Perempuan Yang Tenggelam Oleh Janji
"ojo sok gampang janji wong manis yen to hamung lamis
becik haluwung prasojo nimas ora agawe cuwo"
tetapi engkau memasang bom waktu di jantungmu
dengan inginmu sendiri, dengan tanganmu sendiri
dan engkau berkejaran dengan ragu setiap waktu
sementara engkau tak tahu kesanggupanmu
kau menari dengan irama tik tak arloji di altar janji
melesatkan anak-anak senyum dan tawa
menginjak-injak jenuh dan ketidaktahuan
dengan pakaian gemerlapan, dengan make up dan wewangian
tanpa kau sadari mendung semakin tebal di langit rawan
dan engkau tak tahu anak-anak senyum dan tawamu merajam mendung di ketinggian
hujan biru, hujan kelabu, hujan cemburu, hujan airmata
hujan di semesta jiwamu, badai melanda negeri mimpimu
porak poranda hatimu, retak sudah cintamu
[lalu kau namai hujan dan badai itu dengan namaku]
jakarta, 02 April 2004
Kelumpuhan Kata
seperti daun-daun kering yang berjatuhan, aku luruh di trotoar jalan,
terduduk simpuh dibalut asap tebal kendaraan,
lalu-lalang orang seperti kunang-kunang,
segala suara menjadi denging tak berkesudahan,
bayang diri seolah terpisah dari badan,
kata-kata lumpuh di kerongkongan
ketika itu, aku teringat dongeng-dongeng ayah nyanyian ibu,
pelukan ayah ciuman ibu, harapan ayah dan doa ibu
tetapi kenduri dosa telah diamini dan tapak-tapak telah tertata dalam peti mati,
dan aku harus pergi, aku harus pergi
tinggalkan trotoar jalan yang mungkin kelak akan menjadi gedung yang tinggi
aku tak dapat berkata-kata untuk cinta ini
meski rindu merebak seperti tangis bayi
sebab nama sendiri tak dapat kuingat lagi
jakarta, 02 April 2004
Bangku-bangku Kosong
:SCAR
kupandang bangku-bangku kosong di depanku
yang bercerita tentang sekumpul bajingan metropolitan
akupun tak bisa berlama-lama memandang bangku-bangku itu
sebab aku tak tahan digerayangi rindu
tetapi akupun tak bisa tinggalkan bangku-bangku itu
sebab di situ kutemukan riuh sepiku
kupandang bangku-bangku kosong, sunyi
aku terlelap disini, sendiri
jakarta, 02 April 2004
Barangkali Engkau Masih Ada
barangkali engkau tersenyum atau muram
memandangi daun-daun maple yang berguguran,
sebab dua lembar daun itu telah sampai di tanganku
meski musim kita tak pernah bertemu
barangkali engkau sedang membuka jendela,
menerawang atau berusaha melupakan aku
ketika kau pandang bintang-bintang kecil di langit malam
sebab pernah kau kirim berpuluh bintang kecil itu padaku
sebagai tanda sayangmu padaku
barangkali matamu sulit terpejam
memandangi kartu-kartu telephon di bawah tempat tidurmu
sebab disana terekam setiap percakapan
yang akan selalu mengiang
barangkali engkau sedang berjalan-jalan di taman kota
atau tak pernah lagi datang kesana
sebab disana kita menyusun puzzle mimpi kita yang seringkali sama
meski kita terlelap di malam yang berbeda
barangkali engkau masih ada disana
mengubur semua kenangan yang pernah ada
yang pada akhirnya tetap kau tancapkan nisan di atasnya
sebagai tanda bahwa kita pernah dalam duka gulita, berdua
jakarta, 03 April 2004
Seperti Peri Yang Datang Sekejapan
kau tinggalkan wangi bunga dan senyum purnama
seperti peri yang datang sekejapan saja
kau biarkan ciumku pecah dalam bingkai jendela
kukumpulkan hari-hari penuh puisi yang mengering sepeninggal mentari
dan malam-malam pudar sepeninggal rembulan
sebelum semua terguyur hujan dan tersapu angin waktu yang terus bergentayangan
kutata rapi dalam dada gelap di ruang yang terlengang
agar engkau bisa membaca setiap puisi bila engkau datang
tetapi bagaimana aku mengatakan padamu tentang sebentuk ruang terlengang yang kucipta?
sebab aku tak tahu engkau kemana dan dimana
mengapa engkau begitu membenci pertemuan dan mencintai kehilangan?
ah, engkau hanya isyaratkan gerimis turun di tanah terakhir
tanpa isyaratkan untuk datang
seperti peri yang datang sekejapan saja
engkau tak adil terhadapku yang cinta
jakarta, 03 April 2004
Reuni Puisi
ya puisi, ku ketuk pintumu kembali
setelah beberapa lama kau tak kukunjungi
mari kita bercengkerama seperti dulu
tentang semesta sepi dan rindu
ya puisi, kubawakan buah tangan
dari pencarianku dalam sepi dan rindu
se-elok bunga dari taman cinta
yang kini menjadi istriku
ya puisi, seperti dulu kukatakan padamu
aku tetap mencintaimu
jakarta, 03 April 2004
