Ibunda Menangis di Muara
seperti pedang di tangan satria
yang meminum darah kurusetra
semakin banyak semakin gagah
pada setiap teriak dan erang
luka nganga, regang nyawa
helai demi helai nafas kering sia-sia
sungai-sungai serupa luka
dan sejarah ditulis dengan malu
tetap tak berubah
ibunda menangis di muara
kubayangkan pisau di tangan putra satria
semakin tajam oleh batu-batu
lalu diguriskan di dada satria
direlakannya dada, direlakannya dada
menjadi batu
ibunda menangis di muara
3:11 02/04/05
Lukamu
lukamu begitu dalam
hingga dalam-dalam ingin
kau kubur kenangan
mari kubantu
menggali lubang yang dalam
agar tak lagi menyembul
keluar
08/04/05
Kita Terlalu Ingin
kita terlalu ingin
melihat pagi seperti puisi
melihat senja seperti kata-kata
kita terlalu ingin
melepas ingatan jauh-jauh
melupa rasa yg ada
kita terlalu ingin
hingga kita lupa
bahwa kita terlalu egois
untuk mereka
11:28 AM 4/9/05
