Malam Selasa-ku
malam selasa ada risau menelaga
di tengahtengah percakapan abstrak
denganmu, dengan dia, dengan mereka
lalu aku belajar mengumpat situs keparat
sesungguhnya bukan karena itu
tapi karena mataku yang tak terbuka
malam selasa aku mengalir seperti teh di teko tersumbat ampasnya
kricikkricik lalu tumpah setengahnya; di mejakerja
yang tersisa ampas teh tubruk karena aku tak minum kopi saat itu
ku buang saja tanpa menyeduh kembali teh baru
karna warung jauh dari rumahku
malam selasa aku tempelkan telingaku di screenmu
lalu seperti mahadewa rah kau berkata ada paregreg di dadaku
mungkin benar, tapi perlu sillogis untuk membuktikan itu
dan kutinggalkan saja mukamuka asin semu
malam selasa ada cemburu di mataku
tidak seperti malam minggu yang begitu itu
padahal aku sedang melihat pelangi yang sebentar lagi pergi
malam selasa malam tak kuasaku menahan gejolak rindu
dan kuharap satu tambah satu menjadi dua adanya, seperti kata bu guru
Elegi Si Gondrong
:TS Pinang
Dengan mata dingin kau jurit malam dan siang
mengkorek-korek abstraksi puisi duniadunia
di bahumu ada gumpalangumpalan semu; bagiku
suara klikklik tak henti di tangan kananmu
pun gelombang jemari sampaikan pesan kepekaanmu
kudengar otakmu sedang terangsang dan jiwamu demammeriang
namun kulihat hatimu sedang kepayang; entah
lidahmu mulai meng-kampakbelah abjad kehidupan
dimanamana engkau dimanamana rasa
kau selami lautan jejak dan bias ujung tatap
aku ingin mendengar kau menyanyi
tak hanya meniup harmonica, aku ingin dengar
aku ingin melihat kau menari
tak hanya berlatih beladiri, aku ingin lihat
kapankah kita berbagi serenada dalam laju kereta
bersalaman dengan tangan menggenggam puisi
ulurkan tanganmu, mari kita bawa sesiapa ke ujung misteri
Selamat Siang Perempuan Kecilku
selamat siang perempuan kecilku, aku rindu padamu
di selasela kertas, kedapkedip monitor, alun "strangers in the night-nya FrankSinatra"
dan gemeritik terbakarnya tembakau menetak sketsa wajahmu
tampak wajahmu kala asap mulai mengepul kemudian menghilang di telan hexos ruanganku
namun tiada bosan kucipta dan terus kucipta sketsa wajahmu
mungkin karena aku mencintaimu atau sekedar sayang padamu
lalu kutinggalkan ruangan yang penuh aroma imperialisme-kapitalisme
kau tahu aku benci ini, namun belum juga aku bisa memerdekakan diri
dalam lift menuju lantai satu ku hitung berapa jurus bicaraku padamu
pigmentasi epidermis masih meringis hingga mulut lift melepehkanku
dan bau matahari menghantui pakaian kerjaku
lobby selatan ini terasa seperti penjara tanpa jeruji
meretakkan lamunan, menggulingkan sepi, mencampakkan lengang,
menggelandang kehangatan
ulurkan tanganmu perempuan kecilku
biar kupeluk jemari kecil-lentik berdaki dan berpeluh itu
biarkan desingdesing takdir menyela di tiap cakap
lalu semburlah dadaku yang terlukaluka sepanjang lelaku
guyur aku dengan air dari lautanmu agar kembali kudengar gema suaraku
agar dapat kurasakan saat pualam terbaring di telapak tanganku
dan mayang terurai di dadaku
Jakarta, 15 April 2003
Itu Siapa yang Tersenyum-senyum
tibatiba aku terjaga pukulsetengahtiga pagi
karna mimpi tentang menetasnya hati dalam eram ilusi
o mimpi jangan menyata dalam gerakgerak indria
karna aku takkan kuasa melawan geliatterjangnya
itu siapa yang tersenyumsenyum di puncak gunung
melambailambaikan sampur ke-emasan jinggabiruhijaukelabu
kenapa menatapku demikian laju
disini gerimis tak pernah habis
menarinari irama perkusi nadi tanpa harmoni
itu siapa yang tersenyumsenyum di ambang mimpi
memercikkan arak di ubunubun hati
kenapa begitu kenapa begini; ingin
tibatiba aku terjaga di pintu terbuka
meladeni jerit gelapbuta membelah mata
tentangmu yang menyimpan mantra
disana, dibalik jendela
Kekasihku
: puisi
kekasihku, jangan pergi sedetikpun
karna dukana lidah-tanganku segala padaku, tanpamu
kekasihku, teruslah bersamaku tiap waktu
berjalin dengan kepekaan, mengalir dalam darahku
menadi harmoni nafas langkahku jua
kekasihku, selalu ingin ku menegurmu dalam tapa
walau kadang begitu sukarnya menyentuh kulitmu
puisi, mengalirlah o mengalirlah
mengalir berkelokkelok membandangbandang menerjangterjang
bawa segala apa dalam tubuhmu untuk ku intimi ditiap heningku
puisi kau kekasihku, biar saja yang lain cemburu
peluk aku tiap waktu, ajari aku bercinta dengan bahasamu
Lama Kutunggu Pagi
lama kutunggu pagi karna aku terjaga dini
natkingcole tak henti bernyanyi, fourplay tak henti memainkan melody
lalulalang perseteruan dan persetujuan hambar
peluk kecup smiley terbaring liupnya mata seperti proton dan elektron
tanganku ini tangan lukana menjulurjulur dari lembah berkibar topanbadai
tingkapnya makin gagu menggenggam gagang bibir
mungkin kita ini resah differentia
ataukah rasa yang tak pernah terpeluk dialektika
mungkin pula aku ini klorin tersesat di belantara pikat
dan seorang dari engkau menganggap aku adalah anomaly yang sulit dikenali
selalu berlari tanpa jejak dalam ikat
seumpama dua segitiga samakaki menyiku dirimu di kertas buram
sesungguhnya akupun harus mencari kwadrat dan hypotenusa
untuk menghitung seberapa derajat sudutmu
belum lagi harus ku luruskan garisnya terlebih dahulu
lama kutunggu pagi di kertas buram filsafat-matematika
o dimana bukubuku itu bersembunyi rindu sekali mata-otak ini
serindunya aku pada kepompong hati
lama kutunggu pagi untuk sepasang mata
penyala tungku ketika gigil selimuti
Lama Menanti
lama menanti tatapmu namun hari tak jua berganti
begitu lamanya menggigil dalam teriknya matahari
menanti musim berbagi menanti musim berbagi
senja tak jua tiba denting jarum jam letih papa
malam gulana menanti paparan cerita
belai ombak pada pantai riuhnya
deraiderai cemara jauh adanya
lama menanti gerai rambut sepi
sapuan angin tak sampaisampai
dingin mendahului muntapnya rinaikata
sungguh ingin mendekapmu dalam gerimis
harumu-haruku menjadi gamis
Jakarta, 16 April 2003