Sepi Makin Kuyu
malam tumpah
gemintang berserakan di lantai
sabit berlayangan di langitlangit
jendela muram, hurufhuruf terkapar
tak ada ceracau dan dusta
hanya rindu menangkar mangu
kemudian kupapah sepi yang semakin kuyu
menuju pintu lapuk punggungku
Jakarta, 13 Agustus 2003
Di Hotel
seorang lelaki menunggumu di sebuah hotel
kau bergegas kesana sepulang kerja
kau tak ingin orang lain tahu
tentang kisahmu malam ini dengan lelaki itu
segelas bir tumpah dalam darahmu
sambil kau rebahkan tubuhmu yang mulus itu
tak tergambar apapun, hanya semata madu
malam itu menjadi malam pertama bagimu
bersama lelaki bermata biru
seorang lelaki lain menahan hasrat di ruang tamu
menunggumu hingga lutut kelu, tanpa tahu
padahal ia telah memasakkan makanan kesukaanmu
dan ketika kau datang, semua itu telah menjadi bau
seperti bau tubuh lelaki bermata biru
yang perlahan membunuhmu, tanpa kau tahu
Jakarta, 14 Agustus 2003
Secangkir Teh
seperti pagi-pagi sebelumnya
kau sajikan secangkir teh hangat
selalu kutandaskan hingga senyummu
dan pagi ini secangkir teh kembali tersaji
walau hangatnya tak dapat kurasa lagi
karna matahari kau bunuh malam tadi
Jakarta, 15 Agustus 2003
Gerhana Jiwa
dan kau lihat perempuan itu berjalan membelakangi purnama
hingga bayangannya yang hitam besar menutupi tubuhmu
maka gerhana jiwa di titikmu
mengapa kau masih berdiri disitu?
Jakarta, 18 Agustus 2003
Lelaki dan Sarung
seorang lelaki pergi membeli baju dan celana
karena yang melekat di tubuhnya tak ubah seperti sarang labalaba
ketik lelaki itu berdiri di tepi telaga
jelas sekali terlihat puting dada dan rambut di selangkangannya
namun masih saja orang di luar sana mengatakan;
"kau tampan dengan baju dan celana itu"
lelaki itu keluar masuk pertokoan
namun uang di tangan tak cukup untuk membeli pakaian
lalu lelaki itu memutuskan membeli setangkai bunga mawar
karena lelaki itu masih punya sarung tenun kumal
walau dengan begitu dia dianggap sebagai orang gila
oleh orang di luar sana
Jakarta, 17 Agustus 2003
Penghapus Tinta
barangkali aku membutuhkan penghapus tinta
untuk menghapus sajaksajak yang tertulis di dinding dan pintu
lalu kau berbaik hati memberikan penghapus tinta padaku
dan ketika penghapus tinta itu telah di tanganku
penghapus tinta itu terjatuh dan tumpah di lantai kamarku
karena tanganku gemetar dan dadaku berdebar terlalu kencang
saat terlalu lama termangu di jendela hatimu
Jakarta, 17 Agustus 2003
Telur Pecah di Bulan Desember
burung yang bercicit-cicit pagi ini
mengingatkanku padamu tentang desember tahun lalu
saat telur pecah di sebuah kamar kontrak
yang baunya tetap menyengak hingga saat ini
tanpa sepengetahuanmu
serpihan kerak telur itu kusimpan rapi
bersama setumpuk surat darimu dan sajak untukmu
tertata di antara serat daging pengakuanku
sejak saat itu aku selalu memikirkanmu
dan berusaha untuk membunuhmu
namun tak pernah bisa kulakukan
karena engkau menguburku lebih dulu
Jakarta, 19 Agustus 2003
Kartu Telephon
kartu telephon yang berserak di bawah tempat tidurmu itu
adalah sebagian hidupku yang kau ambil tanpa kutahu
kemudian sajaksajak lahir atas namamu, mengalir
menghanyutkan tempat tidurku
seringkali angka-angka berjatuhan dari matamu
menimbulkan dering yang memacu jantungku
seperti jam weker tanpa setting waktu
berdering setiap kali kau mau, dan kutunggu
dalam kartu telephon yang berserak di bawah tempat tidurmu
juga angka-angka yang berjatuhan dari matamu
ada bahasa yang sangat kita hafal, fasih kita lafazkan
dan di luar itu, ada bahasa yang sangat kita kenal
namun belum pernah kita ucapkan
Jakarta, 19 Agustus 2003
