Thursday, December 11, 2003



Telah Sampai Waktuku

telah sampai waktuku di ujung jalan ini
tak ada jejak di depanku, tak ada setapak,
tak ada jalan kembali, juga jejak sendiri

dibetot sesal, dibalut gelisah, digerayangi lelah,
digelayuti rindu, dikalungi harap

ini waktuku, busungkan dada, kepalkan tangan, memasang kuda-kuda
telah sampai waktu menentu, tak ikuti alur pengarah

Jakarta, 05 Desember 2003


Kita Pernah Bersama

"tinggalkan aku! abaikan cucuran airmata, sesungguk guncang dada, aku
sakit!" katamu
( tetapi kita belum selesai bicara...)

mengapa meski risau tentang jatidiri yang menetes di pipi
tersembunyi di balik kelopak pagi
bukankah memang seharusnya airmata menetes?

kita pernah bersama mendaki sepi
menganyam rindu haru dalam halusinasi
kita pernah sama-sama mencintai mimpi
meneguk tandas airmata sendiri
kita pernah sama-sama melukis rindu dengan airmata
tetapi mengapa kau biarkan aku sendirian tertawa?

Jakarta, 05 Desember 2003


Engkau Gelombang


dan jiwamu pergi, merampas peta yang tak terhafal
(tetapi disini tubuhmu masih hangat meski kaku, senyumnya malu-malu)

engkau datang seperti ombak di pantai
menghapus puisi-puisi di pasir, kemudian pergi
dan engkau selalu datang menghapus puisi-puisi itu,
setiap kali kutulis kembali

lalu kubuat perahu untuk berlayar
tetapi engkau remukkan dalam pusaran
hingga karam ke dasar

Jakarta, 05 Desember 2003


Sketsa Rindu

aku merindumu
pada setiap rintik ritmik nadi
menjelma titik-titik kilau berpeluk
dari ribuan cahaya melata
rambati kanvas perupa

aku merupa rindu dalam timang
meninabobokan dalam ranjang waktu
tunggui lelapnya dengan hati berdebar selalu

Jakarta, 05 Desember 2003

Thursday, December 04, 2003



Biarkan Mengalir

kita tak perlu risaukan air, dari mana dan sampai dimana
biarkan air mengalir, di sungai, di tubuh kita, dimana saja
sebab kita tak pernah bisa sempurna menahannya
biarkan saja ia mengalir sesuai wadahnya
sambil sesekali kita lawan arusnya

Jakarta, 02 Desember 2003


Kubaca Yang Lupa

kubaca bibirmu suatu ketika, cermin hitam, cermin retak
isyarat kematian berjalan lamban
seoki muka jejaki dada
memutus benang-benang kepala

kubaca belulangmu suatu ketika,
tubuh gemetar, mata berputar
racau matahari lupa fajar
kelami diri dalam kutuk malam

Jakarta, 02 Desember 2003


Sebulir Padi

sebulir padi kutanam di ladangmu
ketika hujan turun rapatkan retak-retak tanah
menyuguh mimpi kemuning padi
menggugah anai-anai menari di tangan petani

sebulir padi kutanam di ladangmu
ketika hujan turun tengah malam
lalu waktu kelabuhi rindu diam-diam

Jakarta, 02 Desember 2003