Friday, May 30, 2003



Ular di antara Akar

aku menjadi ular di antara akarakar pohon dan engkau duduk di dahannya bercengkrama dengan daundaun, kaupun tertidur di dahan yang besar dan aku menggeliat di antara akarakar

dan ketika pohon itu telah berbuah engkau pulang ke rumahmu membawa buah teranum dari pohon itu, sementara aku menadah buah yang di lempari batu tiap orang yang berlalu


Jangan Mendekat, Jangan Menatap

Gusti yang maha kuat, gunung api berdiriku seribu petir suaraku seribu matahari sorot mataku beribu akar jemariku selaut madu liurku sekencang badai hembusan nafasku,

jangan mendekat, jangan menatap, sirep engkau bila...


Hanya Teriakanku Sendiri Kudengar

tiga element; di balik air terjun suaraku menggema, aku tenggelam hingga dada, kau tak melihatku karna kau berdiri di tepi sungai di samping bebatuan, pohonpohon juga deras aliran sungai, menggenggam bajuku yang ku titipkan padamu sebelum aku berenang menembus air terjun. aku di sebuah gua di balik air terjun, dalam himpit batu besar dan mendengar teriakanteriakanku sendiri. dan tahukah kamu sesungguhnya aku tak bisa berenang? maka pada air yang mengalir itu kutitipkan pesan; "letakkan bajuku di atas batu di samping kirimu, saatnya nanti akan ku ambil dengan tanganku sendiri setelah air mengajariku berenang"

Jakarta, 23 Mei 2003


Aku Tak Peduli

aku tak tahu kapan air laut menjadi garam di tambaktambak nelayan, sedalam apa air hujan meresap di tanah kering bebatuan, sudah berapa jauh angin mengembara dalam kehidupan dan entah sudah berapa tetes hujan mendentingkan dawai atap branjangan

aku tak tahu bahkan aku tak peduli semua itu karena aku sudah terlanjur diam, dan kukatakan padamu untuk terakhir bahwa lautan tak akan kering walau kemarau sepanjang jaman


Kabut Pudar

sesungguhnya kabut yang memeluk gunung malam itu sangat tebal tanpa setahu, warnanya putih keabu-abuan sekian lama diam, gumpalangumpalannya hampir memadat menjadi keriput dan uban, lalu ketika pelukan itu semakin erat, kabut itu menjadi selimut tebal agak kaku menggelikan

sayang, malam buruburu pergi tanpa pesan dan fajar datang tanpa ada sebaitpun sajak tertuliskan, namun gunung tetap menjadi gunung walau siang menjelang, sementara kabut pudar.

Jakarta, 22 Mei 2003


Sunday, May 25, 2003



Rindu yang Terhukum

seperti asap tembakau tak henti mengepul dari kawahgunung peracau maka iringiringan pemberontak mulai membakar tiap gubukgubuk perkampungan mati mayatsejati dalam tulangtulang dada lalu sebagai mayat aku mengungsi ke lembah dimana api tak menjilatjilat mengisyaratkan keabuan di merah yang jengah

demikianlah asapasap itu, jilatanjilatan api yang merah itu mendamparkanku di kolong ranjangmu dan aku mati disitu mengartikan pengaprindu sepanjang mimpi waktu, dan kau masih belum tahu tentang hidup yang kubiarkan pergi sejak rindu terayun ditiang gantungan

Jakarta, 21 Mei 2003


Hujan Yang Deras

sawah itupun tergenang hujan yang turun deras sore tadi, petir yang menggelegar seperti rentetan senapan saat peperangan, dan ketika hujan tak jua turun hingga saat ini, aku masih berjalan di pematang yang basah dan licin, menuju gunung beruban dalam malam

hujan turun demikian deras, aku tanpa payung, basah, basah menggigil, kau lihat? kenapa kau tak keluar saja dari goa tempatmu berlindung dan bermain hujan bersamaku di pematang sawah ini, atau mungkin aku terlihat seperti bukan aku dari goa di gunung tempatmu berlindung

hujan turun tentu kamu tahu karena kau berlindung, dan aku basah disini.

