Hujan Gelugut
lantaran jatuh dari mendung yang tebal
aku kuyup dihadap kepal kenyataan
serasa di bius pejam yang gelap
terperangkap harap yang lindap
setelah patah tulang-tulang payungku,
kau mulai mencuri gerimis yang jatuh di halaman
mengumpulkannya dalam gelas-gelas yang retak
lalu kau tuang di kendi tua di ujung malam ketika aku terlelap
turunnya hujan menjadi semacam gelugut yang ditumpahkan
di jalan-jalan, di tubuhku, di peraduan
tak pelak gelinjang menggiringku ke dalam goa kesunyian
meski sesungguhnya matahari masih demikian riang
setelah tak juga penuh kendi tuamu
kau sesap pula keringat hingga keriput kulitku
untuk satu senja yang terlukis di khayalmu
14:27 24/11/04
Luruh
setelah terhempas badai dan terhimpit karang
sayup senandung pelaut seolah tembang kematian
yang tak habis-habis siang dan malam
setiap kali matahari terbit dan terbenam
kuberharap kau usap debu di wajahku
tetapi berkali-kali matahari terbit dan terbenam
tak juga terdengar kecipakmu
dalam cerita apa aku ini?
tubuhku berkarat oleh cuaca purba
dan angin garam dari hembus nafasmu
tak ada kisah tentangku dalam percakapanmu
-sebab tentangku hanya tanda keberadaan-
ketika sukmaku terjaga,
ingin kutinggalkan tubuh yang berdebu
membawa rindu tak bernama
dan airmata yang takkan kubiarkan menetes dari mata
-ingin kujilati sendiri mata belati dan deduri dari hidangan kelam yang kau saji-
dimana aku ini?
tak dapat kupilih perih atau pedih
diam dan berucap sama-sama menyakitkan
ingat dan lupa sama-sama membingungkan
tertidur dan terjaga sama-sama merepotkan
racun apakah paling maut
mampu membaringkan tubuhku
dalam nikmat kesakitan yang lebih panjang
dari sekedar tebasan pedang atau tiang gantungan
11:15 03/11/04
