Wednesday, April 30, 2003



Ketika Kau Bakar Kantukku

ketika kau bakar kantukku akupun membara
teriakteriak tanpa jeda menembus bebatuan memata air
aku tak juga mengerti bahwa aku telah terduduk di tungku api
lalu jilatanjilatan itu mempermainkan peluhku

malam yang rindang di bawah pohon gelagap
menyelonjorkan katakata di ketiak nafsu
lalu aromaaroma entah menjelajah dalam desahnafas
seperti kolaborasi megatruh dan mijil

ketika kau bakar malamku akupun hangus
dalam riakriak mimpi melepuh
menadah gerimis dari langitlangit
dan mata tenggelam


Aku Seperti Tunas

aku seperti tunas pohon pisang
menggeliat dari dalam tanah ketika basah
mengintip dari klobot basah; lahir
tanpa upacara persembahan pada fana
tanpa airsusuibunda

aku seperti tunas pohon pisang
memandang nenek moyang menjulang
lalu menukik tertebang
kelak aku

aku adalah tunas menyangsikan
yang diamdiam melukai harapan


Malam Yang Menangis

malam selalu menangis di depan kita
menggugu sendu ketika kita mengkhianati adanya
berjalan terseok memanggil pagi
dan kita membiarkan rintihnya semakinjadi

malam selalu menangis di depan kita
ketika katakata bermainmain riang gembira
disini juga disana
di mayapada jalinsengketa warna

malam kembali menangis
ditengah padang kita
tiada henti sesungguk tanpa sadar
dan kita membiarkannya hingga janji terjelang

Jakarta, 25 April 2003


Mengenali Dirimu

mengenali dirimu disini ada entah yang mengalir dari otakku ke rambutku yang buntu terpangkas dan tumbuh, terpangkas dan tumbuh

masih terasa sulit menyebutmu dalam ucap dalam buku harian dalam puisi dalam mimpi sedang igauigau sengau adalah masa lalu yang mengasah belati bagi kerinduan

setiap kali tidur yang tertunda adalah jedajeda tercipta dari rindu merindu silang waktu, hurufhuruf berselancar binar di layar adalah kerlip sungaisungai saat fajar

seperti sepasang angsa kita di langit, mencoba membuat tanggatangga nada tanpa tahu dimana awal dimana akhir lagu ini tercipta dan terhenti

lagulagu rahasia telah tercipta, akan terus tercipta, hanya kita yang bisa menyanyikannya
kitapun sedang menulis satu novel dalam kurun waktu yang kita tentu, kita tentu, entah Tuhan

mengenali dirimu disini seperti mengenali rembulan dan bintang
bisa kulihat dari jendela kamar, dia bersinar dia ada
tanpa pernah aku kesana

Jakarta, 26 April 2003



Sunday, April 27, 2003



Kulihat Gerimis

kulihat senja mulai gerimis
tanpa bisa kuterka isyarat dari mendung pada batubatu
mungkinkah engkau yang semalam menetes dari langitlangit kamarku menelaga

itulah kau datang tanpa permisi dan pergi tanpa jejak kaki
seperti upacara merekahnya bunga yang tak sempat ku hadiri
--seperti bisikbisik gunung merapi yang meletus pagihari--


Tetaplah disitu

tetaplah disitu jangan mendekat
disini sedang kubangun sekat
setelah hujan berhenti hari itu
mencuri baju hangatku

tetaplah disitu jangan melawat
disini aku sedang menata jabat
setelah mendung berlalu
mencuri airmataku

tetaplah disitu jangan mendekat
aku takut terpikat

Jakarta, 23 April 2003


Seorang Perempuan yang Melukis Airmata

seorang perempuan melukis airmata
tanpa kuas tanpa cat tanpa tinta tanpa kanvas
dia hanya butuh rindu untuk melukisnya

seorang perempuan melukis airmata
pada daun marple musim semi hingga musim gugur
di depan kaca