Jakarta, 19 Mei 2003


Perinduku

ku dengar mereka memanggil, ku dengar
sekawanan perindu di batas kota tempatku meletak letih
aku mencintaimu perindu sepertimu juga

bukankah disana ada banyak lukisanku, musik mozaikku
bukankah setiap malam aku melompatlompat di bibirmu juga
aku hanya sedang melayang seperti layanglayang
bila kau[para perindu] menggulung benang, aku kembali padamu

aku melihatmu dari sini perinduku
seperti kau lihat aku bercanda dengan angin
bila senja menjelang, gulung aku
hingga menyentuh pasir pantaimu


Langkah Kita

ku tatap matamu ku sapa dirimu dengan kerinduan sepanjang jalan sedari awal langkah hingga saat ini
sambil ku usap airmata berleleran di tiap lukisan wajahmu

menghitung waktu adalah kejenuhan tak tertentu, tak ku hitung kubiarkan saja berjalan sekehendaknya
ku rekam debum seok jejakan langkah kaki untuk diperdengarkan nanti

ku sulam cahaya ku simpan cinderamata dari tiap persimpangan
untuk nanti di pemberhentian kita, adakah?


Lihat Aku

berkalang debu menimang bungabunga kering
menyapa tiap remang di sudutsudut kota nyeri
menutup mata menundukkan wajah dari cahaya
itu setapak di tepi kota terinjakinjak, becek hujan

lihat aku, memunguti rindu di sela jerami di pasirhitam malam
tanpa penerang hanya mata terpejam jemari basah
terlalu sulit membuka mata sesipitpun jua
engkaukah itu tertawa di balik jendela? memandangku iba

lihat aku, berkejaran dengan kunangkunang
dimana ia berhenti dimanapun aku berhenti, apa peduli
perasaan memasuki mesin pencacah tanpa kendali
bungabunga di genggaman kering berhambur, angin liar

Jakarta, 17 Mei 203


Friday, May 23, 2003



Seorang Lelaki Tua Menggenggam Rindu Purba

seorang lelaki tua berjalan sendiri di tengah terik mengkilatkan uban di kepala yang [telah] merata, masih terlihat tegar di senja keriput wajah lelaki tua dengan sorot mata bujang dengan tangan mengepal tulang rahang menantang seperti ada yang ingin diperjuangkan

siang itu sepi seolah tahu sebuah hari telah terwarnai merahbiruhitam di penanggalan sejak limabelas kabisat terlewati dari sebuah perselingkuhan sejati

seorang lelaki kecil dan perempuan kecil menuntun langkah lelaki tua hingga lingga bunga dan dengan berat bergetar lelaki tua bersuara menyerupai gumam harimau purba; "Jonggrang, ini aku Bandung Bondowoso datang menggenggam rindu yang mengencang mengguncang semesta jiwa kerinduan purba, terimalah segenggam pasir putih yang dulu pernah menguburmu di masa muda, dan ijinkanlah aku menyandingmu hingga terbalik dunia" Mengarca.

lalu seorang lelaki kecil dan perempuan kecil menuliskan sebuah prasasti di sebuah ceraian batuhitam candi di bawah sebuah arca lelaki gagah di samping jonggrang yang jelita. "Bandung Bondowoso datang menuai janji 2063 M"


