Friday, July 25, 2003



Aku Mencintaimu Diamdiam

aku mencintaimu diamdiam
tanpa ucap tanpa dekap tanpa permata
namun selalu ada membelaimu berirama
seperti debur ombak membelai pantai siang dan malam

aku mencintaimu diamdiam
tanpa rayu tanpa ragu tanpa goda
selalu tegak menjulang ke angkasa
seperti merapi yang tegar dan mengepul sepanjang masa

aku mencintaimu diamdiam
seperti cintanya angin pada awan
tak peduli putih atau hitam
tetap di genggam kemanapun melayang

Jakarta, 17 Juli 2003


Prolog Cinta

begitulah cinta, memberikan secuil dirinya
tumbuh di bumi sebagai rumput
setiap di cabut tumbuh kembali
menjadi cemburu di dalam hati

begitulah cinta, memberikan setetes dirinya
menggenang di bumi sebagai laut
menguapkan air ke langit menjadi mendung
dan menantinya kembali sebagai rindu dalam hati

begitulah cinta, memberikan segenggam dirinya
tertanam di bumi sebagai gunung
ketika jauh tersimpan di mata menjadi permata
ketika dekat kita daki ketinggiannya

Jakarta, 17 Juli 2003


Visualisasi Mimpi

klap!
terbang aku di padang rumput bukit dan gunung
tak ada pepohon hanya angin menggiur

di kejauhan di puncak gunung,
kulihat engkau melambailambai seperti nyiur di pantai
adakah kau lihat selainku di padang rumput ini?
atau kau sedang memanggil angin yang tak sampaisampai?

lalu aku terbang mendekat dan kukatakan;
"ini angin telah sampai padamu,
segeralah naik atau akan berlalu"
dan kau berkata;
"kau bukanlah angin, tetapi debu"
klap!
aku terbangun sebagai debu

Jakarta, 17 juli 2003


Sepi dan Rindu

rindu yang kau sembunyikan di kolong ranjang
melahirkan sepi di langitlangit kamar
ketika malam tak jua mampu membius mata
api menyalanyala di dada

kenapa engkau kemas rindu ketika ia ada
dan kau dekap sunyi demikian erat
walau ia berontak ingin berlari
tanpa kau sadari, rindu yang kau tepikan itu
akan kembali, menjadi bara api membakar diri

disuatu nanti kau akan mengerti
bahwa masa lalu memberikan kenangan berarti
dan cinta memang kadang sulit dikenali

Jakarta, 15 Juli 2003


Suatu Sore

kutunggutunggu langit terbuka suatu sore
di lembah dimana jemari tak henti bergelombang
mendeburkan sajak rindu nestapa
pada kembangsore di bukit gulana

kutunggutunggu, hingga malam menelan semua
menindih senja yang tak lagi kuasa
lalu kuturunkan pundak, kuayunkan kaki
karna disana tak kudapati denyut nadi

suatu sore ketika matahari redup di ujung kaki
selesat cahaya menelusup ke dada
mendentingkan nadi hingga kini
untuk menanti sore kembali

Jakarta, 15 Juli 2003


Seorang Lelaki Bicara Pada Langit

seorang lelaki bertanya pada langit
tentang gerimis turun tahun lalu
ketika berlian hancur di mata
tersebar di tanah merah sebagai duka

lelaki itu berang karna langit tak henti berombak
dimakinya bulan hingga tertunduk di lautan
dihalaunya gemintang hingga berjatuhan di semak belukar
lalu, lelaki itu disekap mendung berlaksa malam

Jakarta, 16 Juli 2003

Ijinkan aku mencintai-Mu

ijinkan aku mencintai-Mu,
lebih dari sekedar cintanya orang kehausan pada air segar

Kekasih, jangan jauh dariku
apalah arti hidup ini tanpa kasihsayang-Mu
apalah arti semua ini tanpa lembut sentuh-Mu
karena hanya Engkaulah sesungguhnya Cinta

dari lubuk hatiku yang paling dalam
kuikrarkan janji setia pada-Mu
karena hanya Engkau-lah Kekasih sejatiku
karena hanya Engkau-lah yang mengerti aku

Kekasih, ijinkan aku mencintai-Mu
lebih dari cintanya matahari pada api
lebih dari cintanya malam pada hitam

