Saturday, August 30, 2003



Sepi Makin Kuyu

malam tumpah
gemintang berserakan di lantai
sabit berlayangan di langitlangit
jendela muram, hurufhuruf terkapar
tak ada ceracau dan dusta
hanya rindu menangkar mangu
kemudian kupapah sepi yang semakin kuyu
menuju pintu lapuk punggungku

Jakarta, 13 Agustus 2003


Di Hotel

seorang lelaki menunggumu di sebuah hotel
kau bergegas kesana sepulang kerja
kau tak ingin orang lain tahu
tentang kisahmu malam ini dengan lelaki itu

segelas bir tumpah dalam darahmu
sambil kau rebahkan tubuhmu yang mulus itu
tak tergambar apapun, hanya semata madu
malam itu menjadi malam pertama bagimu
bersama lelaki bermata biru

seorang lelaki lain menahan hasrat di ruang tamu
menunggumu hingga lutut kelu, tanpa tahu
padahal ia telah memasakkan makanan kesukaanmu
dan ketika kau datang, semua itu telah menjadi bau
seperti bau tubuh lelaki bermata biru
yang perlahan membunuhmu, tanpa kau tahu

Jakarta, 14 Agustus 2003


Secangkir Teh

seperti pagi-pagi sebelumnya
kau sajikan secangkir teh hangat
selalu kutandaskan hingga senyummu
dan pagi ini secangkir teh kembali tersaji
walau hangatnya tak dapat kurasa lagi
karna matahari kau bunuh malam tadi

Jakarta, 15 Agustus 2003


Gerhana Jiwa

dan kau lihat perempuan itu berjalan membelakangi purnama
hingga bayangannya yang hitam besar menutupi tubuhmu
maka gerhana jiwa di titikmu
mengapa kau masih berdiri disitu?

Jakarta, 18 Agustus 2003


Lelaki dan Sarung

seorang lelaki pergi membeli baju dan celana
karena yang melekat di tubuhnya tak ubah seperti sarang labalaba

ketik lelaki itu berdiri di tepi telaga
jelas sekali terlihat puting dada dan rambut di selangkangannya
namun masih saja orang di luar sana mengatakan;
"kau tampan dengan baju dan celana itu"

lelaki itu keluar masuk pertokoan
namun uang di tangan tak cukup untuk membeli pakaian
lalu lelaki itu memutuskan membeli setangkai bunga mawar
karena lelaki itu masih punya sarung tenun kumal
walau dengan begitu dia dianggap sebagai orang gila
oleh orang di luar sana

Jakarta, 17 Agustus 2003


Penghapus Tinta

barangkali aku membutuhkan penghapus tinta
untuk menghapus sajaksajak yang tertulis di dinding dan pintu
lalu kau berbaik hati memberikan penghapus tinta padaku
dan ketika penghapus tinta itu telah di tanganku
penghapus tinta itu terjatuh dan tumpah di lantai kamarku
karena tanganku gemetar dan dadaku berdebar terlalu kencang
saat terlalu lama termangu di jendela hatimu

Jakarta, 17 Agustus 2003


Telur Pecah di Bulan Desember

burung yang bercicit-cicit pagi ini
mengingatkanku padamu tentang desember tahun lalu
saat telur pecah di sebuah kamar kontrak
yang baunya tetap menyengak hingga saat ini

tanpa sepengetahuanmu
serpihan kerak telur itu kusimpan rapi
bersama setumpuk surat darimu dan sajak untukmu
tertata di antara serat daging pengakuanku

sejak saat itu aku selalu memikirkanmu
dan berusaha untuk membunuhmu
namun tak pernah bisa kulakukan
karena engkau menguburku lebih dulu

Jakarta, 19 Agustus 2003


Kartu Telephon

kartu telephon yang berserak di bawah tempat tidurmu itu
adalah sebagian hidupku yang kau ambil tanpa kutahu
kemudian sajaksajak lahir atas namamu, mengalir
menghanyutkan tempat tidurku

seringkali angka-angka berjatuhan dari matamu
menimbulkan dering yang memacu jantungku
seperti jam weker tanpa setting waktu
berdering setiap kali kau mau, dan kutunggu

dalam kartu telephon yang berserak di bawah tempat tidurmu
juga angka-angka yang berjatuhan dari matamu
ada bahasa yang sangat kita hafal, fasih kita lafazkan
dan di luar itu, ada bahasa yang sangat kita kenal
namun belum pernah kita ucapkan

