Sunday, September 12, 2004

Kisah Pengembara di Senja Pelabuhan

tak ada tugu atau batu sebagai prasasti
tak juga janji atau seikat mimpi
bukankah nyanyian sunyi senja pelabuhan telah cukup menghiburmu?

barangkali waktu terlalu angkuh memaksamu mengangguk patuh
atau barangkali jembatan terlalu rentan hingga langkahmu tertahan
tetapi inilah kisah pengembara itu,sepanjang waktu ditempuh untuk mencarimu

meski sesungguhnya tak tersisa apa-apa lagi saat berhenti di hadapmu

dalam nyanyian sunyi senja pelabuhan itu
sebentuk sepi menyerahkan untuk kau setubuhi
di atas kanvas atau kertas dengan nada nadimu sendiri

02/09/04

Jembatan Bambu di Atas Sungai

kubuat jembatan bambu di atas sungai ini
agar terhubung hutan senyap dan kota gemerlap
mungkin jembatan ini tak terlalu kuat

namun kuharap mampu bertahan dari lalu lalang orang
untuk menengok hutan senyap atau kota gemerlap
mungkin juga sekedar menjadi tempat melepas penat
atau memanjakan imaji dalam sepi

kubuat jembatan bambu di atas sungai ini
agar engkau tahu kesenyapan dan kegemerlapan
yang kulukis di dada puisi

02/09/04

Matahari Tertidur di Dadamu
: peri di atas awan


tubuhmu tersembunyi di balik pori-pori waktu
menghitung cerita masa lalu tak terungkap dan cerita kini yang tak bisa kau miliki
cerita yang selalu membayangi, meski kau telah jauh berlari

semenjak matahari tertidur di dadamu
dan menghisap susu lewat puting payudaramu
engkau semakin putih, di tanganmu tergenggam perih
hingga malam menggigil setiap kali kutub matamu mencair
meluapkan laut-laut di bumi masa lalu

matahari tak juga terbangun, bayang-bayang terkubur
tetapi kau tetap tegar, menata waktu dalam almari
memulai pergulatan dengan bayang-bayang mimpi
yang menguntitmu kemanapun kau pergi

15:07 31/08/04