Thursday, January 22, 2004



Dalam Lorong Di Balik Jendela

dalam lorong di balik jendela
bergelimpang anak-anak tanpa kepala
di tebing-tebing cahaya, di bibir gerhana
bias menggapai tak sampai-sampai


dalam lorong di balik jendela
jejak mengapung di laut sejarah yang pucat
diambing ilusi dideburkan janji
seberkas lacak terjebak cermin retak
tanpa almanak

Jakarta, 20 Januari 2004


Hardik Bayangan

hentikan!
berhentilah merupa mendung
berhentilah mewarna petir
sedang hujan tak kau ingin
berhentilah! ujarmu

-tetapi mendung nyaris sempurna terupa
dan petir telah terwarna-

kucari-cari Tuhan di ujung pena
Tuhan, tolong batalkan hujan
sebab bajuku belum kering benar


Jakarta, 20 Januari 2004


Suatu Masa

suatu masa di tengah pulau
guncang tak seperti gempa, meletus tak seperti letus
gegunung api meletup-letup sembunyi di desa-desa
hangus pepohon hijau dan bunga-bunga

suatu masa di siang hari
matahari tak tampak menyinari
terdengar kabar relnya anjlok di tengah desa
ketika gegunung tak lagi bersisa

Jakarta, 20 Januari 2004


Di Stasiun Kereta

di stasiun kereta bertahun lalu
kepul asap rokok membalut cerita
tentang pendaki yang lupa korek api
lalu mematikkan batu kali

di stasiun kereta bertahun lalu
selantun lagu telikung lingkup
sepasang anak manusia membusa di gelas bir
menguap aroma misteri di bibir pemabuk
tergilas kereta tak berbentuk

di stasiun kereta di sebuah warung
kepul asap rokok membalut rindu
selantun lagu masih terdengar di situ

Jakarta, 20 Januari 2004

Friday, January 09, 2004



Dalam Rindu

Dalam rinduku membiru mencari celah jarak membentang
antara picu dan peluru di dadaku di dadamu mesiu tertimbun
mendesah-desah gelisah, menendang-nendang garang
buyarkan lamunan sentil akal pikiran

Dalam rinduku mengharu memburu denting dawai harpa
yang berjalan lambat ke barat merapat gelap
membayang wajah kekasih di himpit lembayung di selimut lengkung,

Dalam diamku merapati bayangmu, meratapi jauhmu
menahan rindu tak tentu temu

Jakarta, 10 Desember 2003


Seharusnya Engkau Disini

seharusnya Engkau disini
mendengar parau suaraku mengucap puisi
melihat tanganku menulis puisi
mengelus kepalaku yang nyaris tak berambut ini

seharusnya Engkau disini
meski puisi ini bukan tentangMu
tetapi karenaMu aku menulis puisi

seharusnya Engkau ada disini, seperti dulu,
menyalakan lilin ketika listrik mati
seharusnya Engkau ada disini, dan tersenyum,
tahukah Engkau? senyumMu itu lebih puitis dari puisi

Jakarta, 12 Desember 2003


Lukai Aku

Hai mawar, lukailah aku!
Dengan duri-durimu, segera
Agar menetes darah juga basah durimu

Bukankah kau ingin merasai darahku?
Lukailah aku! Setelah itu biar kulepas kelopakmu satu-persatu

Jakarta, 15 Desember 2003