yang telah kau sulap menjadi gunung batu

Bila harus jujur, sesungguhnya ada ingin mengubur jiwamu dengan tanah bacin dari cawukancawukan tanganku saat rindu sekarat di balai kalbu

Dan bila aku harus berdusta, sesungguhnya aku mencintaimu dengan sangat pun mengutukmu dengan laknat


Musim Belum Tiba
:Indah IP

seperti pelangi lengkung alismu, seperti gemintang binar matamu, seperti purnama sinar wajahmu, mayang niagara gerai rambutmu, desau angin pagi nafasmu, debur ombak tawamu, alun elise bincangmu

bizzare engkau bagiku, kau tahu, hanya itu
selebihnya adalah tanda tanya yang menempuruk dalam dadaku
ada ingin yang kuat untuk tahu, ada ingin yang kuat untuk acuhkan itu

anakanak panah telah habis dalam perang bertahun lalu, kini hanya gendewa pinentang dan tubuhkulah anak panah baru, namun aku tak mau menjadi anak panah itu sebelum tiba waktuku.

musim belum tiba pun tandatandanya, musim belum tiba


Aku Tak Tahu

Aku tak tahu kapan ombak berhenti berdebur, gunung api berhenti mengepul, angin berhenti bertiup; entah

lalu tibatiba aku ingin menjadi ombak, gunung api, angin itu padahal aku lebih sakti dari itu, aku lebih sakti

kukeringkan lautan dengan cemeti lelakiku, ku jugrugan gunung api dengan cemeti lelakiku, kuhentikan angin dengan cemeti lelakiku, tapi menara hatimu, entah

aku tak tahu secuilpun tentang dirimu

aku hanya tahu bahwa aku lebih suka melihatmu tersenyum dan berkatakata lalu melentinglentingkan sajak tanpa patah

Jakarta, 24 Maret 2003







Monday, March 24, 2003



Setelah Cakap Malam

ah, keinginan lelakiku kembali menyembul setelah cakap malam mengoprakoprak hasrat untuk memasak embun menyeduh bunga sekuntum

kenapa pula kau menggugah hasrat liarku yang lama tertidur dalam jiwa ragaku hingga iconicon itu menjadi undangan untuk segera bertemu dengamu, ah kau racuni aku

tapi sungguh, aku suka itu

dan bila saatnya tiba kan kutuang dalam cawanmu arak surgawi dari kendikendi yang terpenuhi embunembun pohon kuldi dan kita akan tinggalkan surga menuju dunia para dewadewi mematri cemeti ratri

Jakarta, 20 Maret 2003


Ritual Sajak: Mu

sebatang djisamsoe, sekaleng bir, pensil kertas lusuh, temaram lampu, pejam mata, nganga mulut jendela, semilir nafas malam, dingin

kumulai ritualku menulis sajak: mu

ini malam o malam ganjil memijitmijit otakku memilinmilin kata jejal
pensil melangkah berat; ikuti lintas jalanmu
karna mata tak mau lagi temaram lampu, seperti saat ini

tegesan djisamsoe, kaleng bir, pensil terkapar kertas basah, sekarat lampu, keping memori, katub bibir jendela, desahberat desahberat, aku puas aku puas aku, selesai tugasku, pagi sekarang pagi sekarang mati; mu

Jakarta, 22 Maret 2003


Pertapa Yang Menceraikan Jubahnya
:Ndu

pertapa lupa jalan ke desa hingga masih menggambar merekareka apa yang akan di ucap pertama

pertapa rindu hirukpikuk persilatan hanya tahu bukubuku ajaran
pertapa ingin menghirup udara liar dan menceraikan jubah kekang

lelaki, kini dia lelaki biasa bukan pertapa yang ingin mempertemukan peluh dan lenguh

Jakarta, 22 Maret 2003


Pikirkan!

lihatlah, para tetangga telah menutup pintu dan jendela kala pintu rumahmu mulai terbuka, lihatlah lihatlah

sadarlah, angin berkelok dedaun memaling muka; mu

tidakkah kau merasa betapa hari tiada lagi mau memberimu seulas senyum, tidakkah kau mendengar bebisik daundaun bicara warnamu, siasia akan siasia saja kau menjura muka

pikirkan, pikirkan ujung pandangmu sekali saja

Jakarta, 23 Maret 2003








Friday, March 21, 2003



Bayang Aborsi Mimpi

Di Jantung batu kutancapkan kuat rindu pada lelayu hati hingga membongkah salju kutub pun rinduku

inilah lembarlembar hampa yang mulai membuka satusatu di mata sejak matahari terbenam tahun lalu hingga jalanjalan diselimuti lengang purapura nampak buram hingga seruang sepi terbeli dengan katakata imaji

ketika penggugah mimpi meniupniup kelopak mata hingga terbuka yang terasa adalah lingkar tangan di pinggangku, geliatgerai rambut di dadaku, dan lembut hangat nafas tarikan simbar dada

terbayanglah nyata aborsi mimpi sebelum gelap mengubur mentari hingga apa yang tersaji adalah mimpi tak bertepi

oo dimana pelabuhan mimpi tanpa narasi peti mati merenggut segala tegar segala riang segala o segala yang terenggut