Sebuah Mimpi Bernama Manhattan

jauh sekali dari sini
malam di tangan kanan siang di tangan kiri
logika mati

aku disini
melukis malam terbakar mimpi, disana
aku hanyut, menggelepar di broadway

jauh di dada bumi pertiwi
rindutumbuh rindumekar rindubayangbayang
rindumimpi

jauh sekali dari sini
ini mimpi dalam tidur siang hari
di kotamati


Ludah-ludah Hitam

ludahludah hitam, hujan
kuyup impian
balonbalon pecah di ketinggian

ludahludah hitam menggenang
tenggelam, terapung
pegat nafas gelandangan

ludahludah hitam, hujan
gerimis di langitmerah tanah basah
longsor menimbun taman

ludahludah hitam, kemarau
laut telah hitam
pantaipantai kesemutan

ludahludah hitam, laut
karang putih tenggelam
awan dan gunung muram


Malam Diam, Gaduh

malam ini tibatiba semua terdiam, diam, hanya diam ketika bulan turun perlahan gemintang gelisah memandang rentetan senapan matamata mencecar malam suram demikian panastajam melukai langit tak biasa meninggalkan biruhitam membusurlengkung di lembah indra menyaksikan embunembun terjun bebas tanpa parasut hilang dan meresap di kedalaman tak terelak tak terjarak

malam ini kugeluti gugus bunga merah semakin merendah hingga tiarap di kawatkawat berduri membuatku tak kuasa mendongak, merayaplah aku merayap hingga hulu sungai mengalir keruh

gardu mati di pertigaan semua terdiam, diam, hanya diam ketika tiangnya rubuh di tengah pusara dan tak tahu lagi bagaimana menegakkan tiang begitu tinggiberat sendirian sedang katakata penghibur kelana berkerumun riuh di jalan menuju rumahmu gaduh semakin gaduh ruang tungguku

Jakarta, 13 Mei 2003


Kasih, Kisah

maka kekasih inilah kisah tentang kasih kita kekasih jadilah kisah tentang kasih sepasang kekasih yang selalu merindu terkasih dan jalin kasih dalam kisah kasih sepasang kekasih dalam balut kasih menjadikan kisah panjang kasih mendulang kisah dengan kasih yang terkasih dari terkasih sepanjang sejarah kasih kita yang terkasih o kekasih datanglah dalam kasih agar menjadi kisah tentang tangis kasih tawa kasih rindu kasih peluk terkasih dan kasih yang terkisah dengan kasih tentang kisah tangis kisah tawa kisah rindu kisah peluk kekasih terkasih dalam maha kasih kita saling mengasihi menjadi kisah kasih sepasang kekasih yang akan selalu terkisah dalam kasih maka kekasih inilah kisah tentang kasih kita kekasih jadilah kisah tentang sepasang kekasih yang selalu merindu terkasih dan jalin kasih dalam kisah kasih.


Sabtu Pagi

nadiku berteriak dadaku bergemuruh, hujan tibatiba tanpa awan gemawan menggelantung di langit, jantung seperti berhenti berlari, semua musim hadir dalam satu waktu.
Sabtu pagi

entah sudah berapa kali tersebut namamu dalam igau dalam sadar dalam jurang kecemasan terdalam namamu hanya namamu, lalu seumpama liberty aku terpaku mematung walau sungguh hati ingin berlari menjengukmu di padangputih tempat kau terbaring sendiri, aku rindu kasihku

dari kedalaman bumi tempatku berpijak kukirimkan padamu seluruh energi hidupku untuk membuka matamu untuk membakar darahmu kembali untuk menguatkan sendisendimu maka aku saja yang kaku jangan dirimu, darahku saja yang kering jangan darahmu, dan bila seluruh pilihan diberikan padaku maka aku memilih untuk menyapa wajahmu dalam sisa nafasku.

