Thursday, October 23, 2003



Seharusnya Aku

Mana? Mana janjimu tentang fajar yang cerah dengan matahari yang tersenyum ramah, embun-embun yang berloncatan indah, dan kicau burung yang berkicau penuh gairah?. Nyatanya semua itu hanya fatamorgana dari malam sebelummu ketika kau datang membacakan puisi janji yang tak lebih dari taburan bunga layu. "itu memang puisi dan bukan janji, mengapa baru sekarang kau ingin melihat jubah merahku? Kemana engkau sebelum ini?" ujarmu.

Dan aku terdiam. Aku sadar selama ini tak perhatikan terbitnya matahari pagi hari merangkak perlahan menembus ufuk, aku tak menikmati fajar cerah dengan embun-embun yang berloncatan indah dan burung-burung yang berkicau penuh gairah. Selama ini aku tak pedulikan kehangatan matahari ketika mulai berjalan, bahkan aku cenderung sembunyi dari teriknya matahari siang hari dan tak menatap redupnya matahari sore hari. Aku hanya termangu pada senja merah kesumba yang indah mempesona padahal itu hanya sekejap saja. Seharusnya aku merasakan itu semua, menikmati matahari ketika mekar, bersamanya dalam terik, menuntunnya ketika turun dari senja, menemaninya kala malam, atau bahkan terlahir kembali bersama di pagi yang berbeda. Seharusnya aku menyadari sejak mula.

Jakarta, 10 Oktober 2003


Seorang Perempuan Termenung di Pagi Berlumpur

Seorang perempuan termenung di atas batu di pagi yang berlumpur sebab malam meluap hingga timur, gegunung longsor, sawah-sawah tergenang, orang-orang menghilang. Perempuan itu memandangi puing-puing rumahnya yang diterjang bah malam, tak ada lagi yang dia kenali, bahkan dadanya sendiri. Hujan memang telah reda, tetapi ketika kakinya yang terus mendebur tak lagi dapat membelai pasir pantai, langit merah meletus dan hujan lebih besar mengguyur bukit-bukit tandus. Tak ada lagi tempat berteduh, rumah-rumah dan pepohon rubuh, sementara hujan semakin deras seperti pisau-pisau yang meluncur cepat dan lurus, menghunjam-rajam. Perempuan itu digulung kecemasan sementara batu sebagai satu-satunya tempat berlindung pun mulai bergoyang-goyang. Lalu perempuan itu menanggalkan semua pakaian, perempuan itu telanjang diguyur hujan, diseret banjir, menggelinding bersama batu tempatnya bermenung. Seorang perempuan mengalir bersama batu tempatnya bermenung terbentur-bentur, terdampar di pagi berlumpur, menganyam luka memamah biak tanya. Tak ada yang selesai di catat dalam dada, tak ada yang selesai terjawab di panggung sandiwara, hanya menunggu, hanya menunggu waktunya bila.

Jakarta, 09 Oktober 2003


Bayangkanlah

kubayangkan, aku menjadi kujang yang tajam
bergerak cepat menghunjam dadamu, kuputar-putar dalam dadamu
kau menjerit-jerit kesakitan, berdarah-darah
dan aku menangis

bayangkanlah, kau menjadi kujang yang tajam
bergerak cepat menghunjam dadaku, kau putar-putar dalam dadaku
aku menjerit-jerit kesakitan, berdarah-darah
apakah kau pun akan menangis?

