Seharusnya Aku
Mana? Mana janjimu tentang fajar yang cerah dengan matahari yang tersenyum ramah, embun-embun yang berloncatan indah, dan kicau burung yang berkicau penuh gairah?. Nyatanya semua itu hanya fatamorgana dari malam sebelummu ketika kau datang membacakan puisi janji yang tak lebih dari taburan bunga layu. "itu memang puisi dan bukan janji, mengapa baru sekarang kau ingin melihat jubah merahku? Kemana engkau sebelum ini?" ujarmu.
Dan aku terdiam. Aku sadar selama ini tak perhatikan terbitnya matahari pagi hari merangkak perlahan menembus ufuk, aku tak menikmati fajar cerah dengan embun-embun yang berloncatan indah dan burung-burung yang berkicau penuh gairah. Selama ini aku tak pedulikan kehangatan matahari ketika mulai berjalan, bahkan aku cenderung sembunyi dari teriknya matahari siang hari dan tak menatap redupnya matahari sore hari. Aku hanya termangu pada senja merah kesumba yang indah mempesona padahal itu hanya sekejap saja. Seharusnya aku merasakan itu semua, menikmati matahari ketika mekar, bersamanya dalam terik, menuntunnya ketika turun dari senja, menemaninya kala malam, atau bahkan terlahir kembali bersama di pagi yang berbeda. Seharusnya aku menyadari sejak mula.
Jakarta, 10 Oktober 2003
Seorang Perempuan Termenung di Pagi Berlumpur
Seorang perempuan termenung di atas batu di pagi yang berlumpur sebab malam meluap hingga timur, gegunung longsor, sawah-sawah tergenang, orang-orang menghilang. Perempuan itu memandangi puing-puing rumahnya yang diterjang bah malam, tak ada lagi yang dia kenali, bahkan dadanya sendiri. Hujan memang telah reda, tetapi ketika kakinya yang terus mendebur tak lagi dapat membelai pasir pantai, langit merah meletus dan hujan lebih besar mengguyur bukit-bukit tandus. Tak ada lagi tempat berteduh, rumah-rumah dan pepohon rubuh, sementara hujan semakin deras seperti pisau-pisau yang meluncur cepat dan lurus, menghunjam-rajam. Perempuan itu digulung kecemasan sementara batu sebagai satu-satunya tempat berlindung pun mulai bergoyang-goyang. Lalu perempuan itu menanggalkan semua pakaian, perempuan itu telanjang diguyur hujan, diseret banjir, menggelinding bersama batu tempatnya bermenung. Seorang perempuan mengalir bersama batu tempatnya bermenung terbentur-bentur, terdampar di pagi berlumpur, menganyam luka memamah biak tanya. Tak ada yang selesai di catat dalam dada, tak ada yang selesai terjawab di panggung sandiwara, hanya menunggu, hanya menunggu waktunya bila.
Jakarta, 09 Oktober 2003
Bayangkanlah
kubayangkan, aku menjadi kujang yang tajam
bergerak cepat menghunjam dadamu, kuputar-putar dalam dadamu
kau menjerit-jerit kesakitan, berdarah-darah
dan aku menangis
bayangkanlah, kau menjadi kujang yang tajam
bergerak cepat menghunjam dadaku, kau putar-putar dalam dadaku
aku menjerit-jerit kesakitan, berdarah-darah
apakah kau pun akan menangis?
Jakarta, 01 Oktober 2003