Jakarta, 21 Maret 2003


Jadilah

lalu ku seka embun di pelupuk yang terhenti di sudut bibir mencairlah senyum cakap dan belai saling sapa bangkit haru bias wajah dan pelukpun tak kuasa menahan hasrat

jadilah kisah, jadilah kisah, jadilah kasih antara kau dan aku awal musim semi bukit biru sepi bergelimpangan di padang rumput kusam musim lalu

Jakarta, 21 Maret 2003


SMS Rindu, mungkin

I.
"aku sungguh rindu kamu, bagaimana dengan kamu?"

rindu terdiam menekur sapa jendela mengarti rindu yang katakata kadang suara dan detikdetik berbicara tanpa tereja jemari paku pada keypad handphone mata memandang pejam

seringkali nadanada panggil hidup kemudian mati sesering bunyi perkusi dalam alun musik ironi katakata dan suara merejamrejam dada dengan lembinglembing rindu hinggu merindu sesungguhnya dirimu; mungkin

II.
"Darimana kau tahu dia bersamaku?, mulai hari ini jangan ganggu kami lagi karena dia milikku"

ooo kau sulut kesumatku sesakku, siapa engkau yang menghakimi aku dengan katakata serdadu, siapa engkau siapa dia siapa aku, tanyakan, tanyakan padanya

III.
"Hanya nadanada panggil hidup kemudian mati"
ku pengkal simpati ini dan aku tak ingin disini
aku pergi

Jakarta, 21 Maret 2003


Tenggelamlah, Tenggelam Aku

awalnya hanya kecipak dalam kedangkalan pergi dan datang lalu dilemparkan aku ke tengah gelombang padahal aku belum bisa berenang; gelagapan tenggelam

tenggelamlah aku dalam katakata, tenggelamlah aku dalam darah dan airmata, tenggelamlah aku dalam dustadusta, tenggelamlah aku tenggelam dalam segala

Jakarta, 21 Maret 2003






Thursday, March 20, 2003



Menatap Matamu
:Indah IP

dimana kau penanak darah yang sintal mayang terurai tertebar senyuman ratu bunga geliatkan sanaksanak mematri pandang juga aku memuja indahnya senyummu

dimana belantara keindahan terkaca dalam dirimu tanpa petakpetak kau tebar pada sesiapa yang melewati pintu, juga aku memuja indahnya sapamu

dimana lagi ku sembunyikan merah wajahku saat keindahan menghentak dadaku menegaktundukkan wajahku

matamu adalah binar si kecil di keliling mainan hingga pundak tanpa beban

menatap matamu bagai berdiang di perapian saat hujan dan dingin dan apimu hangatkan tiap relung sukmaku, menatap matamu adalah bagai tersesat di belantara asa yang membuatku terus berjalan hingga lupa pulang

dan keindahan itu kekagumanku; padamu

Jakarta, 18 Maret 2003


Pemimpi

Siapa yang menanti kantuk merangkul mimpi termangumangu di bangku kusam di senja panjang tak rela meninggalkan lukisan sore semburaburat membingkai penantian

Siapa yang bersenandung gumam menunduk tajam menggenggam arloji mengintimi bangku panjang kesepian di bawah pohon janji merepih sepi

demikian lamanya senja berdiri di pemberhentian matahari disini bergelombang sepi mendeburkan bosan di pantai gelisah

Inilah malam yang mulai menghantam mata hingga memar tak sadarkan diri tergeletak di altar mimpi sendiri dan mulailah meliukliuk engkau pecinta menahan sepi sendiri merindurindu wajah idaman hati lalulalang di pintu mimpi, lalulalang di pintu mimpi

tersenyumlah malam ini dalam cermin duniamu yang mulai riuh; Pemimpi.