Jakarta, 11 Mei 2003


Tuesday, May 20, 2003



Jenuh

dengan langkahmu yang panjang kau dahului aku tanpa kau beri sedikitpun jeda bagi nafas untuk berhenti sejenak menata nada degup merayu nadi

kau ini jenuh yang mengunyah hari hingga sekencang badai lariku membentur tebing waktu terpental menjauhi jejak terdepan hingga harus ku ulangi membaca lembar telapak langkahku sendiri

begitupun kau kunci bibir bunga yang kupinta-pinjam pedang oranye untukku memotong kaki waktu yang terus berderap menutup talingan dari teriakku

di suatu ketika kau hadir liar mengurungku lalu pergi setelah mengering peluhku, kau takut mentari


Tanda Pengenal

tanda pengenal itu kuberikan pada suatu nanti ketika selesai kubangun rumahku, simpan itu sebagai asa yang terlipat rapi di saku depan bajumu yang kupilihkan ketika kubuka almarimu

tanda pengenal warna biru bergambar perahu itu pada suatu nanti adalah petunjuk sapaku sapamu ketika benang selesai tergulung di akhir musim yang lahir dari ikrar perseteruan kita dengan waktu

tanda pengenal bergambar perahu itu adalah kereta mimpi yang akan menjemput pejammu pejamku di ranjang waktu tempat kita meramu jalinan memadu temu di suatu bayang rindu

tanda pengenal itu kuberikan padamu menjadi asa di garis tanganmu sebagai rindu yang akan ter-unduh di suatu nanti

Jakarta, 08-05-03


Serpih Rindu

bulu kudu berdiri airmata berlinanglinang ketika harus mengucap 'datanglah kembali' di suatu sudut senja buram tanpa tanda baca adalah hujan yang turun tibatiba di dasar malam tanpa mau bicara menyeret kabut melewati sepanjang gununggunung dan bukitbuki kelu menyunggi tempayan retak penuh ludahludah hitam dari sepanjang sejarah kerinduan dukana tertelungkup kaku di pelumpuran bernafas dalam sengal cendana di ranah yang tak lagi terpeta seperti lembarlembar penanggalan yang terobek dan terbuang begitu saja kemudian basah oleh gerimis senja menjadi serpihserpih kerinduan di selasela uban.


Merindu Bayangbayang

gemericik suara tangis semakin terdengar ketika terpaku di lereng rindu demikian terjal dakian menjulang tangis di puncak bersalju terselimuti awan gemawan seperti kalung bulu angsa pada langit terbuka luka tertusuk rindu menjulang terjal dakian hingga ujung salju meredam api lengan langit terjatuh tersampir di lereng terjal dakian gunung rindu menjulang ke angkasa menyusul pandangan mata demikian cepat lajunya meninggalkan rindu tertatih di lereng dekat gerimis yang menangis di lereng terjal rindu tertopang kaki lelah angin jalan demikian panjang menyamarkan wajah putih salju di puncak rindu yang menembus langit menjadi bayangbayang menangisi rindu menangisi gerimis menangisi gunung api memeluk kabut abuabu membelaibuai hutanhutan menangisi bayangbayang merindui bayangbayang menangisi mimpi merindui mimpi di atas mimpi.

Jakarta, 09-05-03


Saturday, May 17, 2003



Sebagai Jati Gunung

seumpama pohon aku adalah jati gunung yang kurus dan miskin dedaun di kemarau yang jenak bersekutu dengan terik dan kering

sebagai jati gunung yang tak subur aku tetap berkambium merangkul dedaun sekuat tenaga walau pada akhirnya terlepas jua

sebagai jati gunung yang lancur aku tetap merindu hujan jujur yang menyirami tanpa mengikis tanah leluhur


Kau adalah Rindu

kau adalah rindu yang demikian jitu memanah tepat tengahtengah lingkar tubuhku yang berdiri terbalik dalam matamu, menancaplah anak panah itu menancap menembus dadaku dan dengan kekejaman cintamu kau tekan hingga ke hulu hatiku

kau adalah rindu yang demikian keji menekan dan menarik ujung pedand dari telapak kaki hingga ubunubunku, mengangalah luka itu menganga menjeritjerit hingga bisu dan dengan tangan dinginmu kau siramkan cuka membanjir hingga mataku

kau adalah rindu yang demikian memukau hingga segala luka nan keji nikmat kukelamuti


