Friday, August 05, 2005

Salam sejahtera buat kalian semua,

Selamat datang di sini, sebuah ruang yang kuperuntukkan buat kalian. Kalian bebas melakukan apa saja disini selama itu kalian anggap pantas -dan aku anggap pantas. Aku ingin kalian semua, serta semua orang yang seperti kalian tapi tak bisa hadir disini saat ini, tahu bahwa sungguh menyenangkan bisa berjumpa dengan kalian, bisa mengenal kalian, belajar dari pikiran serta kata-kata kalian, dan bisa mengucapkan perasaanku pada kalian baik secara langsung maupun tidak langsung.

Beberapa waktu yang lalu aku mengenal seseorang lelaki tua yang sampai saat ini aku belum juga bisa melihat wajah yang sesungguhnya. Dia selalu mengenakan topeng yang menutup sebagian wajahnya. Dengan meluangkan banyak waktu bersamanya dan belajar darinya, aku menjulukinya sebagai Si Serba Tahu. Dia memang tahu dan mengerti banyak hal. Pak Tua bilang, dia tak pernah mengenyam pendidikan formal apalagi lulus sekolah. Aku curiga pak Tua ini Si Pengembara waktu. Menjelajahi masa lalu atau bahkan mungkin masa depan. Bisa jadi dia belajar baca tulis dari para dewa-dewa di jaman -yang mungkin- dia dilahirkan. Aku juga curiga dia mempelajari banyak hal sebelumnya lebih sebagai beban dan kewajiban ketimbang sebagai hiburan dan bumbu pelipur waktu. Tapi aku yakin, dan kuharap kalian juga sepakat bahwa Pak Tua itu dulu dan sekarang -bahkan mungkin nanti- adalah seorang guru, guru kebajikan. Dalam banyak kesempatan aku yakin Pak Tua ini akan memainkan peran lebih penting ketimbang hanya sekedar memerintah saja. Artinya tidak sekedar tunjuk sana-tunjuk sini atau berbicara di atas mimbar. Pak Tua ini punya sejuta kisah yang menakjubkanku, dan aku selalu mendengar kisah-kisahnya dengan seksama karena setelah selesai bercerita biasanya Pak Tua bertanya beberapa hal. Persis seperti seorang guru. Begini ceritanya....


Riwayat Penglihatan

Ada suatu masa, di jaman dahulu sekali, saat tak seorang pun melihat. Bukannya lelaki dan perempuan disini tak punya mata. Secara alami mereka punya, tapi mereka tak melihat. Dewa-dewa paling agung, mereka yang melahirkan dunia, yang paling mula,tentu saja telah menciptakan banyak hal tanpa jelas apa dan kenapanya, fungsi dan kerja yang harus atau sebaiknya coba dilakukan masing-masing benda. Karena tiap benda punya alasannya, lebih khusus lagi, karena dewa-dewa yang melahirkan dunia itu, yang paling mula, jelaslah yang paling agung, dan karenanya mereka tak begitu ambil pusing dengan apa yang mereka kerjakan. Mereka melakukan segala sesuatu seperti pesta, seperti dolanan, seperti tarian. Tentu saja, yang paling sepuh di antara para sepuh bercerita bahwa saat dewa-dewa itu berkumpul, harus ada sebuah marimba, sebab di penghujung rapat mereka, nyanyian dan tarian pasti mengalun. Malahan, kata mereka, kalau tak ada marimba, tak bakal ada rapat, dan begitulah dewa-dewa tersebut, duduk nongkrong, bercanda, dan membuat kenakalan-kenakalan.

Baiklah, meski mereka itu dewa-dewa pertama, yang teragung, yang melahirkan dunia, tapi mereka tidak membikin jelas apa dan kenapa semua benda. Dan satu dari sekian benda itu adalah mata. Mungkinkah dewa-dewa itu bilang mata itu untuk melihat? Nggak bakalan. Maka para lelaki dan perempuan di situ berkelana dengan kesulitan besar, bersenggolan satu sama lain dan terjatuh, saling bertubrukan dan mengambil benda-benda yang tidak mereka kehendaki, sebaliknya malah tidak mengambil apa-apa yang mereka butuhkan. Begitulah, seperti banyak orang sekarang ini, yang mengambil apa yang tidak mereka butuhkan dan akibatnya merusak diri mereka sendiri, dan bukannya meraih apa yang mereka butuhkan untuk jadi lebih baik, mereka tersandung sana-sini, saling menjatuhi satu sama lain. Sebenarnya, lelaki dan perempuan yang paling mula itu punya mata tapi tak melihat. Dan mereka itu punya beragam jenis mata. Aneka warna, aneka ukuran, dan bentuknya pun beragam. Ada yang bulat, ada yang lonjong, kecil, besar, sedang, hitam, biru, kuning, hijau, coklat, merah dan putih. Ya, ada banyak mata, dua untuk tiap lelaki dan perempuan permulaan itu, tapi mereka tak melihat apapun.