Jakarta, 01 Oktober 2003

Tuesday, October 14, 2003



Bulan Rapuh di Sudut Jendela

:ndu

ndu, di tubuhmu kumamah matahari ketika pagi sekarat di ujung belati
disana kenduri dosa di-amini, beribu mata jatuh di kaki, meleleh meringkuk
beribu mata serupa sungai-sungai di musim hujan
menenggelam-hanyutkan bulan rapuh di sudut jendela

ndu, tak bisa lepas aku dari jeratmu, setiap kali kau tarik temali itu
menjerat dadaku, hentikan darah di kepalaku
langit merah gerimis, kelelawar beterbangan keluar sarang
mematuki buah dadamu di dadaku di persinggahan senja
sementara di sudut jendela bulan rapuh merangkak piuh

ndu, di tubuhku perempuan menggelinjang
mencatat detik-detik yang hangus di persimpangan, gairah kecemasan melonjak
tetapi perempuan itu menanggalkan pakaian lalu membuka tangan
"sayang, ini malam pertama kita, segeralah kau telanjang!" ujarnya
tidak! kau bukanlah pengantinku, kau adalah kelelawar yang hanya suka kegelapan
mematuki buah dadaku kala malam, hanya kala malam

ndu, jerat saja aku, jeratlah sampai ajalku
tetapi ejawantah dirimu dalam mata bulan rapuh yang sayu
agar aku tahu kapan kututup jendela itu

Jakarta, 01 Oktober 2003


Peluru Kenangan

kutelisik luka dan kesakitan dari peluru-peluru kenangan di tubuhku
lumpur merah dan kawah luka mengelepuk di dada
kuselami samudera cahaya yang menghimpit cemara
gunung-gunung yang hancur setelah meletus
mengubur jejak-jejak bulan di permukaan
esok pun hilang dari pandangan
seperti gerimis patah hati yang mengubur diri siang tadi

kumasuki goa sangkar jerit berdinding merah darah
aku bertanya tentang lagu yang terdengar waktu lalu
ketika kulewati tikungan-tikungan jalan berbatu
tetapi hanya denging memekak terdengar, aku terlempar keluar
seperti bayi terlahir dari rahim ibu tanpa restu

malam mencengkeram dengan kuku tangannya yang hitam
kudengar isakku sendiri serupa lagu gugur bunga
yang mengalun sendu di tanah duka,
tiba-tiba terdengar letusan tanpa isyarat
peluru melesat menembus dada, menganga sebagai sepi yang meraja
seketika mulutku menyembur kenangan
seperti badai yang tiba-tiba datang meratakan perkotaan
lalu matahari terbit sebagai gelandangan

Jakarta, 29 September 2003


Jangan Memandangku Seperti Itu

jangan memandangku seperti itu
sebab aku bukan televisi atau layar tancap apalagi artis
berpalinglah barang sebentar
beri aku waktu untuk menegakkan kepala
dan mencari dimana kacamata
sambil merapikan pakaianku
agar aku tidak lagi malu-malu menatapmu
seperti kemarin sore saat aku mendebur di dadamu

Jakarta, 27 September 2003

Wednesday, October 08, 2003



Ayunan Ayah

ketika kanak, ayahku membuatkan ayunan
sebab aku sudah bisa berlari-lari dan tertawa riang
di ayun-ayun aku tiada bosan sambil di kudhang moga cepat besar
setelah besar, aku sering membuat ayah kesal
tetapi ayah sabar, sambil bercerita tentang kudhangan dan ayunan
sambil berharap aku lekas dewasa
namun setelah dewasa, kutinggalkan ayah, ayunan dan kampung halaman

suatu kali ayah datang bercerita tentang kudhangan dan ayunan
tetapi aku ketiduran karna lelah bekerja seharian
ayah tetap sabar, sambil membetulkan letak selimut yang kukenakan
dan ketika aku belum dapat wujudkan impian ayah
dengan sabar pula ayah kembali menunjukkan ke halaman belakang
tempat dulu aku di kudhang di atas ayunan
ada yang tak sanggup ku katakan...

