Kau Tak Pernah Memahami
dari jejak lidah yang berderak-derak dan seikat waktu yang kaku
jelaslah siapa yang terjangkit asmara di pagi itu
tetapi kau tak memahami,
mata ini telah tertembus ranting-ranting mimpi siang
bintik-bintik hampa menggelembung di dada, seolah teluh brajatak ada saksi,
aku sendiri merengkuh kelekatan
darah telah mengalir dari mataku, dan segalanya menjadi berubah,
jelaslah pencapaianku tak terlukiskan,
aku tak dapat menangkap segala yang kuburu
aku tak dapat membayangkan tubuhku sendiri
bahkan untuk menggenggam tanganku sendiri
sebab seekor singa luka menyambar tubuh lunta
tak juga kau memahami,
walau pada akhirnya aku menjadi sedu-sedan atas tangismu,
menjadi rasa sakit atas lukamu, menjadi tanah, untuk bumimu
dan aku memahamimu,
maka aku pergi mendaki kesirnaan diri
sebelum kematian menemukanku terlalu dini
3 Agustus 2004
Pada Akhirnya Aku Memuja
sesungguhnya aku tak pernah ingin memujaMu
sebab Engkau api yang melahap dinding-dinding tirani
tetapi kuakui, nyalaMu jilati dada
membakar jantung
aku tak ingin memujaMu
sebab Engkau angin yang mengoyak jiwaku
tetapi kuakui, hembusanMu menggiringku pada cahaya warna-warni
aku tak ingin memujaMu
sebab Engkau anggur yang memabukkan
tetapi tetap kuteguk tak jemu
meski kebinasaan mengintip dari balik tiraniMu
pada akhirnya aku memujaMu
sebab Engkau menjelma tanah yang menerimaku
meski aku tak dapat melihat keberadaanMu
dalam kebinasaan yang kurengkuh karenaMu
3 Agustus 2004
Ingin Kudengar Matahari
lenyap dan tenggelam aku ke dalam samudera tanpa takut
sebab aku ingin melihat matahari dari sana dengan diam
aku ingin mendengar dari matahari, apa yang belum kutuliskan,
apa yang belum kukatakan, apa yang belum kulakukan
aku ingin tetap diam,
sampai ruhku bercerita kapan perahu berhenti di dermaga
kemudian kembali berlayar kembali di atas samudera
dan aku ingin kembali sebagai matahari, sebagai lautansebagai gunung sebagai padang ilalang
sebagai segala bentuk, hingga tak ada yang dapat sembunyi
3 Agustus 2004
Aku Ingin Mencintai-Mu
aku ingin mencintai-Mu dengan egois
mengingat hanya diri-Mu dan tiada yang lain
sebab cinta egois adalah cintaku
aku ingin mencintai-Mu dengan layak
agar layak pula Engkau menerimaku
hingga memenuhi panggilan-Mu
aku ingin mencintai-Mu dengan puji-puji
memuji-Mu dengan segenap puji
sebab segala puji hanya pantas untuk-Mu
dan aku tahu, meski setiap rambutku menjelma lidah
masihlah tak cukup memuji
dari segala bentuk cinta dari-Mu
3 Agustus 2004
Selalu Menjadi Tua
tahun habis di keranjang sampah
lembar-lembar penanggalan meninggalkan resah
di lipatan-lipatan ketuaan yang makin basah
aku selalu menjadi tua
setiap kali melihat almanak yang tak berdosa
dan aku mati di acak wajahmu yang selalu berganti
dan kau selalu hidup kembali meski mati berkali-kali
setiap kali kukuliti wajahmu, engkau semakin bayi
kau membalas dengan selalu meremas kulitku
hingga keriput membatu
karenamu aku menjadi tua
hingga hafal hitam dan merah
di wajah bebatu
3 Agustus 2004
Malam Telah Habis
engkau mendesir laksana angin sore semilir
dan menghilang di ujung bayang pepohonan
sebelum sesekali kau lalui jendela tempatku menekuri kulit tubuhku
yang sedikit demi sedikit mengelupas
lihatlah! helai-helai waktu mengering tersapu angin, berguguran
gumam gagal menjadi teriakan
malam telah habis
tak ada cerita tentang pagi atau senja
tak ada kabar dari matahari atau bulan
lihatlah! malam telah habis
musim tak lagi berganti
sebab matahari mati pagi tadi
4 Agustus 2004