Begitulah yang terjadi sampai jaman kita sekarang ini; sesuatu tak bisa didapat begitu saja. Suatu saat dewa-dewa pertama tersebut, yang melahirkan dunia, yang paling agung, sedang menari, sebab bulan Juli, dulu sampai kini, adalah bulan penuh kenangan.Beberapa orang lelaki dan perempuan yang tak melihat kebetulan ada di tempat para dewa-dewa itu berpesta. Mereka menubruk dewa-dewa itu begitu saja, beberapa malah terjerembab menjatuhi marimba dan merusaknya, lantas pesta itu murni berubah jadi kegaduhan dan musik pun berhenti, nyanyian berhenti lantas tarian ikut berhenti. Benar-benar kacau. Dewa-dewa itu tengak-tengok kiri-kanan dan mencari tahu kenapa pesta itu berhenti dan orang-orang lelaki dan perempuan yang tidak melihat itu terus saja tersandung-sandung dan menjatuhi satu sama lain bahkan menjatuhi dewa-dewa itu. Begitulah yang terjadi untuk beberapa lama, diiringi tubrukan, bunyi berdebam, umpatan dan makian.

Lalu akhirnya, segera setelah itu, dewa-dewa yang paling agung itu sadar bahwa semua kekacauan ini bermula saat orang-orang lelaki dan perempuan itu tiba. Lantas mereka mendatanginya lalu bertanya satu sama lain apakah mereka tidak melihat ke arah mana mereka pergi. Orang-orang lelaki dan perempuan itu tak saling melihat sebab mereka tak bisa melihat sama sekali, tapi mereka bertanya apa itu "melihat". Maka mengertilah dewa-dewa yang melahirkan dunia itu bahwa belum menjelaskan apa guna mata, atau apa sebenarnya reason d'etre-nya, atau apa dan mengapa ada mata. Lantas yang paling agung dari para dewa itu menjelaskan pada orang-orang lelaki dan perempuan itu soal "penglihatan", dan mereka mengajarinya melihat.

Maka begitulah orang-rang lelaki dan perempuan itu bisa tahu bahwa mereka bisa saling mengenal satu sama lain, mengenali siapa ini dan siapa itu, sehingga tak sampai menubruknya, atau menyenggolnya, atau melewatinya, atau berlari menerjangnya. Mereka juga belajar bahwa seseorang bisa melihat ke dalam diri orang lain dan melihat apa yang dirasakan oleh hatinya. Sebab hati tak selalu bicara dengan kata-kata yang terucap lewat bibir. Seringkali hati berucap lewat kulit, lewat tatapan mata, atau lewat langkah kaki. Mereka juga belajar melihat orang yang sedang melihat mereka menatap dia, atau belajar melihat diri sendiri dari tatapan mata orang lain. Dan mereka juga belajar melihat orang lain yang melihat mereka. Orang-orang lelaki dan perempuan itu belajar semua cara melihat. Dan yang terpenting yang telah mereka pelajari adalah tatapan yang melihat dan mengenali serta belajar dari dirinya sendiri, tatapan yang melihat dirinya sendiri sedang menatap dan menatap dirinya sendiri, yang melihat adanya jalan dan melihat pagi hari yang sama-sama belum dilahirkan, jalan-jalan yang masih harus ditorehkan dan fajar-jafar yang masih harus dipendarkan.

Setelah mereka mempelajarinya, dewa-dewa yang melahirkan dunia mempercayakan orang-orang lelaki dan perempuan ini -yang datang tersandung-sandung, menubruk, dan menimpa apa saja- sebuah tugas untuk mengajari orang-orang lelaki dan perempuan lainnya cara melihat dan apa itu penglihatan. Agar orang-orang lain belajar melihat dan bisa melihat diri mereka sendiri. Tak semua orang belajar, sebab dunia sudah setengah jalan dan orang-orang lelaki dan perempuan sudah menapak kemana-mana, tersandung, terjatuh, menimpa satu sama lain. Tapi beberapa orang sungguh-sungguh mempelajarinya dan orang-orang yang belajar ini adalah mereka yang dinamakan "lelaki dan perempun jejagungan, manusia-manusia sejati".