17 Maret 2003




Wednesday, March 19, 2003



Indah, Aku Rindu II

aku duduk untuk Indah, karena malamnya dia datang dalam setengah pejam setampah gambargambar setumpuk perkamen seonggok sunyi dan sebaris kata rindu pada perempuan yang berdiri di ujung senja melambailambaikan pelepah pucat memanggilmanggil teriak kesenyapan dalam fajar tempatku berdiri.

tak mungkin kau berlari lalui terik menumpang angin dan tak mungkin ku memotong jalan kirikanan satu warna adalah senjamu di kiamat hari mencurah kata pada lembarlembar bisu dalam tumpukan memori tertelungkup dalam almari.

aku duduk untuk Indah yang memejam jiwa dan raga merapal mantra kerinduan dalam ruang gelap berseragam hitam kelam menanti genggaman tanganku yang tergelepar di pecut rindurindu menggelegar.

aku duduk disini untuk Indah karena aku rindu lembutnya rindu sayangnya rindu belainya memanjakanku diatas pangkuan keibuanmu usapusap kesadaranku dendangkan lagu hidup getarkan jiwa manjaku sandarkan segala resah mendesahdesah berikan satu titik akhir petualangan cinta, satu titik akhir, satu titik akhir karena engkau bisa menghitung langkahku.

Jakarta, 17 Maret 2003


Pulanglah

apa yang kau cari Arwan? mengkorekkorek selokan buntu penuh nyamuknyamuk nakal dan kecoa liar yang berlarian hindari tongkat keringmu yang kotor oleh lumpur juga kaki telanjangmu,

sudahlah Arwan tingggalkan saja tempat itu, katanya kamu mencari ikan tapi kenapa berhenti dan bermain dengan jentikjentik itu, pulanglah nanti kamu seperti nyamuknyamuk itu menghisap darah, seperti kecoakecoa itu berkeliaran dalam kakus,

pulang sajalah Arwan, ibumu menunggu ikan hasil jaringmu untuk lauk makan malam bersama ayah dan adhikadhikmu, bukankah kau berjanji akan membawakan ikan yang besarbesar?

"Bu, ini ikan hasil jaring Arwan, maaf ya bu ikannya kecilkecil"
ibu itu tersenyum.

SalamRindu untuk Ibu
Jakarta, 17 Maret 2003





Sunday, March 16, 2003



Indah, Aku Rindu I

"tak usah kau pandang nisan indah itu"

ah pesona, jangan, ini takutku, cerita terpotong, dingin segelas, mendidihlah, sejenak, aku malu, marutmarut, telunjuk berkedut, mata mbliyut, bersila, kosong, detik berhenti dalam jantung, kenangan lalulalang, tidak cemburu, rindurindurindu, cinta, rindurindurindu, genggaman tangan, terbaring, airmata, janji, kosong, rindu, kenangan keramat, pekuburan, batu nisan, sebuah nama, tanah basah, bunga kering, rintikrintik hujan, senja, airmata, segenggam tanah, rumputrumput, obor, rindurindu, rindunya aku, indah, "aku disini Indah", mencaricari, payung, Indah Indah Indah, rindurindurindu, cintamu, kenangan indah, kata terakhir, kecelakaan, perpisahan, Indah, rindu, cinta, kenangan, kematiankematiankematian, Indah pergi, Indah sepi, Indah disana, Indah disini, IndahIndahIndah aku rindu.

"aku pulang dulu, nanti kesini lagi"


Datanglah

datanglah jenjangjenjang yang tergambar di pulupuk batas tuturkan tentang detikdetik tersimpan dalam tulang kaki yang tertempuruk sejak hujan mulai membasahi gaun pengantin putih merepih laku tiada terpaku pada sepasang buku kecil warna hijau bertulis keemasan,

datanglah dalam malam bergerigi yang menyandangkan jubah nina bobo berkerutkerut tanpa tempaan melambai kala jendela menatap rembulan kesepian tanpa gemintang,

datanglah bersama cucuran peluh langit di senja penantian lelaki kotakkotak menggambar citacita yang tertata dalam dada lahirkan kelepukkelepuk didih meloncatloncat sambangi tenggorokan beku hingga muntah menelaga,

datanglah sekejab saja bersama kilat atau kedip mata.

Jakarta, 16 Maret 2003




Friday, March 14, 2003



Selamat Ulang Tahun
:Cecil Mariani

Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun
alam yang bersenandung jiwajiwa menjunjung
pada Pandora yang pualam merona merah pipi
berjubah sajak melengkunglengkung
pada hijau yang kian membumbung

ada yang menantimu dalam nada harmonica
dalam siluet Rinjani bingkai memori

lingga menanti disimpuhi
oleh rindurindurindu mayang lelaki

Maret, 12, 2003


Dilema

asapasap bergelimpangan meregang, debu kancah peperangan
wajahwajah perkasa berlinanglinang di tumbuk tombaktombak karang
mata tak lagi dapat membedakan mana gula mana kemenyan
langkah kaki tak tahu lagi utara selatan

layar robek amuk sengkala
geladak berdentum lobanglobang mengaum
awakawak bertabrakan terlukaluka
sepasang mata pancarkan rasa tak percaya; tetap angkuhnya
"tak ada yang mampu hancurkan kapal ini, tidak juga KAU!!"

