Friday, July 16, 2004

Lelaki dan Nasibnya

lelaki terdampar di mata
bergelayut di alisnya yang rimbun
menyadap embun

   jantungnya terengah dibekap api  
   nafasnya meleleh di sudut bibir  
   melumut di bebatu
lelaki rindu pelayar perahu kertasnya

bertahun silam ketika perbukitan perawan
namun takdir pecah ketika gempa menyunting bebatu
bebukit terluka, matahari mabuk cahaya

lelaki mengejar nasib dalam gelombang
didebur ombak membaca lekuk-lekuk karang

Juli 2004 
 

Maka

maka hunjamkan belati-belati ke bumi dan biarkan keringatmu tumpah di wajahku
setelah gempa mengguncang, setelah gunung api meletus dan lahar membanjiri dada,
setelah abu pembakaran terlarung dan bunga-bunga di bawa gelombang
-amini ayat-ayat yang kubaca pada gelas-gelas airmata yang tertata rapi di bias senja gulana

maka genggamlah tanganku, menerobos sulur-sulur hujan
menjauh dari erangan badai, jilatan petir dan pelukan mendung
langit juga akan terkelupas nantinya
sebab nadi angin dan matahari tak berhenti

maka biarkan tanah di dadamu membusuk,
menggambutlalu sebarkan bebijian disana 

Juli 2004