Jakarta, 22 April 2003


Friday, April 25, 2003



Sepuluh Tahun lagi

sepuluh tahun lagi kita akan bertemu
di sebuah persimpangan antara kau dan aku
dan kita akan membiarkan jantung kita berdebardebar selama itu
akan kita namai apa laut yang baru saja lahir ini?

sepuluh tahun lagi kita akan menghentikan deburdebar ombak
lalu mengurung laut dengan bongkahbongkah rindu
karena sebuah janji yang tertulis indah di bungatulipmerah

let's promise to always make time for each other
even when we have lots of other things we have to do
let's always share the laughter. tears, and celebration of a lifetime
let's promise to be friends when we're eighty
and have just as much fun than as we do now...


setelah itu mari kita mulai menjadi orang gila hari ini


Kau Adalah Puisi

kau adalah puisi
setidaknya saat ini
entah nanti


Di Sebuah Rumah Makan

kerumun perut menganga tengah malam dalam sebuah perjalanan
berjajar kudakuda besi di pelataran, bambu itu kulit ampiran
kulihat banyak manusia lapar juga kenyang tertawa dan termangu, ada itu
mereka saling pandang saling bercermin

dan aku sedang memunguti repihrepih kaca

satu sudut sepi cukup untuk empat orang, kami kesana
aku berjalan cepat ingin segera duduk dan pergi
lalu mataku berlarian porakporandakan ruang
kulihat dua anak bergandengan tak sabar ingin segera makan
mereka tak mau menunggu tak hiraukan bapak dan ibu

seperti aku yang sesaat lupa akan dirimu

kami mulai memanjakan lidah dan perut
aku seperti tidak makan saja karena lapar atau tidak samasaja
"rumah makan ini nyaman dan makanannya enak, bikin betah" kata saudaraku
tapi bagiku samasaja karena lidahku sedang tak mau dimanja
seenak apapun senyaman apapun, toh ini hanya ampiran sebentar saja

seperti aku yang sesaat terlena


Sungguh Aku Ingin

sungguh aku ingin ia ada dalam embun saat pagi
di dalam sana, di tempat yang masih belum aku percaya; utuh
aku percaya ia ada dan sedang berjalan kesana
pagi begitu jauh

sungguh aku ingin ia ada suatu ketika
tidak hanya di dalam sana
tapi dimanamana


Surat yang tak Sampai

sepertinya surat yang aku kirim padamu tak sampai di alamatmu
entah siapa yang bersalah, aku, alamatmu atau tukang pos itu
padahal aku ingin, kau segera membaca surat itu

lalu ku dengar kabar tentangmu
bahwa kau telah pergi sebulan yang lalu
membawa sepasang buku




Monday, April 21, 2003



Sejarah Daun

lihatlah daundaun yang bergoyanggoyang tak karuan itu
sekuat tenaga ia berpegang pada rantingranting
bertahan dari terpaan angin yang kadang mengamuk

pada saatnya nanti dia harus menerima bahwa dia harus melepas genggamannya
pada rantingranting pohon itu dan tak kuasa melawan perubahan warna
lalu ketika angin kembali menerpanya dia tak mampu bertahan sekuat dulu
akhirnya dia pasrah pada angin yang entah kemana membawa tubuhnya

kemudian dia berharap angin melepaskannya tak jauh dari pohonpohon
agar saat dia telah ditelan tanah ia bisa bercerita pada akar tentang sejarahnya
untuk disampaikan pada kuncup daun yang masih hijau malumalu


