Lelaki dan Nasibnya
lelaki terdampar di mata
bergelayut di alisnya yang rimbun
menyadap embun
jantungnya terengah dibekap api
nafasnya meleleh di sudut bibir
melumut di bebatu
lelaki rindu pelayar perahu kertasnya
bertahun silam ketika perbukitan perawan
namun takdir pecah ketika gempa menyunting bebatu
bebukit terluka, matahari mabuk cahaya
lelaki mengejar nasib dalam gelombang
didebur ombak membaca lekuk-lekuk karang
Juli 2004
Maka
maka hunjamkan belati-belati ke bumi dan biarkan keringatmu tumpah di wajahku
setelah gempa mengguncang, setelah gunung api meletus dan lahar membanjiri dada,
setelah abu pembakaran terlarung dan bunga-bunga di bawa gelombang
-amini ayat-ayat yang kubaca pada gelas-gelas airmata yang tertata rapi di bias senja gulana
maka genggamlah tanganku, menerobos sulur-sulur hujan
menjauh dari erangan badai, jilatan petir dan pelukan mendung
langit juga akan terkelupas nantinya
sebab nadi angin dan matahari tak berhenti
maka biarkan tanah di dadamu membusuk,
menggambutlalu sebarkan bebijian disana
Juli 2004