Pak Tua itu sejenak terdiam, aku menatapnya yang melihatku menatapnya, lantas kualihkan pandanganku menatap sudut fajar mana saja. Pak Tua itu melihat apa yang sedang kulihat, dan tanpa berucap sepatah kata pun, ia lambaikan puntung rokoknya yang masih menyala dengan tangannya. Tiba-tiba, terpanggil oleh pendar sinar dari tangan Pak Tua, seekor kunang-kunang dari pojok tergelap malam dan dengan melacak pita cahaya yang cuma sekejap itu, ia tiba mendekati tempat kami duduk. Pak Tua menjumput kunang-kunang itu dengan jarinya, lantas meniupnya, mengucapkan selamat tinggal. Kunang-kunang itu pergi, mengobarkan sinar kelap-kelipnya. Untuk sesaat malam terdiam dalam kegelapan.
Mendadak ratusan kunang-kunang mulai tarian mereka yang berpendar tak beraturan. Dan di sini, di malam ini, untuk sesaat muncullah bintang-bintang sebanyak yang ada di langit atas sana, menghiasi bulan Juli.

"Untuk melihat dan untuk berjuang dalam hidup, tak cukup cuma dengan mengarahkan pandangan seseorang, kesabaran serta jerih payahnya, penting juga untuk mulai memanggil dan menemukan pandangan-pandangan lain, yang pada waktunya nanti, akan mulai memanggil dan menemukan pandangan-pandangan yang lain lagi. Karena dengan melihat pandangan orang lain, banyak pandangan akan dilahirkan. Dan dunia melihat bahwa hal itu lebih baik sebab ada cukup ruang bagi pandangan setiap orang. Dan ia yang meski berbeda dan berlainan pandangan, bisa melihat berbagai pandangan dan pandangannya sendiri menjalani sejarah yang masih terlewatkan." kata Pak Tua kepadaku. Pak Tua kemudian pergi. Aku terus terduduk sepanjang malam hingga shubuh. Dan saat kunyalakan sebatang rokokku sekali lagi, ribuan cahaya dari kejauhan menyalakan pandangan dan berpendarlah sinar di sana, tempat semestinya muncul cahaya dan pandangan aneka rupa.

Demikianlah cerita itu meluncur hingga shubuh. Aku berharap kalian akan paham bagaimana melihatku yang sedang melihat kalian. Lantas dari situ, pandangan kalian akan bertemu dengan pandanganku, pandangan orang lain, pandangan banyak orang, dan akan tercipta jalan serta cahaya, dan suatu hari nanti, takkan ada lagi yang tersandung-sandung di pagi buta. Dan untuk melihat di kejauhan, bukan kacamata minus yang dibutuhkan, tetapi visi jangka panjang yang berlimpah dalam martabat orang yang memperjuangkan dan menghidupinya.

Surat Kepada Layang 2

Apa kabar hari ini? Semoga selalu dalam lindungan-Nya, Amin. Ya, aku lagi. Tapi jangan berhenti membaca. Ada beberapa hal yang ingin aku ceritakan hari ini. Seperti surat sebelumnya, tentunya apa yang ingin aku ceritakan karena memang aku ingin ceritakan. No more. Aku berterimakasih kamu mau membaca suratku yang kemarin. Mau mengapresiasi atau tidak itu terserah kamu. Tapi apa yang perlu di apresiasi coba?

Tahu nggak? Apa yang melintas di pikiranku saat ini? Ada isyarat-isyarat tentang tidak ada kehidupan dan diri terbungkus dalam masalah-masalah yang kuyakini merupakan masalah pribadi. Ada yang tersenyum melihat ini, tetapi sutralah... itu nanti saja diurusnya -atau tak perlu. Yang penting aku harus keluar dari bungkusan itu. Terpikir olehku, untuk memutuskan bicara dan menyanyi di jalan-jalan -seperti pengamen. At least hal itu mendorongku untuk memecahkan beberapa masalah. Aku tak tahu pasti mengapa ini terjadi, tapi mungkin ada baiknya aku keluar dan menyanyi diiringi irama gitar yang kupetik sendiri... kenapa? Ya, karena mungkin memang demikian kondisinya.

Baiklah, aku menulis juga untuk memberitahu, bahwa aku terus melakukan dialog dengan diriku sendiri, dengan buku-buku yang menumpuk di samping tempat tidurku, dan dengan sebuah PC yang bersedia menampung darah kotor, ucapan kotor, pikiran kotor, dan semua yang bisa ia tampung. Mengapa aku berdialog? yang jelas agar aku tidak lupa akan prespektif diri, luar diri, dan lupa diri, yang harus aku jalani/pikirkan. Tapi omong-omong soal prespektif lupa diri hari ini, rasanya aku ingin pulang saja ke rumah, berkumpul dengan keluargaku. Bukannya aku takut akan ada yang menangkapku kemudian mengambil kebebasanku, atau menghindari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan menghujaniku. Bukan itu, begini... nah... aku pernah cerita sama kamu tentang bulan Juni yang manja pada Juli yang kemudian merecoki perjalanan waktu yang lain? Apakah kamu ingat cerita tentang kebodohanku? Apakah kamu ingat cerita tentang kehadiranku yang ditolak? Apakah kamu ingat cerita tentang perempuan cantik itu?

