Sunday, June 29, 2003



Percakapan Dengan TS Pinang

ada garisgaris merah di tubuhku, katamu suatu ketika
di keningmu itu juga ada garisgaris, tapi tidak merah
di rambutmu yang gondrong itu ada ketombe,
ya, seperti rambutku yang pendek juga ada ketombe

kepalaku yang bersembunyi di ketiakmu yang bau itu
menyambung suara loko keretaku
suara keretamu berbeda, menghentakhentak seperti kuda
katamu suatu ketika

lalu kau kembali berkata
kenapa ada garisgaris merah di perut dan dadaku?
ah, sepertinya ada hantu yang ingin melukis di tubuhmu,
kataku

lalu kau kembali bertanya padaku tentang tidurku yang gelisah
kemudian aku menjawab;

gerimis berlompatan di teras belakang
pergilah kesana kalau ingin melihat patahpatah tariannya
kaupun akan melihat;
jendela luka berjajar,
kotakota kecil dalam sayatan senja,
gunung kapur yang runtuh tanpa puing,
bukitbukit selatan yang tertawatawa,
sejarah yang berjalan tertatihtatih,
angin yang tak henti mengetuk mendung,
uap teh panas yang turun dari tepi tutupnya,
ludahludah hitam kental di bebatuan,
suara merambat sepanjang pagar,
serta dedaun yang berkerisik di taman

telah banyak suara memanggil
meninggi dalam bisa kemarau
sungai musim hujan yang menyilaukan
ah, dimana lagi ku catat sejarah sedang musim tiada peduli
mungkin di gundukan tanah sejarah menjadi rajah

lalu kau kembali bertanya, kenapa seperti itu?
karena pertanyaanmu seperti itu, kataku.

Jakarta, 12 Juni 2003


Kembali Ku Sebut Namamu (Setyowati)

kembali ku sebut namamu Setyowati
sebagai ibu dari anakanak rohku, ketika dulu
kau kenalkan aku pada keluarga di dadamu
kau beri tahu aku cara menapaki tangga batu
kau ajari aku membersihkan pasir
di parangtritis ketika dulu

seperti dulu, ku sebut namamu Setyowati, fasih sekali
lewat surat, buku harian dan percakapan seharihari

kembali ku sebut namamu Setyowati
di suatu ketika di titik sunyi
di iringi nyanyian kisah tersingkapnya betis cantik suatu pagi
ketika kau berdiri membisu di depanku, dekat sekali
dan suarasuara surga tak lagi bisa menahan diri

menyebut namamu Setyowati
sebagian duniaku kembali tersipu, kembali tersedu
setiap kali aku kembali ke dermaga tua mengingatmu
badainya tak lagi jalang, pantainya tak lagi biru
semilir senja sembunyi dalam resahku

seperti dulu ku sebut namamu Setyowati
di titik sunyi ketika cinta menjadi ilusi


Mencintaimu Seperti Hantu

baru sejurus aku bersapa denganmu
pada perseteruan jarak jauh, mungkin kilau
ketika kau lalu lalang dalam mimpi demi mimpi
namun mengapa rindu justru tersedu
sedang telapak tanganmu belum pernah menyentuh pipiku
tibatiba saja telaga biru dipagari cemara di dadamu
dan aku tenggelam seperti batu

bertiuplah badai cinta yang dahsyat
menyeberangi samudera melintasi benua
menjadi cincin hitam kemerahan
ulurkan, ulurkan jari manismu, ulurkan tangan pualammu itu
biar ku lingkari dengan topan dari dadaku

aku adalah penyair, baru sekali sejurus bicara padamu
namun aku mencintaimu seperti hantu