Mari Ikut Denganku

mari ikut denganku
kita berjalanjalan ke gunung di depan itu
yang dari jauh terlihat teguhkukuh bergeming
dari pematang yang kita lewati ini, gunung itu tampak hijau indah sekali
dan pematang ini masih basah berbekas telapak kaki dan pacul pak tani
hingga lumpurnya mengotori kakikaki kita ini

nah, kita sudah sampai
lihat pematang dan sawah menghampar itu, indah sekali
dan lihatlah gunung ini, banyak ilalang liar batubatu besar daun kering berserakan
disinipun matahari terasa begitu dekat
semoga saja kita tak bertemu ular berbisa atau macan

kita sudah melihat bukan
sekarang mari kita kembali, bukan ke pematang tadi
tapi ke hati


Tentang Cermin di Depanmu

bacalah sajak ini di depan cermin
boleh cermin besar boleh cermin kecil
tapi jangan buruburu bercermin dulu
lihat sekelilingmu hingga yakin tak ada siapapun disitu

lalu lihatlah cermin didepanmu, jangan menengok
disini aku melihat aku punya dua telinga dan satu mulut
disini aku melihat aku punya dua mata tapi pandangannya tak terpisah
disini aku melihat aku punya satu hidung tapi lubangnya dua
aku rasa kau juga sama

mari kita cermati wajah kita di cermin itu
tak ada yang tak sama, sadarkita
lalu bagaimana kalau kita bawa saja cermin itu kemanapun kita
ah tak perlu, bukankah cermin ada dimanamana


Aku adalah Kotakkotak

aku adalah kertas berkotakkotak
ada ruang, garis dan tebal tepian
dan bila kau menggambar dengan caramu
yang tampak adalah gambar lucu

dan kukatakan padamu;
tariklah garis vertikal dan horisontal disitu
jadilah dirimu supplay dan demand
maka akan ada satu titik temu, itu aku
dan kau tak perlu bingung harus mulai dari mana
mulai saja dari titik itu


Bulan Jatuh di Kepalaku

bulan terjatuh di kepalaku gemintang gagu
lalu dadaku sempal kakiku layu
garagara aku pergi ke dunia kedua
aku ini hebat, bisa terbang melayanglayang tanpa jazad
seperti kabut yang turun di Kaliurang siang itu
dingindingindingin, aku

sempat aku mainkan mesin pengait boneka itu
lalu kuhentikan saat kulihat gerbang kaliurang menjura
melihat ke arah jogja

lalu bulan terjatuh di kepalaku
pecah ia pecah berikut kepalaku


Bila Kau Melintas

bila kau melintas di depanku setelah ini
mungkin sudut mataku tak lagi mengerti
tentang cerita persegi yang terlewat tadi

dan bila kau melintas dan menghampiri
jangan katakan apaapa lagi
cukup tersenyum dan pergi

ini kulit bukan besi


Aku Seperti Kerikil Pinggir Kali

gumam itu telah usai
ku bayar lalu ku bawa pulang
terimakasih
terimakasih
mungkin besok aku yang disini
menikmati aroma ruang tanpa tabuh perkusi
atau mungkin aku tak sampai disini
karena mengingatnya
aku seperti kerikil pinggir kali

bukan karena cintaku
tapi karena pahitnya jamu




Sunday, April 20, 2003



Malam Selasa-ku

malam selasa ada risau menelaga
di tengahtengah percakapan abstrak
denganmu, dengan dia, dengan mereka
lalu aku belajar mengumpat situs keparat
sesungguhnya bukan karena itu
tapi karena mataku yang tak terbuka

malam selasa aku mengalir seperti teh di teko tersumbat ampasnya
kricikkricik lalu tumpah setengahnya; di mejakerja
yang tersisa ampas teh tubruk karena aku tak minum kopi saat itu
ku buang saja tanpa menyeduh kembali teh baru
karna warung jauh dari rumahku

malam selasa aku tempelkan telingaku di screenmu
lalu seperti mahadewa rah kau berkata ada paregreg di dadaku
mungkin benar, tapi perlu sillogis untuk membuktikan itu
dan kutinggalkan saja mukamuka asin semu

malam selasa ada cemburu di mataku
tidak seperti malam minggu yang begitu itu
padahal aku sedang melihat pelangi yang sebentar lagi pergi

malam selasa malam tak kuasaku menahan gejolak rindu
dan kuharap satu tambah satu menjadi dua adanya, seperti kata bu guru


