Thursday, August 05, 2004

Kau Tak Pernah Memahami

dari jejak lidah yang berderak-derak dan seikat waktu yang kaku
jelaslah siapa yang terjangkit asmara di pagi itu

tetapi kau tak memahami,
mata ini telah tertembus ranting-ranting mimpi siang
bintik-bintik hampa menggelembung di dada, seolah teluh brajatak ada saksi,
aku sendiri merengkuh kelekatan

darah telah mengalir dari mataku, dan segalanya menjadi berubah,
jelaslah pencapaianku tak terlukiskan,
aku tak dapat menangkap segala yang kuburu
aku tak dapat membayangkan tubuhku sendiri
bahkan untuk menggenggam tanganku sendiri
sebab seekor singa luka menyambar tubuh lunta

tak juga kau memahami,
walau pada akhirnya aku menjadi sedu-sedan atas tangismu,
menjadi rasa sakit atas lukamu, menjadi tanah, untuk bumimu

dan aku memahamimu,
maka aku pergi mendaki kesirnaan diri
sebelum kematian menemukanku terlalu dini

3 Agustus 2004

Pada Akhirnya Aku Memuja

sesungguhnya aku tak pernah ingin memujaMu
sebab Engkau api yang melahap dinding-dinding tirani
tetapi kuakui, nyalaMu jilati dada
membakar jantung

aku tak ingin memujaMu
sebab Engkau angin yang mengoyak jiwaku
tetapi kuakui, hembusanMu menggiringku pada cahaya warna-warni

aku tak ingin memujaMu
sebab Engkau anggur yang memabukkan
tetapi tetap kuteguk tak jemu
meski kebinasaan mengintip dari balik tiraniMu

pada akhirnya aku memujaMu
sebab Engkau menjelma tanah yang menerimaku
meski aku tak dapat melihat keberadaanMu
dalam kebinasaan yang kurengkuh karenaMu

3 Agustus 2004

Ingin Kudengar Matahari

lenyap dan tenggelam aku ke dalam samudera tanpa takut
sebab aku ingin melihat matahari dari sana dengan diam
aku ingin mendengar dari matahari, apa yang belum kutuliskan,
apa yang belum kukatakan, apa yang belum kulakukan

aku ingin tetap diam,
sampai ruhku bercerita kapan perahu berhenti di dermaga
kemudian kembali berlayar kembali di atas samudera

dan aku ingin kembali sebagai matahari, sebagai lautansebagai gunung sebagai padang ilalang
sebagai segala bentuk, hingga tak ada yang dapat sembunyi

3 Agustus 2004

Aku Ingin Mencintai-Mu

aku ingin mencintai-Mu dengan egois
mengingat hanya diri-Mu dan tiada yang lain
sebab cinta egois adalah cintaku

aku ingin mencintai-Mu dengan layak
agar layak pula Engkau menerimaku
hingga memenuhi panggilan-Mu

aku ingin mencintai-Mu dengan puji-puji
memuji-Mu dengan segenap puji
sebab segala puji hanya pantas untuk-Mu
dan aku tahu, meski setiap rambutku menjelma lidah
masihlah tak cukup memuji
dari segala bentuk cinta dari-Mu

3 Agustus 2004

Selalu Menjadi Tua

tahun habis di keranjang sampah
lembar-lembar penanggalan meninggalkan resah
di lipatan-lipatan ketuaan yang makin basah

aku selalu menjadi tua
setiap kali melihat almanak yang tak berdosa
dan aku mati di acak wajahmu yang selalu berganti
dan kau selalu hidup kembali meski mati berkali-kali

setiap kali kukuliti wajahmu, engkau semakin bayi
kau membalas dengan selalu meremas kulitku
hingga keriput membatu

karenamu aku menjadi tua
hingga hafal hitam dan merah
di wajah bebatu

3 Agustus 2004

Malam Telah Habis

engkau mendesir laksana angin sore semilir
dan menghilang di ujung bayang pepohonan
sebelum sesekali kau lalui jendela tempatku menekuri kulit tubuhku
yang sedikit demi sedikit mengelupas

lihatlah! helai-helai waktu mengering tersapu angin, berguguran
gumam gagal menjadi teriakan

malam telah habis
tak ada cerita tentang pagi atau senja
tak ada kabar dari matahari atau bulan

lihatlah! malam telah habis
musim tak lagi berganti
sebab matahari mati pagi tadi

4 Agustus 2004