Jakarta, 13 Juni 2003


Sajak Ulang Tahun
:Lizwa Sephia

selamat pagi lizwa, hari ini udara segar,
matahari berpelukan dengan awan
selendang angin berkibar lembut seperti rambutmu
jerit malam telah terhenti, di persimpangan
disini

dengan puisi aku bernyanyi, untukmu
dengan puisi aku bercinta, denganmu
dengan puisi aku menyurat rindu, padamu
dengan puisi aku berdoa, untukmu
terimakasih atas gebu rindu dan cemburu

ingin aku datang kembali ke pantai dan taman itu(hanya kau & aku yang tahu)
tidak hanya diam, tapi bertukar sejarah tentang lembarlembar panjang
yang merah dan biru yang putih dan abuabu

ingin ku meraihmu dalam nyata
dan kau balas dengan senyuman manja
begitu benarkah lamanya

setiap kali ku tuliskan sajak untukmu
beribu balon mengapung di langit
bergumpalgumpal rindu melayang di pelupuk
melayangi gerimis di taman kota

selamat ulang tahun lizwa sephia
ini tanganku genggamlah utuh
sampai suatu ketika langit runtuh


Suatu Hari di Bulan Juni

disini membentang padang gelisah
malam layu di tanggal limabelas
suara tanah resah perlahan mendesah
kutunggutunggu purnama, langit memelas
jendela terbuka, tempias hujan cuka

dimana dimana kau berdiri saat ini?
di gerbang tua itukah?

lagilagi kau benamkan dirimu, seperti tahun lalu
kau pandang langit yang terpotongpotong dari balik jendelamu
sesekali kau usap tanah merah basah
ketika kau pungut serpihanserpihan kaca yang pecah

selendang angin yang berkibar lembut di kepalamu itu
bergumam langgam megatruh, sampai juga kiranya di wajahku
sebait duka di balut kerudung merahmu
senja hujan di alam tidurmu

suatu masa setelah bunga mengering
kau berseteru dengan matahari
mengibaskan sayapmu meninggalkan fajar
dan kau berpikir bahwa telah terbang jauh
meninggalkan jejak kakimu di batu hitam
bermainmain dengan awan berbulan madu dengan bintang
hingga kau lupa bahwa air yang memberi daya itu
berasal dari jauh di kedalaman bumi kerontang

kita selalu bermainmain api setiap waktu,
tak pernah pula terbakar
kita selalu merekareka sayapsayap
namun tak pernah bisa terbang
kita seperti membangun rumah beratap perselisihan
bertiang persahabatan

rindu terseok terlukaluka sepanjang jalan
tersayat malam yang meruncing di lipatan kelam
sungguh berat kantuk ini ku tahan
ingin segera rasanya rebah dalam mimpi malam

bila saja tubuhku lunglai menjadi gelombang dan topan
kan ku belit tubuhmu ke kedalaman lautan

runtuh, runtuhlah gunung kapur di laut merah
di puncak sepi, mendebu, menebar di garisgaris hitam
dalam udara dukana di trotoar rindu
dan diamdiam gerimis menitik perlahan
terpencar di bebatuan

tersengalsengal nafas senja di musim bisu
meratapi matahari yang hampir habis di cakrawala abuabu
dan aku mengejar bayanganku yang hampir hilang,
sedang engkau sembunyi diamdiam di balik kelam
disanalah kau duduk, di bangku tua nan setia
seolah senja selamanya berkabut disana

lalu ku cumbui angin ketika suatu pagi matahari terlena
begitulah setiap kali pagi tiba, ku mamah biak duka
dengan piring kosong setiap kalinya

Jakarta, 15 Juni 2003



Sunday, June 22, 2003



Kita Sama-sama Lapar

berangkatlah cahaya melintasi malam
membawa periukperiuk rindu
bersama angin yang panjang rayamrayam
tak ada pijak, kita tak berpijak

kita samasama lapar, akuilah!
jangan lagi kau bilang, kita ini bayangbayang
menangisi gerimis
menangisi samudera api

kita samasama tanah yang letih, akuilah!
kita haus, kita sangat haus
di atas bumi yang sepi aus
menyimpan catatancatatan kecil tentang arus

kita samasama menengadah
menanti bintang turun dari langit
sementara di luar detik telah jatuh
bersama deraiderai gerimis yang luruh


