Wednesday, February 21, 2007

Perempuan Yang Merindukan Bunga

aku ingin menerima bunga-bunga
yang kau petik dari ketakutan,
dan kelelakianmu yang biru
"sepasang mawar putih dan merah yang indah
kau berikan dengan tanganmu yang kekar"
tetapi tiba-tiba sepasang bunga itu lenyap ke khayal
saat tangan ini kuulurkan

oh, betapa dari jauh kuimpikan kelelakianmu
tak henti, tak henti
tetapi hanya kecemasan kau sajikan,
tetapi hanya rasa asing kau suapkan
hingga waktu terasa kian dipadati debu
hela nafasku pun satu-satu

sebelum mimpi benar-benar hilang,
sebelum waktu berhenti di tengah malam,
aku ingin menerima bunga-bunga itu
sebelum kelopak-kelopaknya berguguran
di tanah yang digerus hujan

Malang, 14 Februari 2007


Harap

di ujung lindap aku gagap
rindu dihimpit batu
peluh menetes satu-satu

tulang-tulang tlah berkarat
setiap langkah, menderit seperti jerit
seucap ratap melalap harap
sujud kaku seperti paku menancap
terbata-bata doa diucap

rambut begitu cepat memutih
taubah seumpama rintih
begitu lirih begitu sedih
kapan kematian itu?
begitu ingin aku meminta
malaikat datang mengucap salam
saat sholat shubuh selesai kutunaikan

Malang, 04/01/07 01.13


Surat Untuk-Mu

aku takut untuk jujur pada-Mu
meski sebenarnya Kau telah tahu
aku takut menghadapi dosa-dosaku
dan Kau beri setitik keberanian
yang tak kusadari
bahkan terlambat kusyukuri

pintu-pintu telah terbuka
dan aku harus memilih
keremangan mana lagi harus kulalui?
barisan cahaya terus kupuja
meski masih berupa rahasia

waktu terasa berlari demikian cepat
meski tak ada yang diburu,
meski tak ada yang memburu
hanya hatiku, hanya hatiku

aku memilih, tetapi tak dapat berkuasa
dan barisan cahaya masih kupuja
meski masih berupa rahasia

Malang, 27/12/06 24.28


Untuk Anakku

seperti apa tangis,
seperti apa tawa,
seperti apa celoteh?
seperti apa?
aku tuli dan buta

Malang, 27/12/06 23.22


Dibawah Sebuah Pohon

kutikam jantungMu
dengan cintaku
keluar darah putih
kutikam jantungku
dengan cintaMu
darahku beku

Malang, 21/12/06 17.39