Jakarta, 15 Juli 2003


Kucari Engkau

kucari-cari Engkau di pinggirpinggir kota
di jembatanjembatan penyeberangan
di lampaulampu merah
di pantipanti asuhan
dimanamana kucari Engkau

dan bila kurasa hadir-Mu disana
damai kiranya hati dan jiwa

Jakarta, 15 Juli 2003


Ode pada Nanang Suryadi

kamar pengap, aroma buku
tempat tidur dan bantal bau
sepasang laut, jemari gelombang
sunyimu disana

dering telephon koin
teras tempias basah kakikaki
di pinggir jalan
sunyimu disana

Jakarta, 15 Juli 2003


Di Gerbang Sepi

di hari ini di depanku gerbang sepi
kupanggul bukubuku ku tatap pagi semu
slideslide jejak berputar secepat cahaya
lalu berhenti seketika di telapak kaki diam
di dera debu liar berkepanjangan

di titik sunyi tempatku berdiri langit bergelombang
kabutpun merendah barisan merah perlahan tenggelam
nyanyian lara rindu tak juga terdiam
dalam degup jantung yang semakin kencang
kakiku terpaku seperti tiang pancang

di seberang kulihat bulan berselendang hitam
mentitikkan airmata diamdiam, entah sesal entah senang
berdiri ia termangu menatapku yang diamkaku
mengharap gerbang sepi runtuh perlahan
hingga rindu tak lagi bisa ditawar

Jakarta, 15 Juli 2003


Selamat Malam Kekasih

demikian berat kantuk ini
namun hurufhuruf mengganjal di kelopak
hingga malam turun dan naik kembali
bersama drak lamban roda pedati

oh Kekasih, beri aku kantuk seperti dulu bayi

selamat malam Kekasih
aku datang lagi malam ini
seperti jauh hari aku disini
menumpahkan cairan ilusi

selamat malam Kekasih
sejauh apapun aku pergi
tak bisa kutolak untuk kembali

Jakarta, 16 Juli 2003


Kulihat Susumu

kulihat susumu dalam pincuk daun pisang siang itu
kau bawa berlari sesekali berhenti
dan seorang lelaki menunggu di pematang
sambil berdoa semoga bebiji padi berisi panen nanti

kulihat susumu tumpah di dada
berleleran membasahi kebaya
dan kau hanya terpaku
ketika lelaki itu bertanya tentang susu

kulihat susumu mengering di dada
dijarah guncang dan langkah kaki
dibelai sepoi perjalanan
sedang lelaki itu menanti sepincuk susu daun pisang
saat kau datang siang itu di pematang

Jakarta, 16 Juli 2003

Thursday, July 17, 2003



Hanya Menepi

aku menepi dari keramaian ilalang
ketika hujan dan angin datang bandang
menghempaskan keakuratan pandang
pada seraut wajah di ujung siang

lalu kejap raut hilang dalam ilalang
mengusik malammalam bak kerasukan
kuteriakkan namamu demikian lantang
namun jarak dan waktu tetap membangkang

di waktu nanti kutinggalkan tepian
jangan lagi engkau menghilang
oleh hujan dan angin yang kadang datang
karena aku pasti kembali sebab aku hanya menepi


Dalam Remang

dalam remang yang tak juga terang
kubingkai sepi dalam kediaman
merekareka sua bila musim tiba
entah bagaimana bila nyata

dalam remang yang semakin garang
kutumpuk senja dalam lukisan
kukumpulkan malam dalam keranjang diam
untuk suatu rindu tersayang

dan bila musim merunduk pada kita
senja dan malam akan bicara
tentang rindu yang terkungkung sekian lama
dalam diam dalam sepi dalam nyata

Jakarta, 14 Juli 2003


Gelegar Rindu

gerimis turun di barat
membasahi selendang hitam perawan
menyelinap seperti kilat dalam kemendungan
menggelegarlah rindu, henyak diam

gerimis turun di timur
membasahi wajah lelaki karam
yang tengadah di malam mencari bintang
menggelegarlah rindu
mengkap dada, luruh jangga


Seorang Perempuan Menyerahkan Hatinya pada Salju

seorang perempuan menyerahkan hatinya pada salju
di antara perdebatan musim tak usai
disilangkannya tangan, diciptakannya gerbang
ketika musafir datang memberi salam
sementara hatinya menggigil kedinginan

seorang perempuan mengenang jerit tangis di pangkuan
di garis hitam tengah hutan
mencoba menghentikan laju waktu
yang tetap saja menyeretnya ke dalam lautan garang panjang

seorang perempuan menyerahkan hatinya pada salju
sementara di tangannya api menyala biru