Yang Merah

yang merah dibingkai senyum itu rindu yang selalu menyala di laut lepas disana mengliupkan mata hingga sesendunya beringsutkan langkah pada pantai kesunyian, pasir tak terbelai

yang merah itu tiktak jarum rindu yang berputar selalu dalam lingkaran tak jemu di dadaku, kau tahu di dadaku

yang merah sembunyi dalam gunung berapi menanti isyarat gempa dan aroma belerang mempermainkan jemari seismograf adalah temu yang tertundatunda

yang merah meringkuk di mata dalam belalak dan pejam. aku yakin itu kau, siapa lagi?

Jakarta, 07 Mei 2003


Hari Airmata

di awal waktu setiap kita mengaduh membanting pelepah lemah
mata selalu basah oleh hujan-derdah mematik kilah

di awal waktu ketika kita berlari mendekat untuk bertukar nafas
seketika mendung mual dan muntah; kuyupdiam tanpa kata lepas

mungkinkah ini kutuk sejak awal kita saling papah?
tapi bukankah memang kita bertemu atas airmata bisu ketika itu

dan kukatakan padamu kekasihku; hari itu adalah hari airmata lahir kembar dari mata kita
maka biarkan ia tetap ada tanpa pidana

Jakarta, 06 Mei 2003


Suatu Malam di Cipanas

malam-angkuh menyadap semua gumam rindu pada wajah di balik kacagelisah menanti
segelisah remang dinihari pada akhir riwayat balonmimpi kempes oleh kumandang suci

seketika sketsasketsa mimpi terjiplak-giras di ambang pintu matahari
merontaronta dalam tempurung kepala ingin berlari-berbaris di altarsajak

darah dan nanah mengalir kepayahan menahan beban derita sepanjang sejarahrindu
terkungkung dalam kapilerkapiler terjerat otot-otot terkesima basah manampung hujan

hari-redup tercelupi sunyi puncakmelankoli senyum-gerimis siang hari
dalam irama yang berdenyut bersama nadi melangkah bersama arloji

lalu di suatu malam ketika cerita kembali mengalir dengan debur dan kelokkelok
kubiarkan diriku menderita-rindu bersama yang teronggok

Cipanas, 04 Mei 2003


Bukankah Kau Tahu Angin

Bukankah kau tahu angin selalu bergerak sejak ada?
sayang itu telah ada pada suatu ketika kerling matahari
menelusup di celahcelah sunyi rapuh
karna deraiderai gerimis enggan berhenti
bermain petakumpet di retakretak tanah, berlarian di bebatuan

Bukankah kau tahu angin tak lelah sejak ada
sayang itu ada sejak dada gempa
disana

Jakarta, 02 Mei 2003


Monday, May 12, 2003



Sisa Rindu

tersisa tinta di ujung pena untuk menulis rindu
di pagi yang mati di mataku
merah sejenak kemudian ke mimpi kosong

sejenak rindu tersendok. tersisa
siasia, basi dan kering
di tampahmiring


Seketika Matamu

seketika matamu mematik daguku
liar cahaya terpenjara di dadamu
mencari penyentil diam di pelosok bayang

seketika matamu telanjangi matahari hitam
menjengkali jalan setepak hingga ujung jari kaki
lalu kau umbar kenangan di padang sunyi

seketika matamu jalang porandakan degup
kemudian hilang di senja muram kabut kelam
gerimis datang semakin rapat di telapa kembar empat
di bulan lentik di matahari hitam