Elegi Si Gondrong
:TS Pinang

Dengan mata dingin kau jurit malam dan siang
mengkorek-korek abstraksi puisi duniadunia
di bahumu ada gumpalangumpalan semu; bagiku
suara klikklik tak henti di tangan kananmu
pun gelombang jemari sampaikan pesan kepekaanmu

kudengar otakmu sedang terangsang dan jiwamu demammeriang
namun kulihat hatimu sedang kepayang; entah

lidahmu mulai meng-kampakbelah abjad kehidupan
dimanamana engkau dimanamana rasa
kau selami lautan jejak dan bias ujung tatap

aku ingin mendengar kau menyanyi
tak hanya meniup harmonica, aku ingin dengar
aku ingin melihat kau menari
tak hanya berlatih beladiri, aku ingin lihat

kapankah kita berbagi serenada dalam laju kereta
bersalaman dengan tangan menggenggam puisi
ulurkan tanganmu, mari kita bawa sesiapa ke ujung misteri


Selamat Siang Perempuan Kecilku

selamat siang perempuan kecilku, aku rindu padamu
di selasela kertas, kedapkedip monitor, alun "strangers in the night-nya FrankSinatra"
dan gemeritik terbakarnya tembakau menetak sketsa wajahmu
tampak wajahmu kala asap mulai mengepul kemudian menghilang di telan hexos ruanganku
namun tiada bosan kucipta dan terus kucipta sketsa wajahmu
mungkin karena aku mencintaimu atau sekedar sayang padamu
lalu kutinggalkan ruangan yang penuh aroma imperialisme-kapitalisme
kau tahu aku benci ini, namun belum juga aku bisa memerdekakan diri

dalam lift menuju lantai satu ku hitung berapa jurus bicaraku padamu
pigmentasi epidermis masih meringis hingga mulut lift melepehkanku
dan bau matahari menghantui pakaian kerjaku

lobby selatan ini terasa seperti penjara tanpa jeruji
meretakkan lamunan, menggulingkan sepi, mencampakkan lengang,
menggelandang kehangatan

ulurkan tanganmu perempuan kecilku
biar kupeluk jemari kecil-lentik berdaki dan berpeluh itu
biarkan desingdesing takdir menyela di tiap cakap
lalu semburlah dadaku yang terlukaluka sepanjang lelaku
guyur aku dengan air dari lautanmu agar kembali kudengar gema suaraku
agar dapat kurasakan saat pualam terbaring di telapak tanganku
dan mayang terurai di dadaku

Jakarta, 15 April 2003


Itu Siapa yang Tersenyum-senyum

tibatiba aku terjaga pukulsetengahtiga pagi
karna mimpi tentang menetasnya hati dalam eram ilusi
o mimpi jangan menyata dalam gerakgerak indria
karna aku takkan kuasa melawan geliatterjangnya

itu siapa yang tersenyumsenyum di puncak gunung
melambailambaikan sampur ke-emasan jinggabiruhijaukelabu
kenapa menatapku demikian laju

disini gerimis tak pernah habis
menarinari irama perkusi nadi tanpa harmoni

itu siapa yang tersenyumsenyum di ambang mimpi
memercikkan arak di ubunubun hati
kenapa begitu kenapa begini; ingin

tibatiba aku terjaga di pintu terbuka
meladeni jerit gelapbuta membelah mata
tentangmu yang menyimpan mantra
disana, dibalik jendela