Tahukah kamu? Yang kudapat dari itu semua hanyalah flu yang parah dan sampai-sampai setiap kali aku bersin kegoncangan terasa hingga rumahku yang jelas-jelas jauh sekali dari aku berada, jauh di seberang samudera. Lagi pula begini, aku menghindar terlebih dahulu sebab kalau aku terus berada di "sana", mereka akan mengurungku dalam empat dinding hitam dan putih -seperti bidak catur- dimana teman-temanku TIDAK akan menjengukku karena harus bermain catur terlebih dahulu untuk menemukanku. Tidak semua bisa bermain catur bukan? Lebih baik aku pergi sebelum ada yang memergoki. Dan sekilas masih sempat aku melihat remang rembulan yang mengingatkanku pada bulan Februari tahun lalu. Ada apa di bulan Februari? Itu pertanyaanmu bukan? Aku tidak akan menjawabnya.

Tadi malam, seperti malam-malam sebelumnya sejak kamu jauh, bulan adalah dada kesepian yang tersia-siakan di tangan birahi sang malam. Sementara kegelapan adalah peraduan penuh kembang wangi warna-warni yang tak pernah ditiduri. Seperti halnya bulan juga kegelapan yang selalu datang, suratku pun akan selalu datang seperti rutinitas petani pergi ke ladang, susul menyusul seperti pelari estafet. Tapi aku tak bisa menjelaskan kenapa demikian. Yang kutahu, ya karena aku memang ingin demikian. Tetapi ingat ya, ini bukan JANJI.

Surat Kepada Layang 3

Halo, apa kabar? salam sejahtera bersanding keluarga di sana. Yupe, aku lagi. Ya, seperti yang sudah aku katakan dalam surat sebelumnya, bahwa aku akan menulis surat untukmu, seperti rutinitas petani ke ladang. Seperti berputarnya jarum jam, mungkin juga akan ada banyak hal yang akan berulang. Apakah kamu tidak ingin tahu kabar tentang aku disini? Apa yang aku lakukan selama ini misalnya. Ya, mungkin TIDAK, mungkin MUNGKIN.

Dalam surat ini aku hanya ingin menunjukkan eksistensi saja. Aku masih ada gitu lhooh!!? Tahukah kamu kenapa aku ingin selalu menulis surat untukmu? Bahkan selalu berdo'a untukmu. Simple saja alasannya, karena aku menyayangimu. Itu saja. Cukuplah itu saat ini. Oh ya, aku ingin sedikit berbagi cerita denganmu. Kamu nggak keberatan kan?

"Sang Ular meremuk cermin menjadi ribuan keping, dan apel sebagai batunya"

Bulan kali ini mirip apel yang tergigit. Tungku Juli yang membara di jakarta telah merobek-robek segala-ku, mengecatnya jadi merah. Angin hitam menggerogotinya, rakus dan pasti. Bulan sedang berduka, sebutir apel yang bersemu merah, dengan kerah mantel yang dijinjing tinggi-tinggi, sedikit kurang gairah, sebagian karena gerah dan sebagian lagi agar ia bisa pulih lebih cepat. Pertamanya sedikit mendung, lalu hujan datang menutupi rasa malunya yang semerah bunga mawar. Barangkali tak perlu lagi disebutkan, tapi saat ini di Jakarta hari sedang senja. Di luar sana sesosok bayangan kabur mengintai, dan melalui awan yang tercipta, bibirnya bergumam :

"Ada pegunungan yang ingin penuh berisi air
Lalu bintang-bintang tercipta di punggungnya.
Dan ada pegunungan yang ingin punya sayap
Lalu awan-awan tercipta, seputih-putihnya"

Agak jauh disana, ruang sunyi tergugah dan tersejukkan oleh angin tiba-tiba yang dihembuskan oleh orang-orang segala ukuran, segala warna, segala wajah, segala nama. Mereka bilang, mereka datang untuk saling menemukan, meski tak satu pun dari mereka tampak kehilangan. Semilir angin yang bertiup di ruang sunyi sampai bilik ganjil bayangan kabur itu, dan mengusik pengintaian cermat yang meneropong bayangannya. Sesosok bayangan itu menarik nafas dalam-dalam, mendesah, dan awan-awan putih kembali tercipta, dan dengan bintang-bintang di punggungnya, ia mengingat-ingat ia hadirkan kenangan...


NB : "Carut-marut-parut di tubuh ini, akan kembali jadi luka oleh pukulan yang paling sepoi"