Jakarta, 29 April 2003


Aku Katakan Padamu Sephia-ku

aku kabarkan padamu Sephia-ku
jakarta beruban pagi ini yang muda sembunyi
lampulampu jalan enggan bernyanyi
gelombang datang dari segala arah
aku di tengah laut seperti juga ikanikan itu
mengais planktonplankton semu

aku kabarkan padamu Sephia-ku
matahari mati di ruangku
setelah meradang-gelepar terbentur kreykrey jendela
sepertiku bisu di ruangmu

aku kabarkan padamu Sephia-ku
tentang hurufhuruf berguguran pada usia muda
sajaksajak rontok menabrak dada baja
peluru mejen*) berontak pada pelatuk
lou han rindu cacing dan udang
aborsi otak lelaki

aku katakan padamu Sephia-ku
tentang kesumat rindu hujan jatuh di pasir hitam
iris derit pintu terbukatertutup, sepasang matahari sipit
embunembun yang terpencar di bebatuan
sajak rindu tanpa alur berkelokkelok tanpa bentur
seperti dendam jiwaku tak tertuntaskan
pada entah

aku kabarkan padamu Sephia-ku
tentang daun kering yang menyimpan salam pada akar untuk kuncup daun malumalu
pohonpohon yang masih berupa bebijian
jerami yang masih berupa bulir padi
citacita yang masih berupa mimpi dan kelakar
mendung yang menanti isyarat angin dan kilat
seperti rinduku yang belum juga ter-euler

aku katakan padamu Sephia-ku
tentang keirianku pada persahabatan bungabunga dan lebah madu
keserasian merapi dengan merbabu
bisikbisik mesra angin dengan daundaun
kekompakan sekelompok angsa yang mencipta tangga nada
keharmonisan padangrumputhijau dengan telaga
kesetiaan pantai pada laut
sempurnanya malam oleh gemintang dan rembulan
seperti itu inginku denganmu

aku katakan padamu Sephia-ku
tentang senyum bintangkecil yang kan kita nyanyikan
catatancatatan di daun marple yang kan jadi manis kenangan
postcardpostcard yang menjadi saksi terbelahnya bumi
kartukartu telephon yang menempuruk di kolong ranjang sunyi
pertengkaranpertengkaran yang menjadi cerita abadi
tawa dan airmata yang slalu membasahi jemari
perkenalan tak di sengaja yang luput dari tiktak arloji
seperti mimpi yang sulit terlukiskan karena tertidur kembali

aku katakan padamu Sephia-ku
tentang rindu yang slalu menggeliat di altar sunyi
menanti upacara pembakaran dupa di candi jonggrang
menanti upacara labuhan di laut selatan
menanti sowanan di pendapa kasultanan
kunantikan kau Sephia di bawah pohon rindang
jadilah embun dan jatuh meresaplah, aku tanah

aku katakan padamu Sephia-ku
aku mencintaimu hingga seluruh dustaku[karena cinta kadang berdusta]
aku menyayangimu seperti sayangnya kelopak pada mata
aku membencimu seperti bencinya lidah pada rasa pedas masakan bunda
ini seluruh-ku, mari kita pertengkarkan
seperti biasa kita lakukan

*)mejen = tidak bisa meletus


Fragmen Hati
: TS Pinang

di lembar daun yang baru saja terpelanting digoyang angin tertulis hakikat surat garis yang kan terbaca oleh siraman tajin tubuhmu yang asih dan bau tentang suatu rahasia sehelai benang merah yang kan menguncir ubanmu

ketika melayanglayang ia menebar pesona diantara nyata dan semu dari suatu keinginan yang terpenggal musim terbuai kanakkanak dan airsusu

keletihan menyunggi batu yang jantungnya tertancap lembing rindu kulitnya tercakar kukukuku sendu tak lain adalah kembaran jiwamu yang hujan di suatu ketika merapi berselera kabut meneteskan embun di ketiakmu

di airterjunhitam mati oleh wewangi dan kuncir tersimpan kenangan untuk senja yang menanti keriput keningmu di sudut kelopak matahari yang terguris biru dan hitam karna malam yang menolak kau intimi

harihari yang manja demikian lajunya mengirimmu dengan terpaksa ke stasiun kereta dan kau menggumam kidung asmaradhana slendro songo dan pangkur jenggleng siul loko, lalu segumpal daging basah teremasremas hingga terbekas telapak disana ada bekas telapak jiwamu disini ada sebentuk daging basah itu dan kau pasti tahu, selanjutnya adalah derita rindu.