Jakarta, 19 Agustus 2003

Wednesday, August 20, 2003



Catatan Darah dan Airmata

engkau pernah berikan padaku
semangkuk airmata dan sepincuk darah
dari luka sayatan peristiwa
aku meminumnya

lalu kuberikan padamu
seladang anggur dan setaman bunga
di masa ketika hari ini belum tiba
kau sungguh menikmatinya

dan ketika apa yang kau berikan
menjadi catatan di buku merahku
semua tumpah seperti semula

Jakarta, 05 Agustus 2003


Sebuah Drama

masih tersisa banyak babak dari drama yang kau mainkan
awalnya aku adalah penonton yang setia
mengikuti peranmu, lelaki itu, juga mereka
kemudian kau tawarkan padaku satu peran
aku ragu, rasanya aku tak mampu
tapi saat genggaman tanganmu begitu erat
tak kuasa ku menolak ajakanmu

kau berikan aku peran manis
layaknya seorang anak kesayangan ibu
kau gamit aku dalam beberapa babak
hingga tak kusadari bahwa ini adalah sebuah drama

lalu kau katakan bahwa drama akan segera berakhir
dan aku harus kembali ke pinggir, menonton adegan di babak akhir
tentang pertemuan pemeran utama lelaki dan perempuan
sambil memberikan tepukan ketika layar mulai turun perlahan
aku lupa bahwa aku hanya pemeran figuran

Jakarta, 05 Agustus 2003


Keraguan

sebenarnya aku ragu memanggilmu kekasih
sebab jemariku masih merabaraba peta yang kau beri
dan aku belum tahu di kota apa kau tinggal
padahal telah banyak jalan dan kota ku hafal
tapi kau memintaku terus mencari

mengapa tak katakan saja dimana kau berdiri?
agar aku tahu pasti bahwa kau ingin aku disini
menanti musim berganti

Jakarta, 06 Agustus 2003


Di Ruas Daun

aku ingin mengajakmu berjalanjalan saat malam mendung
menelusuri ruasruas daun kering, sejenak
menapaki tiap ruas yang telah menguning ringkih
"perlahan dan hatihati, jangan sampai ruasruas itu patah", kataku

lalu kusiramkan warna agar daun itu menjadi hijau dan segar kembali
dan biarkanlah hujan melunturkan warna, menghancurkan daun itu
agar serpihannya menyuburkan kembali pohon yang hampir mati,
di depan kita

Jakarta, 06 Agustus 2003


Kutinggalkan Saja Bangku Tua

mungkin kita harus menentukan dimana kita bertemu nanti
saat haus dan dahaga tak mungkin lagi tertahan
aku telah bosan dengan hidangan jarak
yang selalu sama setiap harinya
aku pun mulai tak jenak di bangku tua tepi kota
yang mulai renta karna penantian begitu lama

kutinggalkan saja bangku tua tempat pembantaian bunga
daripada ditimbun serpihserpih hujan dan luruhan senja
biar kunaiki kereta senja yang kau tunjukkan
walau aku belum tahu dimana stasiun hentian

Jakarta, 06 Agustus 2003


Beri Aku Layang-layang Saja

seandainya bisa kukendarai gumpalan awan
belum tentu aku sampai disana
sebab ada kalanya awan menyebar
bahkan mungkin aku tak pernah sampai disana
karna angin tak tentu arahnya

seandainya kau ingin aku disana
bisakah kau beri aku layanglayang saja?
sebab layanglayang tahu angin mengarah kemana
seperti waktu kanak layanglayang hingga senja
dan bila aku tersesat, tentu kau tahu aku dimana

Jakarta, 06 Agustus 2003


Bayanganku

barangkali aku tak perlu lagi mencari
sebab matahari telah terbit di kepalaku
dan kulihat bayanganku sendiri di depanku
meski tak serupa, namun itu nyata
karna bayangan hanya punya satu warna

lalu aku mewarnai bayanganku sendiri, walau aku tahu
ketika telah selesai, bayangan itu telah bergeser pergi
namun dengan begitu aku tahu, bayangan itu telah terwarnai
sebelum pergi

Jakarta, 07 Agustus 2003


Karena Masa Lalu

seringkali kita bertemu
bercakap seolah tak ada orang lain
dan kita tak menyadari,
waktu termakan begitu banyak,
hanya untuk sebuah kata; rindu

selama itu kita belum juga berjabat tangan
untuk saling mengatakan siapa nama asli pemberian ibunda
karna kita belum cukup punya keberanian untuk mengatakannya

masa lalu kadang memang menakutkan
menyurutkan bunga yang akan mekar
mengundang mendung kembali datang
tapi bukankah kita bertemu di masa lalu ini?

