Saturday, April 09, 2005

Ibunda Menangis di Muara

seperti pedang di tangan satria
yang meminum darah kurusetra
semakin banyak semakin gagah
pada setiap teriak dan erang
luka nganga, regang nyawa
helai demi helai nafas kering sia-sia
sungai-sungai serupa luka
dan sejarah ditulis dengan malu
tetap tak berubah
ibunda menangis di muara

kubayangkan pisau di tangan putra satria
semakin tajam oleh batu-batu
lalu diguriskan di dada satria
direlakannya dada, direlakannya dada
menjadi batu
ibunda menangis di muara

3:11 02/04/05

Lukamu

lukamu begitu dalam
hingga dalam-dalam ingin
kau kubur kenangan

mari kubantu
menggali lubang yang dalam
agar tak lagi menyembul
keluar

08/04/05


Kita Terlalu Ingin

kita terlalu ingin
melihat pagi seperti puisi
melihat senja seperti kata-kata

kita terlalu ingin
melepas ingatan jauh-jauh
melupa rasa yg ada

kita terlalu ingin
hingga kita lupa
bahwa kita terlalu egois
untuk mereka

11:28 AM 4/9/05

Saturday, April 02, 2005

Seperti Rindu Kita
:keranda

seperti juga rindumu rinduku
tersembunyi beribu ayat untuk dibacakan
di balik krei, kaca jendela masih buram oleh embun
dan kita kembali membalikkan badan
memandang tempat tidur dan pintu kamar
belum datang juga waktu yang tepat untuk keluar
meski kita telah bersihkan badan dan berganti pakaian
sebab keringat dan aroma malam
lalu kita kembali rebah dan terpejam

hari masih terlalu pagi
dan mimpi belum terjatuh

lihatlah, gelap sedang meninabobokan rembulan
ayam jantan bersahutan menyongsong fajar
gerimis sibuk menghapus jejak-jejak malam
dan kabut membawanya kembali ke gunung-gunung
mari kita berterimakasih sayangku
ketika pagi datang, segalanya telah bersih dan terang
lembar-lembar nafas tertata dan segar
dan rindumu rinduku telah siap membacakan ayat-ayat
dari depan jendela kamar
surga atau neraka tak perlu diragukan
mari kita bacakan

11:04 02/04/05