pusara dewa telah murka melipatlipat
mendamparkan pada pulau dua dunia
tiba binasa pergi terluka


Sajak yang Berakhir di Warung Kopi

seorang lelaki dengan racun di sudut bibir
menginjakinjak ceceran birahi di warung kopi pinggir kali
mengulang langkah tiap malam tersaji
menggenggam botol surga mengantongi daundaun ilusi

seorang lelaki memamah biak memori
tersenyum tertawa terbahakbahak tergelakgelak kemudian mati


Hari Belum Mati

hari ini hari ini hari esok hari ini
hari esok hari esok hari ini hari esok
hari ini hari esok
belum mati


Ini Racun

Kepulan asapmu membentuk kata lesu gemeritik terbakar tembakau seperti jeritan tersengal tertahan tubuh yang putih perlahan mengabu tercecer di asbak kemudian terbuang bercampur sampah rumah tangga, sedih sekali nasibmu, kau menjadi asap, abu kemudian dibakar lagi bersama sampah-sampah lagi,.. mau menjadi apalagi kamu? Asap dan abumupun menjadi endapan penyakit berujung kematian kasihan kamu, kau tak dikubur dan tanpa bunga yang ada seonggok umpatan, mungkin,… beribu bahkan berjuta imbauan ‘ jangan...’ tetap saja asapmu mengepul tak lurus menuntun kematian, kapan kamu berhenti menyapa rongga ringkih? dengan santainya kamu menjawab : “ Toh mereka menikmati tubuhku “
sial, akupun kena racunmu


Pernikahanku

dengan langkah mengendap mengintip bulan sabit tanpa awan aku takut dia terjaga dan membelah hatiku dengan bentuknya yang laksana celurit liar di malam gelap tak berbintang bertameng jendela kamar yang lapuk aku bisikkan pesan pada angin malam;

"katakan pada dewi mimpi bahwa malam ini aku menantinya di pengap kamar yang penuh dengan coretan-coretan tangan nakalku, aku telah siapkan peraduan agar dia menikahiku malam ini, laba-laba hitam telah menunggu untuk menjadi saksi dan diary lusuh telah kubuka dengan tinta jalang yang kubuat dari sari-sari bunga ditaman bidadari"

biar dia membubuhkan tanda tangan tanda resmi mas kawin puisi telah kubungkus dengan daun-daun bertali tenun tangan ibunda malam


Tak Seindah Cemara

kehadiranmu di hatiku bagai bidadari
senyummu di hatiku bagai terbitnya fajar baru
dan suaramu bagai lagu cinta menggema di tiap sudut hatiku
tapi maafkan aku,...
aku hanyalah pohon melinjo tak seindah cemara












Tuesday, March 11, 2003



Lihatlah

telah kau berikan semua siang semua malam
dalam dua nyala dua padam dalam kobar
dan ku tahu alir deras sungai mengikis persawahan
hingga sayatsayat berduyun datang

lihatlah, bumi jiwa tersengalpental
gemeretak lonjot menjejak gusar


Aku Menyayangimu

aku mencintaimu seperti cintanya pagi pada embunembun
aku menyayangimu seperti sayangnya angin pada awan
aku setia padamu seperti setianya gelap pada malam
dan aku ikhlas padamu seperti ikhlasnya mendung mencurahkan hujan


Kulihat Engkau Malam Itu
: randurini

semalam kulihat engkau terpejam gelisah
ada sekarung tak terikat di wajah pedarmu

kau menyimpan sejuta resah
tak kau eja pada semua
padaku pula

duh randu yang terbaring di lanti atas bukit itu
semalam aku kesana berbekal rajutan kata dari duniaku
ada yang menyentil rohaniku kala waktu menunjuk pukul 2 pagi
akan gelisah yang menempuruk di hatimu

duh randu yang terpejam paksa
aku disana menunggu tidurmu


Tangga RUMAH HANTU

ada pudingpuding disana
kenyal dan dingin di nampan marmer
berbekas keringat bokongbokong hantu
tempias hingga lantai berlumur darah birbir
terukir igauanigauan sengau; sajak sepatahpatah

ada rambut bermawar merah
ada rambutrambut yang basah berada pagi
dan celana dalamku hampir menumpahkan airliur belalang

tangga rumah hantu
berundakundak seperti semu yang beludru
naik dan turun seperti irama nafasmu
di pojok toilet rumah hantu

Jakarta, 10/03/03