Aku Ingin Berlari Bersama Angin

aku ingin berlari bersama angin
memainkan awan hitam memainkan awan putih
menghampiri gunung lembah lautan dan pelangi
membelai hutanhutan bersendau dengan dedaun
menari aku menyanyi aku bersama angin

aku ingin berlari bersama angin
berputarputar bersama topan dan badai
meliukliuk bersama sayapsayap ombak membelai pantai
memetik fajar menikmati senja,
mengarungi malam dalam satu masa
mendaki pilarpilar langit, di puncaknya suara-Mu merdu
suara sepi yang biru
menari aku menyanyi aku bersama angin

aku ingin berlari bersama angin
mengaruni dunia khayali tanpa henti
mengeja imaji-imaji para sufi
menguak rahasiarahasia para nabi
menari aku menyanyi aku bersama angin


Dunia Kita Sekarang Ini

dalam dunia kita sekarang ini
bertebaran ragu seperti debu
puing demi puing tak tampak di pelupuk
kepapaan kadang menyeruduk
tanya tak terhitung kiranya

dalam dunia kita sekarang ini
korban senantiasa bertambah
kadang tersungkur siasia di bumi tua
berlumur lumpur dunia nestapa
kebesaran jiwa seperti misteri adanya

dalam dunia kita sekarang ini
berjuta tepukan menjadi tujuan
suara hati jauh terpendam di bumibumi
terlalu banyak sudah jiwajiwa onani, latah dan menjilat
seperti orangorang yang berjas licin dan bersepatu mengkilat

dunia kita sekarang ini
terlukaluka sepanjang sejarahnya


Selamat Malam Tuhan

kantuk ini demikian beratnya
namun katakata mengganjal di pelupuk mata
hingga malam turun kemudian naik kembali
bersama derak lamban roda pedati
oh Tuhan, beri aku kantuk seperti dulu bayi

selamat malam Tuhan
aku datang lagi malam ini
seperti jauh hari aku disini
aku yakin Tuhan tidak marah
karena kadang aku ingkar janji


Manhattan Sore Itu

dari jendelamu yang sedikit terbuka
kutiupkan dentingdenting gundah gulana
bukan irama gamelan dari tanah desa
yang terdengar saat senja
ketika ribuan jendela menutupkan mata

tengoklah, tengoklah kemari
aku berdiri mendongak di halaman apartemenmu
melambailambaikan tangan makin layu
karena salju turun di kotamu

datanglah, datanglah kemari
tidakkah kau ingin mengajakku duduk di perapianmu?
lalu kita bertukar cerita tentang sepi
yang lama menghantui mimpimimpi

di Manhattan sore itu
aku terkubur di gurun salju
dan kau tak tahu
aku disana ketika itu

Jakarta, 11 Juni 2003



Tuesday, June 17, 2003



Tergilas Sepi

waktu menindihku semakin sesak
menggilas rindu di dada
ah, berbunyi juga airmata
menitik diamdiam di balik jendela

ditiupkanlah badai, ditiupkanlah badai
semakin lama semakin menderu
mendung mengucur menetesnetes
berbaris melagu dalam kelabu

suara guruh begitu jauh
tercampak sepiku di gugusan malam
hai datanglah datang musim rindu yang panjang
mengalirlah perlahan di dada perawan

demikianlah rindu tergilas rodaroda sepi
capungcapung gelisah kupukupu resah
di atas tanggul sejarah
disana engkau memanggil, disini aku menggigil


Rindu Menjadi Gerimis

rindu menjadi gerimis
ketika pelangi perlahanlahan menipis
senja meninggalkan kota
bayangbayang bergoyang, malam menangis

rindu menjadi gerimis
menggigiti hati seperti gergaji
tingkap angin makin biru dalam sepi
merah tergapai lalu membayang di telan sunyi

rindu menjadi gerimis
ketika sapuan angin tak sampaisampai
apakah begini sukarnya
merah dan biru menyatu dalam nyala

rindu menjadi gerimis
menjulurjulur dari langit merah
musim berbagi masih entah
desah darah bergejolak sepanjang resah