Kekasihku
: puisi

kekasihku, jangan pergi sedetikpun
karna dukana lidah-tanganku segala padaku, tanpamu

kekasihku, teruslah bersamaku tiap waktu
berjalin dengan kepekaan, mengalir dalam darahku
menadi harmoni nafas langkahku jua

kekasihku, selalu ingin ku menegurmu dalam tapa
walau kadang begitu sukarnya menyentuh kulitmu

puisi, mengalirlah o mengalirlah
mengalir berkelokkelok membandangbandang menerjangterjang
bawa segala apa dalam tubuhmu untuk ku intimi ditiap heningku

puisi kau kekasihku, biar saja yang lain cemburu
peluk aku tiap waktu, ajari aku bercinta dengan bahasamu


Lama Kutunggu Pagi

lama kutunggu pagi karna aku terjaga dini
natkingcole tak henti bernyanyi, fourplay tak henti memainkan melody
lalulalang perseteruan dan persetujuan hambar
peluk kecup smiley terbaring liupnya mata seperti proton dan elektron
tanganku ini tangan lukana menjulurjulur dari lembah berkibar topanbadai
tingkapnya makin gagu menggenggam gagang bibir

mungkin kita ini resah differentia
ataukah rasa yang tak pernah terpeluk dialektika
mungkin pula aku ini klorin tersesat di belantara pikat
dan seorang dari engkau menganggap aku adalah anomaly yang sulit dikenali
selalu berlari tanpa jejak dalam ikat

seumpama dua segitiga samakaki menyiku dirimu di kertas buram
sesungguhnya akupun harus mencari kwadrat dan hypotenusa
untuk menghitung seberapa derajat sudutmu
belum lagi harus ku luruskan garisnya terlebih dahulu

lama kutunggu pagi di kertas buram filsafat-matematika
o dimana bukubuku itu bersembunyi rindu sekali mata-otak ini
serindunya aku pada kepompong hati

lama kutunggu pagi untuk sepasang mata
penyala tungku ketika gigil selimuti


Lama Menanti

lama menanti tatapmu namun hari tak jua berganti
begitu lamanya menggigil dalam teriknya matahari
menanti musim berbagi menanti musim berbagi

senja tak jua tiba denting jarum jam letih papa
malam gulana menanti paparan cerita
belai ombak pada pantai riuhnya
deraiderai cemara jauh adanya

lama menanti gerai rambut sepi
sapuan angin tak sampaisampai
dingin mendahului muntapnya rinaikata
sungguh ingin mendekapmu dalam gerimis
harumu-haruku menjadi gamis

Jakarta, 16 April 2003


Wednesday, April 16, 2003



Ingin Tertidur di Pelupukmu

1.
dan matamu yang menggoda adalah fajar bagi sungai yang mengedipngedipkan mata kala pagi
ronadona di wajahmu adalah purnama limabelas di langit senja

kau jadikan aku pengemis di tengah lautan kala malam bertakhta
dan terpaku diam kala siang menyembul di antara bibirmu

katakata berselancar dari taman di matamu
hingga inginku tertidur di pelupukmu

pulas bermimpi tentang lentik-semantik puisimu
dan belai lembut jemarimu


2.
wajahmu taman bersalju musim semi negeri sakura ketika kau mulai bertuturkata
membius mata hingga ingin tertidur di pelupukmu

adalah engkau yang menundukkan wajahku atas bungabunga
melipat kaki dan tanganku ketika ingin bicara

o wajah yang membocah jangan kuliti hatiku, ambil utuh saja jika kau mau
karna suluhjaringmu tlah kakukan gerakku atas keinginan melepaskan diri

