Sunday, April 04, 2004



Perempuan Yang Tenggelam Oleh Janji

"ojo sok gampang janji wong manis yen to hamung lamis
becik haluwung prasojo nimas ora agawe cuwo"

tetapi engkau memasang bom waktu di jantungmu
dengan inginmu sendiri, dengan tanganmu sendiri
dan engkau berkejaran dengan ragu setiap waktu
sementara engkau tak tahu kesanggupanmu

kau menari dengan irama tik tak arloji di altar janji
melesatkan anak-anak senyum dan tawa
menginjak-injak jenuh dan ketidaktahuan
dengan pakaian gemerlapan, dengan make up dan wewangian
tanpa kau sadari mendung semakin tebal di langit rawan
dan engkau tak tahu anak-anak senyum dan tawamu merajam mendung di ketinggian

hujan biru, hujan kelabu, hujan cemburu, hujan airmata
hujan di semesta jiwamu, badai melanda negeri mimpimu
porak poranda hatimu, retak sudah cintamu
[lalu kau namai hujan dan badai itu dengan namaku]

jakarta, 02 April 2004


Kelumpuhan Kata

seperti daun-daun kering yang berjatuhan, aku luruh di trotoar jalan,
terduduk simpuh dibalut asap tebal kendaraan,
lalu-lalang orang seperti kunang-kunang,
segala suara menjadi denging tak berkesudahan,
bayang diri seolah terpisah dari badan,
kata-kata lumpuh di kerongkongan

ketika itu, aku teringat dongeng-dongeng ayah nyanyian ibu,
pelukan ayah ciuman ibu, harapan ayah dan doa ibu
tetapi kenduri dosa telah diamini dan tapak-tapak telah tertata dalam peti mati,
dan aku harus pergi, aku harus pergi
tinggalkan trotoar jalan yang mungkin kelak akan menjadi gedung yang tinggi

aku tak dapat berkata-kata untuk cinta ini
meski rindu merebak seperti tangis bayi
sebab nama sendiri tak dapat kuingat lagi

jakarta, 02 April 2004


Bangku-bangku Kosong
:SCAR

kupandang bangku-bangku kosong di depanku
yang bercerita tentang sekumpul bajingan metropolitan

akupun tak bisa berlama-lama memandang bangku-bangku itu
sebab aku tak tahan digerayangi rindu
tetapi akupun tak bisa tinggalkan bangku-bangku itu
sebab di situ kutemukan riuh sepiku

kupandang bangku-bangku kosong, sunyi
aku terlelap disini, sendiri

jakarta, 02 April 2004


Barangkali Engkau Masih Ada

barangkali engkau tersenyum atau muram
memandangi daun-daun maple yang berguguran,
sebab dua lembar daun itu telah sampai di tanganku
meski musim kita tak pernah bertemu

barangkali engkau sedang membuka jendela,
menerawang atau berusaha melupakan aku
ketika kau pandang bintang-bintang kecil di langit malam
sebab pernah kau kirim berpuluh bintang kecil itu padaku
sebagai tanda sayangmu padaku

barangkali matamu sulit terpejam
memandangi kartu-kartu telephon di bawah tempat tidurmu
sebab disana terekam setiap percakapan
yang akan selalu mengiang

barangkali engkau sedang berjalan-jalan di taman kota
atau tak pernah lagi datang kesana
sebab disana kita menyusun puzzle mimpi kita yang seringkali sama
meski kita terlelap di malam yang berbeda

barangkali engkau masih ada disana
mengubur semua kenangan yang pernah ada
yang pada akhirnya tetap kau tancapkan nisan di atasnya
sebagai tanda bahwa kita pernah dalam duka gulita, berdua


jakarta, 03 April 2004


Seperti Peri Yang Datang Sekejapan

kau tinggalkan wangi bunga dan senyum purnama
seperti peri yang datang sekejapan saja
kau biarkan ciumku pecah dalam bingkai jendela

kukumpulkan hari-hari penuh puisi yang mengering sepeninggal mentari
dan malam-malam pudar sepeninggal rembulan
sebelum semua terguyur hujan dan tersapu angin waktu yang terus bergentayangan
kutata rapi dalam dada gelap di ruang yang terlengang
agar engkau bisa membaca setiap puisi bila engkau datang

tetapi bagaimana aku mengatakan padamu tentang sebentuk ruang terlengang yang kucipta?
sebab aku tak tahu engkau kemana dan dimana

mengapa engkau begitu membenci pertemuan dan mencintai kehilangan?
ah, engkau hanya isyaratkan gerimis turun di tanah terakhir
tanpa isyaratkan untuk datang

seperti peri yang datang sekejapan saja
engkau tak adil terhadapku yang cinta

jakarta, 03 April 2004


Reuni Puisi

ya puisi, ku ketuk pintumu kembali
setelah beberapa lama kau tak kukunjungi
mari kita bercengkerama seperti dulu
tentang semesta sepi dan rindu

ya puisi, kubawakan buah tangan
dari pencarianku dalam sepi dan rindu
se-elok bunga dari taman cinta
yang kini menjadi istriku

ya puisi, seperti dulu kukatakan padamu
aku tetap mencintaimu

jakarta, 03 April 2004