Jakarta, 30 April 2003



Tuesday, May 06, 2003



Di Stasiun Kereta

lalu ku sebut namamu di hari saat kereta mulai melaju, berulangulang
mengiang lagu yang baru saja kau nyanyikan di iring denting gitar yang kumainkan
hingga kini terngiang, hingga kini terngiang

celana jins belel, sandal gunung usang, baju agak kumal, tas ransel penuh bekal
terakhir kupandang disana, di stasiun kereta jamtujuhmalam
hingga kini terbayang, hingga kini masih terbayang

api menyala berlaksa detik di bibir kita
seismograf-pun tak mampu membaca gempa besar di dada
lalu kepala kita samasama terapung di kelepukkelepuk didih kala jemari mulai meng-iba
kau menghilang, kau menghilang bersama tertutupnya pintu
hingga kini tak lagi ku temu pintu itu terbuka, pintu kereta itu menutup cerita kita

di stasiun kereta jamtujuhmalam ku sebut namamu hingga gerbong menghilang
dan setelah itu, tak dapat lagi ku sebut namamu utuh walau sekali saja


Suatu Siang di Cikarang
[memoranda April 1999]

siang hilang ditelan kepayang dalam ruang lindap menyibak rahasia
mengurai deritarindu berkepanjangan menyulut api kesunyian memecah balonbalon mimpi

waktu telah membuka pintu dan kita telah memasukinya, terkunci seketika
lalu kita tersekap dalam siang yang bergerigi bergaung kidungkidung kutuk

begitulah segala yang berkecamuk terberai di altar persembahan
mengokang keinginan terpendam dalam deritarindu berkepanjangan

siang kepayahan menopang deritderit tulang dan kecipak persengketaan
dentum terdengar berulangulang hingga pecah telinga ruang

suatu siang ketika keringat tak lagi terasa asin
sirkus rindu telah mangkat tanpa yassin


Kau Cari Aku

kau cari aku di sudutsudut lingkaran itu
berputarputar menggenggam bunga hampir layu
di dadamu

kau cari masih kau cari jejakjejak pelangi dibayang senja
diatas telaga di lembah di gunung
di mataku

lalu kau terpejam bisu
di pelupukmu aku menetes
menjadi rindu


Kutilang yang Rindu

kutilang hinggap di parabola
menantinanti entah dinanti
betina pergi, betina jauh, betina terjebak tekateki

kutilang termangu di parabola
kepalanya hitam paruhnya kekuningan membaca semilir
kupukupu berlalu tajamkan rindu

kutilang yang rindu
lama menunggu
kutilang tak rindu

Jakarta, 28 April 2003


Friday, May 02, 2003



Di Sebuah Beranda Senja

beranda senja hujan malumalu di liput siulsiul dan geramgeram kereta
teras sunyi lelaki paduan suara meminjam dentinggenting juga gemericik patahpatah

beranda senja hujan malumalu menyibak bandosa lelaki terbunuh siang tadi
tergopoh merangkul seperti semut rangrang ragu melangkah di belantara kulit perempuan manik

panahpanah perak menghunjam kaki petualang menguak tabir rumputrumput bisu memandang lugu
-lalu petualang bisu di serbu debudebu di tebas ilalangilalang waktu-

beranda senja teras sunyi lelaki menarik simpul semakin erat, semakin erat
jejakjejak huruf tercecer di setiap kerat

di sebuah beranda senja panahpanah tumpul tali gendewa terputus gerimis bisu
-lalu gagu mengucap rindu-