Mengalirlah Sunyi

mengalirlah sunyi ke rahimmu
ketika sepi menguap dari dadaku
menetes luruh dari tepi tubuhku
tak henti

mengalirlah sunyi dari pelupuk
menjadi gerimis menitik di pundakku
mengguncang dada
dalam dekap maha rindu

sunyi menjadi hujan
di kandang rindu tanpa atap
menggenang resah
menyengat aroma gelisah

mengalirlah sunyi ke dadaku
dari desah panjang dan sebam matamu
tenggelamkan hatiku

Jakarta, 13 Juli 2003


Istana Pasir

engkau hujan yang tak pernah dapat kugenggam dengan jemari tangan
namun membasahi sekujur tubuhku, menggigil kedinginan
engkau api yang menyulut sumbu di dadaku hingga mendidih darahku
engkau sayap yang kureka namun tak pernah bisa menerbangkanku
engkau angin yang tak pernah bisa ku dekap dengan segala usaha
namun ada di setiap kembara jiwa

disana laut menganga begitu lebar,
perahuperahu kecil hendak berlayar ke tujuan
dan di pantai tempat kita membangun istana pasir ini
gerimis mengintip di pelupuk mata
karna sebentar lagi ombak datang merubuhkannya
lalu, apakah kita mampu membangunnya seperti semula?


Demikianlah Sepi
: Lizwa Sephia

memang demikianlah sepi menggenggam rindu
saat kita datang dengan bergunung rindu
bangunan tua renta kota lama membisu
lalu kita kelabuhi diri ketika itu

memang demikianlah sepi seperti hujan dalam kabut
turun di sepanjang padang ilalang dan bukit batu
ketika kota cahaya menghinggapi lamunan
luluhkan sunyi dalam denyar, rindu

memang demikianlah sepi membingkai sendiri
mengurai jejak yang terlentang kaku di bumi
kepapaan seolah melekat abadi


Di Aceh

risau menyayat perut, dada dibakar mesiu
kuncup berjajar perlahan layu
terulang jua di tanahmu

atapatap desa dan kota meratap
sepanjang hari mendung di musim abu
angin nestapa mendesah limbung
terulang jua di tanahmu

di Aceh, sembilu mengiris langit
menyayat-nyayat mega menurunkan gerimis
semua bergumam semua berbisik, menyebut nama-Mu

tanah meleleh dalam deram tak tertahan
di hari kelabu, di hari kelam, di hari pembunuhan
di hari hitam


Album tua

sebuah album tua menggantung di jendela
potret kapal besar membawa bertonton beras
berangkat dari pelabuhan di Jakarta
di sampingnya ada kapal besar pula
membawa bertonton ikan dari laut Indonesia
aku tersenyum memandangnya

kubuka lagi album tua itu
potret-potret para duta bangsa di kalungi medali di negeri manca
lebar sekali senyum mereka
aku bangga memandangnya

lalu kulihat album baru tanah airku
tergeletak lesu di beranda rumahku
berlinang airmataku


Bila Aku Harus Berkata Hari Ini

bila aku harus berpikir hari ini
tentang negri yang dulu tentram damai
tentang negri yang dulu di segani
tentang negri yang dulu kaya raya (juga kini)
tentang negri yang dulu katanya surga dunia

maka yang kukatakan hanyalah; kacau!! saat ini!
impian kemerdekaan menjadi bayangbayang, siang malam
reformasi hanya menambah kosakata bahasa populer
kubilang padamu; Indonesia Kacau!!

demikianlah bila aku haru berkata saat ini juga
sambil melihat bintang terang di atas sana


Ode Rumah Kita

rumah kita, teras kita
di tepi jalan
sepi kini kiranya

malam diam
bulan sepasang
kesepian kiranya

Jakarta, 08 Juli 2003


Tuesday, July 08, 2003



Angin Dukana

angin dukana melayanglayang di depan jendela
ketika gerimis turun membingkai airmata
sepasang matahari bertolak dari senja
meninggalkan taman penuh bungabunga

langit biru perlahan memendung
ketika malam mendekat, senja berlindung
angin dukana mengusik dedaun gemerisik di tebing senja
lalu bisik tenggelam di kawah luka

dari kedalaman palung dada suara lirih memanggil
menyuarakan rindu putih menggigil
laut merah tertunduk, resah makin
pandangi bayang di depan cermin