Jakarta, 07 Agustus 2003


Aku Perlu Liburan

kurasakan jemari melemah karna ejakulasi setiap hari
kepalaku meregang karna orgasme berkali-kali
aku butuh olahraga dan rekreasi kemana suka
aku perlu liburan kiranya

si putih perawan slalu menantiku untuk bersenggama
di setiap hari, di setiap kali jeda tercipta

sabarlah sayang, tutuplah dahulu pintu dan jendela
aku ingin menghirup udara segar di luar sana
nanti pasti aku datang dengan kesegaran
karna bersenggama denganmu menjadi kebutuhan
yang harus tertuntaskan

Jakarta, 08 Agustus 2003

Thursday, August 14, 2003



Kau Memesan Bayang

kau memesan bayang untuk api
yang terus menyala membakar dalam ruang
yang sesungguhnya lama tak kau tempati
sejak mimpi patah dini hari

kau memesan bayang untuk kerikil tajam
yang sembunyi di dasar telaga
kau tunda pusaran dewa mengangkatnya
dengan mawar yang kau pupuk di ladang duka

kau memesan bayang untuk mendung
yang tak lama lagi akan terkoyakkoyak
oleh pertentangan matahari dengan rembulan
lalu mendung mengucurkan darah di tanah rawan

Jakarta, 31 Juli 2003


Tentang Sebuah Mimpi

kulihat angin buta berputarputar di tengah kota
seekor kijang mati terbakar di tanah hitam karna gelegar

hehijau terobekrobek terkulai di semaksemak
bintangbintang jatuh di tengah huta, ada yang berlarian

lalu kulihat belibis putih beterbangan entah tujuan
karna lautan merah, lautan merah
ahoi, langit kelabu di hujan abu kotamu

hai, ada anak raja! ada anak raja dari tengah negara!
diarak ombak di tandu awan bergelombang di jalan

dia datang! dia datang tanpa tentara!
sorai melayanglayang penuhi angkasa, dia raja
entah apalagi akan mengoyak jubahnya

Jakarta, 01 Agustus 2003


Pantai Senja Selatan Jogja

kubaca sejarah kerut bibir dan kening
cermin berkacakaca, airmata menetes di padas
hurufhuruf berguguran dari catatan nostalgia
tentang sebuah pantai di selatan jogja
: jejak asmara

kualihkan ombak ke wajahmu ketika itu
buihnya lenyap di matamu, nafas berlari dari senja ke dada
lalu kau kejar hingga tenggelam aku dalam bayanganmu

ada buih memijar di sudut matamu
ketika mata saling bertentang begitu terbuka

di pantai senja selatan jogja, kulepas senja
matahari tenggelam di mataku, rembulan mekar di matamu
dan kini kita setengah mati melupakan itu
untuk mengingat senja suatu waktu

Jakarta, 01 Agustus 2003


Dalam Waktu

ada pertikaian yang tak pernah selesai diperdebatkan diri
tentang baru dengan gunung, pantai dengan laut
dan rindu yang terselip di antara akar api

catatan buku merah dan putih menyimpan gerimis dan peluh
lubanglubang terlewat untuk diisi
dan kesiasiaan lumuri otot kaki

dalam pertikaian yang tak pernah selesai
bunga berguguran di musim api, cahaya berebut celah
namun malam telah terbunuh oleh pagi

Jakarta, 04 Agustus 2003


Di Perapian

kau berdiang di perapian yang dinyalakan seseorang, saat dingin
namun sesungguhnya kau takut nyala api
dan kau tutup matamu saat perapian menyala
hingga kau tak melihat tangan yang terbakar karenanya

kini hangat menjalari seluruh tubuhmu
sementara seseorang susah payah padamkan bara di tangan
dengan airmata yang menghujan

Jakarta, 04 Agustus 2003


Rindu dan Airmata

kulukis rindu di kanvas putih dengan kesedihan yang putih
karna segala warna tak mampu lagi merupa
pada rindu di kepulan dupa

tak mampu lagi kulukis rindu dengan tanganku ini
mungkin setetes airmata akan mewakili sejuta warna
selebihnya biar menjadi pigura

dan tak akan lagi kulukis rindu
tapi cukup airmata saja

Jakarta, 04 Agustus 2003


Terpikat

sepertinya aku terpikat padamu
karna saat kau pergi aku merasa sepi
tapi setelah sekian lama kau tak jua kembali
aku menyadari bahwa aku mencintai
sebab aku membuang waktu sekian lama
hanya untuk menantimu kembali

