Aku Mencintaimu Diamdiam
aku mencintaimu diamdiam
tanpa ucap tanpa dekap tanpa permata
namun selalu ada membelaimu berirama
seperti debur ombak membelai pantai siang dan malam
aku mencintaimu diamdiam
tanpa rayu tanpa ragu tanpa goda
selalu tegak menjulang ke angkasa
seperti merapi yang tegar dan mengepul sepanjang masa
aku mencintaimu diamdiam
seperti cintanya angin pada awan
tak peduli putih atau hitam
tetap di genggam kemanapun melayang
Jakarta, 17 Juli 2003
Prolog Cinta
begitulah cinta, memberikan secuil dirinya
tumbuh di bumi sebagai rumput
setiap di cabut tumbuh kembali
menjadi cemburu di dalam hati
begitulah cinta, memberikan setetes dirinya
menggenang di bumi sebagai laut
menguapkan air ke langit menjadi mendung
dan menantinya kembali sebagai rindu dalam hati
begitulah cinta, memberikan segenggam dirinya
tertanam di bumi sebagai gunung
ketika jauh tersimpan di mata menjadi permata
ketika dekat kita daki ketinggiannya
Jakarta, 17 Juli 2003
Visualisasi Mimpi
klap!
terbang aku di padang rumput bukit dan gunung
tak ada pepohon hanya angin menggiur
di kejauhan di puncak gunung,
kulihat engkau melambailambai seperti nyiur di pantai
adakah kau lihat selainku di padang rumput ini?
atau kau sedang memanggil angin yang tak sampaisampai?
lalu aku terbang mendekat dan kukatakan;
"ini angin telah sampai padamu,
segeralah naik atau akan berlalu"
dan kau berkata;
"kau bukanlah angin, tetapi debu"
klap!
aku terbangun sebagai debu
Jakarta, 17 juli 2003
Sepi dan Rindu
rindu yang kau sembunyikan di kolong ranjang
melahirkan sepi di langitlangit kamar
ketika malam tak jua mampu membius mata
api menyalanyala di dada
kenapa engkau kemas rindu ketika ia ada
dan kau dekap sunyi demikian erat
walau ia berontak ingin berlari
tanpa kau sadari, rindu yang kau tepikan itu
akan kembali, menjadi bara api membakar diri
disuatu nanti kau akan mengerti
bahwa masa lalu memberikan kenangan berarti
dan cinta memang kadang sulit dikenali
Jakarta, 15 Juli 2003
Suatu Sore
kutunggutunggu langit terbuka suatu sore
di lembah dimana jemari tak henti bergelombang
mendeburkan sajak rindu nestapa
pada kembangsore di bukit gulana
kutunggutunggu, hingga malam menelan semua
menindih senja yang tak lagi kuasa
lalu kuturunkan pundak, kuayunkan kaki
karna disana tak kudapati denyut nadi
suatu sore ketika matahari redup di ujung kaki
selesat cahaya menelusup ke dada
mendentingkan nadi hingga kini
untuk menanti sore kembali
Jakarta, 15 Juli 2003
Seorang Lelaki Bicara Pada Langit
seorang lelaki bertanya pada langit
tentang gerimis turun tahun lalu
ketika berlian hancur di mata
tersebar di tanah merah sebagai duka
lelaki itu berang karna langit tak henti berombak
dimakinya bulan hingga tertunduk di lautan
dihalaunya gemintang hingga berjatuhan di semak belukar
lalu, lelaki itu disekap mendung berlaksa malam
Jakarta, 16 Juli 2003
Ijinkan aku mencintai-Mu
ijinkan aku mencintai-Mu,
lebih dari sekedar cintanya orang kehausan pada air segar
Kekasih, jangan jauh dariku
apalah arti hidup ini tanpa kasihsayang-Mu
apalah arti semua ini tanpa lembut sentuh-Mu
karena hanya Engkaulah sesungguhnya Cinta
dari lubuk hatiku yang paling dalam
kuikrarkan janji setia pada-Mu
karena hanya Engkau-lah Kekasih sejatiku
karena hanya Engkau-lah yang mengerti aku
Kekasih, ijinkan aku mencintai-Mu
lebih dari cintanya matahari pada api
lebih dari cintanya malam pada hitam
Jakarta, 15 Juli 2003
Kucari Engkau
kucari-cari Engkau di pinggirpinggir kota
di jembatanjembatan penyeberangan
di lampaulampu merah
di pantipanti asuhan
dimanamana kucari Engkau
dan bila kurasa hadir-Mu disana
damai kiranya hati dan jiwa
Jakarta, 15 Juli 2003
Ode pada Nanang Suryadi
kamar pengap, aroma buku
tempat tidur dan bantal bau
sepasang laut, jemari gelombang
sunyimu disana
dering telephon koin
teras tempias basah kakikaki
di pinggir jalan
sunyimu disana
Jakarta, 15 Juli 2003
Di Gerbang Sepi
di hari ini di depanku gerbang sepi
kupanggul bukubuku ku tatap pagi semu
slideslide jejak berputar secepat cahaya
lalu berhenti seketika di telapak kaki diam
di dera debu liar berkepanjangan
di titik sunyi tempatku berdiri langit bergelombang
kabutpun merendah barisan merah perlahan tenggelam
nyanyian lara rindu tak juga terdiam
dalam degup jantung yang semakin kencang
kakiku terpaku seperti tiang pancang
di seberang kulihat bulan berselendang hitam
mentitikkan airmata diamdiam, entah sesal entah senang
berdiri ia termangu menatapku yang diamkaku
mengharap gerbang sepi runtuh perlahan
hingga rindu tak lagi bisa ditawar
Jakarta, 15 Juli 2003
Selamat Malam Kekasih
demikian berat kantuk ini
namun hurufhuruf mengganjal di kelopak
hingga malam turun dan naik kembali
bersama drak lamban roda pedati
oh Kekasih, beri aku kantuk seperti dulu bayi
selamat malam Kekasih
aku datang lagi malam ini
seperti jauh hari aku disini
menumpahkan cairan ilusi
selamat malam Kekasih
sejauh apapun aku pergi
tak bisa kutolak untuk kembali
Jakarta, 16 Juli 2003
Kulihat Susumu
kulihat susumu dalam pincuk daun pisang siang itu
kau bawa berlari sesekali berhenti
dan seorang lelaki menunggu di pematang
sambil berdoa semoga bebiji padi berisi panen nanti
kulihat susumu tumpah di dada
berleleran membasahi kebaya
dan kau hanya terpaku
ketika lelaki itu bertanya tentang susu
kulihat susumu mengering di dada
dijarah guncang dan langkah kaki
dibelai sepoi perjalanan
sedang lelaki itu menanti sepincuk susu daun pisang
saat kau datang siang itu di pematang
Jakarta, 16 Juli 2003