Jakarta, 10 Juni 2003


Aku Rindu Cemburu

aku lelaki rindu cemburu
duduk tersipu di teras waktu
setelah sekian lama berjalan mencari cemburu
pada setiap singgahan berdebu

aku lelaki rindu cemburu
pada kekosongan jejak
sekian lama berjalan tanpa lagu
mencaricari, mencaricari

aku lelaki dibakar cemburu
disulut perempuan di tengah salju
lalu ia membunuhku
malam itu

Jakarta, 09 Juni 2003


Hujan Biru di Langit Rindu

hujan kelu di langit abuabu
menuruni gugusan gunung dan lembah biru
binarbinar hujan membisu di malam kelabu
kabut tipis menghinggapi hutanku
rindu sendu semilir di jendelaku

hari terik dalam sengangar berdebu
menuruni gugusan gunung dan lembah biru
ketika merapi dan merbabu hanya terpaku sepanjang waktu
menahan magma amarah rindu
menyihir waktu hitamkan ubanku

adalah kembang senja di garisgaris merah kesumba
tersenyum melambai di batas cakrawala
desah lembah gidikkan kuduk gulana
gigilkan rindu lelaki menutup mata

Jakarta, 06 Juni 2003

Saturday, June 14, 2003



Seorang Perempuan Serupa Bunga Tulip Merah

seorang perempuan merah menarinari di dada puisi
berkejaran dengan burung bluejay di padang ilusi
serupa bunga tulip di remang salju pagi
berjalan sendiri di bayang lelaki

seorang perempuan serupa bunga tulip merah
meneteskan air, mengkristalkan sejarah rindu
membuka almari penuh bercakbercak darah
luka dan tangis dibayang tahkta gelisah

rimbarimba, jurang rawa gunung bukit hitam menggeliat
tertutup wajah kabut pekat dingin menyengat
di langitmerah di tanahmerah di siang di malam
gelombang biru menarik hati sangat dalam

seorang perempuan serupa bunga tulip merah
berselancar di dada lelaki gelisah
menoreh rndu di tiap desah
tiap langkah tak mampu lagi berkilah


Surat Singkat

surat ini adalah surat singkat
kutulis ketika sore masih menyengat
untuk sekuntum bunga yang tangkainya kuat

aku ingin bertanya
apakah aku boleh mengambil separoh nyawanya
karna darah telah mengantarkanku ke dunia
dimana ia terbang dari sarangnya

aku ingin meminta
sebuah ruang untuk menyandarkan duka
dari derita rindu sepanjang sejarah cahaya
karna ikatan terasa begitu nyata

surat ini adalah surat singkat
untuk sekuntum bunga bertangkai kuat
dengan bahasa yang biasa
semoga diterima apa adanya

Jakarta, 04 Juni 2003


Aku dan Agung Yudha

kawankawan kita menyebar di sawah berlumpur
puntung dan abu dimata, aku dan agung yudha
segelas kopi hitam panas, kadang berbotolbotol minuman keras
siapa aku? siapa agung yudha?
kami adalah homo lesbiensis, jangan protes jangan sinis

kami berkeliaran di malammalam gerimis
ketika tak ada pengetuk malam gembala tangis
kami teteskan bencana luka di benuabenua
menyisir pesisir dada langit dada tanah dada desa dada kota

dalam tiupan angin, kebebasan mengalir
tak ada cinta karna habis di bakar masa
hai datanglah datang musim garang yang panjang
berlarian anak kami di sawah dan ladang

kami tiupkan badai asmara, kian lama kian lamban
menjadi cincin yang merana di berandaberanda

aku dan agung yudha
mendesingdesingkan nasib di dadadada wanita
mengikat kaki dan tangan mereka
lalu meninggalkannya


Dalam Angin Rindu Mengalir

Dalam tiupan angin rindu mengalir
meniupniup bara hingga menyala, menyala

hai datanglah datang musim panen garang
berlarian anak kami di sawah ladang

takdir mendesingdesing di depan dada
entah kapan mengena melinangkan cahaya

dalam tiupan angin rindu mengalir
membawa awan putih membawa mendung

dalam rindu angin menangis
menetes airmata di sudut bibirmanis


Musim Senyap

tak terasa lagi dimana puisi memanggilmanggil
tak terlihat lagi betapa cahaya makin mengecil
lelaki kering, bunga terbantai di pantai
musim menggeliat, tak beda terik dan gigil

disanalah lelaki berlutut, bulan renta di kelam kusam
langit tak terbuka, pucat pasi lelaki mati
di belantara hitam cahaya berlinanglinang
menetes membakar padang ilalang

tak terlihat lagi cahaya mengalir di langit merah
yang senyap. suara musim kemarau, suara musim penat
pada tiangtiang tinggi senja gulana
di puncakpuncaknya mendung bersandar


