Dalam Lorong Di Balik Jendela
dalam lorong di balik jendela
bergelimpang anak-anak tanpa kepala
di tebing-tebing cahaya, di bibir gerhana
bias menggapai tak sampai-sampai
dalam lorong di balik jendela
jejak mengapung di laut sejarah yang pucat
diambing ilusi dideburkan janji
seberkas lacak terjebak cermin retak
tanpa almanak
Jakarta, 20 Januari 2004
Hardik Bayangan
hentikan!
berhentilah merupa mendung
berhentilah mewarna petir
sedang hujan tak kau ingin
berhentilah! ujarmu
-tetapi mendung nyaris sempurna terupa
dan petir telah terwarna-
kucari-cari Tuhan di ujung pena
Tuhan, tolong batalkan hujan
sebab bajuku belum kering benar
Jakarta, 20 Januari 2004
Suatu Masa
suatu masa di tengah pulau
guncang tak seperti gempa, meletus tak seperti letus
gegunung api meletup-letup sembunyi di desa-desa
hangus pepohon hijau dan bunga-bunga
suatu masa di siang hari
matahari tak tampak menyinari
terdengar kabar relnya anjlok di tengah desa
ketika gegunung tak lagi bersisa
Jakarta, 20 Januari 2004
Di Stasiun Kereta
di stasiun kereta bertahun lalu
kepul asap rokok membalut cerita
tentang pendaki yang lupa korek api
lalu mematikkan batu kali
di stasiun kereta bertahun lalu
selantun lagu telikung lingkup
sepasang anak manusia membusa di gelas bir
menguap aroma misteri di bibir pemabuk
tergilas kereta tak berbentuk
di stasiun kereta di sebuah warung
kepul asap rokok membalut rindu
selantun lagu masih terdengar di situ
Jakarta, 20 Januari 2004