Jakarta, 14 April 2003


Membaca Mendung Terluka

Lalu kubaca kesedihan di selaksatapak adalah vonis yang berlari terlalu cepat mengejar ketuk menggendam dadamu tanpa kau iramakan denyut nadi di tiap sendi langkahmu yang kadang pendek kadang panjang jinjit dan melayang

berserakan kertaskertas lusuh yang belum selesai engkau kumpulkan menjadi satu jilid buku tentang angin dan badai datang dan pergi tanpa permisi merubuhkan partisipartisi

terpampanglah lukisan panorama bunga belum terbingkai menempel di langitlangit menjadi mendung terluka

di sepanjang spasi temu berbaris katakata berkelainan jiwa menggodagoda berputarputar
menggiring dada dan kepala ke sabana melankoli

kepul memendung dari pintupintu hitam semakin meninggi hilang dan abadi mengatmosfir pun kadang kembali tanpa tersadari juga gemeritik racun ilusi meloko beratus kilometer mengangkangi pulaupulau menjeda sesekali kemudian kembali berlari

mari kita hadiri kenduri melankoli sesaat lagi dan kita amini doa puisi dalam lingkartemu jemari

Jakarta, 14 April 2003
00.00



Runtuhlah

runtuhlah runtuh maha gelisah maha resah runtuh melungkruk di pelukan lelaki dan perempuan selimut
laut pasang genangi padang rumput dan tebingtebing indria, tetulang nelangsa terhakimi mantra

embun pagi di malam gegap peluk, terkeruk endapendap bunga kering di ujung desa tergelenter bersama bulirbulir hujan yang berguguran di telapak tangan perempuan ronadona

kunangkunang beterbangan bersarang di mataku dari matamu,
gelisah lintangpukang silau oleh rona pipimu dan aku mulai pulas di matamu

terbukalah gerbang dada, berlarian katakata kurus tanpa busana dari pintupintu yang tiada henti membakar candudupa polos bertutur tentang cerita yang telah kelar terbentur kelok takdir

keabadian melepaskan diri dari jeruji tulang mengepul dari ubunubun kembali ke asalnya; disana
tinggalkan duka yang telah mencair dalam genggaman

lalu aku mulai bisa mengeja satusatu apa yang pernah tersembur dari dalam dada
dan apa yang mulai mengalir dari dalam jiwa

Jakarta, 14 April 2003
01.20



Kita adalah Gelisah

demikianlah sepi membingkai persetujuan tergarami gelisah
menapaki terjal tebing malam menggendong lipat gantole; kita

peluk erat dahan tubuh duh kasih, mari kita kepakan sayapsayap gantole merenangi bawana bubuhi awan dengan garit bibirmu bibirku

kita adalah gelisah beriringan memacu awan gelandangan
tipis dan tebal datang dan pergi tinggalkan abu pembakaran

mari kita eja yang terbubuh di awan hingga memendungtebal hitam hingga pada saatnya daun dan buahnya berguguran di pangkuan

mengkompos-suburkan kelanggengan debargetar
melabuh diam hingga lapuk bersama tanah

Jakarta, 14 April 2003


Kenapa Tidak Nanti

gunung telah meletus luahkan segala isi banjiri segala sisi
mendung telah mati mengubur diri menanti waktu reinkarnasi

disini dalam ruang endap engkau mulai menendang-tentang
mengalir ke tiap kapilerkapiler darah, labirin otak, menyerat dalam daging; tibatiba

o kenapa engkau ada lagi di antara selsel kenapa tidak nanti, kenapa tidak nanti sedang jejakjejak masih jelas terlihat di pasir pantai pun saat malam tanpa rembulan

kenapa tidak nanti o adamu tak terkendali lagi oleh apapun terkenali sedang gerimis masih menyisakan tetes dari genting menggerakkan daundaun

bila memang engkau ada di antara dada, bersabarlah duduk disana
hingga saat musim semi berakhir tahun ini dan datang kembali

