Ular di antara Akar
aku menjadi ular di antara akarakar pohon dan engkau duduk di dahannya bercengkrama dengan daundaun, kaupun tertidur di dahan yang besar dan aku menggeliat di antara akarakar
dan ketika pohon itu telah berbuah engkau pulang ke rumahmu membawa buah teranum dari pohon itu, sementara aku menadah buah yang di lempari batu tiap orang yang berlalu
Jangan Mendekat, Jangan Menatap
Gusti yang maha kuat, gunung api berdiriku seribu petir suaraku seribu matahari sorot mataku beribu akar jemariku selaut madu liurku sekencang badai hembusan nafasku,
jangan mendekat, jangan menatap, sirep engkau bila...
Hanya Teriakanku Sendiri Kudengar
tiga element; di balik air terjun suaraku menggema, aku tenggelam hingga dada, kau tak melihatku karna kau berdiri di tepi sungai di samping bebatuan, pohonpohon juga deras aliran sungai, menggenggam bajuku yang ku titipkan padamu sebelum aku berenang menembus air terjun. aku di sebuah gua di balik air terjun, dalam himpit batu besar dan mendengar teriakanteriakanku sendiri. dan tahukah kamu sesungguhnya aku tak bisa berenang? maka pada air yang mengalir itu kutitipkan pesan; "letakkan bajuku di atas batu di samping kirimu, saatnya nanti akan ku ambil dengan tanganku sendiri setelah air mengajariku berenang"
Jakarta, 23 Mei 2003
Aku Tak Peduli
aku tak tahu kapan air laut menjadi garam di tambaktambak nelayan, sedalam apa air hujan meresap di tanah kering bebatuan, sudah berapa jauh angin mengembara dalam kehidupan dan entah sudah berapa tetes hujan mendentingkan dawai atap branjangan
aku tak tahu bahkan aku tak peduli semua itu karena aku sudah terlanjur diam, dan kukatakan padamu untuk terakhir bahwa lautan tak akan kering walau kemarau sepanjang jaman
Kabut Pudar
sesungguhnya kabut yang memeluk gunung malam itu sangat tebal tanpa setahu, warnanya putih keabu-abuan sekian lama diam, gumpalangumpalannya hampir memadat menjadi keriput dan uban, lalu ketika pelukan itu semakin erat, kabut itu menjadi selimut tebal agak kaku menggelikan
sayang, malam buruburu pergi tanpa pesan dan fajar datang tanpa ada sebaitpun sajak tertuliskan, namun gunung tetap menjadi gunung walau siang menjelang, sementara kabut pudar.
Jakarta, 22 Mei 2003
