Wednesday, September 24, 2003



Sepedaku

kukayuh sepedaku di jalan berbatu
naik dan turun berkelok-liku
jauh sudah kutinggalkan kampung halaman
terakhir kutatap hujan di langit senja perawan
menitikkan kenangan di pedal dan ban

terus kukayuh sepedaku meski kuyu
sebab mimpi yang pecah dini hari
melukai fajar yang hendak berdiri
dimana embun tak dapat lagi kupercayai
sejak bulan terpejam malam hari

Jakarta, 08 September 2003


Untuk Sebuah Nama

barangkali tak akan ada bara
sebab kayu kering tak dapat lagi menangkap isyarat api
hingga air dalam poci dingin kembali

barangkali tak akan kudatangi pantai
sebab ombak yang mendebur tak lagi seirama nyiur
pun pelepah telah patah, tergolek di tanah merah basah

namun demikian aku belajar mencintai pantai
menyimpan deburnya dalam dada yang damai
-bila dering telephon adalah buih yang slalu datang

Jakarta, 28 Agustus 2003


Perempuanku III (Jejak Airmata)

perempuanku,
masih ingatkah engkau tentang kabut yang menghentikan langkah kita?
saat kau terpeleset dan hampir lepas genggaman tanganmu
gravitasiku menarikmu tanpa ragu

perempuanku,
masih ingatkah engkau saat kita dihanyutkan deras aliran sungai?
ketika aku timbul tenggelam karna tak bisa berenang
kau rangkul aku hingga ke tepian

perempuanku,
dengan jejakjejak yang tersisa dari airmata
dan gumpal mendung yang menyamarkan mata
tak selesai jua sketsa wajahmu ku sapa
lalu dengan apa lagi kulukis wajahmu selain dengan gebu rindu nestapa?

Jakarta, 10 September 2003

Thursday, September 18, 2003



Entah

entah kutuk apa memecahkan kaca mata, kendorkan genggaman, hingga waktu membusukkan kepala, mengeringkan otak, mengapung di mata sebagai getir kecemasan di segelas rasa asin yang perlahan tandas di bibir bunga layu di pelupuk langit senja mengisyaratkan kerinduan papa terkalung pada kakikaki gelombang yang pincang karna karang melintang demikian garang hingga pucukpucuk gelombang patah terpencar entah.

Jakarta, 29 Agustus 2003


Seusai Dongeng

seusai kudongengkan tentang pohon oak tua dengan dahan, daun dan akarnya, angin yang sejenak berhenti kemudian bergerak kembali, berputar menggetar-rontokkan dedaun kemudian yang tampak hanyalah pohon oak tua tanpa dedaun, dahan yang patah yang susah payah bertahan menanti musim semi

kupanggil angin, namun ia tak lagi mau berhenti
karna dongeng yang tak mau didengar lagi

Jakarta, 28 Agustus 2003


Untuk Sebuah Nama
: A

barangkali tak akan ada bara
sebab kayu kering tak dapat lagi menangkap isyarat api
hingga air dalam poci dingin kembali

barangkali tak akan kudatangi pantai
sebab ombak yang mendebur tak lagi seirama nyiur
pun pelepah telah patah, tergolek di tanah merah basah

namun demikian aku belajar mencintai pantai
menyimpan deburnya dalam dada yang damai
-bila dering telephon adalah buih yang slalu datang

Jakarta, 28 Agustus 2003

Monday, September 08, 2003



Lelaki Jalang

lelaki jalang setubuhi sepi telanjang
mendung bermekaran di mata
menetes menjadi tasbih di semaksemak dada
di dzikirkannya ayat nestapa

lelaki jalang dibalut rindu gamang
menggali pasir di gurun mimpi
temui kerangka diri di ari bumi
mengaum, rembes mata sendiri

Jakarta, 28 Agustus 2003


Dalam Lift

dalam sebuah lift
kalian berdua, tanpa menghitung aku
karna aku hanya kamera bisu
aku bosan memandangi kalian berdua
saling diam di depanku, berpelukan, berciuman,
aku tak tahu lagi apa yang terjadi
sebab listrik kemudian mati dan lift turun pelan sekali

ketika listrik menyala kembali
kulihat seorang lelaki merintih sendiri
dengan darah yang mengalir di dada kiri

Jakarta, 25 Agustus 2003


Kau Tentang Musim

musim tak lagi berpigura
seperti hujan yang kau tentang karna turun di kemarau panjang
padahal curahnya membasahi dan gigilkan sekujur badan
namun dengan lantang kau berkata; bahwa penghujan belum tiba
dan kau masih ingin keringkan sungai dan telaga

kau lepas pakaianmu yang basah oleh hujan
tak urung dingin telah meresap meski perlahan

Jakarta, 25 Agustus 2003


Geram

geram bertumpuk dalam paruparu arloji
tak henti, saling tindih, merintih
gulita datang dan pergi dalam detak bergerigi
menggilas matahari
cahaya menepi dari lingkaran hari

malam telah habis terbakar sepi
geram yang menumpuk hanya sebatas gelombang jemari
bergelombang tanpa lautan, tanpa gravitasi
mendebur sendiri di langit sunyi

Jakarta, 24 Agustus 2003


Untitle

ludah hitam yang mengalir dari sudut bibirmu itu
kubiarkan membasahi kedua telapak tanganku
menganak sungai hingga belahan dadaku
kan kutulis sebagai cerita yang kelak kubacakan di depanmu

entah sudah berapa mimpi membara di perapian
abu dan asap tanpa jejak karna angin garang
kemudian aku harus mencari bekas perapian itu
di tengah hutan yang habis terbakar

dan setiap kali mimpi mulai menyala
kupadamkan saja agar tak menjalar
ke kepala

Jakarta, 22 Agustus 2003