Jakarta, 14 April 2003


Monday, April 14, 2003



Antropomorfisme

air sungai mengedipngedipkan mata kala fajar menggoda
namun mengelak saat hendak ku gauni, diludahinya aku
berlari ia mengadu pada empu muara

katakata tawa berselancar di pelupuk
menuruni tebing indera belantara
menapaki tanah merah gelisah
terdampar dalam peluk bunda endap

ular dan elang berseteru dalam kepala
musim semi membanting pintu mata
lalu pecahlah dada karang yang berdiri kokoh kala siang
dan menjadi pengemis kala malam

satu kata berlari kemudian kembali terbungkus mori
langitpun menangis, airmata sembunyi di balik rimbun jemari
dan sedu sedan mengajariku bercinta dengan senyumtawa


Menyanyilah
:Heri Latief

dan janji telah tergarami
dalam mangkuk sesaji

dentang lonceng tlah beterbangan
di tangkap telingatelinga jaman

lalu oktav terpilahpilah
dan harus tereja hingga lelah

menyanyilah, tanpa henti
karna lagu telah terkalungi

Jakarta, 09 April 2003


Di Matamu

di matamu lautan sembunyi
mendebur ketika piuh
mendera nyiur lelaki sunyi

di matamu lelaki sembunyi
dari sepi


Aku Menyesal

aku menyesal bertemu denganmu
aku menyesal mengenalmu
karna kau menyulap beku
menjadi rindu

Jakarta, 10 April 2003




Monday, April 07, 2003



Lelaki Kecil dan Perempuan Kecil III

lelaki kecil dan perempuan kecil menghitung waktu di sela jemari
mereka-reka sua stasiun kereta tunas waktu
kuda-kuda liar berlarian dalam dada mereka
kesana kemari meringkik kidung pavarotti

lelaki kecil dan perempuan kecil bermain simpul temali, saling menggelitik, menjerat, mencekik, memekik, mereka mulai memutar lagu sengkala, berdansa kesana kemari memuntahkan liur angin

lelaki kecil menghiruphisap kuntum perempuan kecil melahap mentimun
pekik pekak tembus dinding-dinding malam
tangis si kecil senyum si mungil mengirama
kubus luap bah tercerita

lelaki kecil dan perempuan kecil tak henti menggigil
saling suap saling dekap melarap-larap
larutkan kerak-kerak hanyutkan segala endap dengan teriak
"kita lepas semua isi tubuh kita" kata mereka bangga


Aku Masih Disini

sebuah waktu yang belum selesai ku cetak
masih menganga terlihat sekat-sekat porak
berserak huruf-huruf buta tanpa tongkat
terbayang ranum buah jambu depan rumahmu
terbayang wangi mawar di kerubut ilalang

o gerbong-gerbong memanggil kaki
merindu keringat tubuhku, desis nafasku

aku masih disini,
mengumpulkan lembar-lembar ilusi untuk puisi
yang akan ku tuliskan saat ku sodomi bukit
dan ku bunuh malam-malammu


Aku Menunggu

aku menunggu waktu
untuk mengupas kulitmu melahap isimu
membebaskan diriku,dirimu
menginjak menendang gerut jenuh

aku menunggu
bersatunya tiga telunjuk waktu
lalu ku ikat dan ku hentikan

sungguh aku menunggu
saatnya ku masuki dirimu
tuk menanam benih cemburu


Rembulan

rembulan menangis di tepi malam
sesungguknya entah airmata jelantah

rembulan mendung tebal langit menunduk
hujan tak terelak basah tebing-tebing

rembulan mencari sinar di gelap malam
tersandung-sandung jejak

rembulan o rembulan
kemarilah, pangkuanku rindu


Takkan Kau Temui

kupandang engkau yang terduduk lesu di teras kepalaku
kau nantikah aku? jangan
takkan kau temui aku disitu
karna isi kepalaku mengembara jauh ikuti deru

jika engkau ingin temuiku
ikutilah ombak berenanglah dalam angin
singgahi gununggunung
ada aku


Adalah Engkau

Ada bangku kosong ketika langkah berlalu
mengunci mata ada muara simetris
malam pucat musim semi disana
dan aku kembali bercinta dengan serpih

adalah engkau penyulap pasar menjadi padang lengang
menyimpan katakata dalam kantung branjangan
dan menumpahkan pada tampah kekenyangan

adalah engkau yang menyilangi pilihan
membuatku kembali berselingkuh dengan tepian