Terlanjur Mati

aku terlanjur mati di hari sesudah sajak ini
tak usah kalian beri karangan bunga pada sajak tua, tak usah
air terjun di wajah Lawu mengalir pasrah

seperti cerita muasal kunangkunang terurai dari bibirmerah
seribu perhitungan tak dapatkan kata terlepas
mata pergi jauh di lengkung metafora, tersesat ia

aku terlanjur mati di hari lahirnya penabuh birahi, tak jelas
maka aku mati ketika birahi menjangkiti nadi

Jakarta, 03 Juni 2003


Monday, June 09, 2003



Senja yang Retak

hujan tibatiba, basah lerenglereng senja
nadanada sumbang berloncatan luruh di bebatuan
kelelawar terbang ke timur saat senja merah kesumba
perahu retak layar compangcamping berangkat hatihati tadi pagi
meninggalkan buihbuih ombak di pantai yang berlarilari

pada hari ini di depanmu gerbang tua, kau berpaling
kami kenang taman di halamanmu
karena kita kadang memang butuh perpisahan
tapi bukankah kita baru sejurus bertukar sapa
saat ada bagian senja tersedu
ketika katakata menampakkan wajahnya
dan lagu sendu terdengar di ruang rindu

apa yang kau tuliskan di layar melankoli, apa?
akankah kau simpan pena dan kembali kau baca sajaksajak tua
atau akan kau tulis puisi aliran darah dan gerimis di tanahmerah

panggilanpanggilan tak bisa di diamkan hai kau penyair
dimanapun, kemanapun rindu tak dapat sembunyi
walau keranda luka telah di usung keluar arena
karena puisi telah memanggil kita sejak dini hari

sejarah rindu telah di catat di ruangruang gelap
dengan berpakaian hitamhitam dengan tangan gemetar
dengan hati yang kelam
setelah itu kau pergi tergesagesa sambil berkata;
bahwa masih banyak pintu yang harus kau ketuk
masih banyak pundak harus kau tepuk
lalu kau turunkan gerimis di atap rumah kami
dan kau pergi tinggalkan jendelajendala yang basah
di senja yang retak

hari ini ruang rindu tanpa suaka
seperti bulan yang lalu dalam bayang abu jelaga
hari esok rindu tetap ada tapi entah dimana muara
robekan penanggalan teronggok di pembakaran dupa
angin tak lagi menderu liar tapi mendesah tertahan
menggigiti kulit seperti rayap pada kayu
luluhlah senja retak dalam gigil tubuhmu
terurai katakata melepas ikatan air tanah dan udara

Jakarta, 28 Mei 2003


Untuk Kekasihku disana

setiap jeda ku tuliskan pesan rindu dan sayang untukmu,
adakah itu kau terima kekasihku?

tiga musim kita lewati tanpa terasa abjad-abjad kehidupan
telah terbaca di selasela tawa manja,
sejarah rindu tercatat dimana-mana
meski tempat berpijak kita bagai di dua sisi bola dunia.

kau telah menghilang dari peredaran bintangbintang,
terjatuh di pelupuk lelaki jalang diamdiam,
menadah kutukan lelaki sunyi menari telanjang di semak kata, juga aku

kita adalah air bah berpacu mengatasi nyala api ketika kota cinta tersulut terbakar seluruhnya saat kita masih meramu kata merencana sua melepas balonbalon menuju langit kedua, sementara di lain dunia Rama dan Shinta memadu cinta

di titik sunyi kerinduan doaku mengudara menyelimuti barisan merah yang berangkat ke peraduan,
beribu senja kucatat jadi malam menerbangkan balonbalon mimpi,
pagi di kotamu
matahari tak singgah