Jakarta, 24 September 2003


Sajak Dendam

dendam mengapung di atas darah dan peluh
mengalir turun berbelok-belok
angin melihat, terpaku siang malam
di tanah lapang kaki dan tangan di tanam
mengakar, merambat berbelok-belok
teriak tak terdengar, lalu tak mendengar
akhirnya tak terdengar
sebab di tiap kelokan suara tertahan

Jakarta, 23 September 2003


Sajak Sambal

telah tersaji di atas batu bawang dan garam
lalu kau meminta padaku untuk memetik cabe di kebunmu
"mari kita membuat sambal untuk makan siang", katamu
tetapi aku tak ingin makan sambal sebab lidahku masih perih siang itu
kusembunyikan saja cabecabe itu di almari dapurku
-kita gagal membuat sambal ketika itu, kau pergi

namun ketika kubuka almari dapurku pagi ini
aroma cabe itu menyengat, menyedakkan nafasku,
menusuknusuk mataku, aku teringat siang itu

Jakarta, 19 September 2003

Wednesday, October 01, 2003



Aku Bukan Kesunyian

aku bukan kesunyian meski tenggelam di laut sepi dalam
sebab aku mendengar pekik air berjatuhan dari ketinggian
menjadi nyanyian rindu di bebatuan
seperti nyanyian matamu ketika harus jauh dariku

aku bukan kesunyian meski tenggelam di laut sepi dalam
sebab aku mendengar bisik matahari pada malam
agar membuka ufuk timur untuk mekarnya fajar
seperti rekah senyummu ketika melihat aku datang

aku adalah rindu yang tenggelam di laut sepi dalam
tetapi dari sini suaraku akan lebih keras terdengar
seperti letus gunung krakatau di tengah malam

Jakarta, 18 September 2003


Biar Kupelihara Gelisah

Bila melepas kuku-kuku jemari adalah keharusan darimu
maka hanya dengan mulutku sendirilah ingin kulepas
dan bila darah kemudian menetes, biarkanlah
sebab bersamanya gelisah pun terhanyut lepas
walau setelahnya tubuhku rubuh kemudian mengeras

namun bila itu bukan suatu keharusan
maka biar kupelihara gelisah
sebagai rasa yang mengapungkan kerinduan

Jakarta, 18 September 2003


Menarilah

: Sajak Untuk Ninuz

menarilah engkau dalam irama angin dengan musik dari tetabuhan telapak tanganmu yang kecil, mendebur di kendang takdir, getarkan jemari lentikmu , sentil laut pasang, usap gelombang biar jinak dalam genggaman seperti kau genggam remajamu. Bukankah telah kau naikkan layang-layang dari tengah lautan? Tarikan! Tarikan itu!

Usah ulur terlalu panjang sebab angin kadang garang menerjang dan hujan sering membuat lubang-lubang besar, ulurkan saja tanpa harus menyipitkan mata agar kau pun mudah menggulungnya ketika mendung memburu layang-layangmu di atas sana

Menarilah engkau dengan tarianmu, jangan berhenti sebab setiap gerak tarianmu adalah putaran bulan yang tua perlahan di teluk matamu dan peluh yang mentes dari keningmu itu adalah matahari yang terbang turun kemudian bertengger di dahan ranting dadamu, maka menarilah engkau menarilah jangan berhenti!

Jakarta, 15 September 2003


Di kafe

di sebuah kafe cerita dimulai
tentang warna kesukaan hingga pakaian dalam
tentang kenyataan dan permainan
lalu kita bermainmain dengan bir, itu nyata
kita samasama menggigil dalam gemericik bir
tetapi kau tak mengakui bahwa kau mabuk,
itu permainan

Jakarta, 12 September 2003


Sepiring Nasi dan Sepiring Tai

sepiring nasi disajikan untukmu
kau pun menikmatinya sendiri
karna mejamu disana dan meja kami disini
sementara berkalikali kami memesan nasi
namun tak sebulirpun tersaji, kami lapar

lalu kau datang pada kami membawa sepiring nasi
"ini sepiring nasi yang kumakan tadi, makanlah!" katamu
tentu saja kami memakannya karna tak ada yang lainnya, kami lapar
setelah itu kami datang padamu
"ini sepiring nasi yang kami makan tadi, makanlah!" teriak kami
kami yakin kau tak akan pernah berani,
sebab kepalamu telah penuh dengan tai

Jakarta, 12 September 2003