Telah Sampai Waktuku
telah sampai waktuku di ujung jalan ini
tak ada jejak di depanku, tak ada setapak,
tak ada jalan kembali, juga jejak sendiri
dibetot sesal, dibalut gelisah, digerayangi lelah,
digelayuti rindu, dikalungi harap
ini waktuku, busungkan dada, kepalkan tangan, memasang kuda-kuda
telah sampai waktu menentu, tak ikuti alur pengarah
Jakarta, 05 Desember 2003
Kita Pernah Bersama
"tinggalkan aku! abaikan cucuran airmata, sesungguk guncang dada, aku
sakit!" katamu
( tetapi kita belum selesai bicara...)
mengapa meski risau tentang jatidiri yang menetes di pipi
tersembunyi di balik kelopak pagi
bukankah memang seharusnya airmata menetes?
kita pernah bersama mendaki sepi
menganyam rindu haru dalam halusinasi
kita pernah sama-sama mencintai mimpi
meneguk tandas airmata sendiri
kita pernah sama-sama melukis rindu dengan airmata
tetapi mengapa kau biarkan aku sendirian tertawa?
Jakarta, 05 Desember 2003
Engkau Gelombang
dan jiwamu pergi, merampas peta yang tak terhafal
(tetapi disini tubuhmu masih hangat meski kaku, senyumnya malu-malu)
engkau datang seperti ombak di pantai
menghapus puisi-puisi di pasir, kemudian pergi
dan engkau selalu datang menghapus puisi-puisi itu,
setiap kali kutulis kembali
lalu kubuat perahu untuk berlayar
tetapi engkau remukkan dalam pusaran
hingga karam ke dasar
Jakarta, 05 Desember 2003
Sketsa Rindu
aku merindumu
pada setiap rintik ritmik nadi
menjelma titik-titik kilau berpeluk
dari ribuan cahaya melata
rambati kanvas perupa
aku merupa rindu dalam timang
meninabobokan dalam ranjang waktu
tunggui lelapnya dengan hati berdebar selalu
Jakarta, 05 Desember 2003