Jakarta, 04 Agustus 2003



Kau Memesan Bayang

kau memesan bayang untuk api
yang terus menyala membakar dalam ruang
yang sesungguhnya lama tak kau tempati
sejak mimpi patah dini hari

kau memesan bayang untuk kerikil tajam
yang sembunyi di dasar telaga
kau tunda pusaran dewa mengangkatnya
dengan mawar yang kau pupuk di ladang duka

kau memesan bayang untuk mendung
yang tak lama lagi akan terkoyakkoyak
oleh pertentangan matahari dengan rembulan
lalu mendung mengucurkan darah di tanah rawan

Jakarta, 31 Juli 2003


Tentang Sebuah Mimpi

kulihat angin buta berputarputar di tengah kota
seekor kijang mati terbakar di tanah hitam karna gelegar

hehijau terobekrobek terkulai di semaksemak
bintangbintang jatuh di tengah huta, ada yang berlarian

lalu kulihat belibis putih beterbangan entah tujuan
karna lautan merah, lautan merah
ahoi, langit kelabu di hujan abu kotamu

hai, ada anak raja! ada anak raja dari tengah negara!
diarak ombak di tandu awan bergelombang di jalan

dia datang! dia datang tanpa tentara!
sorai melayanglayang penuhi angkasa, dia raja
entah apalagi akan mengoyak jubahnya

Jakarta, 01 Agustus 2003


Pantai Senja Selatan Jogja

kubaca sejarah kerut bibir dan kening
cermin berkacakaca, airmata menetes di padas
hurufhuruf berguguran dari catatan nostalgia
tentang sebuah pantai di selatan jogja
: jejak asmara

kualihkan ombak ke wajahmu ketika itu
buihnya lenyap di matamu, nafas berlari dari senja ke dada
lalu kau kejar hingga tenggelam aku dalam bayanganmu

ada buih memijar di sudut matamu
ketika mata saling bertentang begitu terbuka

di pantai senja selatan jogja, kulepas senja
matahari tenggelam di mataku, rembulan mekar di matamu
dan kini kita setengah mati melupakan itu
untuk mengingat senja suatu waktu

Jakarta, 01 Agustus 2003


Dalam Waktu

ada pertikaian yang tak pernah selesai diperdebatkan diri
tentang baru dengan gunung, pantai dengan laut
dan rindu yang terselip di antara akar api

catatan buku merah dan putih menyimpan gerimis dan peluh
lubanglubang terlewat untuk diisi
dan kesiasiaan lumuri otot kaki

dalam pertikaian yang tak pernah selesai
bunga berguguran di musim api, cahaya berebut celah
namun malam telah terbunuh oleh pagi

Jakarta, 04 Agustus 2003


Di Perapian

kau berdiang di perapian yang dinyalakan seseorang, saat dingin
namun sesungguhnya kau takut nyala api
dan kau tutup matamu saat perapian menyala
hingga kau tak melihat tangan yang terbakar karenanya

kini hangat menjalari seluruh tubuhmu
sementara seseorang susah payah padamkan bara di tangan
dengan airmata yang menghujan

Jakarta, 04 Agustus 2003


Rindu dan Airmata

kulukis rindu di kanvas putih dengan kesedihan yang putih
karna segala warna tak mampu lagi merupa
pada rindu di kepulan dupa

tak mampu lagi kulukis rindu dengan tanganku ini
mungkin setetes airmata akan mewakili sejuta warna
selebihnya biar menjadi pigura

dan tak akan lagi kulukis rindu
tapi cukup airmata saja

Jakarta, 04 Agustus 2003


Terpikat

sepertinya aku terpikat padamu
karna saat kau pergi aku merasa sepi
tapi setelah sekian lama kau tak jua kembali
aku menyadari bahwa aku mencintai
sebab aku membuang waktu sekian lama
hanya untuk menantimu kembali

