Percakapan Dengan TS Pinang
ada garisgaris merah di tubuhku, katamu suatu ketika
di keningmu itu juga ada garisgaris, tapi tidak merah
di rambutmu yang gondrong itu ada ketombe,
ya, seperti rambutku yang pendek juga ada ketombe
kepalaku yang bersembunyi di ketiakmu yang bau itu
menyambung suara loko keretaku
suara keretamu berbeda, menghentakhentak seperti kuda
katamu suatu ketika
lalu kau kembali berkata
kenapa ada garisgaris merah di perut dan dadaku?
ah, sepertinya ada hantu yang ingin melukis di tubuhmu,
kataku
lalu kau kembali bertanya padaku tentang tidurku yang gelisah
kemudian aku menjawab;
gerimis berlompatan di teras belakang
pergilah kesana kalau ingin melihat patahpatah tariannya
kaupun akan melihat;
jendela luka berjajar,
kotakota kecil dalam sayatan senja,
gunung kapur yang runtuh tanpa puing,
bukitbukit selatan yang tertawatawa,
sejarah yang berjalan tertatihtatih,
angin yang tak henti mengetuk mendung,
uap teh panas yang turun dari tepi tutupnya,
ludahludah hitam kental di bebatuan,
suara merambat sepanjang pagar,
serta dedaun yang berkerisik di taman
telah banyak suara memanggil
meninggi dalam bisa kemarau
sungai musim hujan yang menyilaukan
ah, dimana lagi ku catat sejarah sedang musim tiada peduli
mungkin di gundukan tanah sejarah menjadi rajah
lalu kau kembali bertanya, kenapa seperti itu?
karena pertanyaanmu seperti itu, kataku.
Jakarta, 12 Juni 2003
Kembali Ku Sebut Namamu (Setyowati)
kembali ku sebut namamu Setyowati
sebagai ibu dari anakanak rohku, ketika dulu
kau kenalkan aku pada keluarga di dadamu
kau beri tahu aku cara menapaki tangga batu
kau ajari aku membersihkan pasir
di parangtritis ketika dulu
seperti dulu, ku sebut namamu Setyowati, fasih sekali
lewat surat, buku harian dan percakapan seharihari
kembali ku sebut namamu Setyowati
di suatu ketika di titik sunyi
di iringi nyanyian kisah tersingkapnya betis cantik suatu pagi
ketika kau berdiri membisu di depanku, dekat sekali
dan suarasuara surga tak lagi bisa menahan diri
menyebut namamu Setyowati
sebagian duniaku kembali tersipu, kembali tersedu
setiap kali aku kembali ke dermaga tua mengingatmu
badainya tak lagi jalang, pantainya tak lagi biru
semilir senja sembunyi dalam resahku
seperti dulu ku sebut namamu Setyowati
di titik sunyi ketika cinta menjadi ilusi
Mencintaimu Seperti Hantu
baru sejurus aku bersapa denganmu
pada perseteruan jarak jauh, mungkin kilau
ketika kau lalu lalang dalam mimpi demi mimpi
namun mengapa rindu justru tersedu
sedang telapak tanganmu belum pernah menyentuh pipiku
tibatiba saja telaga biru dipagari cemara di dadamu
dan aku tenggelam seperti batu
bertiuplah badai cinta yang dahsyat
menyeberangi samudera melintasi benua
menjadi cincin hitam kemerahan
ulurkan, ulurkan jari manismu, ulurkan tangan pualammu itu
biar ku lingkari dengan topan dari dadaku
aku adalah penyair, baru sekali sejurus bicara padamu
namun aku mencintaimu seperti hantu
Jakarta, 13 Juni 2003
Sajak Ulang Tahun
:Lizwa Sephia
selamat pagi lizwa, hari ini udara segar,
matahari berpelukan dengan awan
selendang angin berkibar lembut seperti rambutmu
jerit malam telah terhenti, di persimpangan
disini
dengan puisi aku bernyanyi, untukmu
dengan puisi aku bercinta, denganmu
dengan puisi aku menyurat rindu, padamu
dengan puisi aku berdoa, untukmu
terimakasih atas gebu rindu dan cemburu
ingin aku datang kembali ke pantai dan taman itu(hanya kau & aku yang tahu)
tidak hanya diam, tapi bertukar sejarah tentang lembarlembar panjang
yang merah dan biru yang putih dan abuabu
ingin ku meraihmu dalam nyata
dan kau balas dengan senyuman manja
begitu benarkah lamanya
setiap kali ku tuliskan sajak untukmu
beribu balon mengapung di langit
bergumpalgumpal rindu melayang di pelupuk
melayangi gerimis di taman kota
selamat ulang tahun lizwa sephia
ini tanganku genggamlah utuh
sampai suatu ketika langit runtuh
Suatu Hari di Bulan Juni
disini membentang padang gelisah
malam layu di tanggal limabelas
suara tanah resah perlahan mendesah
kutunggutunggu purnama, langit memelas
jendela terbuka, tempias hujan cuka
dimana dimana kau berdiri saat ini?
di gerbang tua itukah?
lagilagi kau benamkan dirimu, seperti tahun lalu
kau pandang langit yang terpotongpotong dari balik jendelamu
sesekali kau usap tanah merah basah
ketika kau pungut serpihanserpihan kaca yang pecah
selendang angin yang berkibar lembut di kepalamu itu
bergumam langgam megatruh, sampai juga kiranya di wajahku
sebait duka di balut kerudung merahmu
senja hujan di alam tidurmu
suatu masa setelah bunga mengering
kau berseteru dengan matahari
mengibaskan sayapmu meninggalkan fajar
dan kau berpikir bahwa telah terbang jauh
meninggalkan jejak kakimu di batu hitam
bermainmain dengan awan berbulan madu dengan bintang
hingga kau lupa bahwa air yang memberi daya itu
berasal dari jauh di kedalaman bumi kerontang
kita selalu bermainmain api setiap waktu,
tak pernah pula terbakar
kita selalu merekareka sayapsayap
namun tak pernah bisa terbang
kita seperti membangun rumah beratap perselisihan
bertiang persahabatan
rindu terseok terlukaluka sepanjang jalan
tersayat malam yang meruncing di lipatan kelam
sungguh berat kantuk ini ku tahan
ingin segera rasanya rebah dalam mimpi malam
bila saja tubuhku lunglai menjadi gelombang dan topan
kan ku belit tubuhmu ke kedalaman lautan
runtuh, runtuhlah gunung kapur di laut merah
di puncak sepi, mendebu, menebar di garisgaris hitam
dalam udara dukana di trotoar rindu
dan diamdiam gerimis menitik perlahan
terpencar di bebatuan
tersengalsengal nafas senja di musim bisu
meratapi matahari yang hampir habis di cakrawala abuabu
dan aku mengejar bayanganku yang hampir hilang,
sedang engkau sembunyi diamdiam di balik kelam
disanalah kau duduk, di bangku tua nan setia
seolah senja selamanya berkabut disana
lalu ku cumbui angin ketika suatu pagi matahari terlena
begitulah setiap kali pagi tiba, ku mamah biak duka
dengan piring kosong setiap kalinya
Jakarta, 15 Juni 2003