Dimana Nanti Kita
: Lizwa Sephia

dimana lagi kan kau labuhkan pagi yang kutunggutunggu setelah sekian lama hilang
dari perputaran waktu di desak tingkah malam dan siang

dimana nanti tali yang besar itu kau ikatkan
di jariku, di dadaku atau di leherku

dimana nanti kita menghentikan deburdebar ombak
di laut yang belum juga kita beri nama

jangan katakan sekarang, katakan saja nanti
saat pagi memberi isyarat pada kabut untuk kembali pulang ke gununggunung

dimana nanti kita memecahlebur rindu
-tentu di dada dan pelupuk-


Mengingatmu adalah...
: Anis NQ

mengingatmu adalah
seperti tersesat dalam belantara asa
yang membuatku terus berjalan hingga lupa arah pulang

mengingatmu adalah
seperti berdiang di perapian saat hujan
apimu hangatkan tiap relung sukmaku

mengingatmu adalah
seperti berenang di laut kerinduan
yang membuatku terus berenang hingga lupa tepian

mengingatmu adalah
seperti memandang telaga beningtenang
yang membuatku ingin bersampan hingga seberang

mengingatmu adalah
suatu kesadaran bahwa semua adalah kenangan
namun tlah kau beri satu catatan biru, di relung hatiku


Di Stasiun Kereta

lalu ku sebut namamu di hari saat kereta mulai melaju, berulangulang
mengiang lagu yang baru saja kau nyanyikan di iring denting gitar yang kumainkan
hingga kini terngiang, hingga kini terngiang

celana jins belel, sandal gunung usang, baju agak kumal, tas ransel penuh bekal
terakhir kupandang disana, di stasiun kereta jamtujuhmalam
hingga kini terbayang, hingga kini masih terbayang

api menyala berlaksa detik di bibir kita, seismograf-pun tak mampu membaca gempa besar di dada kita
lalu kepala kita samasama terapung di kelepukkelepuk didih kala jemari mulai meng-iba
kau menghilang, kau menghilang bersama tertutupnya pintu
hingga kini tak lagi ku temu pintu itu terbuka, pintu kereta itu menutup cerita kita

di stasiun kereta jamtujuhmalam ku sebut namamu hingga gerbong menghilang
dan setelah itu, tak dapat lagi ku sebut namamu utuh walau sekali saja


Suatu Siang di Cikarang
[memoranda April 1999]

siang hilang ditelan kepayang dalam ruang lindap menyibak rahasia
mengurai deritarindu berkepanjangan menyulut api kesunyian memecah balonbalon mimpi

waktu telah membuka pintu dan kita telah memasukinya, terkunci seketika
lalu kita tersekap dalam siang yang bergerigi bergaung kidungkidung kutuk

begitulah segala yang berkecamuk terberai di altar persembahan
mengokang keinginan terpendam dalam deritarindu berkepanjangan

siang kepayahan menopang deritderit tulang dan kecipak persengketaan
dentum terdengar berulangulang hingga pecah telinga ruang

suatu siang ketika keringat tak lagi terasa asin
sirkus rindu telah mangkat tanpa yassin


Kutilang yang Rindu

kutilang hinggap di parabola
menantinanti entah dinanti
betina pergi, betina jauh, betina terjebak tekateki

kutilang termangu di parabola
kepalanya hitam paruhnya kekuningan membaca semilir
kupukupu berlalu tajamkan rindu

kutilang yang rindu
lama menunggu
kutilang tak rindu


Kau Cari Aku

kau cari aku di sudutsudut lingkaran itu
berputarputar menggenggam bunga hampir layu
di dadamu

kau cari masih kau cari jejakjejak pelangi dibayang senja
diatas telaga di lembah di gunung
di mataku

lalu kau terpejam bisu
di pelupukmu aku menetes
menjadi rindu

Jakarta, 28 April 2003