Jakarta, 07 April 2003

Friday, April 04, 2003



Maha Gelisah

Kita telah menentukan tempat untuk berpijak
di sela-sela padas gunung batu dalam daging cacah tergarami
melipat sekecil kecilnya kertas almanak mengeja jarak
lalu kita mulai berbelanja kebutuhan kelak

Kita sama-sama mendengar lolong tinggi di bukit di kota dimana-mana kita
lolong lapar dahaga tetes-tetes embun kala fajar menyingsing tengah malam

Cerita mulai mengalir gelisah menuju muara tuk tumpah segala resah
rindu kian meruah mensedimen di dasar terdalam jengah

disini maha gelisah, disini maha resah
memasyarakat dalam darah mengharmoni dalam nadi
mengikat simpul syaraf membidani siklus ubah
merubah irama mozart menjadi allegro patah-patah

disini maha gelisah, disini maha resah
membilahi dada gulana menelan detik memintal jelentik
mengerami persetujuan menyusui jarum jam
disini maha gelisah menunggang kuda dalam dada gundah

Jakarta, 05 April 2003
03.51



Lelaki Kecil dan Perempuan Kecil II

Seorang lelaki kecil dan perempuan kecil berlarilari di tebing dan gununggunung menggunduli hutanhutan mempermalukan lautan memperbudak arus liar

mereka bertukar lenguh menyelami samudera peluh
hingga bisik dan lengking merontaronta tak henti meminta

seorang lelaki kecil dan perempuan kecil berkendara bulan singgahi manzilan-manzilan, hujan dan banjir di kampung sendiri silih berganti, tak ada siang tak ada malam, waktu terpaku dalam bilik diam, rendunya

lelaki kecil meneguk anggur perempuan kecil maracau igau
mereka berdansa irama elise kadang galop dalam nada yang tak klop
ubunubun mengepul embunembun linglung
fajar menyingsing tengah malam
segala menyatu, menyatu dalam sedih waktu menggugu

seorang lelaki kecil dan perempuan kecil memanggil jeda
bertutur gagap tentang indah dunia


Saat Gigil Datang

malam ini mendung menyimpan kesumat
aku kedinginan, bibir dan gigi mulai menari gigil
aku pun mulai bermain petak umpet dengan semilir
sembunyi di balik selimut, ah masih tertemukan

ibuku jauh bapakku jauh, ketiak mereka jauh
lalu ketiak siapa kan ku labuh kala jendela memecahretakkan malam
hingga tanpa ampun dingin menusuknusuk
menggoncanggoncang tubuhku

malam diamlah sejenak,
aku ingin memetik api dan memeluknya hingga membara
lalu setelahnya kau boleh merajamku sesukamu
dengan dingingigilmu

Jakarta 04 April 2003







Wednesday, April 02, 2003



Kenanglah Bulan Pucat Kampung Halaman

Tengoklah bulan pucat kampung halaman
yang menggambar bayang samarsamar
mematik ingin hingga terbakar
dimana engkau kini

Tengoklah bulan pucat kampung halaman
yang melukis rindu di lembarlembar diam
mematik angan kepulangan
dimana engkau kini

Kenanglah bulan pucat waktu malam
yang merayakan dingin dengan tarian gigil
mematik memori terkenangkenang
dimana engkau kini


Mari Belajar

Mari kita urai satusatu
yang menumpuknumpuk bila siang dan malam
mari artikan satusatu
Barisbaris yang terbaca

Jangan lupa kau beri tahu aku
bila aku salah mengeja
dan aku pun akan beri tahu kamu
bila kau salah menata

Ingat, kita masih belajar
jangan minta lembar ujian

Jakarta, 01 April 2003