Jakarta, 03 Juli 2003


Aku tak Tahu

aku tak tahu
dengan apa kau tarik aku ke senja panjang
hingga kututup mata pun garis merah kesumba tetap melintang
lalu harihariku merindukan pagi garang
yang tak jua datang

di kamus mana ku cari arti rindu kumbang gurun
yang tak bisa lari dari kejaran matahari berduyun
lalu harihariku bermain pasir menyipitkan mata
menanti hujan tak kunjung tiba


Daun

seperti sebelumnya
pagi menyusui hehijau
begitu setiap kali pagi, dimuntahkannya susu
dan pohon memberinya nama; daun

ketika mulai tegak megar
dedaun bermainmain dengan angin
bergoyanggoyang
pohon pun ikut bergoyang ikut irama
melang dedaun terjatuh siasia

Jakarta, 02 Juli 2003


Langit Murung di Tanah Berbatu

bunga kamboja telanjang dan menggigil di pangkuan
padang hitam memanjang, angin mendesah resah
berkerisik di antara tanaman batu
meniupniup bara, menyalakan kemarau
membakar tumpukan duka

kabut datang mencaricari puri
lalu pergi tanpa jejak kaki
ilalangilalang hitam merapat di garis sungai
meneguk tetesan gerimis siang hari
langit murung di tanah berbatu hari ini

bunga kamboja telanjang melayanglayang dalam gerimis
berguguran di dada retak, mengering di telapak telak
di puncak sepi kabut kelam berdatangan
berkerumun dalam langit murung di tanah kenangan

Jakarta, 25 Juni 2003


Cermin di Wajah Purnama

dentingdenting piano menusuk jazad pungguk demikian terpuruk hingga kelapukan menggigiti jiwa yang terantuk bebatuan kaca di malam ketika sembilu rindu menggunung api di samudra senyap dimana sayapsayap ombak patah di karang hitam di depan cermin

masih menggaris sayatansayatan senja di tubuh awan yang limbung karena angin begitu panik mendengar gelegar meletusnya gunung api di samudra senyap dan mendekatnya purnama di daun jendela

demikian besarnya cermin di wajah purnama merah jambu yang tersenyum di depanku hingga keberadaanku seperti rangrang yang selalu terpeleset ketika berjalan di atas cermin di wajah purnama

dentingdenting piano menggigiti puting gunung api, menggeliat menyemburnyembur dengan amarahnya mengangkasa memecah cermin di wajah purnama dan serpihserpihnya menjadi gerimis merajam tanah merah di bukit duka, ha ha ha

Jakarta, 24 Juni 2003


Sebagai Kabut Hitam

merah tersiram bungabunga
tersambung hitam membekap salju di sekujur tubuhmu
berjalan malumalu di koridor kantor sore itu
tak setitikpun gunung melepuh di tanahmu
hanya bukit hitam yang memperolok pelangi
sebagai prasasti sakti

di hadapanmu kabut hitam menggelepar tergilas deru menggeretak
memunguti catatancatatan kecil di pelupuk mata
dalam derai gerimis di tempurung senja berjubah kumal
kumal sekali

jadilah aku seorang gevoelig melayang di atas gurun
mengerang oleh tumbukan siang
sekarat tersayatsayat rembulan
menggelepar di hadapmu sebagai kabut hitam


Suatu Pagi di Bulan Juni

Morning Dad,...
sapamu suatu pagi ketika mata masih dingin
suara tiktak di dada lembab menyanak
slideslide mimpi terhenyak merentak igau

Morning Hunny,...
jawab fajar luluhkan mata dalam denyar
di ujung lembah tingkap rindu demikian haru
menjulurjulur cahaya di langit gelisah
kutunggutunggu senyummu berselancar di laut batu

Dad.. i miss you, bisikmu
rindu berayunayun di rantingranting kecil
berlomba dengan embun di daundaun pagi
matahari di pacu di pelana kelabu
menapaki salju di musim berbagi yang kelu

Hunny, i miss you too, bisikku
ku tunggutunggu musim demikian lamanya
saat ingin ku menegurmu dalam sapa
menadah kutuk dada makin lapuk
untuk membuka jendela bersama

Jakarta, 20 Juni 2003