Sepedaku
kukayuh sepedaku di jalan berbatu
naik dan turun berkelok-liku
jauh sudah kutinggalkan kampung halaman
terakhir kutatap hujan di langit senja perawan
menitikkan kenangan di pedal dan ban
terus kukayuh sepedaku meski kuyu
sebab mimpi yang pecah dini hari
melukai fajar yang hendak berdiri
dimana embun tak dapat lagi kupercayai
sejak bulan terpejam malam hari
Jakarta, 08 September 2003
Untuk Sebuah Nama
barangkali tak akan ada bara
sebab kayu kering tak dapat lagi menangkap isyarat api
hingga air dalam poci dingin kembali
barangkali tak akan kudatangi pantai
sebab ombak yang mendebur tak lagi seirama nyiur
pun pelepah telah patah, tergolek di tanah merah basah
namun demikian aku belajar mencintai pantai
menyimpan deburnya dalam dada yang damai
-bila dering telephon adalah buih yang slalu datang
Jakarta, 28 Agustus 2003
Perempuanku III (Jejak Airmata)
perempuanku,
masih ingatkah engkau tentang kabut yang menghentikan langkah kita?
saat kau terpeleset dan hampir lepas genggaman tanganmu
gravitasiku menarikmu tanpa ragu
perempuanku,
masih ingatkah engkau saat kita dihanyutkan deras aliran sungai?
ketika aku timbul tenggelam karna tak bisa berenang
kau rangkul aku hingga ke tepian
perempuanku,
dengan jejakjejak yang tersisa dari airmata
dan gumpal mendung yang menyamarkan mata
tak selesai jua sketsa wajahmu ku sapa
lalu dengan apa lagi kulukis wajahmu selain dengan gebu rindu nestapa?
Jakarta, 10 September 2003