di desahmu itu nada gelisah, gelisah sekali
angin musim dan berbagai warna terselipselip di rongga dada
sepertiku yang risau sekali ketika tak kulihat silang gemintang di langitmu,
lalu aku keluar menyapa malam mencari rasi gemini di galaksi bimasakti

tak pernah bisa ku tolak rindu ketika kau ketukketuk dadaku
saat matahari tak datang di kotamu
beberapa kali ada mimpi buruk di tidurku juga tidurmu

setiap gerak setiap desah nafas setiap lamunan menjelma menjadi puisi beterbangan dengan sayap hitam hinggap di dahan
rebah di dedaun di pohon utara dan selatan

setiap kali ku tuliskan pesan untukmu
bersama itu tanya berselancar turuti gelombang
adakah gelombang menyisir pantaimu?
semestinya iya

Jakarta, 29 Mei 2003


Basahlah Semua

ketika mendung mencapai hentinya, basahlah semua, basahlah semua
tanah mana bisa mengelak dari rajaman hujan
memang seharusnya

tak ada yang tertutupi bila nyata
hingga jelaslah lekuklekuk tanah
saat hujan merajamrajam

ketika aku menjadi laut, kuberikan nyawa pada mendung
kuberikan kuasa pada angin membawa mendung kemanapun suka
di turunkannya di wajahku, di turunkannya diwajahku, tak apa

basahlah semua, basahlah semua
tanah yang luka tanah yang duka
basah hingga tua

Jakarta, 03 Juni 2003




Wednesday, June 04, 2003



Rindu di Pucuk Pinus

kabut datang kabut pergi
rindu di pucuk pinus phobia tinggi
disana merah disini hitam, tenggelam
gununggunung menganggur padang rumput bingung
angin datang bersama hujan, basah jendela

setumpuk pelangi di atas ariari, apa (masih) peduli?
beratus senja terselip di buku harian
rindu di pucuk pinus meraung mendengus
jauh terendus dekat hangus
angin pergi membawa aroma tulang terbakar

kabut datang kabut pergi
rindu di pucuk pinus merah hitam
jauh menikam dekat terdiam
angin menggelandang kesunyian
jauh di seberang lautan

26.05.03


Bangkitlah

yang berdiri yang terduduk yang melayang yang tenggelam yang terkubur, bangkit bangkitlah, tubuhku malumalu menyapamu, dahuluilah, menyatulah dalam gumam bibir gerak jemari langkah kaki alir darah tarian otak, datanglah o datanglah aku siap melangkahi

air tanah angin api kayu besi dalam kepal tangan, nagabumi burunglangit rajaraja pertapapertapa prajuritprajurit, dadaku waja

yang berdiri yang terduduk yang melayang yang tenggelam yang terkubur, bangkitlah bangkitlah, ini keningku telapak tanganku lidahku, matilah kau


Menyeberang

menyeberang jalan
memutus gelang
menampik tali
menghitung kerikil
menyantap debudebu
memungut matahari
menggunting malam
menangkap rembulan
merangkai nafas
mengejar angin
menutup mata
menyeberang jalan

25.05.03


Itu Gerimis

menetes di lembah
menetes di batu
menetes di tanahmerah
membasahi rumput
membasahi daun
membasahi meja
menuntun angin
menuntun arloji
menuntun musafir
mengisi cangkircangkir
mengisi cangkircangkir
melepas ada
melepas tiada
menetes di tanah merah


Dalang Mati

pekeliran basah keringat, terlukaluka
sudah pagi, pagelaran sepi gamelan mati,
sinden masih nembang di kejauhan dalam tumpukan malam,
ada cacimaki di jalanjalan remang
dalang mati dalang mati pagi tak berpenghuni

sinden tak berani berdiri, penabuh gamelan menanti ketukan
dalang dimana dalang dimana, dalang mati

gedebong pisang, dia ikut mati menyesali diri, penutup tertusuk keris, mati
sejenak hanya berupa lukisan, lalu sebait cerita melarikan diri, dari sepi

26.05.03