Jakarta, 04 Agustus 2003

Wednesday, August 06, 2003



Bajing Pohon Kelapa

seekor Bajing pohon kelapa melompatlompat dalam cahaya
lepas berkali, pintar sembunyi
tubuhnya bergetar dalam lorong gelisah
mengintip bayang diri tutupi matahari

seekor Bajing kelabuhi pemburu
menelusup masuk mencuri pelatuk
bedil siapa menyala Tanpa Pelatuk?
ha ha ha ha ha... Bajing itu Tertawa

seekor Bajing melompatlompat, menyelusur pohonpohon
kembara jauh lampaui mega
namun ia tetaplah Bajing penghuni pohon kelapa
terjatuh tenggelam jua dalam santan perasan masa

Jakarta, 29 Juli 2003


Oh Burung

burung apa datang malammalam tanpa bentuk?
Mematuk punggung, teteskan Liur haru
tinggalkan sulaman tilas tapak
lumer batu biru dadaku

kepak bayang, fajar tenggelam Keji
Gelepar Sunyi meruncing menancap
tenggelam di karang kapur sepi
terbang, terbanglah debudebu putih, kejabkejab

Jakarta, 28 Juli 2003


Rindu, Fuck You!

engkau Ditikam rindu, Ditikam hingga hulu
merepih sunyi, gandrungi bayangbayang
di sudut sempit padang lapang
ho ho Rindu, Fuck You!

engkau Dihimpit sepi, Dihimpit hingga sekarat
Meratapi gundukan rindu Kutuk bunga
dimana terselip peluk, dimana mesra?
hoho Rindu, Fuck You!

Jakarta, 28 Juli 2003


Mencintaimu adalah Terlarang

mencintaimu adalah terlarang hari ini
menikam diamdiam, koyak dada sendiri
namun api telah menyala, darah telah menetes
terbakar, meregang, terkapar sadar

mencintaimu adalah sandung akar setapak
jungkalkan saka, mamah sengkala
menikam, menghunjam, meluruh
riuh kagum terkapar di jendela

Jakarta, 28 Juli 2003


Sebuah Pilu

sebentuk puisi koyak di pelipis
menyeberangkan anyir
meneteskan butir kerikil
di dada

sebentuk sunyi membusuk
menggarami pelupuk
mengalirkan asin di pipi
mengkristal di tepitepi

Jakarta, 26 Juli 2003


Kulihat Ilalang Di Matamu

kulihat ilalalng di matamu
berkali tercabut, berkali kau menangis
sudahlah, disini tumbuh buahbuahan segar
dulu memang padang ilalang

kulihat ilalang di matamu
sebagai bias padang ilalang dadaku
lihat dengan hatimu, kubabat padang ilalang
sebagai mahar cintaku

Jakarta, 25 Juli 2003


Engkau Yang Rindu

Dimana rindu di temukan
Di hutan kelelawar beterbangan, senja turun
engkau tertahan di lembah
disana bayang matahari singgah, sejenak

dimana ditemu dengus
mulailah merajut, malam telah tiba
ini aku membawa pecut dan bilah bambu
biar aku datang semena membelir dadamu
sakitlah kau, perih sebentar hilang
tetes darahmu menyalakan hujan

dimana rindu ditemukan
dalam kehilangan akal
suaramu terdengar lamat, engkau rindu
ya, engkau rindu sekali, pada diri

Jakarta, 25 Juli 2003


Sebagai Kenangan

peta yang pernah kita buat ketika dulu
menjadi serpih kerinduan terhambur
lebur dengan debu di udara kelabu
menamatkan riwayat ciuman kelambu

tertanggal mimpi di dada dukana
meleleh seirama nadi dan gemericik darah
menggumpal dalam jejakjejak langkah
karna ku kenang engkau kekasih
hingga membusuk sepi tak terperi

Jakarta, 24 Juli 2003

Friday, August 01, 2003



Kau Alirkan Cinta di Dada

cinta menggumpal menjadi mendung tebal
terpencar di langit tak menjadi hujan
melayanglayang ia tanpa tujuan
tergores puncakpuncak gunung dan pucukpucuk pinus
lalu meleleh seperti ingus

kau selipkan cinta di ketiak senja
sambil kau goreskan kuku di dada
lalu kau biarkan darah mengalir perlahan
tanpa ingin kau menghentikan

Jakarta, 18 Juli 2003


Sekuntum Bunga Tulip Merah

Ketika malam beranjak pulang
rindu diamdiam menyelinap di kegelapan
terbang jauh ke negeri seberang
mendekap perempuan serupa kembang
membawanya melayang di awangawag

ketika mendung menyekap dalam kerangkeng sepi
sengajakah waktu memberi padaku
sekuntum bunga tulip merah di tengah salju?
mungkin reka langit yang selama ini mengelabuhiku
atau mungkin ketidak sengajaan sunyi
menyelipkan bunga di buku diary?

Setiap kali puisi memanggilmanggil
tubuhku bergetar jiwaku menggigil
adakah cinta masih menyempil?

Jakarta, 18 Juli 2003


Engkau Adalah Angin

engkau adalah bintang yang tak dapat ku sentuh
dengah lentiknya khayal ketika malam menjelang
namun sinarmu menyalakan batu hitam di tengah lautan

engkau adalah hujan yang tak pernah bisa kugenggam
namun membasahi tubuhku hingga menggigil kedinginan

engkau adalah matahari bagi bagi api yang menyala di dada
menghangatkan tiap lekuk relung sukma
namun tak pernah bisa ku membawa ke sisi jiwa

engkau adalah udara yang tak pernah dapat kudekap dengan segala upaya
namun ada dalam tubuh bersama aliran darah

engkau adalah sayap yang kurekareka
namun tak pernah bisa menerbangkanku

engkau adalah angin yang selalu bergerak
sedang aku gunung yang tak bisa mengejarmu

Jakarta, 22 Juli 2003


Ingin ku Sebrangi Lautan

ingin ku sebrangi lautan yang membentang di mata
namun seperti yang lalu, aku terhenti di pantai tua
memandangi ombak yang gemetar membelai pantai
dan gelombang yang tak lagi garang menghantam karang

kupandangi perahu layar lapuk di pantai kesepian
sekian lama hanya bisa memandangi lautan
sambil membayangkan berlayar mengantar sepasang bintang
ke pulau biru di seberang lautan
sebagaimana tahuntahun lalu ia lakukan

setiap kali ingin ku sebrangi lautan
aku selalu terhenti di pantai tua
sedangkan lautan masih tetap sama seperti dulu
ketika aku berlayar bersamaMu

Jakarta, 22 Juli 2003


Seringkali Ku kenang Luka

seringkali ku tekan luka dengan jemariku sendiri
hanya ingin kurasakan sakitnya kembali
atau membuatnya berdarah
seperti ketika luka itu pertama kali meneteskan nanah
lalu kunikmati sebagai anugrah

seringkali ku korek lukaku sendiri dengan kuku hitamku
hanya ingin kurasakan perihnya kembali
atau membuatnya basah memerah
mengalirkan cinta menjadi nanah
lalu aku bergetar meregang dalam ejakulasi gelisah

seringkali ku kenang luka yang perih
hanya untuk menuliskannya sebagai puisi
atau bertelanjang diri dalam ilusi
tak perduli pedihnya memamah jiwa
mendidihkan darah seperti semula

Jakarta, 22 Juli 2003


Kau Patahkan

dan kau patahkan anak panah yang siap lesat
terlepas dini di rerumputan kering, mengaingngaing seperti anjing
lalu kau turunkan hujan, rumput subur kembali
dan kau tak tahu patahan anak panah tergeletak lesu
tak hanyut oleh hujan sepanjang waktu

ketika langit mengabu kau ambil patahan anak panah itu
kau kembalikan tanpa sepengetahuanku
lalu kau bingkiskan senyum dan tawa
tanpa engkau tahu sebentuk sunyi sesatkanmu

dan kau patahkan sunyi panjangku
sebelum kokok ayam membangunkanku di suatu pagi
ketika kuharap anak panahku utuh kembali

Jakarta, 23 Juli 2003


Engkau Yang Menjatuhkan Mimpi

engkau biarkan dirimu di hunjam hujan
hingga kuyup, engkau menggigil

tak bosan bermainmain dengan hujan
membirukan bibir mengkerutkan kaki dan tangan
dan kau menikmatinya sebagai kemarau panjang

engkau redam gelegar petir di dada
tanpa kau sadari akan menggetarkan jantungmu demikian rupa
engkau bendung sungai di pintu luka
tanpa kau sadari akan menghanyutkan segala
engkau simpan tangis di relung sukma
tanpa kau sadarai akan mengguncangkan derita

engkau mengelak dari sapa dan tatap cahaya
kau sembunyikan rahasia aroma bunga
dalam almari mimpi yang slalu menghantui
dan kau berkata; "demi cinta rela kujatuhkan mimpimimpi"
sementara kulihat air terjun di pipimu tak pernah terhenti

Jakarta, 23 Juli 2003